INTERMESO

Anjing-anjing CIA

“Kemampuan anjing-anjing itu di lapangan masih belum tergantikan oleh manusia atau mesin”

Anjing K9

Foto: Charles McQuillan/Getty Images

Sabtu, 30 Desember 2017

Setelah melewati latihan yang melelahkan selama empat bulan, akhirnya lulus juga tiga ‘anggota’ baru Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA). Ketiga ‘anggota’ baru CIA itu adalah Nicole, Indigo, dan Freya. Freya lulus dengan nilai tertinggi, 298,68, dari kemungkinan nilai tertinggi 300.  

Mereka adalah tiga anjing jenis Belgian Malinois. Nicole, Indigo, dan Freya, telah mengantongi sertifikat sebagai pendeteksi bahan peledak dari Bureau of Alcohol, Tobacco and Firearms (ATF) dan United States Police Canine Association (USPCA). Bersama ketiga anjing itu, lulus pula dua anjing lain, Heide dan Harry. Tapi Heide dan Harry tak akan menjadi anggota CIA. Mereka akan bertugas di kesatuan Kepolisian Fairfax dan Pemadam Kebakaran Kota Frederick.

Hanya satu anjing di angkatan mereka yang tak ‘lulus’ dari pelatihan ATF dan USPCA yakni Lulu. Lulu, CIA menulis dalam pernyataan persnya, kehilangan motivasi untuk mendeteksi bahan peledak. “Bahkan, meski pelatih bisa menggenjot motivasinya dengan makanan dan mainan, Lulu sepertinya tak terlalu menikmatinya,” CIA menulis. “Dengan terpaksa, meski berat bagi pelatih, mereke terpaksa melepas Lulu.” 

Sudah jadi tradisi CIA, anjing yang ‘pensiun’ atau dilepas dari tugasnya, akan diadopsi oleh pawangnya dan dipelihara hingga dia mati. Rata-rata anjing CIA, mulai bertugas sejak usia 18 bulan dan ‘pensiun’ pada umur 9 tahun. Seperti juga saat upacara kelulusan dari program ATF dan USPCA, ketika masuk purna tugas, anjing-anjing CIA ini juga dilepas dengan upacara dan dihadiri seluruh keluarga pawang.

Nicole, salah satu anjing CIA, saat menjalani simulasi.
Foto : CIA

Coffee tak pernah kehilangan siapapun di medan perang…. Aku sudah menganggapnya bak malaikat.”

Sersan James Bennet

“Setelah tugas bersama selama delapan tahun, melepas anjing-anjing ini sangat berat bagi para pawang,” CIA menulis. Bersama dengan kelulusan Freya, Nicole, dan Indigo, ada tiga ‘anggota’ CIA yang masuk purna tugas. Ketiga anjing itu adalah Gears, Lucy, dan Osmond. Selama bertahun-tahun jadi keluarga CIA, Gears sudah bertugas di sejumlah negara. Sementara Osmond sudah berkali-kali mendapatkan penghargaan.

CIA punya banyak sekali anjing yang ditempatkan di sejumlah kantor di pelbagai negara untuk membantu pengamanan. Sejak didirikan pada 1991, entah berapa kali penyelamatan yang dilakukan anjing-anjing anggota Unit K9 CIA. Sebagai detektor bahan peledak, anjing-anjing itu juga turut mempertaruhkan nyawanya. Ada beberapa jenis anjing yang biasanya jadi favorit CIA, terutama Belgian Malinois dan Labrador Retriever. Demi menjaring calon ‘anggota’ CIA, dinas intel Amerika menyebar pelatih-pelatih anjingnya ke pelbagai tempat.

Suatu hari pada Juli tahun lalu, dua pelatih anjing CIA, Andy dan Steve, pergi ke daerah pedesaan di Pennsylvania, menelusuri ladang jagung dan kawasan pertanian, hingga tiba di Susquehanna Service Dogs. Di Susquehanna, sudah menanti tujuh anjing Labrador Retriever yang akan diseleksi untuk mengikuti pelatihan calon anggota unit K9 CIA gelombang berikutnya.  

Ada petugas Kepolisian Fairfax dan Pemadam Kebakaran Frederick menyertai mereka. Polisi-polisi ini juga tengah mencari anjing untuk dilatih menjadi anggota unit K9. Untuk kelas 2017, CIA mencari enam anjing berumur antara 8 bulan hingga 30 bulan. Pelatih-pelatih anjing CIA dikirim ke sejumlah tempat untuk mencari anjing-anjing pintar yang bisa dilatih menjadi pendeteksi bahan peledak.

Heide, salah satu anjing peserta kelas CIA.
Foto : CIA

Bukan sekali-dua kali Susquehanna menjadi tempat CIA mencari anjing calon pendeteksi bahan peledak. Pengelola Susquehanna tahu persis mana anjing-anjing yang layak menjadi anggota Unit K9 CIA. “Anjing-anjing itu harus punya tingkat energi tertentu dan etos kerja yang kuat,” ujar Pam Foreman, Direktur Susquehanna Service Dogs. Setelah lulus dari pelatihan, anjing-anjing pintar ini bisa mengendus ribuan campuran bahan peledak.

Tak hanya CIA yang mempekerjakan anjing, bahkan kesatuan elite seperti Navy SEAL dan Secret Service pun juga memelihara anjing dan melibatkan mereka dalam operasi-operasinya. Di Gedung Putih misalnya, Secret Service menempatkan dua anjingnya sebagai penjaga yakni Jordan dan Hurricane.

Saat puluhan prajurit SEAL menyerbu markas Usamah bin Ladin di Abbotabad, Pakistan, pada 2011 lalu, ada seekor anjing yang turut diterjunkan dalam operasi. “Kemampuan anjing-anjing itu di lapangan masih belum tergantikan oleh manusia atau mesin,” kata Jenderal David Petraeus, saat itu komandan tentara Amerika di Afghanistan, dikutip New York Times.

Di medan pertempuran, menurut Mayor William Roberts, Komandan Military Working Dog Center di Kementerian Pertahanan Amerika, anjing mampu mengendus bahan peledak tersembunyi. Anjing-anjing pintar ini juga berperan besar dalam operasi pencarian orang. “Anjing punya kemampuan sangat bagus mendeteksi keberadaan orang-orang yang bersembunyi dalam bangunan,” kata Mayor William. Ada sekitar 600 anjing ‘prajurit’ yang terlibat dalam operasi militer Amerika di Irak dan Afghanistan.   

Heide, salah satu anjing peserta kelas CIA, saat menjalani latihan.
Foto : CIA

Pada Oktober lalu, lima anjing veteran militer mendapatkan penghargaan American Humane Lois Pope LIFE K-9 Medal of Courage atas jasa-jasa mereka dalam pelbagai operasi militer. Salah satunya ialah Coffee dengan pawang Sersan James Bennet. Bennet sudah 10 tahun bekerjasama dengan Coffee.

“Dia selalu ada di sampingku,” kata Sersan James, kepada ABC. Bersama Coffee, Sersan James sudah tiga kali dikirim ke Afghanistan. “Dia tak pernah kehilangan prajuritnya. Coffee tak pernah kehilangan siapapun di medan perang….Aku sudah menganggapnya bak malaikat.”


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE