INTERMESO

Pramugari Dilarang Gemuk

“Saat masuk ukuran bajunya S, ya seterusnya S, karena pakaian seragam kan kebaya, jadi harus pas di badan.”

Ilustrasi : Edi Wahyono

Sabtu, 2 Desember 2017

Wajahnya selalu licin, bersih, suaranya empuk, senyumnya gampang sekali mengembang, tak peduli badan sudah sangat lelah dan kelopak mata sudah terasa berat, membuat siapa saja gampang jatuh cinta. Mereka inilah para pramugari, yang menjadi ‘wajah’ semua maskapai penerbangan di dunia.

Padahal, kenyataannya, langit di atas ketinggian 30 ribu kaki itu tidak selalu cerah, pekerjaan menjadi pramugari tak seindah gambar di poster. Hampir tiga tahun Wina Mawardani bekerja di udara, melayani penumpang dengan macam-macam latar belakang. Kadang pekerjaan itu bisa jadi mimpi buruk.

Ada kalanya kelakuan penumpang membuat Wina dan awak kabin lainnya geleng-geleng kepala. Ada yang gondok karena diberi makanan yang tidak sesuai selera. Ada pula penumpang dewasa ngambek hanya karena duduk terpisah dari pasangannya. Meski begitu banyak protes, kadang kata-kata kasar masuk ke telinganya, Wina harus tetap tersenyum.

“Banyak hal yang nggak terlalu penting bisa jadi masalah besar. Sampai saya sering bertanya dalam hati, kenapa saya sampai bisa melamar untuk pekerjaan seperti ini? Kalau lagi dapat penerbangan yang sangat buruk, bisa worst banget,” ujar Wina kepada detikX. Tiga tahun lalu, perempuan asal Ambon, Maluku, itu melamar ke Garuda Indonesia dan langsung diterima. Tugas pertama sebagai pramugari dia jalani dengan penuh sukacita. Wina telah berganti seragam. Kini dia adalah awak kabin untuk Emirates, yang berkantor pusat di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab.

Wina Mawardani, Pramugari Emirates Airlines, mantan Pramugari Garuda Indonesia.
Foto : Dok pribadi Wina Mawardani

Kata orang, ‘pelanggan adalah raja’, namun beberapa penumpang kerap memperlakukan awak kabin sesuka hati. Seperti insiden kacang yang menimpa seorang pramugari Korean Air pada Desember 2014. Lantaran tak puas dengan cara pramugari menyajikan kacang, Cho Hyun-ah, Vice President Korean Air sekaligus putri Cho Yang-ho, Chairman Korean Air, marah besar. Hyun-ah menyerang kepala awak kabin dan memerintahkan pilot kembali ke Bandara Internasional John F Kennedy, Amerika Serikat.

Selain dituntut memberikan pelayanan maksimal, awak kabin dipekerjakan dengan jam kerja yang panjang. Bagi pekerja darat, terutama di sektor swasta, ketentuan 8 jam kerja diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Namun, bagi para pekerja di udara, tak ada aturan mengenai hari kerja dan jam terbang. Awak kabin sering bekerja dengan durasi lebih lama ketimbang pekerja swasta.

Satu tahun bekerja sebagai pramugari di Garuda, Maulidya Agustin telah melayani ratusan penerbangan domestik dan internasional. Dalam satu hari, Lidya, begitu ia disapa, dapat mengikuti empat penerbangan domestik dengan total sepuluh jam terbang. 

“Sepuluh jam itu belum lagi ditambah tiga jam sebelum waktu keberangkatan, kami sudah harus tiba di bandara. Kadang saya berangkat pukul dua pagi untuk penerbangan pukul lima pagi,” ujar Lidya. Jam kerja yang tidak menentu juga membuatnya sulit mengatur waktu istirahat. “Sudah kurang tidur, di pesawat juga oksigennya kurang, jadi bikin pusing dan nggak selera makan, makin mudah lelah dan pusing. Sejak kerja, berat badan saya turun 7 kilogram dari berat normal.”

Sulistyowati Irianto, Guru Besar Antropologi Hukum UI
Foto : Melisa Mailoa/detikX

Itu mendiskriminasi perempuan, artinya menjadikan perempuan sebagai pajangan. Bukan dipakai otaknya, tapi badannya.”

Guru besar antropologi hukum Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto

Gaya hidup semacam ini membuat awak kabin seperti Lidya turun berat badan, tapi di antara mereka ada pula yang malah naik berat badan lantaran tak sempat dan tak punya tenaga lagi untuk berolahraga. Padahal awak kabin dituntut memiliki tubuh yang proporsional. Maskapai penerbangan memberikan batasan normal Body Mass Index (BMI, standar internasional untuk kesehatan perorangan) guna mengukur proporsionalitas tubuh awak kabin. Perbandingannya diukur antara tinggi dan berat badan.

Garuda Indonesia, seperti juga maskapai penerbangan lain, juga menerapkan standar BMI pada awak kabin. “Awak kabin mayoritas kan perempuan. Pramugari itu representasi perusahaan di dalam pesawat. Dia langsung ketemu dengan pelanggan. Makanya fisik betul-betul diperhatikan…. Saat masuk ukuran bajunya S, ya seterusnya S, karena pakaian seragam kan kebaya, jadi harus pas di badan,” kata Senior Manager Employee Service & Information Management Garuda Indonesia Dadan Ma'dan S. 

AirAsia setali tiga uang dengan Garuda. Monny Turena, Manajer Awak Kabin AirAsia Indonesia, mengatakan perusahaannya menerapkan BMI untuk memantau tampilan fisik awak kabin. “Mengingat peran awak kabin sebagai duta bagi maskapai yang tecermin melalui kepribadian maupun seragam yang dikenakannya, juga sebagai safety officer di pesawat, bagaimana proporsi tubuh seorang awak kabin, selain demi citra perusahaan, juga mendukung tugas yang harus dilaksanakannya dalam situasi darurat,” kata Monny. 

Di rata-rata jenis pekerjaan, praktik seperti ini barangkali tak wajar, tapi di maskapai penerbangan, domestik maupun internasional, penampilan fisik awak kabin diatur sangat ketat. Hal paling umum adalah penerapan BMI. Tak Garuda, tak juga AirAsia, beberapa maskapai internasional, seperti Singapore Airlines, Emirates Airlines, India Air, dan Malaysia Airlines, juga melakukannya. Kebijakan yang mengatur penampilan awak kabin ini dianggap lebih bermartabat ketimbang pramugari diminta tampil seksi. Seperti maskapai asal Vietnam, Vietjet, yang meminta pramugari mengenakan bikini.

Aturan soal porsi tubuh ideal bagi awak kabin ini bukan hanya di atas kertas. Bagi pramugari Garuda dan AirAsia yang kelebihan berat badan atau skor BMI-nya melewati batas ideal, sanksi grounded, skorsing tidak boleh terbang selama tiga bulan, sudah menunggu. Selama itu pula awak kabin harus mengembalikan berat tubuh ideal. Jika dalam waktu yang ditentukan mereka gagal kembali ke bentuk tubuh ideal, awak kabin diminta mengundurkan diri.

Monny Turena, Cabin Crew Manager AirAsia Indonesia.
Foto : Dok pribadi Monny Turena

Tak sedikit pramugari jadi korban aturan ‘tubuh ideal’ ini. Pada 2007, dua pramugari Garuda, Ariesty Andriani dan Paula Catharina, serta pramugara Andreas Klavert, diminta mengundurkan diri karena berat badan tetap tak sesuai dengan kriteria BMI yang ditetapkan perusahaan setelah melewati masa skorsing. Tak terima diminta mundur, ketiganya berusaha melakukan mediasi dengan pihak Garuda di Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta pada Agustus 2007. Namun, karena tak ada titik temu, ketiganya mengajukan gugatan ke Pengadilan Hubungan Industrial. Perjuangan panjang mereka kandas di Mahkamah Agung. Majelis hakim MA menolak peninjauan kembali kasus mereka pada 2013.

Meski penerapan kebijakan BMI berlaku untuk seluruh awak kabin, Brahmanie Hastawati, mantan pramugari Garuda Indonesia, menilai penerapannya tidak diberlakukan secara adil. Brahmanie merasa peraturan ini lebih tajam kepada pramugari dibanding pramugara. “Pramugari yang berkelebihan berat badan 2 kilogram langsung grounded, sementara pramugara yang secara kasatmata tampak 'bulat' mendapat kelonggaran untuk tetap terbang,” Brahmanie menuliskan pengalamannya dalam buku Perempuan dan Hukum: Menuju Hukum yang Berperspektif Kesetaraan dan Keadilan.

Menurut Haryo Budi, Sekretaris Jenderal Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia, yang juga masih aktif terbang sebagai pramugara, masih ada pramugara yang mendapatkan sanksi grounded karena kegemukan. Tapi kebijakan BMI ini, kata Haryo, tak terlalu ketat kepada pramugara yang tidak bersentuhan langsung dengan penumpang. “Teman saya ada kok yang grounded karena kegemukan. Sedangkan yang diberi kelonggaran itu bisa jadi pramugara yang bekerja di pesawat tapi mungkin dia tidak memberikan pelayanan secara langsung. Misalnya di bagian pantry,” kata Haryo.

Berat badan bukan satu-satunya kriteria ‘penampilan ideal’ awak kabin. Gara-gara wajah tak mulus karena tumbuh banyak jerawat pun bisa membuat pramugari tak bisa terbang. “Mereka ada cek kesehatan rutin dua kali setahun. Mulai segi kesehatan, termasuk berat tubuh, dipantau terus. Kalau jerawatannya parah juga kami grounded. Sebab, bagaimanapun, penumpang, terutama di Asia, masih memberikan penilaian dari tampilan awak kabin yang menarik,” kata Dadan.

Dadan Ma'dan S, Senior Manager Employee Service & Information Management Garuda Indonesia.
Foto : Dok pribadi Dadan Ma'dan

Kebijakan maskapai penerbangan yang menitikberatkan pada penampilan fisik, bagi Ami Probo, Pengawas LBH Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan, tidak terlepas dari cara pandang patriarki, di mana laki-laki diposisikan lebih tinggi daripada perempuan. Pramugari dianggap sebagai sebuah objek yang membawa nama perusahaan sehingga harus terlihat sempurna bak boneka.

“Pengertian gemuk itu seperti apa? Kalau dia gemuk dalam artian tidak kurus tapi tidak overweight dan bisa melayani, kenapa nggak?” ungkap Ami. “Walaupun orang bisnis nanti akan bilang bahwa tampil menarik adalah bagian dari pelayanan, yang paling dibutuhkan itu sebetulnya pelayanan atau penampilan?”

Sementara itu, guru besar antropologi hukum Universitas Indonesia, Sulistyowati Irianto, menganggap tidak rasional menilai kemampuan awak kabin bekerja dari ukuran badan. “Karena di penerbangan lain, seperti di Eropa dan Amerika, banyak pramugari yang tampak berisi. Langsing itu kan supaya bisa dipakaikan baju yang mepet dan nyeplak. Itu mendiskriminasi perempuan, artinya menjadikan perempuan sebagai pajangan. Bukan dipakai otaknya, tapi badannya,” Sulistyowati menegaskan.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE