INTERMESO
“Mungkin belum ada orang yang mengatakan ini kepadamu. Tapi jangan! Kamu tidak bisa mengangkat menantumu sebagai Kepala Staf Gedung Putih.”
Gedung Putih
Foto: Alex Wong/Getty Images
Selasa, 16 Januari 2018Seorang teman menggambarkan seperti ini sosok Stephen K Bannon. “Jika ada kebakaran atau ledakan di suatu tempat, bisa jadi Stephen ada di dekat situ sambil membawa korek api,” ujar Matthew Boyle, redaktur di Breitbart News, dikutip Los Angeles Times beberapa waktu lalu. Dengan mulut dan tulisannya yang tajam, Stephen Bannon memang seperti siap memantikkan api di mana pun dia berada.
Ibarat panci bertemu dengan tutupnya, seperti itulah Stephen Bannon dengan Donald Trump. “Aku kenal lumayan lama dengan Bannon. Dia merupakan alter ego Donald Trump,” ujar Robert Costa, wartawan Washington Post. Jauh sebelum ditunjuk oleh Donald Trump sebagai Ketua Tim Kampanye Calon Presiden Amerika Serikat pada Agustus 2016, Bannon dan medianya, Breitbart News, sudah jadi corong penyokong Trump paling lantang.
Bertahun-tahun sebelum Bannon bergabung dengan tim kampanye Trump, sebenarnya dia beberapa kali bertemu dengan triliuner properti itu. Pada 2010, Bannon menemui Trump dan menyorongkan proposal senilai US$ 500 ribu. Menurut Bannon, proposal itu untuk mendongkrak citra Trump di kalangan konservatif. Kala itu Trump sudah mulai terang-terangan menyatakan ambisinya ikut memperebutkan kursi Presiden Amerika Serikat.
Tapi Bannon pulang dari Trump Tower dengan tangan kosong. Saat itu Bannon tak yakin Trump akan benar-benar menjadi calon serius Presiden Amerika. Setelah pertemuan pertama, Bannon berulang kali mewawancarai Trump untuk medianya, Breitbart. Bannon tetap menganggap Trump bukan kandidat serius untuk penguasa Gedung Putih.
Kita semua pecundang…. Semuanya buruk dan tak tahu apa yang mereka kerjakan.”
Donald Trump soal tim kampanyenya
Presiden Donald Trump bersama dua pembantunya, Steve Bannon dan Michael Flynn-GettyImages-632934652
Foto : Drew Angerer/Getty Images
Mereka bertemu kembali pada saat yang tepat. Situasi ekonomi yang sedang sulit dan banjir imigran membuat banyak orang cemas. Isu itulah yang menjadi ‘jualan’ kampanye kandidat-kandidat seperti Trump. Bagi Bannon dan Breitbart, imigran merupakan sumber masalah bagi Amerika. Disokong media seperti Breitbart dan Fox News, isu-isu itu terus ‘digoreng’ dan meraup dukungan lumayan besar, terutama di kalangan warga kulit putih.
Adalah juragan supertajir Robert Mercer dan putrinya, Rebekah Mercer, yang menyatukan Trump dengan Bannon. Robert Mercer merupakan ‘anomali’ di dunia politik. Bos Renaissance Technologies ini sangat pelit bicara dan sangat tertutup. Uangnyalah yang banyak bicara. Sudah lama Robert dan anaknya rutin menebar uang ke sejumlah kelompok konservatif yang satu ide dengan mereka.
“Pendekatan keluarga Mercer dalam politik mirip dengan gaya investor Lembah Silikon…. Tebar duit di banyak tempat dan lihat mana benih yang berkembang,” ujar seorang teman dekat keluarga Mercer kepada Washington Post. Satu di antara yang menikmati guyuran dolar dari Robert adalah Steve Bannon dan medianya, Breitbart.
Robert Mercer mengulurkan tangan kepada tim kampanye Donald Trump saat mereka berada di titik terendah. Aliran sumbangan seret dan di jajak pendapat Trump tertinggal jauh dari Hillary. “Kita semua pecundang…. Semuanya buruk dan tak tahu apa yang mereka kerjakan,” Trump mengeluh dikutip Michael Wolff dalam bukunya, Fire and Fury: Inside the Trump White House. Keluarga Mercer datang dengan membawa ‘koper’ berisi US$ 5 juta dan seorang ‘panglima perang’, yakni Steve Bannon.
Sedikit-banyak Donald Trump punya utang kepada Bannon dan Breitbart, sehingga bisa terpilih menjadi Presiden Amerika—bahkan Bannon merasa dia punya andil sangat besar. Bannon-lah yang menjadi ‘bintang utama’ dalam buku Michael Wolff yang bikin heboh. Sempat menjadi Ketua Tim Kampanye, kemudian ikut boyongan ke Washington, DC, menjadi Chief Strategist dan Penasihat Senior Gedung Putih, kini hubungan mesra Bannon dan Trump tamat sudah gara-gara buku itu.

Steve Bannon, mantan Kepala Strategi Gedung Putih
Foto : Mark Wilson/Getty Images
Setelah ‘mundur’ dari Gedung Putih pada Agustus tahun lalu, hubungan Bannon dengan mantan bosnya, Trump, memang renggang. Lewat Breitbart, beberapa kali Bannon malah mengkritik kebijakan Trump, misalnya soal Afganistan dan pemecatan James Comey, Direktur Biro Investigasi Federal (FBI). Tapi komentar-komentar Bannon dalam buku itulah yang sepertinya membuat Trump dan barisan penyokongnya kehilangan kesabaran.
Setelah buku Michael Wolff yang mengupas habis apa yang terjadi di balik layar Gedung Putih itu beredar, Presiden Trump menulis di Twitter. “Michael Wolff is a total loser who made up stories in order to sell this really boring and untruthful book. He used Sloppy Steve Bannon, who cried when he got fired and begged for his job. Now Sloppy Steve has been dumped like a dog by almost everyone. Too bad!” Wolff bukan hanya mengungkap bagaimana ‘riuhnya’ Gedung Putih pada masa Trump, tapi juga memotret saling sikut di antara pembantu utamanya.
Bukan cuma Gedung Putih mencerca Bannon, orang yang pernah jadi bagian dari mereka dan punya kuasa besar di Gedung Putih, keluarga Mercer pun mencampakkannya. Rebekah Mercer mengatakan tak akan lagi memberikan duit satu sen pun untuk semua kegiatan Bannon.
* * *
Hari itu, Selasa, 8 November 2016, merupakan hari penentuan bagi Donald Trump. Hari itu rakyat Amerika akan memilih presiden mereka. Sebelum angka-angka dari negara-negara bagian bermunculan pun, Kellyanne Conway, Manajer Kampanye Trump, sudah pesimistis bosnya bakal melenggang ke Gedung Putih. Jauh-jauh hari dia sudah bersiap untuk lompat pekerjaan. Kelly sudah menelepon beberapa temannya yang bekerja di televisi untuk mencari lowongan pekerjaan.
Presiden Donald Trump
Foto : Kevin Dietsch-Pool/Getty Images
Saat itu, bahkan di lingkaran dalam tim kampanye Donald Trump pun, kecuali Steve Bannon, hampir tak ada yang menduga juragan properti itu bakal mengalahkan Hillary Clinton. Roger Ailes pun tak percaya Trump bisa menang. Itu sebabnya dia menolak saat ditawari menjadi Ketua Tim Kampanye Trump pada Agustus 2016. Roger Ailes tahu benar seperti apa Donald Trump. Mantan bos Fox News dan konsultan politik untuk tiga Presiden Amerika dari kubu Republiken, yakni Nixon, Reagan, dan George HW Bush, ini sudah lama kenal Trump.
Ailes paham betul temannya ini tak punya pengalaman sama sekali di organisasi politik. Ketika Trump di luar dugaan bisa mengalahkan Hillary Clinton, Roger Ailes adalah salah satu dari segelintir orang yang selalu diminta nasihatnya oleh Trump. Untuk ‘melindungi’ Trump dari gempuran lawan-lawan politiknya, dia menyarankan Trump memilih politikus berpengalaman yang tahu betul ‘medan perang’ di Washington, DC, sebagai Kepala Staf Gedung Putih.
“You need a son of a bitch as your chief of staff. And you need a son of a bitch who knows Washington,” Ailes menekankan kepada Trump, dikutip Michael Wolff dalam bukunya, Fire and Fury: Inside the Trump White House. Ailes kenal satu nama yang cocok mendampingi Trump: Ketua DPR John Boehner. “Siapa dia?” Trump pura-pura bertanya.
Tentu saja dia tahu siapa Boehner, politikus senior dari partai penyokongnya. Trump merasa tak butuh orang seperti John Boehner sebagai Kepala Staf Gedung Putih. Padahal posisi Kepala Staf di Gedung Putih ini sangat penting. Dialah tangan kanan Presiden Amerika dalam menjalankan roda pemerintahan. Trump sempat berniat mengangkat sahabatnya, Thomas J Barrack, investor properti kaya raya, sebagai tangan kanannya di Gedung Putih. Tapi Thomas Barrack sama sekali tak berminat pada jabatan itu.

Steve Bannon, mantan Kepala Strategi Gedung Putih
Foto : Win McNamee/Getty Images
Ditolak oleh sahabatnya, Donald Trump berpaling kepada menantu kesayangan, Jared Kushner. Meski masih muda, Jared punya jaringan luas di kalangan orang-orang supertajir. Dan selama masa kampanye, Jared Kushner sudah seperti ‘bayangan’ mertuanya. Tapi niat Donald Trump dicegah salah satu penasihatnya, Ann Coulter.
“Mungkin belum ada orang yang mengatakan ini kepadamu. Tapi jangan! Kamu tidak bisa mengangkat menantumu sebagai Kepala Staf Gedung Putih,” kata Ann Coulter. Entah apa yang terjadi di Gedung Putih jika Trump benar-benar mengangkat Jared Kushner sebagai Kepala Staf. Pilihan itu akhirnya jatuh pada Reince Priebus, Ketua Komite Nasional Partai Republik. Jabatan itu hanya bertahan enam bulan, menjadikan Reince salah satu Kepala Staf Gedung Putih paling singkat dalam sejarah. Dia memutuskan mundur dari jabatan setelah berulang kali tersandung masalah.
Kini, dari tiga pembantu utama Presiden Trump sejak awal: Bannon, Priebus, dan Jared Kushner, hanya tinggal satu orang yang bertahan di Gedung Putih, yakni sang menantu, Jared Kushner.
Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban