INTERMESO

YouTuber Korea yang Cinta Indonesia

Setiap videonya ditonton ratusan ribu, bahkan jutaan kali. Punya subscriber lebih dari 230 ribu.

Hari Jisun mengenakan pakaian pengantin Jawa
Foto: kanal Hari Jisun-YouTube

Sabtu, 27 Januari 2018

Apa jadinya jika orang Korea Selatan makan jengkol dan rendang? Coba tanya Hari Jisun alias Jisun Moon, 27 tahun. Bersama adiknya, Junsu Moon, beberapa bulan lalu gadis kelahiran Seoul, Korea Selatan, ini mencicipi rendang di salah satu rumah makan Padang di Jalan Timoho, Yogyakarta.

“Rasanya mirip jangjorim, tapi ada aroma yang beda,” adik Jisun menyebut satu masakan Negeri Ginseng. Kali lain Jisun mengajak Junsu menyambangi warung spesialis jengkol di daerah Kramat Jati, Jakarta. Jisun yang lumayan lancar bercakap bahasa Indonesia memesan rendang jengkol, jengkol lada hitam dan tongseng jengkol.

“Rasanya sulit diceritakan….Seperti agak bau tapi tidak,” kata sang adik. Jisun yang lebih pengalaman soal jengkol mengatakan kepada Junsu, biasanya aroma masakan ini berkali-kali lebih tajam. Jisun memvideokan pengalamannya jalan-jalan ke pelbagai tempat di Indonesia, belajar tari, dan mencicipi rupa-rupa masakan, kemudian mengunggahnya ke kanal YouTube miliknya.

Baru genap satu tahun Jisun membuat akun YouTube dengan nama Hari Jisun. Kini kanal Hari Jisun sudah punya lebih dari 230 ribu pelanggan alias subscribers. Dengan gayanya yang lucu dan ceria, ‘penggemar’ video-video Jisun ternyata lumayan banyak. Video Jisun makan jengkol itu sudah ditonton lebih dari 890 ribu kali. Bahkan video Jisun saat pertama kali mencoba masakan Padang ditonton lebih dari 1,1 juta kali. Yang memberikan komentar pun lumayan banyak. Ada lebih dari 1900 komentar di video makan jengkol itu.

Sempat bekerja sebagai ekspatriat di perusahaan elektronik besar asal Korea di Bekasi, Jisun memilih mundur. Padahal sebagai tenaga kerja asing, gajinya lumayan besar. “Di sana pekerjaannya sangat baik, tetapi aku ingin merasakan sisi lain Indonesia, bukan hanya bekerja dan menghabiskan sepanjang hari di depan meja kantor,” kata Jisun saat ditemui detikX beberapa waktu lalu. Dia memilih jadi youtuber, pembuat video untuk YouTube.

Hari Jisun belajar tarian tradisional di Yogyakarta
Foto : dok.pribadi via Instagram

Melepas gaji besar untuk pekerjaan yang belum jelas bisa menghasilkan duit, Jisun sempat cemas juga. Hari pertama Jisun menjadi YouTuber, ia sempat tidak bisa tidur nyenyak. Tapi gadis lajang yang murah tawa itu memang pemberani. Sejak kecil Jisun sudah berjiwa petualang. Ia tidak bisa diam. Di usianya yang menginjak 27 tahun ini, Jisun telah berkunjung ke-30 negara berbeda di Eropa dan Asia. Dan kebanyakan perjalanan ia lakukan seorang diri. Beberapa kali dia juga menjadi relawan di negara-negara asing.

Itu sebabnya Jisun tidak betah jika seharian duduk di depan meja sembari memandangi komputer di depannya. Kadang hari minggu pun ia masih bekerja. Makin lama Jisun merasa seperti robot, kehidupan bukan miliknya lagi. Tak sampai satu tahun bekerja di perusahaan itu, Jisun berhenti dari pekerjaannya. Ketimbang gaji besar, ia memilih mencari kebahagiaan dalam hidupnya, yaitu dengan menjadi Youtuber. Saat itu Jisun berpikir menjadi YouTuber tidak terlalu sulit. Asalkan punya kamera siapa pun bisa menjadi YouTuber.

Kala itu Jisun masih tidak yakin apabila profesi barunya dapat mencukupi ongkos hidup di Indonesia. “Karena biasanya profesi youtuber kedengarannya sangat tidak aman…. Jujur saya waktu itu takut sekali. Saya setiap hari berpikir lagi apakah ini pilihan yang salah. Walaupun saya terus bikin video, kalau orang tidak menonton bagaimana?” dia menuturkan.

Jisun bertekad baru akan menyerah jika video ke-100 sudah diunggah dan masih belum banyak penontonnya. Ternyata kerja anak kedua dari tiga bersaudara ini tidak sia-sia. Untuk pertama kalinya Jisun mendapatkan 350 ribu penonton di video ke-18, saat dia mengulas tentang jajanan anak SD. Sejak saat itu pengguna YouTube pun mulai mengikuti perkembangan akun Jisun.

Hari Jisun mencoba pecel lele
Foto :  kanal Hari Jisun-YouTube

“Aku serius jatuh cinta dengan Indonesia. Waktu itu aku berjanji suatu hari akan balik ke negara ini lagi”

Hari Jisun

Begitu banyak tempat yang telah Jisun kunjungi, ia pun heran mengapa bisa memilih Indonesia sebagai negara favoritnya. Lima tahun silam Jisun pertama kali berkunjung ke Indonesia sebagai relawan guru Bahasa inggris di salah satu SD di Sukabumi, Jawa Barat. Rumah yang dia tinggali kondisinya seadanya. Saat malam, tak ada angin dan tak hujan pun, listrik sering padam. Tapi justru Jisun, meski belum bisa bercakap bahasa Indonesia, merasakan kehangatan dan keramahan warga di lingkungannya.

“Aku serius jatuh cinta dengan Indonesia. Waktu itu aku berjanji suatu hari akan balik ke negara ini lagi. Ternyata kesampaian juga waktu saya bekerja di perusahaan itu. Saya sudah banyak jalan ke negara lain tapi tidak ada yang seperti Indonesia. Ada suasana khusus yang sangat menarik bagi saya,” kata Jisun. Untuk memperlancar Bahasa Indonesia-nya, Jisun sempat belajar di Universitas Indonesia selama lima bulan.

Sebagai youtuber, awalnya Jisun lebih banyak membuat konten mengenai pembelajaran Bahasa Korea untuk penonton Indonesia. Namun ternyata video serius seperti itu tak banyak penontonnya. Orang-orang lebih suka tema yang santai dan menyenangkan seperti mukbang atau ulasan makanan. Makanya Jisun rajin mengunjungi restoran di Indonesia untuk mengulas rupa-rupa masakan Indonesia, seperti rendang dan pete bakar di restoran padang.

Kadang Jisun juga membuat video-video bertema ‘sepele’ seperti ekspresi kagetnya saat pertama kali melihat pohon-pohon berbuah di pinggir jalan. Bagi orang Korea, pohon berbuah di pinggir jalan merupakan hal yang istimewa. Dengan kulitnya yang putih dan mata sipit serta tubuh jenjang semampai tak jarang orang salah mengira Jisun sebagai artis di drama Korea. Saat sedang syuting di sebuah SD misalnya, Jisun hanya bisa geleng-geleng kepala saat dikerumuni banyak orang dan diminta tanda tangan serta diajak berfoto.

Ketika sedang pulang ke Korea Selatan, Jisun membuat video mengenai makanan di kampung halamannya. Biasanya dia mengajak adiknya, Junsu, untuk menemani di sepanjang rekaman. Tak jarang penonton akun Jisun ikutan ngefans dengan sang adik.

Hari Jisun makan nasi padang di Yogyakarta
Foto : Kanal Hari Jisun-YouTube

Jisun tak selalu menggunakan Bahasa Indonesia di setiap videonya. Jika sedang berinteraksi dengan Junsu, ia lebih banyak menggunakan Bahasa Korea. Namun Jinsu tak lupa memberikan terjemahan dalam Bahasa Indonesia. Harapannya agar konten videonya juga dapat dinikmati oleh orang Korea. Sebab menurut Jisun masih banyak orang Korea yang salah paham dengan Indonesia.

“Kalau saya bilang tinggal di Indonesia, mereka pasti bertanya apa tidak berbahaya tinggal di sana? Ini salah satu alasan saya mau jadi youtuber. Saya ingin membuat video yang membuat dua negara dapat menyelesaikan kesalahpahaman,” ujar Jisun.

Dalam membuat konten Jisun tidak mau setengah-setengah. Seperti ketika ia penasaran dengan riasan pengantin di Indonesia yang beragam. Ketertarikannya bermula ketika salah seorang teman mengatakan bahwa riasan pernikahan di Korea tidak tebal. Padahal bagi Jisun riasan di negara asalnya itu sangat tebal. Jadilah Jisun menjajal dua riasan pernikahan adat Sunda dan Solo Putri yang direkomendasikan temannya.

“Buat saya itu pengalaman yang tidak terlupakan. Terutama waktu mau menempel bulu mata palsunya. Karena mata saya kecil, dua saja cukup. Sedangkan orang lain biasanya bisa tempel tiga,” Jisun mengenang, diringi tawanya berderai. Beberapa kali Jisun juga kerap berkolaborasi dengan YouTuber Indonesia lainnya seperti Tan Boy Kun dan Ken & Grat yang sama-sama suka mengulas soal makanan.

Meski sudah punya penonton lumayan banyak, Jisun merasa tidak nyaman apabila ada penonton yang suka membandingkan dengan YouTuber lain. Terutama dengan Han Yoo Ra karena sama-sama berasal dari Korea. Nama Han Yoo Ra memang sudah lebih dahulu dikenal di Indonesia. “Han Yoo Ra kan sudah bintang. Dia sudah lama tinggal di Indonesia. Saya mau jadi youtuber biasa saja,” Jisun merendah.

Hari Jisun menikmati minuman dawet di Yogyakarta
Foto :  dok.pribadi via Instagram

Jisun hanya ingin fokus membuat video yang bagus. Soal ongkos membuat video, yang mengharuskan dia pergi ke banyak tempat, tak terlalu dipikir. Bahkan dia enggan menerima iklan. “Banyak orang tawarin saya endorse. Tapi saya tidak suka. Saya cuma mau mengurus konten video saya. Sebagai youtuber saya suka kerja ini. Saya yakin kalau kontennya semakin bagus maka makin banyak orang yang menonton,” kata Jisun.

Penghasilannya dari YouTube, menurut Jisun, baru berkisar setengah dari gaji yang ia dapatkan di perusahaannya dulu. Menurut taksiran laman Socialblade, dengan hampir 6 juta kali videonya ditonton setiap bulan, pundi-pundi uang yang Jisun hasilkan dari YouTube berkisar antara US$1400 hingga US$ 23.200, atau berkisar Rp 18 juta hingga Rp 300 juta per bulan. Lumayan besar untuk ukuran Indonesia.

Tapi kadang Jisun mau tak mau harus menggunakan uang tabungannya untuk keperluan syuting dan kebutuhan sehari-hari. “Saya selalu percaya dalam kehidupan bukan uang yang paling penting. Di perusahaan saya bekerja sangat besar dan penghasilan tinggi. Tetapi saya pikir yang paling penting dalam kehidupan itu kebahagiaan. Dengan menjadi YouTuber saya merasa lebih bahagia. Dan dengan YouTube dapat membuat hari orang lain jadi lebih menyenangkan…..Itu sangat keren,” ujar Jisun.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE