INTERMESO

Mengapa Dokumen Perang Vietnam Ditutup-tutupi?

“Tapi bahkan, menurut seorang kolonel, kedatangan tentara Amerika hanya akan menunda kekalahan saja.”

Daniel Ellsberg di Vietnam pada awal 1960-an.
Foto: Patricia Ellsberg lewat WXXI

Jumat, 26 Januari 2018

Ahad mestinya jadi hari orang rehat dan melepas penat. Tapi, pada 13 Juli 1971, edisi hari Minggu koran New York Times malah menulis kabar heboh. Di halaman muka koran tersebut, pada pagi itu terpampang tulisan bertajuk ‘Vietnam Archive: Pentagon Study Trace 3 Decades of Growing U.S. Involvement’.

Wartawan harian itu, Neil Sheehan, mendapatkan bocoran dokumen rahasia dari Pentagon, markas Departemen Pertahanan Amerika Serikat. Dokumen Perang Vietnam itu tak kira-kira panjangnya, 7.000 halaman, memaparkan keterlibatan Amerika di Vietnam dari 1945 hingga 1967.

Munculnya dokumen rahasia di koran itu segera memancing riak di Gedung Putih. Menjelang tengah hari pada Ahad itu, Kepala Staf Gedung Putih Alexander Haig menelepon Presiden Richard Nixon. “Sir, goddamn New York Times mengekspos dokumen sangat rahasia soal Perang Vietnam,” pensiunan jenderal itu memberi kabar, seperti terekam dalam arsip percakapan Gedung Putih di National Security Archive. “Ini pembocoran rahasia paling buruk yang pernah aku lihat.”

Rupanya Presiden Nixon pun belum pernah mendengar ada dokumen Perang Vietnam seperti yang diberitakan New York Times. Memang bukan anak buahnya yang menyusun dokumen rahasia itu. Pentagon Papers, dokumen itu biasa disebut, disusun pada masa Presiden Lyndon Johnson. Judul resmi dokumen itu adalah ‘Report of the Office of the Secretary of Defense Vietnam Task Force’.

Dokumen itu disusun atas perintah Menteri Pertahanan Robert McNamara. Bahkan Presiden Lyndon Johnson pun tak diberi tahu oleh Menteri McNamara. Ada 36 orang—separuhnya dari Departemen Pertahanan dan separuhnya lagi dari sejumlah kampus dan lembaga penelitian, di bawah koordinasi Leslie H Gelb—yang terlibat dalam penyusunan dokumen itu. Salah satunya adalah Daniel Ellsberg, mantan Asisten Wakil Menteri Pertahanan dan peneliti di RAND Corporation.

Daniel Ellsberg di Vietnam pada awal 1960-an.
Foto: Patricia Ellsberg lewat WXXI

“Berdasarkan semua parameter kualitatif yang kita punya, kita akan memenangi perang.”

Menteri Pertahanan Amerika Serikat Robert McNamara

Mereka menyusun laporan panjang tersebut berdasarkan semua dokumen Perang Vietnam yang ada di Pentagon. Pentagon Papers selesai hampir setahun setelah McNamara mengundurkan diri dan hanya beberapa hari sebelum Presiden Richard Nixon disumpah sebagai Presiden Amerika Serikat.

Dokumen itu menggambarkan bagaimana peran Amerika dari semula sekadar menyokong Prancis, mengirimkan penasihat militer, hingga benar-benar berada di garis depan dalam pertempuran melawan gerilyawan komunis Vietkong, yang disokong Vietnam Utara, China, dan Uni Soviet. Ada banyak cerita dalam dokumen itu yang membuat banyak pejabat Amerika yang terlibat Perang Vietnam tak senang dan merasa dipermalukan.

Dokumen itu memang bukan dokumen sejarah biasa. Pentagon Papers memuat banyak kisah di balik layar di lingkaran kekuasaan tertinggi Amerika. Pada satu halaman di bagian IV Evolution of the War: Rolling Thunder Program Begins, misalnya, David Ellsberg dan teman-temannya menulis soal perbedaan pendapat di antara penasihat Presiden Lyndon Johnson mengenai strategi di Vietnam. McGeorge Bundy, Penasihat Keamanan Gedung Putih, memilih pengeboman secara selektif dan terbatas terhadap jalur-jalur penyusupan tentara Vietnam Utara. Sedangkan Kepala Staf Angkatan Udara Jenderal John P McConnell lebih suka dengan strategi pengeboman besar-besaran untuk menekan Vietnam Utara.

Pentagon Papers juga mengungkap apa yang sebenarnya terjadi pada insiden Teluk Tonkin pada 2 Agustus 1964. Saat tengah berpatroli di Teluk Tonkin, kapal perang Amerika USS Maddox diserang tiga kapal Vietnam Utara. Dua hari kemudian, Presiden Lyndon berpidato di televisi soal kejadian itu dan menyatakan akan mengambil tindakan militer sebagai balasan. Insiden ini memicu keterlibatan Amerika lebih dalam lagi di Vietnam.

Padahal kejadian Teluk Tonkin bukan insiden tak terencana. Dua hari sebelumnya, kapal perang Amerika dan Vietnam Selatan memprovokasi militer Vietnam Utara dengan mengebom dua pulau, Hon Me dan Hon Nieu. Namun Departemen Luar Negeri Amerika tak pernah mengakuinya. Kepada Kongres, Menteri Pertahanan McNamara mengatakan serangan terhadap dua pulau itu merupakan operasi militer tentara Vietnam Selatan.

Tentara Amerika dalam Perang Vietnam
Foto: dok. PBS


Tapi Ellsberg tahu McNamara berbohong. Sebagai Asisten Wakil Menteri Pertahanan yang ditunjuk mengurusi segala hal terkait Vietnam kala itu, dia tahu persis apa yang terjadi. Dalam bukunya, Secrets: A Memoir of Vietnam and the Pentagon Papers, Ellsberg menulis bagaimana para pejabat Amerika berbohong untuk mendapatkan dukungan bagi operasi militer di Vietnam. Serangan provokasi terhadap Vietnam Utara merupakan operasi yang digelar oleh Dinas Intelijen Amerika (CIA) dengan sandi 34A. Operasi ini melibatkan orang-orang bayaran dari sejumlah negara.

* * *

Bahkan, jauh sebelum dua batalion Korps Marinir Amerika mendarat di Da Nang pada Maret 1965—pendaratan itu menjadi awal pengiriman besaran-besaran tentara Amerika ke Vietnam—Daniel Ellsberg sudah tahu, Perang Vietnam hampir mustahil dimenangi oleh tentara Vietnam Selatan, yang disokong Amerika. Rezim yang korup dan semangat tempur tentara Selatan yang payah bukan lawan sepadan Vietkong, yang biasa hidup susah di hutan.

Pada 1961, Ellsberg berangkat ke Vietnam untuk memetakan masalah di sana. Sebagai pejabat Pentagon, dia mendapatkan akses seluas-luasnya. Hampir semua penasihat militer Amerika di Vietnam yang diajaknya bicara mengatakan hal serupa: tak ada harapan untuk menang. “Satu-satunya harapan hanyalah sokongan besar-besaran tentara Amerika,” Ellsberg menuturkan. “Tapi bahkan, menurut seorang kolonel, kedatangan tentara Amerika hanya akan menunda kekalahan saja.”

Semula Menteri Pertahanan Robert McNamara masih optimistis terhadap situasi di Vietnam. “Berdasarkan semua parameter kualitatif yang kita punya, kita akan memenangi perang,” ujar Menteri McNamara setelah melihat langsung kondisi di Vietnam pada 1962, dikutip Washington Post. Hingga beberapa tahun kemudian, dia masih berpegang pada keyakinannya bahwa tentara Vietnam Selatan dengan sokongan mesin-mesin tempur dan tentara Amerika di belakangnya akan sanggup menggilas prajurit Vietkong.

Tentara Amerika dalam Perang Vietnam.
Foto: dok. Cleveland

Tentara Amerika yang diterjunkan ke hutan-hutan Vietnam terus bertambah, dari semula hanya belasan ribu hingga mencapai 200 ribu prajurit. Dengan tekanan terus-menerus tentara Amerika, Menteri McNamara berharap, Vietnam Utara mau datang ke meja perundingan. Tapi, di dalam hutan sana, gerilyawan Vietkong dan prajurit yang dikirim Ho Chi Minh dari Utara seperti tak pernah ada habisnya.

Berjuta-juta ton bom yang dijatuhkan pesawat-pesawat tempur Amerika di hutan Vietnam tak mampu mematahkan perlawanan Vietkong. Justru makin banyak prajurit Amerika yang dibawa pulang dalam peti jenazah. Menteri Robert McNamara terpaksa menelan kembali keyakinannya. Dia salah perhitungan di Vietnam, terlalu memandang enteng Vietkong dan Vietnam Utara. Kurang dari dua tahun setelah pendaratan di Da Nang, dia menyimpulkan, Amerika dan sekutunya, Vietnam Selatan, tak akan menang.

Tapi bagi negara besar seperti Amerika, pulang dari perang dan mengakui kekalahan tentu bukan hal gampang. Upaya Menteri McNamara meyakinkan Presiden Johnson mengubah kebijakan untuk tak mencari kemenangan, melainkan mendorong perundingan dengan Vietnam Utara tak mendapat dukungan Gedung Putih. Sebelum memutuskan mengundurkan diri, McNamara meminta beberapa stafnya menyusun laporan lengkap Perang Vietnam. Itulah Pentagon Papers.

Pidato Randy Kehler, seorang aktivis anti-Perang Vietnam, yang menusuk jantung Daniel Ellsberg, membuatnya berpikir untuk membocorkan dokumen Pentagon Papers. Setelah mendengar orasi Randy yang menyentuh, Ellsberg berurai air mata. “Hatiku terbelah, hidupku seolah terpecah jadi dua,” Ellsberg menulis di bukunya. Saat itu tahun 1970, perang di Vietnam masih terus berkobar dan korban berjatuhan.

Beberapa hari kemudian, Ellsberg bersama temannya, Anthony Russo, diam-diam mulai memfotokopi dokumen rahasia Pentagon Papers. Kadang, dia menuturkan, anak-anaknya ikut membantu. Larut malam pada Maret 1971, dia menelepon reporter New York Times, Neil Sheehan. Ellsberg memang sudah lama kenal Sheehan.

Daniel Ellsberg, pembocor Pentagon Papers, saat mengikuti demonstrasi antiperang pada 2010.
Foto: dok. Getty Images

Setelah melewati perjalanan berliku, ribuan halaman dokumen itu sampai ke tangan redaksi New York Times. Tak mau mengambil risiko, pimpinan koran itu menyewa beberapa kamar Hotel Hilton untuk kantor sementara dan menyimpan bertumpuk-tumpuk dokumen rahasia tersebut. Selama dua hari berturut-turut, New York Times menulis soal Pentagon Papers di halaman muka.

Pada hari itu pula datang telegram. Pengirimnya adalah Jaksa Agung John Mitchell. Jaksa Agung meminta harian itu menghentikan pemuatan Pentagon Papers. “Publikasi dokumen ini akan mencederai urusan pertahanan Amerika Serikat,” Jaksa Agung Mitchell memberikan alasan. New York Times menolak dan Jaksa Agung membawa persoalan itu ke pengadilan. Pengadilan mengabulkan permintaan Jaksa Agung.

Sementara berita soal Pentagon Papers terus menggelinding, Biro Investigasi Federal (FBI) memburu sang pembocor, Daniel Ellsberg. Dari persembunyiannya, Ellsberg mengirimkan salinan dokumen itu kepada belasan media lain, salah satunya Washington Post. Lewat seorang perantara, Ellsberg memberikan dokumen itu kepada Ben Bagdikian, redaktur The Post.

Setelah melewati perdebatan sengit, Katharine Graham, Pemimpin Umum Washington Post, memutuskan hariannya akan menurunkan tulisan soal Pentagon Papers meski harus menghadapi risiko seperti New York Times. Siang hari setelah tulisan itu beredar, Ben Bradlee, Redaktur Eksekutif The Post, mendapat telepon dari Washington, DC. Di ujung telepon, Wakil Jaksa Agung William H Rehnquist meminta The Post menghentikan pemuatan Pentagon Papers. Bradlee menolak.

Kisah Katharine Graham dan redaksi Washington Post menghadapi kasus Pentagon Papers inilah yang diangkat sutradara kondang Steven Spielberg dalam filmnya, The Post. Film yang dibintangi Meryl Streep dan Tom Hanks ini tengah tayang di bioskop-bioskop sejumlah negara.


Redaktur: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE