INTERMESO

Perempuan Terakhir Che Guevara

“Tamara sangat memuja Che. Che Guevara adalah pahlawannya dan pahlawan bagi kami semua.”


Minggu, 8 Oktober 2017

Julia Cortes saat itu baru 19 tahun. Dia bekerja sebagai guru di sebuah sekolah dasar di La Higuera, desa kecil di Provinsi Vallegrande, Bolivia.

Suatu hari pada September 1967, dia mendengar kabar di radio soal kedatangan sekelompok gerilyawan yang dipimpin Ernesto 'Che' Guevara di daerahnya. “Saat itu aku tak tahu betapa seriusnya masalah itu. Aku juga tak tahu siapa Che Guevara. Aku hanya mendengar bahwa dia pemimpin kelompok itu dan sangat pintar,” Julia menuturkan kepada Guardian beberapa waktu lalu.

Che Guevara, yang lahir dan tumbuh besar di Argentina, datang ke Bolivia bersama beberapa gerilyawan Kuba pada awal November 1966. Dia datang dengan menyamar sebagai pengusaha dan menggunakan paspor Uruguay atas nama Adolfo Mena Gonzales. Di tangannya juga ada paspor lain dengan nama Ramon Benitez Fernandez. 

Di Bolivia, negara termiskin di Amerika Latin, Che berharap dapat mengulang revolusi komunis ala Kuba dan menyebarkannya ke negara-negara lain di Amerika Selatan. Pada 1959, Fidel Castro, Che Guevara, dan kelompoknya berhasil menumbangkan diktator Kuba, Fulgencio Batista. Tapi cita-cita revolusioner Che tamat di Bolivia. Pada 8 Oktober 1967, kelompok gerilyawan Che dikepung tentara Bolivia di Ngarai Yuro, tak jauh dari Desa La Higuera.

Sebagian besar anggota kelompok gerilyawan komunis itu mati tertembak. Che terluka dan tertangkap. Hari itu juga, bersama satu orang temannya, Simeón Cuba Sarabia alias Willy, Che dibawa ke Desa La Higuera. Che ditahan di sebuah ruangan di sekolah Julia. Willy, pekerja tambang timah dan anggota Partai Komunis Bolivia, ditahan di ruangan lain.

Aku tak percaya dia tidur dengan banyak orang. Dia tak memerlukannya. Dia tahu bagaimana memanipulasi laki-laki tanpa perlu tidur dengannya.”

Dariel Alarcon 'Benigno' Ramirez

Gambar Tamara Bunke alias Tania
Foto: dok. DPA

Pada hari itu Julia berniat pergi ke sekolah, tapi betapa paniknya dia mendengar suara baku tembak. Seorang tentara Bolivia menghampirinya dan menenangkan Julia. “Jangan takut, Sayang… perang gerilya ini sudah selesai,” kata sang prajurit. Menjelang senja, Julia melihat dari kejauhan tentara membawa Che Guevara dan Willy ke sekolahnya. Tapi dia tak bisa melihat jelas seperti apa kedua tawanan itu.

Di radio, tersebar kabar bahwa Che mati dalam baku tembak. Padahal Julia melihat sendiri Che Guevara ditawan di sekolahnya. Merasa penasaran, keesokan harinya Julia pergi sekolah. Prajurit Bolivia menjaga ketat gedung sekolah itu. Julia berdiri di depan pintu, mencoba melihat ke dalam ruangan, tapi kelewat gelap. “Julia, kamu mau bertemu Che? Masuklah,” seorang prajurit yang mengenalnya menyapa Julia. Begitu masuk dalam ruangan, laki-laki itu, Che Guevara, menatap Julia. “Aku balas menatapnya…. Aku tersenyum dan merasa malu, tapi jelas aku sangat terkejut,” kata Julia. Dia bak tersengat listrik.

Penampilan gerilyawan kondang itu memang sungguh gembel. Berbulan-bulan bergerilya di hutan dan terus berlari dari kejaran tentara Bolivia, penampilan bukan hal penting. “Penampilannya memang seperti gelandangan, tapi matanya bersinar terang,” Julia menuturkan. Tatapan mata Che itulah yang menyihirnya.

Che Guevara memuji penampilan Julia, membuat gadis itu makin tersipu. “Aku bertanya kepada dia, mengapa dia bergerilya? Dia bilang karena idealismenya…. Dia bilang dia berperang untuk mereka yang hidup kekurangan, mereka yang hidupnya terampas.” Dokter yang beralih jadi gerilyawan itu minta makanan. “Aku memberinya sup…. Dia langsung makan dengan lahap.” Saat Che menyantap makanannya, Julia tak berhenti menatapnya.

Setelah Che makan, prajurit menyeretnya keluar. Dalam diam, Che menatap Julia. “Pandangan matanya hari itu tak pernah aku lupakan, tertato di hatiku selamanya…. Tidak mungkin aku tidak jatuh cinta kepadanya,” kata Julia, hampir setengah abad setelah pertemuan itu. Beberapa saat setelah bertemu dengan Julia Cortes, Sersan Mario Teran Salazar mengeksekusi Che Guevara.

* * *

Tamara Bunke, paling kiri, saat masih di Jerman Timur
Foto: dok. SVD

Ada yang bilang, dia intel Jerman Timur. Ada pula yang bilang perempuan ini intel Dinas Intelijen Uni Soviet (KGB) dan mengkhianati Che. Beredar pula bisik-bisik bahwa dia pacar gelap Che Guevara dan mengandung anaknya saat mati tertembak tentara Bolivia di Sungai Rio Grande. Dialah Haydee Tamara Bunke Bider alias Tania alias Marta, perempuan satu-satunya dalam kelompok gerilyawan yang dipimpin Che Guevara di Bolivia. 

Lima puluh tahun kematian Tamara pada 31 Agustus lalu diperingati pemerintah Bolivia. “Kisah hidupnya sangat kaya dan penuh drama,” kata Frolian Gonzales, sejarawan Kuba, kepada TelesurTV, beberapa pekan lalu. Lahir dan tumbuh hingga remaja di Argentina, Tamara menghabiskan masa mudanya di Jerman Timur. Di negara komunis inilah gadis itu kenal yang namanya komunisme.

Tamara bertemu dengan Che Guevara pertama kali pada awal 1960-an. Saat itu Che datang ke Kota Leipzig, Jerman Timur, sebagai Menteri Perindustrian Kuba. Tamara, yang fasih bicara empat bahasa—Inggris, Rusia, Jerman, dan Spanyol—ditunjuk menjadi penerjemah untuk mendampingi Che. Cerita revolusi Kuba yang dipimpin Fidel Castro bersama Che Guevara sudah lama memikat Tamara.

Beberapa bulan setelah pertemuan dengan Che, Tamara meninggalkan keluarganya di Jerman Timur dan pergi ke Kuba. Gadis itu juga melepas kewarganegaraannya. Di Kuba, Tamara bekerja di Kementerian Pendidikan. Saat itu, Che Guevara sedang menggebu-gebu 'mengekspor' revolusi komunismenya ke pelbagai negara. Uji coba revolusi Che di Kongo di Benua Afrika gagal total. Tapi Che tak kapok juga. Target berikutnya adalah negara tetangga, yakni Bolivia. 

Tamara, yang terpesona oleh ide revolusi Che, mengajukan diri. Che memerintahkan pengawal pribadinya, Dariel Alarcon 'Benigno' Ramirez, melatih Tamara kemampuan bergerilya. Benigno sudah lama bersama Che. Dia juga ikut dalam kelompok gerilyawan yang menumbangkan diktator Kuba, Fulgencio Batista. 

Benigno, yang sangat setia kepada Che, juga ikut bergerilya di Kongo dan Bolivia. Benigno bersama empat temannya berhasil lolos dari kepungan tentara Bolivia dan pulang kembali ke Kuba. Pada 1994, dia meninggalkan Kuba dan lari ke Prancis lantaran kecewa terhadap Fidel Castro. Menurut Benigno, Fidel ‘mengkhianati’ Che dengan tak mengirimkan pasukan pendukung ke Bolivia.

Tamara Bunke
Foto: dok. SVD

Tapi Benigno yakin, Tamara tak pernah berkhianat. “Dia orang yang ramah, cantik, dan baik…. Tapi dia juga tangguh, bahkan sangat tangguh,” kata Benigno kepada Sunday Times, beberapa tahun lalu. Benigno meninggal di Paris satu setengah tahun lalu. Hanya punya waktu singkat sebelum dikirim ke Bolivia, Benigno menempa Tamara dengan semua kemampuan tempur dan bergerilya: menembak, menggunakan pisau, memakai rupa-rupa alat komunikasi, dan bertahan hidup di hutan. 

“Kadang kami berlatih sampai menjelang tengah malam…. Tapi dia tak pernah mengeluh. Dia paham, kami hanya punya waktu singkat sebelum berangkat ke hutan. Saat aku bilang dia boleh istirahat jika sedang datang bulan, dia malah tertawa. Dia bilang, 'Apakah seperti itu yang terjadi di hutan: supaya tak menyerang saat aku datang bulan.' Dia ingin diperlakukan sama dengan laki-laki,” Benigno mengenang Tamara. 

Che memberi tugas Tamara menjadi 'mata dan telinga' bagi kelompok mereka di La Paz, ibu kota Bolivia. Untuk melatih kemampuan sebagai mata-mata, berkali-kali Tamara pergi ke luar negeri dengan banyak paspor palsu. Pertama sebagai Marta Iriarte. Kedua, dia menjadi Haydee Gonzales, kemudian berganti lagi menjadi Vittoria Pancini, warga Italia. Tamara menjadi Laura Gutierrez Bauer saat menyusup ke Bolivia.

“Kalian bisa memanggilnya Mata Hari,” kata Benigno. Mata Hari adalah perempuan mata-mata kondang dalam Perang Dunia I. Ada sejumlah sumber menulis bagaimana Tamara menggunakan segala cara untuk menembus lingkaran elite Bolivia. “Aku tak percaya dia tidur dengan banyak orang. Dia tak memerlukannya. Dia tahu bagaimana memanipulasi laki-laki tanpa perlu tidur dengannya.”

Tamara Bunke
Foto: dok. SVD

Mendengar kabar bahwa anak Jenderal Alfredo Ovando Candia, Panglima Militer Bolivia, berniat bersekolah di Jerman, Tamara menyewa rumah tak jauh dari kediaman sang jenderal. Dia sengaja memasang tanda “Membuka Kursus Bahasa Jerman”. Umpan itu ‘dimakan’ sang jenderal. Sejak hari itu, Tamara menembus lingkaran paling tinggi di Bolivia. Lewat perantara Jenderal Alfredo, bahkan dia bisa berkenalan dengan Presiden Rene Barrientos. Semua informasi yang berhasil disadapnya dikirim ke Che Guevara yang berada di hutan.

Hingga suatu hari, kedok Tamara terbongkar. Tak ada pilihan bagi Tamara kecuali lari ke hutan untuk bergabung dengan Che. Berminggu-minggu di hutan, tanpa makanan yang memadai, membuat kesehatan Tamara melorot. Untuk menghindari kejaran tentara Bolivia, Che memutuskan memecah dua kelompoknya pada April 1967. Itulah saat terakhir Tamara bertemu dengan Che Guevara.

Tamara dan hampir semua anggota kelompoknya mati tertembak saat menyeberang Sungai Rio Grande. Satu setengah bulan kemudian, pada 9 Oktober 1967, giliran Che Guevara mati dieksekusi tentara Bolivia. Benigno percaya, ada cinta di antara mereka berdua. “Itu terlihat dari bagaimana mereka berbicara dan saling menatap hingga mereka berpisah,” kata Benigno. Karena itulah, mustahil Tamara mengkhianati Che Guevara. “Tamara sangat memuja Che. Che Guevara adalah pahlawannya dan pahlawan bagi kami semua.”


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE