INTERMESO
50 Tahun Kematian Che Guevara
“Sekarang bukan waktunya menangis untuk Che…. Sekarang waktunya memperkuat perjuangan melawan imperialisme”
Che Guevara bersama Fidel Castro di Havana pada Desember 1959
Foto: dok. Getty Images
Selama hampir separuh abad, Mario Teran, kini 75 tahun, ‘bersembunyi’ dari wartawan. Tak ada satu pun reporter yang berhasil mewawancarai Teran, hingga tiga tahun lalu wartawan harian asal Spanyol, El Mundo, menulis soal pertemuannya dengan Teran di Kota Santa Cruz de la Sierra, Bolivia.
Persis 50 tahun lalu, dia adalah Sersan Mario Teran, prajurit Bolivia yang menembakkan senapan dan mengakhiri hidup Ernesto 'Che' Guevara di sebuah ruang gedung sekolah di La Higuera, desa kecil di Provinsi Vallegrande, Bolivia. “Saat aku masuk ruangan, Che sedang duduk di kursi. Ketika melihatku masuk, dia berkata, ’Kamu datang untuk membunuhku,’” Mario Teran menuturkan.
Menghadapi gerilyawan kondang itu, Teran grogi juga. “Aku merasa canggung dan menundukkan muka tanpa menanggapi perkataannya. Saat itu aku tak berani menembak. Tiba-tiba Che Guevara tampak besar, sangat besar, dan ketika dia menatapku, aku merasa pening. Aku pikir, dengan gerakan cepat aku bisa mengangkat senapan. Kemudian aku mundur ke arah pintu, menutup mata dan melepaskan rentetan tembakan pertama.” Che seketika tumbang ke lantai.
Entah dengan maksud apa, militer Bolivia tak pernah ‘memamerkan’ dan mengungkapkan dengan jelas identitas Mario Teran. Beberapa mantan gerilyawan komunis Bolivia menduga mereka takut akan pembalasan Kuba. Menurut Mario Teran, paling tidak ada tiga prajurit Bolivia dengan nama Mario Teran saat itu. Tapi hanya ada satu Mario Teran Salazar, yakni dia. Kepada orang-orang di Santa Cruz, dia selalu memperkenalkan diri sebagai Pedro Salazar.
Pada 3 November 1966, Che Guevara tiba di La Paz, Bolivia. Tak ada yang mengenal Guevara. Dia mencukur habis berewok dan rambutnya yang gondrong serta mengenakan kacamata. Ernesto Guevara datang dengan menyamar sebagai pengusaha dan menggunakan paspor Uruguay atas nama Adolfo Mena Gonzales. Di tangannya juga ada paspor lain dengan nama Ramon Benitez Fernandez.

Che Guevara berbicara dalam Konferensi Perdagangan Dunia di Jenewa, Swiss, pada Maret 1964.
Foto: dok. Getty Images
Untuk menyamarkan jejaknya, Che mengambil jalan berputar-putar. Dua minggu sebelumnya, Che terbang dari Havana menuju Moskow, Uni Soviet, dan melanjutkan perjalanan ke Praha, kini Republik Cek. Dengan menggunakan kereta, Che pergi ke Wina, Austria. Sebelum tiba di Sao Paulo, Brasil, Che sempat singgah di Jerman dan Prancis. Dengan menumpang dua mobil jip, Che dan beberapa temannya menyeberang ke Bolivia.
Sebelum pergi bergerilya di Bolivia, ‘uji coba’ revolusi komunis Che dan beberapa gerilyawan kiri di Kongo, Afrika, selama beberapa bulan gagal total. “Mereka tak ada keinginan bertempur. Para pemimpinnya korup. Tak ada lagi yang bisa dilakukan,” kata Che, dikutip Douglas Kellner dalam bukunya, Ernesto “Che” Guevara.
Di Bolivia, negara termiskin di Amerika Latin, Che berharap dapat mengulang revolusi komunis ala Kuba dan menyebarkannya ke negara-negara lain di Amerika Selatan. Pada 1959, Fidel Castro, Che Guevara, dan kelompoknya berhasil menumbangkan diktator Kuba, Fulgencio Batista. Tapi Bolivia bukan Kuba, dan delapan tahun setelah revolusi Kuba, dunia tak lagi sama. Pemerintah Amerika Serikat sedang sangat bersemangat menghadang penyebaran komunisme di pelbagai negara. Satu dokumen CIA juga mengungkap sikap pemimpin Uni Soviet Leonid Brezhnev yang tak menyukai tindakan Che bergerilya di Bolivia.
Datang ke Bolivia hanya berempat, kelompok Che mendapat suntikan tenaga baru dengan kedatangan beberapa gerilyawan kiri dari Kuba. Dan beberapa bulan kemudian, kelompok kecil itu telah menjadi 49 orang, yang terdiri atas 48 laki-laki dan seorang perempuan. Mereka berasal dari Kuba, Peru, Bolivia, dan seorang perempuan dari Jerman Timur, Tamara Bunke alias Tania.
Tapi lawan mereka, rezim Bolivia, disokong oleh pasukan khusus dan Dinas Intelijen Amerika Serikat (CIA). Kondisi kelompok Che makin kepayahan. Dalam catatan hariannya, Che mengeluhkan lemahnya dukungan rakyat Bolivia. “Berbicara dengan para petani kecil di sini seperti bicara dengan patung. Mereka tak memberikan bantuan sama sekali. Lebih parah lagi, sebagian dari mereka malah jadi informan tentara.”

Che Guevara bersama gerilyawan Bolivia pada 1967.
Foto: dok. Getty Images
Omong kosong, tak ada kutukan seperti itu.”
Gary Prado Salmon, perwira operasi penangkapan Che GuevaraPada 7 Oktober 1967, seorang informan mengabarkan posisi kelompok Che di Ngarai Yuro, tak jauh dari Desa La Higuera, kepada pasukan khusus Bolivia. Operasi besar-besaran digelar untuk mengepung kelompok Che. Belasan gerilyawan yang kurang makan dan senjata itu jelas bukan lawan seimbang bagi pasukan khusus Bolivia.
Che Guevara terluka dalam baku tembak. Asma dan luka itu membuatnya tak berkutik. Hanya lima orang dari kelompok Che yang berhasil lolos. “Dia sama sekali tak mirip seperti di foto-foto,” Gary Prado Salmon, salah satu perwira yang terlibat penangkapan Che, menuturkan kepada Financial Times, pekan lalu. Berbulan-bulan bergerilya di hutan, penampilan Che benar-benar gembel. “Dia lebih mirip gelandangan yang biasa mengemis di kota-kota. Rambutnya gondrong, berantakan, dengan cambang tumbuh lebat. Dia tak mengenakan sepatu, hanya kulit binatang membungkus kakinya. Dua kaus kakinya tampak aneh, satu sisi merah, satu sisi biru.”
Kepada Newsmax beberapa tahun lalu, Felix Rodriguez, intel CIA yang membantu operasi penangkapan Che, mengatakan dia berharap Che tak dieksekusi mati. Tapi pada siang itu, Kolonel Joaquin Zenteno Anaya, komandan pasukan khusus Bolivia, menerima perintah dari Presiden Rene Barrientos: Che harus mati. Ada tujuh prajurit yang sukarela mengajukan diri menjadi algojo. Zenteno menunjuk Mario Teran. Berakhirlah cita-cita revolusi komunis Che Guevara.
* * *
Sepuluh tahun lalu, persis 40 tahun kematian Che Guevara, harian Granma mengabarkan soal operasi mata terhadap Mario Teran. Koran yang dikendalikan pemerintah Kuba itu menulis, dokter-dokter di Havana telah berhasil menyelamatkan Teran dari kebutaan.
Kepada El Mundo tiga tahun lalu, Teran membantah tulisan Granma. Menurut Teran, dia tak buta. “Hanya ada sedikit katarak di mataku,” kata Teran. Setelah tak lagi berdinas di militer Bolivia, Teran hidup bersama istri dan lima anaknya di Kota Santa Cruz layaknya warga biasa. Tak ada anaknya yang meneruskan kariernya sebagai tentara.

Poster Che Guevara di Alun-alun Revolusi, Havana, pada 1983.
Foto: dok. Getty Images
Lima puluh tahun setelah kematiannya, banyak orang memuja Che Guevara, meski tak sedikit pula yang tidak suka kepadanya. Tapi di La Higuera dan Vallegrande, Bolivia, juga di Kuba, Che dipuja bak orang suci. Leo Lino, pemandu wisata di Vallegrande, menuturkan, banyak warga yang memanjatkan doa di bekas ruang rumah sakit Vallegrande, tempat jenazah Che disemayamkan.
“Banyak warga berkata penyakit mereka tersembuhkan setelah berdoa di sana,” kata Leo kepada Guardian, beberapa pekan lalu. Setiap 9 Oktober, kematian Che selalu diperingati di La Higuera dan Vallegrande. Dan tahun ini, peringatan itu bakal lebih besar dari tahun-tahun sebelumnya. “Sekarang bukan waktunya menangis untuk Che. Sekarang waktunya memperkuat perjuangan melawan imperialisme,” Presiden Bolivia Evo Morales menulis di Twitter pekan lalu.
Bagi pendukungnya, Che dipercaya membawa berkah. Ada pula yang percaya bahwa akan jatuh kutukan bagi musuh-musuhnya. Sebagian ‘kutukan’ itu sudah jatuh kepada Rene Barrientos, orang yang memerintahkan hukuman mati bagi Che Guevara. Satu setengah tahun setelah kematian Che, Presiden Barrientos tewas dalam kecelakaan helikopter.
Dia menjadi enam dari sepuluh orang terkait kematian Che, yang mati dalam kecelakaan. Honorato Rojas, petani yang menjadi sumber informasi tentara Bolivia, tewas dalam baku tembak. Jenderal Juan Jose Torres, Panglima Tentara Bolivia, yang ikut dalam rapat membahas eksekusi Che, tewas dibunuh kelompok antikomunis Argentina. Jenderal Alfredo Ovando, yang juga ikut hadir dalam rapat itu, tewas setelah jatuh ke sumur pada 1982.
Gary Prado Salmon, perwira yang menangkap Che, tak percaya pada segala macam kutukan Che itu. “Omong kosong, tak ada kutukan seperti itu,” kata Gary kepada majalah Der Spiegel. Gary, yang pensiun sebagai jenderal, kini hidup di atas kursi roda setelah senapan yang dia pegang tak sengaja meletus dan melukai tulang punggungnya.
Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim