INTERMESO
“Aku sudah pernah melihat kemarahan Gedung Putih sebelumnya, tapi tak pernah menyaksikan yang seperti ini.”
Katharine Graham bersama Ben Bradlee, editor Washington Post
Foto: dok. NPR
Kisah ini bermula dari satu tragedi pada suatu siang pada awal Agustus 1963. Hari itu, Katharine Meyer Graham dan suaminya, Philip ‘Phil’ Leslie Graham, berniat menghabiskan hari di rumah pertanian mereka di Glen Wilby, Virginia. Pada awalnya, semuanya tampak baik-baik saja dan hari itu akan berakhir menyenangkan.
Sudah sekian lama hubungan Phil dan Kay—Katharine biasa dipanggil orang-orang dekatnya—memang bermasalah. Phil berkali-kali harus menjalani perawatan lantaran mengalami depresi. Dia juga memperlakukan Kay dengan buruk. Bahkan sempat terucap niatnya untuk bercerai dari Kay dan menikah dengan selingkuhannya. Bukan cuma itu, Phil juga berniat menguasai sepenuhnya Washington Post, perusahaan media yang diberikan oleh Eugene Meyer, ayah Kay.
Belasan tahun sebelumnya, Eugene ‘menghadiahkan’ Washington Post kepada anak dan menantunya. Phil, sang menantu, mendapatkan saham lebih besar. “Tak pantas seorang suami bekerja untuk istrinya,” Eugene memberikan alasan, dikutip Kay dalam biografinya, Personal History. Tak seperti Kay, yang berasal dari keluarga kaya raya, Phil, yang lulus dari jurusan hukum di Universitas Harvard, lahir di keluarga sederhana.
Kay tak pernah mempersoalkan porsi saham untuk Phil yang lebih besar. Dia memilih ada di belakang suaminya dan menjadi ibu rumah tangga. Hingga Phil mengutarakan niatnya untuk bercerai. “Itu merupakan masa-masa yang paling buruk bagiku,” kata Kay. Tak cuma bakal kehilangan suami, dia mungkin juga bakal kehilangan Washington Post, perusahaan yang diwariskan ayahnya.
Selama hampir 20 tahun, sebagai bos, Phil memang sudah bekerja keras untuk perusahaan media itu. Namun, menurut Kay, suntikan duit terus-menerus dari ayahnyalah yang membuat perusahaan itu tak bangkrut di tengah jalan. Kay tak mau menyerahkan The Post begitu saja kepada Phil.

Gedung Washington Post di Washington, DC
Foto: dok. Getty Images
Pada siang itu, di teras belakang rumah pertanian mereka yang lapang, Kay dan Phil bersantap siang dan bercakap-cakap, sembari menikmati alunan musik klasik. “Setelah makan siang, kami pergi ke lantai atas dan masuk kamar tidur untuk tidur siang,” Kay, dalam biografinya yang terbit 20 tahun lalu, mengenang. Tak berapa lama di kamar, Phil bangun. Dia mengatakan akan pindah ke kamar tidur lain yang biasa dia pakai. “Hanya berselang beberapa menit, tiba-tiba aku mendengar suara letusan senapan.”
Kay panik dan segera berlari mencari suaminya. Dia menemukan Phil bersimbah darah di kamar mandi. Phil, yang baru sebulan melewati umur 48 tahun, memilih mengakhiri hidupnya. Kay, yang dua tahun lebih muda, tiba-tiba menjadi janda dengan empat anak. Kay, yang belasan tahun hanya mengurus rumah tangga, tiba-tiba harus menjadi bos Washington Post, perusahaan media yang memayungi harian Washington Post, majalah Newsweek, beberapa stasiun radio dan televisi, serta beberapa media lain.
“Saat itu, ibuku memang hanya ibu rumah tangga biasa…. Dia mengantar kami ke sekolah dan menemani kami berlibur ke rumah pertanian,” Lally Weymouth, putri Kay, menuturkan kepada People. Di antara semua pucuk manajemen dan redaksi Washington Post, saat itu Kay satu-satunya perempuan. “Aku masih ingat saat pertama kali masuk dalam ruangan rapat tempat manajemen yang semuanya laki-laki menungguku,” kata Kay.
Hari itu adalah hari pertama dia berkantor. Wajar jika dia tak percaya diri dan grogi setengah mati. Bagaimana tak grogi jika seorang ibu rumah tangga dan tak tahu apa-apa soal bisnis media tiba-tiba harus menjadi bos satu perusahaan seperti Washington Post.
“Tak mungkin. Aku tak mungkin bisa melakukannya,” Kay berkeluh kesah kepada sobatnya, Luvie Pearson. Tapi Luvie mengingatkan Kay siapa dia. Ayah dan kakeknya merupakan pengusaha kaya raya yang membangun bisnis dari nol. “Tentu saja kamu mampu…. Di tubuhmu ada semua gen itu. Semua kemampuanmu hanya terpendam sangat lama sehingga kamu tak sadar apa yang kamu mampu lakukan,” ujar Luvie.
Baca Juga : Orang-orang Kidal Jadi Presiden Amerika

Katharine Graham, Carl Bernstein, Bob Woodward, Howard Simons, dan Ben Bradlee sedang berdiskusi
Foto: dok. University of Texas
Mati-matian Kay belajar segala hal soal bisnis media dan dapur redaksi. Dibantu oleh tangan kanannya di redaksi, Benjamin ‘Ben’ Bradlee, dan sepasukan reporter yang tangguh, Kay menyulap Washington Post dari koran biasa-biasa saja dan beberapa kali nyaris bangkrut menjadi koran paling berpengaruh di jantung kekuasaan Amerika bersama New York Times dan Wall Street Journal.
Kay meninggal pada 17 Juli 2001. Dalam film The Post yang masih tayang di layar bioskop di sejumlah negara, Kay dihidupkan kembali oleh bintang film kondang Meryl Streep. Film ini mendapat beberapa nominasi Golden Globe dan Piala Oscar, termasuk untuk Meryl Streep.
* * *
Kasus pembobolan kantor Komite Nasional Demokratik (DNC) di kompleks perkantoran Watergate, Washington, DC, pada Sabtu, 17 Juni 1972, tengah malam mulanya hanya tampak seperti kasus kriminal biasa. Beritanya bakal segera dilupakan setelah lewat hari, tertimpa oleh berita-berita lain.
Tapi harian Washington Post memuat beritanya di halaman depan. Dua reporter The Post, Bob Woodward dan Carl Bernstein, mencium ada yang ‘amis’ dalam kejadian itu. Lima orang yang tertangkap pada malam itu bukanlah ‘maling sembarang maling’. Dua di antaranya, Bernard Barker dan James McCord, pernah bekerja di Dinas Intelijen Amerika (CIA).
Di buku alamat di kantong Barker, Biro Investigasi Federal (FBI) juga menemukan nomor telepon Howard Hunt, mantan intel CIA yang dipekerjakan sebagai ‘tukang bersih-bersih’ oleh Presiden Richard Nixon. Awalnya Gedung Putih menyangkal ada kaitan dengan pembobolan kantor DNC. “Itu hanya kasus pembobolan biasa…. Tapi ada sebagian orang yang melebarkan kasus itu ke mana-mana,” Ron Ziegler, juru bicara Gedung Putih kala itu, menanggapi kasus tersebut, dikutip Washington Post.
Satu demi satu fakta tersingkap, ‘bau’ tak sedap itu mulai tercium juga. Penelusuran Bob dan Carl menemukan adanya ‘dana rahasia’ di kantor panitia pemenangan kembali Presiden Nixon (CRP). Dana itulah yang dipakai untuk ‘operasi rahasia’ memata-matai tim kampanye Partai Demokrat. Salah satu kasir dana ini adalah Jaksa Agung John Mitchell.

Meryl Streep memerankan Katharine Graham dalam film The Post.
Foto: dok. Getty Images
Semua omong kosong itu kalian tulis di koran? God Christ! Itu hal paling sakit yang pernah aku dengar.”
Jaksa Agung John MitchellCarl menelepon Jaksa Agung Mitchell untuk mendapatkan konfirmasi. Baru beberapa kalimat diucapkan Carl, Jaksa Agung Mitchell sudah naik darah. “Semua omong kosong itu kalian tulis di koran? God Christ! Itu hal paling sakit yang pernah aku dengar,” kata Jaksa Agung Mitchell. Tak cuma marah, dia juga mengancam Katharine Graham jika tulisan itu sampai dipublikasikan. “Katie Graham's gonna get her tit caught in a big fat wringer if that's published.”
Mendapat bisikan dari orang dalam FBI, Bob dan Carl terus menelusuri keterkaitan pembobolan markas DNC dengan Gedung Putih. Penelusuran FBI soal sumber duit di rekening bank milik Bernard Barker, salah satu pembobol kantor DNC, berujung pada para petinggi CRP dan orang-orang di sekeliling Presiden Nixon. Salah satunya adalah Gordon Liddy, koordinator White House Plumber, tim ‘bersih-bersih’ Presiden Nixon.
Meski makin banyak fakta yang mengungkap tindakan lancung tim kampanye Presiden Nixon, kasus itu gagal menjegal langkah Richard Nixon kembali ke Gedung Putih. Lima bulan setelah kasus pembobolan markas DNC, Nixon memenangi pemilihan Presiden Amerika untuk kedua kalinya. Tapi urusan dengan Washington Post tak lantas selesai begitu saja.
Dalam otobiografinya, Personal History, Katharine ‘Kay’ Graham menulis bagaimana pembalasan Nixon terhadap korannya dimulai justru setelah dia terpilih kembali sebagai Presiden Amerika. Kepada Kepala Staf Gedung Putih HR Haldeman, Presiden Nixon menulis memo, “Dalam kondisi apa pun, Ron Ziegler tak boleh menemui siapa pun dari Washington Post dan staf Gedung Putih tak diperkenankan bertemu atau menerima telepon dari Washington Post…. Perlakukan mereka sedingin mungkin.” Dalam sejumlah kesempatan, wartawan senior The Post di Gedung Putih juga dicuekin, tak diundang dalam pelbagai acara.
Bahkan Presiden Nixon punya rencana lebih jauh lagi, mendepak Kay dari daftar pemegang saham Washington Post. Rencananya, Presiden Nixon meminta Richard Mellon Scaife, pengusaha kaya raya yang mendukungnya, untuk mengambil alih saham Kay Graham. Banyak jalan ditempuh Nixon untuk ‘menghukum’ Washington Post, misalnya berusaha menjegal pembaruan izin stasiun televisi satu grup dengan koran itu.

Di garasi di Arlington inilah reporter Washington Post bertemu dengan sumber dalam skandal Watergate
Foto: dok. Getty Images
Pembalasan dendam Presiden Nixon ini membuat The Post berdarah-darah. Harga sahamnya terjun bebas dari semula US$ 38 terpangkas menjadi US$ 16. Kay dan manajemen The Post juga mesti merogoh kantong lumayan dalam untuk membayar tim pengacara untuk menyelamatkan izin stasiun televisi. Seorang teman, Andre Meyer, memperingatkan Kay.
“Aku serius. Kamu jangan pernah sendirian,” kata Andre. Melihat pembalasan Nixon, Kay cemas juga terhadap masa depan The Post. “Aku sudah pernah melihat kemarahan Gedung Putih sebelumnya, tapi tak pernah menyaksikan yang seperti ini,” Kay menulis dalam bukunya.
Meski terus ditekan, Kay dan wartawan Washington Post tak menyerah. Mereka terus memimpin dalam pemberitaan skandal Watergate. Kegigihan itu terbayar lunas pada 9 Agustus 1974. Menghadapi kemungkinan tak bakal lolos dari pemakzulan, Presiden Nixon memutuskan mengundurkan diri. Kay pun melanjutkan kembali liburannya yang terputus di Martha Vineyard. “Aku merasa beban berat di pundakku sudah terangkat. Semuanya sudah selesai.”
Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim