Aktivitas di sebuah gerai Pegadaian
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Sejak pukul 08.00 WIB, kantor Pegadaian Cabang Kedunghalang di Jalan Raya Bogor, Jawa Barat, sudah disambangi beberapa orang. Mereka mengambil nomor antrean. Secara bergilir mereka diterima oleh dua karyawan Pegadaian yang bertindak sebagai juru taksir dan kasir.
Kebanyakan yang datang pada hari itu, Rabu, 30 Mei 218, adalah nasabah baru dan lama. Mereka, yang rata-rata adalah ibu-ibu dan perempuan muda, hendak menggadaikan barang berharga berupa perhiasan emas. Tepat pukul 10.00 WIB, semua bangku antrean di sebuah ruangan seluas 3 x 3 meter itu pun penuh sesak.
“Ya, setiap hari di sini selalu ramai. Lebih ramai lagi di bulan puasa atau menjelang Lebaran nanti,” kata seorang personel satpam Pegadaian itu kepada detikX.
Salah seorang calon nasabah, Andri, mengaku menyempatkan diri ke Pegadaian sebelum berangkat ke kantornya di Jakarta. Namun, warga Sukahati, Cibinong, ini bukan akan menggadaikan perhiasan, tapi hendak membayar cicilan pembelian logam mulia di Pegadaian seberat 25 gram.
“Dulu saya pernah gadaiin cicin kawin, he-he-he.... Maklum lagi butuh. Soalnya, di Pegadaian cepat dapat uang. Harganya memang sama kayak jual ke pedagang, tapi di sini kan bisa ditebus lagi. Bunganya relatif kecil dibanding meminjam ke bank,” ujarnya.

Warga sedang mengantre di Pegadaian
Foto: Fadhly Fauzi Rachman/detikFinance
Memang, tiap tahun pada bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri, Pegadaian selalu menjadi tempat favorit warga untuk mendapatkan uang dengan cepat. Banyak alasan masyarakat menggadaikan barang berharganya. Mulai untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, pinjaman modal, sampai hanya menitipkan barang karena mudik.
Apalagi bagi kalangan masyarakat menengah ke atas yang memiliki bisnis, Pegadaian pun menjadi alternatif mendapatkan pinjaman uang cepat ketimbang melalui bank yang prosesnya njelimet. Mereka memakai dana pinjaman dari Pegadaian itu untuk modal usaha selama bulan puasa.
Fenomena meningkatnya jumlah masyarakat yang menggadaikan barang berharganya pada bulan Ramadan diakui PT Pegadaian (Persero). Peningkatan itu dipicu oleh melonjaknya kebutuhan warga akan sembako, yang mencapai dua kali lipat dari hari-hari sebelumnya. Belum lagi, warga yang membutuhkan modal usaha.
“Fenomena di Pegadaian itu dari dulu biasanya kenaikan justru pada saat bulan puasa. Menjelang puasa, ketika orang memerlukan modal untuk usaha yang akan dijalankan selama bulan puasa,” kata Manajer Komunikasi Perusahaan PT Pegadaian, Basuki Tri Andayani kepada detikX, 23 Mei 2018.
Menurut Basuki, peningkatan transaksi di Pegadaian biasanya meningkat tajam menjelang Ramadan. Hingga pertengahan bulan Ramadan, transaksi relatif stabil. Sebaliknya, mendekati Lebaran, jumlah nasabah yang membayar tebusan atau mengambil barang yang digadaikan cenderung meningkat.

Basuki Tri Andayani, Manajer Komunikasi Perusahaan PT Pegadaian
Foto: Gresnia/detikX
“Nah, begitu mendekati Lebaran, biasanya malah turun. Kenapa? Kan orang yang berprofesi sebagai karyawan atau buruh itu biasanya mendapatkan THR. Barang-barang yang semula digadaikan ditebus karena mau dipakai saat Lebaran,” katanya.
Tak hanya menggadaikan barang untuk mendapatkan dana segar sebagai modal, banyak juga warga yang datang ke Pegadaian sekadar untuk menitipkan barang karena akan pulang kampung. Mereka khawatir barang-barang berharga, seperti perhiasan, barang elektronik, sepeda motor, atau mobil, yang ditinggalkan di rumah akan diincar pencuri.
“Selain untuk modal mudik, barang aman dari tindak pidana pencurian ketimbang disimpan di rumah. Motif ini ada, tapi jumlahnya tidak signifikan,” ujar Basuki lagi.
Untuk kendaraan bermotor yang akan dijaminkan, terlebih dahulu dicek secara fisik dan kelengkapan serta keabsahan dokumennya, seperti STNK dan BPKB. Nasabah pun hanya melampirkan fotokopi kartu tanda penduduk dan kartu keluarga. Untuk keamanan, PT Pegadaian bekerja sama dengan pihak Polri mencegah tindak pidana yang tak diinginkan, seperti kendaraan hasil pencurian yang digadaikan.
Bukan hanya Pegadaian milik pemerintah yang diserbu masyarakat untuk mendapatkan dana segar. Sejumlah tempat gadai swasta yang sekarang menjamur pun menjadi alternatif masyarakat untuk memperoleh uang dengan cepat tanpa prosedur yang rumit.
“Kalau di sini trennya naik dibanding bulan-bulan lainnya. Menjelang Lebaran kebutuhan naik, apalagi setelah Lebaran berbarengan anak-anak mau masuk sekolah. Jadi kebutuhan pembiayaan lagi bagus,” kata Branch Manager Bima Finance Mochamad Rajianto kepada detikX di kantornya, Jalan Kampung Parung Jambu, Sindangbarang, Bogor, Jawa Barat, Kamis 24 Mei 2018.
Bima Finance lebih banyak menerima barang jaminan berupa kendaraan bermotor, seperti sepeda motor dan mobil. Syaratnya mudah. Para nasabah yang akan menggadaikan kendaraan atau meminjam uang hanya melampirkan fotokopi KTP, kartu keluarga, rekening listrik, fotokopi STNK, dan BPKB asli.
“Kita spesialis BPKB, cuma kendaraan roda dua. Kalau mobil kita masih pending semua dulu,” jelas Rajianto.
Diakui Rajianto, gadaian kendaraan bermotor memang sangat rawan, terutama sepeda motor dan mobil yang surat-suratnya bodong. Namun kemungkinan tersebut sangat kecil karena kendaraan bermotor yang akan dijaminkan harus dicek secara fisik, juga pengecekan keabsahan dokumennya. “Kalau mau ke sini kan wajib dibawa itu motornya, nomor polisinya, nomor rangka-mesinnya, dicek semua, BPKB,” terangnya.
Menghadapi Lebaran tahun ini, berapa dana yang disiapkan Bima Finance untuk keperluan masyarakat yang membutuhkan dana segar, Rajianto enggan menyebutkannya. Ia hanya mengatakan tidak ada pembatasan dana. Setiap barang jaminan akan dihitung sesuai harga pokok, bunga, asuransi, dan fidusia sesuai dengan aturan yang diberlakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kalau pendanaan nggak kita batasi, seperti biasa saja, sih,” tutur Rajianto.

Bima Finance di daerah Bogor
Foto: Gresnia/detikX
Sementara itu, penyaluran pinjaman dari transaksi gadai yang tercatat di PT Pegadaian (Persero) untuk Idul Fitri 2018 atau bulan Juni ini diprediksi menurun. Penurunan mencapai 20 persen dibanding transaksi Mei 2018. Pada bulan lalu, Pegadaian telah menyalurkan pinjaman Rp 10,83 triliun.
Berkaca pada data 2017, transaksi Pegadaian pada bulan puasa mencapai Rp 10,6 triliun. Lalu, menjelang Lebaran, terjadi penurunan sekitar 20 persen atau Rp 8,4 triliun.
“Paling tidak, kalau bulan Mei kita bisa menyalurkan omzet Rp 10,8-11 triliun, paling di bulan Juni saat Lebaran paling sekitar Rp 8-9 triliun. Itu prediksi, ya,” ungkap Basuki.
Setelah Lebaran atau Juli 2018, tren pinjaman akan kembali mengalami kenaikan. Ia memprediksi transaksi penyaluran pinjaman pada Juli 2018 bisa Rp 11-12 triliun.
“Ya prediksi bisa Rp 11-12 triliun, karena mereka jelas butuh modal lagi setelah Lebaran. Jadi barang-barang yang sekarang ditebus digadaikan lagi nanti,” ujarnya.
Reporter: Gresnia F Arela
Redaktur: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim