INTERMESO
Mereka mengemas menu warung biasa jadi tak biasa. Sekarang berkembang menjadi ratusan restoran.
Sarita Sutedja (ketiga dari kiri) salah satu pendiri Warung Upnormal
Foto-foto: Grandyos/detikcom
Pelayan berapron kulit datang membawa empat gelas es teh ke meja yang dikelilingi gadis-gadis remaja berseragam putih-biru. Suguhan itu sedikit meredakan tawa para remaja yang asyik bermain kartu Uno. Pesanan roti bakar berlapis selai cokelat pesanan mereka datang menyusul kemudian.
Di sudut yang lain tampak kontras. Sekelompok remaja lengkap dengan laptop masing-masing khusyuk mendengarkan omongan salah satu dari mereka. "Kami memang konsepnya nongkrong, bukan makan," ujar Sarita Sutedja, salah satu pendiri Warunk Upnormal, kepada detikX di Warunk Upnormal, Jalan Riau, Bandung, Selasa lalu.
Berdiri pertama kali pada pertengahan 2014, menurut Sarita, konsep Warunk Upnormal memang memberikan tempat nongkrong alternatif kepada kaum muda dengan suasana yang nyaman dan harga makanan yang pas dengan isi kantong anak-anak muda. "Masa itu harga makanan di kafe masih selangit. Bagi mahasiswa kebanyakan, nongkrong di kafe, harganya pasti tak masuk bujet mereka," ujar sarjana ekonomi lulusan Universitas Parahyangan, Bandung, itu.
Sementara itu, warung kopi pinggir jalan tempat makan favorit para mahasiswa dengan menu mi instan, roti bakar, susu segar, dan kopi jelas bukan tempat yang cocok buat berlama-lama duduk dan mengobrol. "Mereka yang ingin kerja kelompok atau sekadar nongkrong main, pasti ingin tempat yang nyaman. Ada koneksi Wi-Fi, colokan listrik, ada pendingin ruangan, yang semuanya pasti tak bisa didapat dari warung kopi biasa," kata Sarita.
Ide para pendiri pun muncul dan sebenarnya sederhana saja, yakni menggabungkan konsep kafe premium dengan warung kopi pinggir jalan. "Suasananya kami buat seperti kafe. Memang meniru Starbucks di awal dari warna cat, suasananya, penggunaan apron bagi seragam karyawan," ujar Sarita. "Hanya, menu-menunya ya menu warungan."

Warung Upnormal di Bandung
Menu warung yang disebut terinspirasi dari warkop, kata Sarita, tentunya sudah mengalami inovasi-inovasi. Mengusung tagline Pelopor Indomie Kekinian, mereka memodifikasi Indomie menjadi beberapa varian sajian dengan nama-nama unik. Sebut saja Indomie Gokil, yang merupakan paduan Indomie, kikil, dan rempah cabai hijau. Lalu Indomie Nuklir dan Indomie Saos Telur Asin. "Menu warung kami naikin kastanya dengan harga terjangkau, bukan setara dengan kafe-kafe."
Inovasi Warunk Upnormal memberi nama yang unik pada menu-menunya plus suasana ruangannya yang nyaman dengan dekorasi menarik mendapat sambutan luar biasa. Para pendirinya memang dengan sengaja membidik segmen generasi milenial dengan kelebihan-kelebihan tersebut.
"Milenial ini butuh sesuatu yang bisa di-share atau diomongin. Mereka harus jadi yang terdepan kalau ada sesuatu yang unik dan baru. Harus paling duluan posting di Instastory," kata Sarita. "Karena itu, kami harus terus berinovasi, gali ini gali itu untuk menciptakan sesuatu yang baru dan unik."
Meski terbilang yang paling sukses, Warunk Upnormal bukanlah unit bisnis pertama yang dibangun Sarita bersama Rex Marindo, Budiardi Supasentana, Stefanie Kurniadi, Danis Puntoadi, Pujiana Nurul Hikmah, dan Angga Nugraha. Oktober 2013 merupakan titik awal mereka terjun ke bisnis kuliner dengan mendirikan Nasi Goreng Rempah Mafia.
Sebelum nyemplung ke bisnis kuliner, mereka, kecuali Budiardi, bergabung di kantor yang sama di bidang konsultan bisnis, yakni Creasionbrand. Saat itu usia Sarita dan teman-temannya sudah menjelang 30 tahun. Dia bersama Rex, Danis, dan Stefanie berbincang soal target ke depan. "Kami tetapkan umur sekian harus punya aset berapa. Kami lalu tarik mundur ke umur saat itu. Ternyata, setelah kami hitung-hitung, angka tersebut tak tercapai jika kami tetap sebagai konsultan bisnis," ujarnya. Tak ada cara lain, mereka harus putar haluan.
Saat bersiap untuk mengubah konsep bisnis, mereka pun bermain dengan data. Mencari bisnis yang tak pernah mati, yang tentu saja seputar kebutuhan pokok manusia. "Kalau sandang kami nggak punya gambaran seperti apa industri fashion. Secara fashion kami juga nggak modis-modis amat. Kalau mau masuk bisnis properti, kami nggak punya modal besar," ujar Sarita. Tinggal satu hal lagi kebutuhan pokok, yakni urusan perut. "Paling gampang ya makanan. Kebutuhan modalnya relatif kecil. Akhirnya kami pilih masuk ke kolam kuliner."
Setelah jenis bisnis sudah ditentukan, tantangan berikutnya datang. Tak satu pun di antara empat orang itu yang bisa memasak. "Kami suka makan. Kami tahu produk apa yang bisa dijual dan spesifikasinya seperti apa, tapi persoalannya tak ada yang bisa masak," ujar Sarita. Mereka sadar betul, untuk masuk bisnis kuliner, mereka membutuhkan sejawat yang bisa mengolah masakan.
Terbentur kendala, mereka putar otak. Mereka teringat salah seorang kawan yang sebelumnya mereka kenal di salah satu pusat kebugaran. "Pertemuan kami seperti takdir. Budiardi pendidikannya arsitektur di Unpar tapi suka masak. Dia suka mengolah bahan baku dan memodifikasi masakan," ujar Sarita. Akhirnya mereka mengatur pertemuan dengan Budiardi untuk membicarakan rencana pengembangan bisnis kuliner tersebut.
Penelitian kecil-kecil pun dilakukan untuk memilih model bisnis kuliner apa yang mereka masuki. Pertimbangan utama sebagai bisnis rintisan tentu saja sumber daya terbatas. "Makanan apa sih yang tidak perlu edukasi lagi untuk cara makannya. Kami lihat di jalan setiap 100 meter pasti ada penjual nasi goreng. Seumur hidup saya tak pernah menemukan orang yang tidak doyan nasi goreng," ujar Sarita. Apalagi CNN Travel memasukkan nasi goreng sebagai salah satu makanan terenak di dunia. Alasan-alasan itu menguatkan mereka memilih menjual nasi goreng.

"Saat awal kami masuk bisnis kuliner, kami sudah memikirkan, setiap tahun akan mengeluarkan brand baru."
Sarita Sutedja, salah satu pendiri Warunk UpnormalSuatu hari ide Budiardi menyambangi kantor Creasionbrand. Ia datang membawa kuali, nasi, dan macam-macam bumbu racikannya. "Kami kasih tahu karyawan, tak usah beli makan siang," ujar Sarita. Ternyata sambutan pada nasi goreng racikan Budi luar biasa. "Karena kehabisan, ada yang sampai beli nasi putih agar digorengkan lagi. Dari situ kami bisa tarik kesimpulan produk ini disukai."
Pada Oktober 2013, berdirilah warung Nasi Goreng Rempah Mafia pertama di Jalan Dipati Ukur, Bandung. Di jalan ini berjejer beberapa kampus perguruan tinggi. Konsep pemasarannya pun tak biasa. Mereka menggratiskan 1.000 piring pertama bagi para konsumennya. "Dibayarnya hanya pakai doa. Ini menjadi viral," ujar Sarita. Dua rekan sekantor mereka, Pujiana Nurul Hikmah dan Angga Nugraha, kemudian diajak bergabung untuk membesarkan bisnis baru ini.
Dari warung nasi goreng yang awalnya menggunakan satu ruko berukuran kecil, Sarita dan kawan-kawannya berhasil mengembangkan unit-unit bisnis baru. Setelah Warunk Upnormal lahir pada 2014, setahun kemudian, pada Januari 2015, menyusul Bakso Boedjangan.
"Pada Oktober 2015, lahir lagi Sambal Karmila, lalu Fish Wow Cheeseee pada November 2017," ujar Sarita. Meski Warung Upnormal sukses besar, mereka memang tak mau berpuas diri dengan warung-warung yang sudah ada. "Saat awal kami masuk bisnis kuliner, kami sudah memikirkan, setiap tahun akan mengeluarkan brand baru."

Unit-unit bisnis ini kemudian digabungkan dalam grup PT Citarasaprima Indonesia Berjaya. Terakhir grup ini mengeluarkan unit bisnis baru, yakni Upnormal Coffee Roaster. Bisnis memanjakan lidah dan perut memang tak ada matinya. Dari sekadar jualan nasi goreng, sekarang gurita warung milik Sarita dan teman-temannya ini sudah ke mana-mana. Sekarang mereka mengelola 65 Warung Upnormal, 24 warung Bakso Boedjangan, 17 warung Nasi Goreng Rempah Mafia, 5 warung Sambal Karmila, dan satu gerai Fish Wow Cheeseee.
Reporter/Redaktur: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim