INTERMESO
Mudik memakai helikopter menjadi tren belakangan ini. Tarifnya mahal, tapi penumpang bisa berpatungan dengan teman satu tujuan.
Foto: Helicity
Jumat, 15 Juni 2018Siang itu, helikopter Bell 505 Jet Ranger X mengudara dengan sempurna dari helipad Wisma Aldiron, Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis, 7 Juni 2018. Langit Kota Jakarta terlihat berkabut. Bukan lantaran akan turun hujan. Kata Kapten Miko, pilot yang membawa helikopter itu, kabut tersebut merupakan polusi yang saban hari menyelimuti Jakarta. Setelah berada di ketinggian 1.000 kaki, langit sangat cerah.
Reporter detikX, Syailendra Hafiz, yang ikut dalam penerbangan itu, agak sedikit lega. Sebab, menurut sang pilot, kendala utama dalam penerbangan menggunakan helikopter adalah cuaca, terutama hujan lebat.
Ternyata hanya butuh 15 menit berkeliling Jakarta dengan helikopter. “Kalau keliling kota satelit, seperti Bogor, Bekasi, Tangerang, memakan waktu 30-an menit,” kata Kapten Miko.
Dari pengalaman detikX, terbang dengan helikopter tersebut cukup nyaman. Joknya dilapisi kulit dan cukup empuk. Kabin juga dilengkapi dengan air conditioner (AC) sehingga lebih dingin dan nyaman.
Suara bising di dalam kabin memang sedikit mengganggu, tapi helikopter ini dilengkapi dengan headset BOSE A20 untuk berkomunikasi dengan penumpang lain, bahkan dengan pilot, dan dapat disambungkan ke gadget melalui sambungan Bluetooth untuk mendengarkan musik. Kualitas suaranya tidak perlu diragukan lagi.
Adapun kapasitas bagasi hampir mirip dengan pesawat (fix wing), dengan jatah 5-10 kg per orang, tapi harus yang softcase, seperti tas atau travel bag. Koper dan sebagainya tidak boleh masuk kabin.

Kapten Miko pilot helikopter
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX
Helikopter tersebut merupakan armada mudik yang akan dikerahkan PT Whitesky Aviation. Soal tujuan, terserah pada penumpang mau diantar ke mana. Namun tentu dengan harga yang berbeda, tergantung jarak.
“Ke Bandung kita terapkan harga flat. Dan pada liburan Lebaran, kami beri tarif promo Rp 12 juta di luar sewa helipad, yang harganya bervariasi. Tarif normalnya Rp 16.450.000,” tutur Denon Prawira Atmaja, CEO PT Whitesky Aviation.
Dijelaskan Denon, di Bandung ada 53 titik pendaratan. Jadi pemudik punya banyak pilihan lokasi mendarat yang dekat dengan tujuan mereka.
Menyambut mudik Lebaran kali ini, Whitesky menyiapkan dua unit helikopter jenis Bell tersebut, tapi dengan kapasitas penumpang yang berbeda.
Untuk Bell 505 Jet Ranger X, kapasitasnya empat penumpang. Sedangkan Bell 429 berkapasitas 6 penumpang dan lebih nyaman. Harga mudik dengan Bell 429 tentu berbeda, yakni Rp 24 juta untuk tujuan Bandung.
Bagi pemudik yang ingin pulang kampung ke Surabaya, Semarang, atau kota-kota lain di Indonesia, helikopter ini pun siap mengantar. Tapi dengan tarif carter, yang biaya per jamnya Rp 30 juta. Harga-harga tersebut sudah termasuk asuransi.

Denon Prawiraatmaja, CEO Whitesky Aviation
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX
Menurut Denon, mudik dengan helikopter sebenarnya lebih fleksibel dibanding dengan pesawat (fix wing), karena tidak perlu repot ke bandara. Selain itu, kesan mewah dan privat akan didapatkan dengan mudik naik helikopter. Yang paling utama, mudik pakai helikopter bisa cepat sampai karena hanya dibutuhkan 40-45 menit sejak take off dari Jakarta menuju Bandung.
Whitesky melayani mudik dengan helikopter sejak dua tahun lalu. Animo masyarakat yang ingin mudik dengan helikopter pun cukup tinggi.
“Setiap tahun ada peningkatan pemudik yang ingin naik helikopter. Terutama dari kalangan atas dan selebriti. Syahrini mudik tahun lalu (2017) pakai helikopter kami,” katanya.
Meski relatif mahal, kata Denon, harga itu termasuk terjangkau jika bayarnya patungan. Misalnya berangkat dengan teman-teman sekampung, sehingga biaya bisa ditanggung bersama. Misalnya ke Bandung dengan tarif Rp 12 juta, jika berangkat berempat, masing-masing hanya membayar Rp 3 juta.
Namun pemudik tetap harus menyiapkan biaya tambahan untuk helipad pendaratan. Untuk wilayah Bandung, biaya sewa helipad untuk mendarat bervariasi. Misalnya di Bandara Husein Sastranegara kena landing fee Rp 3.575.000, Bandung Indah Plaza Rp 4,4 juta, dan yang paling murah di Universitas Pendidikan Indonesia, Jalan Dokter Setiabudi, Bandung, dengan landing fee Rp 1,1 juta.

Suasana dalam kabin saat helikopter mengudara di Jakarta
Foto : Syailendra Hafiz Wiratama/detikX
Sebelum terbang menuju daerah tujuan, para penumpang akan diberi briefing terkait keamanan dan keselamatan oleh ground crew. Oleh mereka, calon penumpang dijelaskan soal area-area terlarang, seperti area belakang helikopter. Jika ada situasi darurat, pilot yang akan mengambil alih keadaan. Jadi seluruh penumpang tidak boleh melakukan apa-apa selain yang diinstruksikan pilot.
Namun, dari sisi pesawat, kata Denon, helikopter yang dioperasikan punya tingkat keamanan yang tinggi. Karena sistem di helikopter sudah computerized, kalau ada problem, misalnya terjadi engine fail (kegagalan pada mesin), akan muncul indikator jauh-jauh sebelum kerusakan benar-benar terjadi.
Selain itu, helikopter seharga Rp 20 miliar itu dilengkapi dengan auto rotation. Bila terjadi engine fail, helikopter masih bisa terbang dengan sisa kekuatan baling-baling hingga 1,5 kilometer untuk mencapai tempat pendaratan darurat.
“Auto rotation ini prosedur yang sangat common. Jadi setiap kita beli helikopter, pilotnya itu sudah biasanya melakukannya. Sebab, pilot sudah di-training selama setahun untuk kondisi tersebut,” ujar Denon.
Yang pasti, saat ini masyarakat punya banyak pilihan untuk mudik. Bagi yang menginginkan mudik dengan cepat dan antimacet, mungkin mudik dengan helikopter bisa jadi pilihan sekalipun harus merogoh kocek sangat dalam.
Reporter: Syailendra Hafiz Wiratama
Redaktur: Deden Gunawan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim