Ilustrasi: Edi Wahyono
Sabtu, 17 Februari 2018Asep Djuheri masih duduk di bangku sekolah menengah pertama saat pertama kali mencuri motor. Beberapa kali mencuri sepeda motor dan lolos dari hukuman, Heri Coet—Asep biasa disapa teman-temannya—mengalihkan sasaran ke mobil, yang menghasilkan duit lebih besar. Saat itu, akhir 1980-an, Heri masih remaja tanggung, masih berseragam sekolah menengah atas.
“Saya lahir dari keluarga broken home,” Heri, kini 45 tahun, menuturkan kepada detikX. Dia anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Kedua orang tuanya bercerai dan menikah lagi dengan orang lain saat dia masih SMP. Heri merasa bertanggung jawab atas nasib adik-adiknya yang masih kecil. “Saya sebenarnya nggak mau kasih makan mereka dengan uang nggak halal. Tapi saya dan adik-adik saya nggak mau merepotkan saudara.”
Dikelilingi lingkungan sebaya yang buruk, Heri memilih jalan buruk untuk menghidupi keluarga. “Sekeliling saya di sekolah, permainannya, kalau nggak nyuri, berjudi, main cewek, ya berkelahi,” kata Heri. Dia makin jauh terperosok di dunia hitam itu setelah berkenalan dengan obat-obat terlarang. Tak cuma harus mencari duit untuk adik-adiknya, Heri juga butuh duit besar untuk mengongkosi candunya.
Pengaruh buruk itu menular pula dalam keluarganya. Ada empat adiknya yang terseret kelakuan buruk Heri. Mereka juga ikut dalam jaringan maling kendaraan bermotor dan nyandu narkotika. Saat itu, Heri tak lagi ‘sakti’. Beberapa kali dia tertangkap dan dijebloskan ke penjara. “Saya sebagai kakak yang paling bisa mereka andalkan ternyata malah masuk bui. Jadi mereka berpikir bagaimana caranya bertahan hidup,” Heri menuturkan pengalaman pahitnya.

Heri Coet bersama teman-temannya
Foto: dok.pribadi via Instagram
Heri saat bersama atlet Thai boxing di sasananya.
Foto: Melisa/detikX
Salah satu karya Heri Coet dan teman-temannya berupa kaus.
Foto: dok.pribadi via Instagram
Karena eks napi, setelah keluar dari penjara, down mentalnya. Bergaul kembali dengan masyarakat itu merupakan hal yang susah.”
Heri Coet, pendiri komunitas Residivist IndonesiaTak cukup jari sebelah tangan untuk menghitung berapa kali Heri masuk bui. Hingga tahun 2000, saat dia terakhir keluar dari penjara, Heri sudah delapan kali dijebloskan ke balik jeruji besi lantaran rupa-rupa kejahatan. “Pertama kali masuk penjara rasanya sangat gugup dan takut,” katanya. Tapi, di penjara, dia justru menemukan ‘sekolah’. Di dalam penjara, dia justru bertemu dengan segala macam kriminal yang jauh berpengalaman. “Jadi tambah pintar dan tambah relasi untuk berbuat kejahatan.”
Pada tahun 2000, Heri keluar dari bui untuk kesekian kali. Beberapa adiknya datang menjemput bersama anak dan istri mereka. Melihat keluarga mereka, Heri merasa jauh tertinggal. “Sudah waktunya saya memikirkan hidup sendiri,” ujarnya. Tapi juga ada faktor lain yang membuatnya membulatkan tekad untuk bertobat.
“Kehidupan sebagai penjual narkoba itu nggak mudah. Semakin nama saya dikenal oleh Kepolisian Kota Bandung, artinya makin rawan. Kalau saya melakukan kejahatan yang sama lagi, mungkin mereka sudah nggak segan menembak saya,” kata Heri. Dia tak mau bernasib seperti beberapa bandar narkoba yang mati ditembak. “Saya merasa dunia makin sempit saja. Di pikiran saya, setelah keluar dari penjara terakhir itu, kalau nggak berbuat baik, ya mending bunuh diri.”
Tapi, sebagai orang yang punya ‘ijazah’ delapan kali penjara, siapa yang mau mempekerjakan Heri. Dia sendiri juga tak cukup percaya diri. Ijazah SMA pun dia tak punya. Tapi dia sudah bertekad tak akan kembali masuk penjara. Tak yakin ada yang mau mempekerjakannya, Heri menjadi pedagang kaki lima. Segala macam barang dia jual.
Heri bersama kawan-kawannya di kafe.
Foto: Melisa/detikX
“Saya berjanji, kalau ada orang yang mau mengangkat saya bekerja atau saya bisa berusaha di usaha yang halal, saya akan berhenti dari kejahatan. Saya pegang janji itu sampai sekarang,” kata Heri. Rezeki itu datang juga. Pada masa kampanye pemilihan Presiden RI pada 2004, tim kampanye pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla mendatanginya. Mereka memesan 1 juta pin.
Heri sempat tak percaya hingga duit Rp 200 juta dibayarkan kepadanya. Duit itulah yang kemudian dia terus putar untuk segala macam usaha sampai sekarang. Heri benar-benar bekerja keras untuk bertahan hidup. Tanpa perlu segala macam terapi, dia juga sudah lepas dari belitan candu obat-obat terlarang.
Sekarang hidup Heri sepenuhnya dia curahkan untuk keluarga, usaha, dan komunitas para mantan narapidana, Residivist Indonesia. Di kampungnya, Sukahaji, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, dia juga dipercaya menjadi ketua rukun warga sejak beberapa tahun lalu.
Merasakan sendiri betapa sulitnya mantan narapidana kembali ke masyarakat dan mendapatkan pekerjaan, Heri mendirikan Residivist Indonesia. Di bawah payung Residivist, ada sejumlah unit usaha, mulai Kafe Pascorner, pelatihan Thai boxing, budi daya jangkrik, sampai pembuatan kaus Residivist.

Heri Coet bersama atlet Thai boxing
Foto: Melisa/detikX
Semua usaha itu mempekerjakan orang-orang yang pernah merasakan pengapnya penjara. “Mereka ingin sadar, ingin bekerja, tapi tidak ada kesempatan, sehingga saya terpacu juga membuat sesuatu untuk mereka,” kata Heri. Menurut dia, saat keluar dari penjara, rata-rata narapidana bingung mesti mengerjakan apa. “Karena eks napi, setelah keluar dari penjara, down mentalnya. Bergaul kembali dengan masyarakat itu merupakan hal yang susah. Ketika mereka ketemu dengan kami di komunitas, seakan-akan di kamar saja. Tukar pikirannya juga enak.”
Kafe Pascorner merupakan buah kerja sama Heri dan komunitasnya dengan PT Anugerah Vata Abadi (AVA). Perusahaan ini merupakan mitra sejumlah lembaga pemasyarakatan untuk menyediakan rupa-rupa pelatihan bagi narapidana. Namun, menurut Yabes Heru Harianto, penanggung jawab kegiatan sosial PT AVA, masalah yang paling krusial bagi orang-orang seperti Heri justru bukan di dalam penjara, melainkan setelah mereka bebas.
Stigma negatif sebagai mantan narapidana merupakan beban yang berat bagi mereka. “Sedikit sekali perusahaan yang mau menerima mantan napi. Akhirnya, ya, mereka kembali ke komunitas sebelumnya,” kata Heru. Maka jadilah lingkaran setan yang terus berulang. Di Pascorner, AVA hanya menjadi pemodalnya. “Konsep, desain, dan 90 persen karyawannya berasal dari para mantan narapidana.” Jadi siapa bilang mantan napi tak bisa bekerja dan berkarya?
Reporter: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim