Ilustrasi : Edi Wahyono
Minggu, 26 November 2017Hanggar perakitan pesawat N219 kembali ramai setelah jam istirahat makan siang. Satu demi satu teknisi berseragam biru datang mengerubungi dua badan pesawat N219 yang masih belum tertutup sempurna. Suara mesin-mesin yang dipakai memasang paku keling pada pelat-pelat alumunium memenuhi hanggar. Sejurus kemudian sekelompok anak-anak muda juga mulai berdatangan. Mereka tak berjalan ke arah dua pesawat tadi. Namun, menuju pesawat yang telah dicat warna putih dengan tulisan Nurtanio tercetak di kedua sisi badan bagian depan.
Beberapa dari mereka menaiki tangga dekat baling-baling pesawat. Lantas mengutak-atik mesin turboprop tipe PT6A-42 buatan Pratt & Whitney. Sebagian lagi masuk ke badan pesawat. Mengamati grafik-grafik dan angka yang terlihat pada monitor pemantau kinerja pesawat. "Mereka itu para engineer muda," ujar Kepala Pilot Uji PT Dirgantara Indonesia, Esther Gayatri Saleh, saat diwawancara DetikX di hanggar tersebut, Kamis lalu.
Para insinyur tadi bekerja keras menyempurnakan pesawat purwarupa yang telah berhasil melakukan terbang perdana pada 16 Agustus lalu di atas kota Bandung. "Sampai hari ini prototipe N219 sudah mencapai 10 jam terbang," ujar Direktur Utama PT DI, Elfien Goentoro, saat menerima DetikX di kantor perwakilan PT DI di Jakarta, Jumat lalu. Jam terbang yang sudah didapatkan itu termasuk perjalanan menuju Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta saat peresmian dan pemberian nama Nurtanio oleh Presiden Joko Widodo, pada 10 November lalu.
Elfien menargetkan pesawat dengan nomor registrasi PK-XDT itu mampu meraih 30 jam terbang sampai akhir tahun 2017. Industri pesawat terbang milik negara itu juga sedang menyiapkan satu pesawat purwarupa lagi untuk mempercepat mengejar target 350 jam terbang sebagai syarat mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPP) Kementerian Perhubungan. "Empat pesawat prototipe disiapkan, dua untuk uji terbang, dua lagi untuk tes di darat," ujar bekas Direktur Utama PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni) itu.

Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia, Arie Wibowo
Foto: Wisma Putra
“Kalau sudah selesai garap N219 ada wahana baru. Kalau tidak begitu, tidak akan tergugah mereka. Masak mau garap N219 seumur hidup”
Direktur Produksi PT Dirgantara Indonesia Arie WibowoNurtanio disebut-sebut sebagai pesawat yang dirancang sepenuhnya oleh para insinyur Indonesia. Dikembangkan mulai 2012, pesawat dengan kapasitas 19 penumpang itu merupakan hasil kolaborasi PT Dirgantara dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). LAPAN menyisihkan anggaran khusus untuk pengembangan N219. "LAPAN membutuhkan N219 untuk menaikkan kapabilitas di bidang dirgantara," ujar Direktur Produksi PT Dirgantara, Arie Wibowo.
Arie menuturkan N219 secara khusus diciptakan dengan menyesuaikan kondisi geografis kawasan timur Indonesia yang membutuhkan pesawat terbang untuk penerbangan perintis terutama wilayah Papua. "Beberapa wilayah di Papua landas pacunya pendek dan medannya sangat susah. Begitu pesawat tinggal landas, di depannya langsung bertemu gunung," ujar Arie. Untuk menyesuaikan dengan medan menantang di Papua, N219 dirancang mampu lepas landas dan mendarat pada landas pacu dengan panjang sekitar 400 meter saja. "N219 juga mampu bermanuver pada kecepatan rendah sehingga cocok untuk wilayah pegunungan."
Pesawat yang memiliki panjang 16,74 meter dan bentangan sayap 19,5 meter itu diklaim mengungguli kompetitornya Harbin Y-12F dari Cina dan Twin Otter buatan de Havilland, Kanada. "Secara teknologi N219 lebih baik dan biaya operasional lebih murah," ujar Arie yang merupakan lulusan Embry-Riddle Aeronautical University, Florida, Amerika Serikat itu.
Twin Otter masih menggunakan desain yang sudah bertahan 10 tahun lebih. Begitu pula dengan Harbin Y-12F yang merupakan penyempurnaan dari Harbin Y-12 yang sudah diproduksi sejak tahun 1980-an. Hanya saja, dua pabrikan tersebut didukung lembaga keuangan yang kuat dalam hal pemasaran. "Cina menjual murah pesawat dengan membawa lembaga keuangan negaranya. Pesawat N219 pun butuh melakukan yang sama."
Berbeda dengan cara membangun N250 yang serba mengutamakan teknologi terbaru, N219 memakai teknologi yang sudah ada dan banyak tersedia di pasar. "Kami gabungkan komponen-komponen itu menjadi sebuah produk yang optimum dengan harga rendah," ujar Arie. Cara tersebut, kata Arie, membuat ongkos investasi pembuatan N219 bisa jauh lebih murah. Pemerintah pun tak berat untuk mengucurkan anggaran untuk membantu pendanaannya. "Pesawat N250 melebihi eranya dengan kecanggihannya. Biayanya sangat mahal untuk melakukan itu."

Hanggar perakitan pesawat N219
Foto: Wisma Putra
Kelebihan-kelebihan dibanding kompetitornya itu membuat Elfien optimistis Nurtanio bisa laku di pasar. Setelah proses sertifikasi selesai pada akhir tahun 2018, Elfien menargetkan pada 1 Juli 2019 pesawat pertama sudah bisa dikirimkan kepada maskapai pemesan.
"Pelita Air Service jadi pembeli pertama sesuai arahan Menteri BUMN," ujarnya. Selain itu ada beberapa maskapai dalam negeri yang fokus pada penerbangan perintis juga sudah menyatakan minat. "Pada jalur perintis, kami petakan dalam 5-10 tahun ke depan ada kebutuhan 110 pesawat jenis ini. Sementara jika ditambahkan kebutuhan luar negeri seperti di wilayah Amerika Selatan dan Asia Tenggara dengan kondisi geografis yang mirip bisa hampir 500 pesawat."
Proyek pesawat N219 ini seperti ‘pemanasan’ bagi PT Dirgantara sebelum mereka ‘berlari’ lebih jauh, lebih kencang. Perusahaan yang dulu bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) itu sudah menyiapkan proyek pesawat selanjutnya dengan nama N245 atau CN235 NextG. Pesawat N245 merupakan desain ulang CN235 dengan menambah kapasitas angkut menjadi 50 penumpang. Pintu belakang yang menjadi ciri CN235 dihilangkan. Pesawat ini juga dirancang melayani penerbangan jarak pendek, maksimal waktu perjalanan satu setengah jam.
Landasan yang dibutuhkan pun tak terlalu panjang bisa kurang dari seribu meter. Hanya saja, menurut Elfien, proyek ini belum akan digarap dalam waktu dekat. "Kami masih fokus pada N219 sampai pada tahap pemasaran. Karena kami ini bisnis pesawat, tidak cukup hanya pabrik atau membuat pesawat saja, tapi harus bisa menjualnya," katanya.

Elfien Goentoro, Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia
Agung Pambudhy/detikcom
Arie menambahkan proyek N245 sudah masuk dalam program strategis nasional. "Kami lakukan low profile development karena belum ada pendanaannya," ujarnya. Ia pun optimistis pengembangan N245 ini akan terus berjalan. "Kalau di dapur ibaratnya kami sudah menyalakan api kecil. Biar ada motivasi bagi insinyur-insinyur muda. Kalau sudah selesai garap N219 ada wahana baru. Kalau tidak begitu, tidak akan tergugah mereka. Masak mau garap N219 seumur hidup," ujar Arie.
Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menyampaikan pasar untuk pesawat model N219 masih terbuka sangat lebar. Kebutuhan akan penerbangan perintis masih sangat besar terutama di daerah yang medan daratnya sangat sulit. "Bisa dibayangin bikin jalan di Papua. Belum lagi Indonesia itu negara kepulauan pasti tetap akan butuh," ujar Gerry. Apalagi pasarnya tidak cuma Indonesia. Masih banyak negara lain yang memiliki medan yang sama seperti di Papua. "Jadi skalanya mungkin tidak sebanyak pesawat besar, tapi masa depan dan peluang untuk N219 masih panjang."
Reporter/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim