INTERMESO

Mendulang Emas
dari Sampah

Para ‘penambang’ sampah elektronik masih terbatas kelas industri rumah tangga. Di sampah itu, ada emas, paladium, aluminium, sampai titanium.

Sampah elektronik di pusat pengelolaan sampah elektronik E-Parisara, Bangalore, India
Foto: dok. Getty Images

Minggu, 21 Januari 2018

Suara khas alat penyembur api terdengar dari bagian belakang bengkel kerja. Seorang pemuda duduk di samping alat yang sudah diletakkan di atas tumpukan batako. Memakai tang, ia mengambil sebuah papan sirkuit elektronik atau PCB berwarna hijau lalu didekatkan ke api. Asap tipis keluar, bau sedikit menyengat memenuhi udara. Beberapa detik kemudian, papan sirkuit itu diketok-ketokkan pada lempengan kayu sampai timah bekas solderan jatuh.

Pemuda tersebut terus mengulang proses itu hingga timah solder pada papan sirkuit tersebut habis. "Setelah itu lelehan timah beku di atas kayu masih harus dimurnikan karena masih bercampur dengan logam lain," ujar seorang pengusaha pengumpul limbah elektronik yang mengaku bernama Ferry pada detikX di Tangerang sambil mewanti-wanti agar lokasi gudang sekaligus bengkel kerjanya tak disebutkan.

Pemurnian lelehan timah tadi pun terbilang sederhana. Hanya bermodal wajan baja antikarat dan pembakar. Ketika timah putih mencair, logam-logam lain mengapung. Benda-benda yang mengapung lantas dipisahkan sebelum timah kembali dingin. "Timah putih murni sudah didapatkan," ujarnya. Benda yang mengapung itu pun tak dibuang. Namun diolah lagi untuk mendapatkan logam tembaga, aluminium, dan kuningan.

Usaha ‘menambang’ logam dari sampah elektronik ini tak butuh modal besar-besar amat. Papan sirkuit untuk ‘menambang’ timah biasanya berasal dari televisi, monitor komputer, dan radio. "Kelasnya paling rendah. Biasanya Rp 5.000 sekilogram. Kalau mengolahnya benar, margin keuntungannya cukup tinggi," kata Ferry. Dari pengolahan 1 ton bahan baku sampah elektronik, kata Ferry, dia bisa memperoleh minimal 30 kilogram timah putih ditambah jenis-jenis logam yang lain.

Tentu saja bukan timah putih yang menjadi incaran utama para ‘penambang’ ini. Ada logam-logam yang bernilai lebih tinggi, seperti emas, paladium, dan titanium. Namun tentu saja bahannya pun tak sembarangan. Harganya pun mahal di pasar limbah elektronik. "IC (integrated circuit) chipset dan IC ponsel paling dicari," ujar Ferry. "Mesin HP harganya bagus, sampai Rp 400 ribu, bahkan sampai 600 ribu, per kilogram, karena di situ ada IC. IC-nya sendiri bisa dijual sampai Rp 2 juta sekilogram."

Komputer-komputer bekas aset sejumlah institusi pemerintah menumpuk di gudang Ferry.
Foto: Pasti Liberti/detikX

"Hasil tiap pengolah tak bisa sama."

Ferry, pengusaha pengolah sampah elektronik

Ferry tak menunjukkan proses pengolahannya. Ia hanya menuturkan IC yang masih menempel pada papan sirkuit harus dilepas dulu agar dapat diproses. Caranya bisa dengan dibakar atau dengan dipapras. Masing-masing teknik ini memiliki keuntungan dan kelemahan. "Kalau dibakar, bisa bikin polusi," ujar Ferry. Proses ini kemungkinan besar mengganggu masyarakat sekitar lokasi pengolahan. Namun, jika dipapras berbekal pisau modifikasi dan palu, kaki-kaki komponen akan patah. "Kaki-kaki itu juga mengandung logam emas."

Emas dalam IC, Ferry menuturkan, berbentuk seperti benang. Untuk mendapatkannya, bagian hitam pada komponen tersebut harus disingkirkan. Beberapa pengolah memakai cairan kimia tertentu. Cairan itu bisa melelehkan bagian hitam IC tanpa merusak serat emasnya. "Lebih mudah prosesnya. Tapi limbahnya lebih parah. Kalau dekat dengan perumahan, pasti pada protes. Baunya sangat menyengat," ujarnya. Dia mengakui banyak tempat pengolahan yang berada di tengah-tengah permukiman yang cukup padat penduduknya.

Atau bisa pula dengan membakar IC-IC sampai lunak agar mudah digerus. Berbeda dengan pembakaran papan sirkuit, menurut Ferry, tak ada bau dalam proses ini. "Bagian hitamnya harus hancur sempurna agar tak ada serat emas yang tertinggal," ujarnya. Hasil yang didapat kemudian dimurnikan lagi menggunakan cairan bernama aqua regia. Cairan keras ini didapatkan dari mencampurkan larutan asam nitrat dan asam klorida.

Tak ada angka pasti berapa emas yang bisa didapatkan dari pengolahan model ini. Faktor pengalaman dan keterampilan pengolahnya berperan sangat besar. "Hasil tiap pengolah tak bisa sama," ujar Ferry. Namun rata-rata dari 2 kilogram IC bisa didapatkan sekitar 3 gram emas.

Komponen bekas menara BTS yang tak terpakai juga menjadi incaran pengumpul limbah elektronik.
Foto: Pasti Liberti/detikX

Ferry baru empat tahun masuk dalam bisnis pengolahan limbah elektronik. Sebelumnya, ia berdagang kartu seluler dan pulsa. Karena tak laku terjual, ribuan kartu perdana di lapaknya kedaluwarsa. Ketimbang rugi lebih banyak, Ferry menjual ribuan kartunya kepada pengolah sampah kenalannya. "Kata dia, chip SIM card itu mengandung emas," ujarnya.

Dari kawannya itu, pelan-pelan Ferry belajar teknik pengolahan emas. Seiring dengan meredupnya penjualan kartu perdana, ia akhirnya banting setir mencari sumber-sumber logam yang bisa mudah diolah dari komponen-komponen elektronik. "Saya keliling belajar tekniknya di pusat-pusat pengolahan di Ciranjang, Cianjur, hingga ke Purwokerto," katanya.

Ferry mengaku belakangan stok limbah elektronik susah didapatkan dari pengumpul-pengumpul kecil. Persaingan semakin tinggi seiring dengan pertambahan jumlah pengusaha sekelas dirinya. "Solusinya, saya cari dari pemutihan aset instansi pemerintah," ujar Ferry. Meski persaingan makin sengit, ia mengaku masih sanggup meraih keuntungan cukup tinggi. "Sekitar 20 persenlah dari modal berputar tiap bulan."

Direktur Verifikasi Limbah B3 dan Non-B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sayid Muhadhar mengakui sektor informal masih menguasai pengelolaan limbah-limbah elektronik. Sistem pengelolaan yang sedang dirumuskan pemerintah akan mendorong pelaku sektor tersebut untuk menaikkan status dengan memperbaiki cara pengelolaan. "Skala kecil tak apa-apa, yang penting minimal sesuai dengan standar ramah lingkungan," ujarnya.

Foto: Pasti Liberti/detikX

Di luar negeri, ‘penambang’ logam dari sampah elektronik bukan hanya pengusaha kelas rumah tangga seperti Ferry. Bahkan Mitsubishi Materials, perusahaan raksasa dari konglomerasi grup Mitsubishi, pun tertarik ikut mengeruk emas, aluminium, paladium, dan material lain dari sampah elektronik yang berlimpah di seluruh dunia. Tahun lalu, Mitsubishi menyuntikkan dana lebih dari US$ 100 juta atau sekitar Rp 1,4 triliun untuk menambah kapasitas pabrik pengolahan sampah elektronik miliknya.

Dari sekitar 44 juta ton sampah elektronik yang tersebar di seluruh dunia, hanya sebagian kecil yang diolah kembali. Padahal, menurut taksiran United Nations University bersama International Telecommunication Union dan International Solid Waste Association, ada potensi duit 55 miliar euro atau hampir Rp 900 triliun yang belum tergali dari sampah elektronik yang terus menggunung.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti M
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE