INTERMESO

Cureng dan Banteng Terbang Kembali

Dengan peralatan seadanya, teknisi Angkatan Udara menghidupkan kembali pesawat peninggalan Jepang. Jadi modal melawan
agresi Belanda.

Ilustrasi: Edi Wahyono
Sabtu, 21 April 2018

Usia Republik belum genap tiga bulan saat Basir Surya diam-diam menghubungi Suryadi Suryadarma, yang berada di Bandung. Suryadarma, mantan instruktur penerbang dan navigator di Sekolah Penerbang Kalijati, memberi tahu, di Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta, banyak pesawat peninggalan Jepang yang bisa diperbaiki.

Rencananya, apabila nanti bisa terbang, pesawat-pesawat itu bisa dijadikan modal perjuangan dalam merintis dan membangun angkatan udara. Suryadarma sudah berkeliling ke sejumlah daerah dan menyampaikan gagasan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan.

Luar biasa senang hati Basir mendengar cerita Suryadarma. Semangatnya meledak-ledak ingin segera berangkat ke Maguwo. Basir saat itu seorang teknisi sarat pengalaman di Pangkalan Udara (Lanud) Andir, kini Lanud TNI AU Husein Sastranegara, Bandung. Pekerjaannya memperbaiki pesawat Capung. Pria asli Garut tersebut belajar mereparasi pesawat mulai 1932. Namun, karena dicurigai Belanda bersimpati kepada aktivis prokemerdekaan, Basir memilih mundur dari pekerjaannya.

Basir tak lama menganggur. Saat tentara Jepang mendarat di Indonesia dan menguasai daerah bekas jajahan Belanda pada 1942, Basir direkrut. Militer Jepang membutuhkan keahliannya untuk membangun kekuatan udara di Indonesia dengan cepat. Karena pengalamannya, ia segera mendapat kepercayaan dan ditunjuk menjadi Kepala Bengkel Pesawat. Saat terbentuk Badan Keamanan Rakyat Oedara beberapa minggu setelah Proklamasi, Basir Surya ikut bergabung.

Teknisi sedang memperbaiki pesawat
Foto: dok. Pentak Lanud Wiriadinata Tasikmalaya

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Suryadarma, Basir berangkat ke Yogyakarta naik kereta api bersama seorang teknisi lainnya bernama Tjarmadi. Pada 26 Oktober 1945, mereka tiba di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Seorang kawan mengantarkan mereka ke Maguwo. Para teknisi ini mendapati sebagian besar pesawat berjenis Yokosuka K5Y1 atau bagi orang lokal sering disebut Cureng. Saat Perang Pasifik, pesawat ini dijuluki Red Dragonfly atau Si Capung Merah.

Cat merah-putih ternyata sudah disematkan pada badan pesawat-pesawat tersebut. Tanda pengenal pesawat berbentuk bulatan merah lambang Hinomaru dicat ulang menjadi bulatan Merah-Putih. Sayangnya, dari puluhan pesawat, hanya tiga yang masih dalam keadaan lengkap. Hanya ada sedikit kerusakan yang memerlukan perbaikan.

Setelah memeriksa pesawat Cureng dengan teliti, Basir menaksir hanya perlu waktu sehari untuk menghidupkan kembali pesawat-pesawat terbang itu sehingga laik terbang. "Beliau yang memimpin tim teknisi memperbaiki pesawat tersebut," ujar salah seorang cucu Basir, Ismi Dinar, kepada detikX, Rabu, 18 April lalu.

Tanpa buang waktu lagi, Basir dan kawannya langsung tancap gas, bekerja secepatnya mereparasi salah satu pesawat Cureng itu. Basir dan timnya menepati janji mereka. Pagi-pagi tanggal 27 Oktober, hanya sehari setelah Basir menginjakkan kaki di Kota Yogyakarta, Agustinus Adisutjipto, yang diminta Suryadarma mengawaki pesawat tersebut, sudah bersiap di Lapangan Terbang Maguwo.

Pesawat Cureng sedang mengudara
Foto: dok. Dinas Penerangan TNI AU

Beliau yang memimpin tim teknisi memperbaiki pesawat tersebut."

Ismi Dinar, cucu Basir Surya

Buku biografi Suryadi Suryadarma berjudul Bapak Angkatan Udara menyebut Adisutjipto dipilih karena ia memiliki ijazah Groot Militaire Brevet. Adisutjipto segera duduk di kokpit pesawat dengan dua awak itu. Di bangku belakang, duduk Tarsono Rudjito. Sekitar pukul 10 pagi, Adisutjipto sukses membawa Cureng kembali mengudara.

Itulah penerbangan pertama pesawat Merah-Putih di alam kemerdekaan. Sehari kemudian, bertepatan dengan diadakannya rapat raksasa di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta, pesawat itu kembali terbang. Saat itu sedang ada rapat raksasa dalam rangka Kongres Pemuda Indonesia yang dihadiri Presiden Sukarno dan Sri Sultan Hamengku Buwono IX.

Sukses dengan penerbangan pertama di Maguwo, Basir melaporkan kepada Adisutjipto bahwa di Pangkalan Udara Cibeureum, Tasikmalaya, ada pesawat lagi yang siap diterbangkan. Mereka lantas bergegas menuju Tasikmalaya pada 2 November 1945. Kali ini bukan pesawat Cureng, melainkan pesawat Nishikoren. Dibantu sejumlah teknisi dari Lanud Andir, di antaranya M Jacoeb dan Toeloes Mertoadmodjo, Basir berhasil memperbaiki pesawat tipe latih buru itu.

Pesawat itu lantas diberi identitas segi empat Merah-Putih dan burung garuda di bagian ekor. Mereka memilih nama Banteng untuk pesawat dengan dua awak tersebut. Duet Adisutjipto dan Rudjito kembali berhasil menerbangkan pesawat itu di langit Tasikmalaya selama 30 menit pada 7 November 1945.

Basir Surya bersama keluarga besarnya
Foto: dok. pribadi

Pada masa awal kemerdekaan, tenaga terampil untuk perbaikan dan pemeliharaan pesawat terbang masih sangat terbatas. Padahal banyak pesawat terbang rampasan dari tentara Jepang yang membutuhkan perbaikan agar layak terbang kembali. Adisutjipto akhirnya menginisiasi pendirian Sekolah Teknik Udara di Maospati, Madiun, pada 10 September 1946.

"Untuk menambah kualitas teknisi dan menambah tenaga teknisi baru," seperti yang dikutip dari buku Sejarah Angkatan Udara Indonesia 1945-1949. Sekolah tersebut dipimpin Ibrahim Bekti. Murid pertamanya sebanyak 40 orang, yang berasal dari 20 anggota Angkatan Udara dan 20 pelajar sekolah menengah yang baru lulus.

Sementara itu, Basir Surya kemudian diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Cibeureum pertama pada 1946. Basir memimpin pangkalan tersebut sampai 1951. Baru setahun Basir memimpin Lanud Cibeureum, Belanda melancarkan agresi militer pada 21 Juli 1947. Pangkalan udara milik Indonesia di Jawa dan Sumatera menjadi sasaran serangan. Pimpinan Angkatan Udara Suryadarma memerintahkan para teknisi mempersenjatai pesawat-pesawat yang ada.

Buku Peristiwa Heroik 29 Juli 1947, yang diterbitkan oleh Sub Dinas Sejarah Dinas Penerangan TNI AU, menyebut, di bawah pimpinan Basir, para teknisi bekerja siang-malam untuk mempersenjatai beberapa jenis pesawat. Untuk pesawat jenis tempur seperti Guntei, teknisi tak mengalami kesulitan. Namun untuk pesawat Cureng tak mudah. Pesawat Cureng tak dilengkapi gantungan bom. Akhirnya rak untuk menggantung bom bisa dipasang di bawah sayap, sementara senapan mesin dipasang di kokpit belakang.

Kondisi persenjataan yang terbatas itu tak memupus semangat para penerbang muda. Pada 29 Juli 1947, dilancarkan serangan balasan dengan menggunakan tiga pesawat Cureng dan Guntei, yang diawaki Mulyono, Sutardjo Sigit, dan Suharnoko Harbani. Mereka mengincar markas militer Belanda di beberapa kota di Jawa Tengah.

Monumen peringatan penerbangan pesawat militer di Tasikmalaya, Jawa Barat.
Foto: dok. Pentak Lanud Wiriadinata Tasikmalaya

Pada 1954, Basir diangkat menjadi Komandan Pangkalan Udara Margahayu, yang kemudian menjadi Lanud Sulaiman, Bandung. Setelah dari Bandung, dia dipindah lagi ke Sulawesi Utara sebagai Komandan Lanud Tosuka, Manado, pada 1957 dan kemudian Danlanud Tanjung Pandan pada 1960. Menjelang pensiun pada 1969, ia memilih pulang kembali ke Tasikmalaya.

Basir, yang pensiun dengan pangkat terakhir letnan kolonel, sempat diminta menangani Proyek Menang, pendirian pabrik roket yang berlokasi di Pangkalan Udara Tasikmalaya. Saat itu AURI bekerja sama dengan Hispano Suiza asal Swiss. Karena biaya produksi roket yang membengkak, akhirnya dibuat produk sampingan, yakni bahan-bahan peledak berupa dinamit yang dijual kepada kontraktor sipil dan perusahaan tambang. Hasil penjualan dinamit ini digunakan untuk menyubsidi biaya produksi roket.

Ia pun diminta membantu pembuatan lapangan terbang perintis di beberapa daerah terluar, seperti di Natuna dan Fakfak, Papua Barat. Begitu pula pembangunan beberapa proyek infrastruktur lainnya, seperti Bendungan Sigura-gura, Asahan, dan proyek jalan raya Medan-Aceh.

Untuk menghormati jasa Basir, yang wafat di Tasikmalaya pada 1993, Lanud Wiriadinata membangun monumen peringatan penerbangan pesawat militer pertama Indonesia. "Monumen itu untuk mengingatkan atas jasa beliau memperbaiki pesawat Jepang dan membuat sejumlah operasi militer udara berhasil dilaksanakan," ujar Kepala Penerangan Lanud Wiriadinata, Kapten Sus Ramlan Rambe, kepada detikX.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Habib Rifai

[Widget:Baca Juga]
SHARE