INTERMESO
Yang satu berjuang menghidupkan bahasa Indonesia, satunya lagi berjuang untuk bahasa Sunda. Agar tak tergerus bahasa asing..
Ilustrator: Nadia Permatasari
Minggu, 22 Oktober 2017"Kata tweet sudah diserap KBBI menjadi 'twit'. Saya tetap pakai 'kicauan'," tulis Ivan Lanin dalam akun Twitter miliknya. Sejumlah pengikutnya pun ikut nimbrung. Ada yang memaparkan makna twit adalah orang bodoh dalam bahasa Inggris ragam informal. Namun akhirnya Ivan mengaku kepada pengikutnya, mau tidak mau dirinya sedang berusaha mencoba mengubah kebiasaannya memakai 'kicauan' menjadi 'twit'.
Membuka akun Twitter sudah jadi semacam ritual Ivan saban akhir pekan. Mulai pagi, satu per satu pertanyaan seputar bahasa Indonesia dari para pengikutnya dibahas. Ia mengaku bisa sampai 6 jam meladeni pengikutnya yang ingin berkonsultasi. "Dulu tiap hari pulang kerja selama dua jam. Sekarang saya memilih membuka hari Sabtu atau Minggu. Kayak praktik dokter," ujar pria kelahiran Jakarta, 42 tahun lalu, itu saat berbincang dengan detikX di sebuah rumah makan di kawasan Jakarta Selatan, Kamis pekan lalu.
Komitmen Ivan menjadi 'dokter' spesialis bahasa dengan mengalokasikan waktu untuk para pengikutnya bukan tanpa alasan. Niat berbagi pengetahuan itu agar makin banyak orang yang bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. "Dulu waktu saya belajar bahasa, saya tidak ada tempat bertanya," ujar Ivan. "Saya berprasangka baik orang tidak menggunakan bahasa Indonesia dengan benar karena tidak paham aturannya. Bukan karena bandel."
Konsultasi bahasa Ivan Lanin via media sosial Twitter rupanya menarik perhatian para pemilik akun Twitter. Sampai saat ini akun @ivanlanin memiliki pengikut hampir 500 ribu. Bahkan beberapa di antaranya terbilang pengagum fanatik Ivan Lanin dengan menyebut diri mereka pengikut mazhab Ivan Lanin untuk sejumlah perbedaan pandangan dalam bahasa Indonesia.
Ia mengakui berbeda pendapat dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa soal padanan kata tweet. Begitu juga dengan kata kerja formal untuk kata seperti klik dan twit. "Saya pilih mentwit. Badan Bahasa mengetwit," katanya. "Ilmu bahasa tidak ada sesuatu yang saklek, tapi sebagai satu kesatuan kita harus punya sesuatu yang diacu. Saat ini yang paling punya otoritas ya Badan Bahasa. Saya pelan-pelan ikut."

Ivan Lanin (tengah)
Foto: dok. pribadi
Bahasa Indonesia menjadi kaya karena ribuan kosakata bahasa daerah telah menambah kosakata bahasa Indonesia."
Taufik Faturohman, pelestari bahasa SundaMeski buka praktik ‘dokter bahasa’, Ivan Lanin sebenarnya tak memiliki latar belakang pendidikan bahasa. Ia seorang insinyur teknik kimia dari Institut Teknologi Bandung yang lulus pada 1999. Lulus kuliah, Ivan bekerja sebagai pemrogram komputer. Sampai pada 2006, Ivan harus membuat perangkat lunak untuk penghitungan pajak penghasilan. "Saya nyasar ke Wikipedia ketika cari artikel tentang pajak penghasilan," katanya. "Di versi bahasa Inggris, artikelnya panjang, bisa sampai tiga kali gulir (scroll). Saat pindah ke versi bahasa Indonesia, artikelnya pendek banget."
Minimnya informasi tentang pajak dalam Wikipedia bahasa Indonesia membuatnya tergerak untuk berkontribusi. Baru dua kalimat yang tersusun, Ivan terhenti. Ia sadar kemampuannya menulis bahasa Indonesia dalam ragam formal sangat terbatas. "Itu membuat saya insyaf. Saya ini orang Indonesia, tapi lebih menguasai bahasa Inggris," ujar pria berdarah Minang itu.
Mulai saat itu Ivan kembali mempelajari bahasa Indonesia. Hampir semua buku tentang bahasa Indonesia dibeli dan dipelajari. "Saya belajar otodidak," ujarnya. Kemampuannya dalam bahasa Indonesia semakin terasah karena setiap hari menulis untuk Wikipedia. "Di Wikipedia juga saya terbiasa mendeskripsikan sesuatu. Keterampilan itu tidak dimiliki semua orang."
Keterampilannya berbahasa membuat Google Indonesia menawarkan posisi editor hasil terjemahan di laman Google pada 2009. Selain itu, untuk membantunya menyebarluaskan pengetahuan tentang bahasa, Ivan mengembangkan Kateglo (kamus, tesaurus, dan glosarium) bersama rekannya, Romi Hardiyanto, pada tahun yang sama.
Hanya dalam waktu tiga hari, dia berhasil membuat struktur basis data Kateglo. Sebagai pengembangan dari Kateglo, Ivan membuat AsalKata.com untuk mengumpulkan informasi tentang etimologi kata bahasa Indonesia pada 2012. Sebanyak 25 ribu entri berhasil dikumpulkannya. "Tentu semua dengan bantuan bahasa pemrograman," ujar Ivan. Untuk semua pencapaiannya itu, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menganugerahkan penghargaan Pembina Bahasa Indonesia 2016 kepada Ivan sebagai Peneroka Bahasa Indonesia Daring.

Taufik Faturohman
Foto: dok. pribadi
Meski layak disebut ahli bahasa, Ivan tetap lebih suka disebut sebagai Wikipediawan yang mencintai bahasa Indonesia. "Saya bangga sekali dengan status itu. Wikipediawan menunjukkan orang yang mampu menuangkan pikiran dalam bentuk definisi. Hal itu tidak gampang," ujarnya.
Selain Ivan, Badan Bahasa memberi penghargaan kepada Taufik Faturohman. Pada 1980-an, ketika orang-orang belum berpikir tentang kepunahan bahasa, Taufik sudah berupaya melestarikan bahasa Sunda. Inisiatif tersebut muncul ketika ia menyadari bahwa masyarakat kala itu mulai enggan membaca berita atau majalah dalam bahasa Sunda. Ia memutuskan langsung berkecimpung dalam dunia penerbitan.
Melalui penerbit CV Geger Sunten miliknya, Taufik menerbitkan karya-karya bermutu dalam bahasa Sunda berupa buku pelajaran bahasa Sunda, kumpulan cerita pendek, dongeng, sajak, dan novel. "Mesin cetaknya di lantai dasar rumah ini," ujar Taufik kepada detikX di kediamannya, di kawasan Sukasari, Kota Bandung.
Usahanya melestarikan bahasa Sunda tak berhenti di sana. Ia membawakan dongeng lokal di depan anak-anak usia sekolah dasar. Namun ia merasa usahanya itu tak cukup. "Ternyata nggak nyambung. Kita bicara soal Sangkuriang atau Tangkuban Perahu, di benak mereka Doraemon," ujar cucu KH Husnil Haetami, seorang kiai ternama di Tasikmalaya, itu.
Agar dongengnya lebih menarik, Taufik menggagas pementasan sulap dan dongeng (Sudong) dalam bahasa Sunda bersama pesulap Mister Robin Masarie pada 2006. Kebetulan Mister Robin punya keprihatinan akan maraknya acara televisi yang tak mendidik. "Saya prihatin terhadap penerimaan anak-anak atas dongeng Sunda, Mister Robin prihatin perkembangan sulap yang dipakai untuk acara klenik," kata Taufik.

Foto: dok. Thinkstock
Taufik yakin sulap bisa dinikmati oleh segala usia dan digemari masyarakat. Sulap versi Taufik bisa digabungkan dengan beberapa bagian dari sastra Sunda, seperti pupuh, pantun, wawacan, sandiwara, dan baca puisi dengan aransemen musik populer kecapi diatonis. Setelah dongeng dibacakan, pesulap menyajikan sulap terkait cerita. Apabila ceritanya tentang tokoh utama yang bisa terbang, pesulap pun akan menyajikan kemampuan ilusi terbang. Duet Taufik-Mister Robbin berkeliling hampir ke seluruh Jawa Barat untuk mengadakan pertunjukan.
Pria kelahiran Pagerageung, Tasikmalaya, pada 10 Mei 1959 itu tidak ingin generasi penerus hidup dengan anggapan bahwa bahasa daerah itu kampungan. Bahasa daerah, kata Taufik, bukanlah bom waktu yang merusak bahasa Indonesia. Menurutnya, bahasa daerah adalah penopang bahasa Indonesia. "Bahasa Indonesia menjadi kaya karena ribuan kosakata bahasa daerah telah menambah kosakata bahasa Indonesia," ujarnya.
Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim