INTERMESO

YouTuber Bule Ngomong Jawa

“Saya ingin orang Indonesia bangga dengan bahasa daerah masing-masing karena kalau nggak dipakai akan hilang”

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Minggu, 29 Januari 2018

Di suatu sore yang damai, dua perempuan sedang menghabiskan waktu bersantai di Taman Bungkul, Surabaya. Sambil mengobrol sesekali mereka asyik bercanda. Tiba-tiba seseorang berperawakan tinggi, kulit putih dan rambut pirang menghampiri mereka. Sambil menggendong tas di punggungnya, turis asing yang nyasar ini datang dan meminta petunjuk arah.

Sayangnya dua perempuan ini kesulitan memahami maksud si bule. Dengan Bahasa Inggris terbata-bata mereka berusaha membantu. Alangkah terkejutnya dua perempuan ini ketika si bule tak sengaja bertemu salah seorang temannya. Ternyata ia fasih dan medok berbahasa Jawa Suroboyoan.

Siapa pun tak akan mengira sosok bule bernama Dave Jephcott ini bisa berbahasa Jawa. Dave memang sengaja membuat prank atau lelucon. Keisengannya itu dia rekam dan lantas diunggahnya ke akun YouTube miliknya yaitu Londokampung. Tak terhitung jumlah orang yang menjadi korban prank. Mulai dari pedagang cilok sampai ibu-ibu rumah tangga tak luput dari ulah iseng Dave. 

“Saya sangat senang lihat reaksi orang kaget melihat saya bisa Bahasa Jawa. Ada yang kaget bukan main, gemas, sampai tertawa terpingkal-pingkal,” kata Dave. Video prank semacam ini terbukti berhasil menggaet banyak penonton. Seperti salah satu video yang berjudul ‘Prank Bule Ngomong Jawa’ telah mendapatkan lebih dari 2 juta penonton.

Berparas bule, berambut pirang dengan kulit putih pucat, Dave lahir di kota Melbourne, Australia. Namun sejak Dave berusia 2 tahun, ia dibawa oleh orang tuanya ke Surabaya karena alasan pekerjaan. Menghabiskan masa kecil di kota pahlawan itu Dave jadi terbiasa berbahasa Jawa ala Surabaya.

Saya sangat senang lihat reaksi orang kaget melihat saya bisa Bahasa Jawa. Ada yang kaget bukan main, gemas, sampai tertawa terpingkal-pingkal.” 

Dave Jephcott, youtuber asal Australia

Dave Jephcott menghadiri undangan perkawinan di Surabaya
Foto : dok.pribadi via Instagram

“Luarnya bule, kulitnya putih, jadi kalau jalan-jalan di luar selalu dilihat sama orang. Tapi di dalam hatiku nyatanya lebih seperti orang Jawa. Sampai teman saya di Australia mengira saya bicara dalam Bahasa Italia. Padahal jelas itu Bahasa jawa,” kata Dave

Dave dan keluarga pertama kali datang ke Indonesia pada tahun 1989. Enam bulan pertama Dave habiskan dengan belajar Bahasa Indonesia di Bandung. Karena ayahnya yang menjadi dosen di Surabaya ingin secepatnya menguasai Bahasa Indonesia. Sementara masa kecil Dave dihabiskan dengan home schooling bersama sang kakak, Nathan. 

Tinggal tak jauh dari kampung, Dave kecil banyak melewatkan waktu bermain dengan anak-anak kampung sebayanya. Saat sore hari tiba banyak anak-anak berkumpul, dia ikut merubung. Dave ikut bermain kelereng, layangan dan keong. Sembari bermain Dave secara tak langsung belajar Bahasa Suroboyoan. Sementara Dave juga mengasah Bahasa Indonesia dengan menonton anime Jepang atau komik yang telah diterjemahkan.  

Masa bertugas sang Ayah telah habis. Dave harus segera pergi dari Surabaya. Namun Dave enggan kembali ke Negeri Kanguru. Beruntung ia mendapatkan pekerjaan sebagai tenaga pengajar di sebuah lembaga bahasa. Di Surabaya pula dia bertemu jodoh, Santi Novia, perempuan asli Surabaya. Santi merupakan teman masa kecil yang telah lama naksir Dave. Belum lama ini mereka baru saja dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Aragorn Jawa Cillian Jephcott.

Dave mulai rajin mengunggah video di YouTube karena disemangati oleh teman-temannya. Kebetulan Dave memang hobi menonton berbagai macam video di YouTube. Terutama video komedi yang lucu. Dave yang pernah belajar Bahasa Indonesia dan Arab di Deakin University ini bertekad untuk membuat konten berbahasa Jawa.

Dave Jephcott
Foto : dok.pribadi via Instagram

Dave menerjemahkan lagu Air yang dipopulerkan oleh penyanyi cilik Joshua. Berbekal sebuah gitar dia menyanyikan lagu Joshua versi Jawa. Tak disangka respon warga YouTube amat positif. Ia pun kembali mengunggah cover lagu yang sempat menjadi viral. Salah satunya, We don’t talk anymore, yang dinyanyikan Charlie Puth dan Selena Gomez. Ia mempelesetkan liriknya dalam Bahasa Jawa menjadi Lho Ga Ono Sego. Video ini ditonton hampir 300 ribu kali.

Lho gak ono sego, yo njaluk tonggo
Nyuwun sewu, pak, opo ono sego
sing wis mateng nang omah sampeyan

Setahun setelah berkarir di YouTube, Dave mengembangkan kontennya dengan beragam tema. Tapi tetap dengan satu ciri khasnya yaitu selalu menggunakan Bahasa Jawa. “Menyenangkan tetap bisa buat konten soal apa yang aku sukai. Apalagi aku kan suka Bahasa Jawa jadi aku bisa terus-terusan bikin soal itu. Dan aku nggak harus mengikuti satu topik. Di channel saya ada banyak macam konten. Pertama saya upload banyak lagu, setelah itu ada vlog dan sekarang lebih fokus ke prank,” ujar Dave.

Untung lah dia punya istri pengertian dan selalu mendukungnya. “Kalau nggak ada dia, aku nggak mungkin jadi youtuber. Dulu awalnya dia jadi cameraman. Kalau aku butuh orang diskusi soal konsep baru, ya di rumah tukar pikiran dengan istri. Dan dia kasih masukan juga. Istri saya orang yang terus terang kalau dia nggak suka pasti dia akan bilang,” Dave menuturkan.

Dave Jephcott
Foto : dok.pribadi via Instagram

Sekarang Dave punya hampir 200 ribu subscriber. Beberapa waktu lalu dia dapat kesempatan mengikuti YouTube Fan Fest di salah satu mal di Surabaya. Di sana Dave bertatap muka dengan banyak YouTuber dari Jawa Timur. Ia juga sempat berkolaborasi dengan youtuber Bayu Skak membuat video berbahasa Jawa.

Bagi Dave, itu menjadi pengalaman yang tak terlupakan, membawakan lagu dan membuat prank secara langsung di hadapan ratusan penonton. Meski bukan warga negara Indonesia, Dave mendorong youtuber tak malu menggunakan Bahasa daerahnya sendiri. 

“Dari tiga bahasa yaitu Inggris, Indonesia dan Jawa,  bahasaJawa paling sering saya pakai. Saya ingin orang Indonesia bangga dengan bahasa daerah masing-masing karena kalau nggak dipakai akan hilang dan itu adalah warisan yang sangat berharga,” ujar Dave dengan nada serius.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE