INTERMESO

Perempuan Berotot Seperti Arnold

“Dia bertanya, apa lagi yang kamu kejar? Aku bilang, aku ingin jadi perempuan yang kuat.”

Binaragawati dari Israel 
Foto: dok. Getty Images

Senin, 25 September 2017

Meegan Heeford meninggal terlalu muda. Umurnya baru 25 tahun saat Meegan kolaps dan akhirnya meninggal sebulan lalu. Perempuan asal Australia Barat itu meninggalkan dua anak yang masih kecil.

Meegan meninggal gara-gara binaraga dan protein. Sebelum tumbang di apartemennya, dia sebenarnya sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kontes binaraga. Sudah beberapa lama dia mengatur ketat apa saja makanan yang boleh lewat di mulutnya. Demi punya tubuh liat dan berotot, Meegan banyak mengkonsumsi suplemen protein dosis tinggi.

Celakanya, dia tak tahu diet itu fatal bagi tubuhnya. Menurut dokter yang memeriksa penyebab kematiannya, sebenarnya tubuh Meegan tak mampu mengurai protein dalam jumlah besar. Kegagalan tubuh mengurai protein menyebabkan penumpukan cairan dalam otak.

“Aku tak percaya dia telah pergi…. Tapi aku mesti bersyukur, paling tidak telah menikmati waktu 25 tahun bersamanya,” kata Michelle White, ibu kandung Meegan, dikutip Independent. Tak gadis, tak ibu-ibu, tidak pula nenek yang sudah lanjut usia, mereka berlatih membesarkan otot seperti yang dilakukan Meegan. Sekarang, meski masih ada saja suara miring soal profesi binaragawati, sudah bukan hal aneh lagi perempuan punya postur gagah perkasa, tak beda dengan laki-laki yang terlatih sekalipun.

Sedikit-banyak dunia binaraga punya utang kepada Arnold Schwarzenegger. Bintang Hollywood dan mantan Gubernur California inilah yang membuat olahraga ini kondang ke seluruh dunia. Sampai hari ini Arnold, yang pernah merebut titel Mr Olympia tujuh kali selama 1970-an, masih merupakan “wajah” yang terus dikenang di dunia binaraga.

Arnold Schwarzenegger

“Penampilanku membuatku sulit menemukan pasangan laki-laki.”

Rene Campbell, binaragawati asal Brighton, Inggris.

Arnold pulalah orang yang ‘menemukan’ Lisa Lyon, salah satu pelopor perempuan di panggung binaraga. “Dia luar biasa. Kamu harus bertemu dengannya,” Arnold mendesak penulis buku Douglas Kent-Hall dikutip dalam buku It’s not Over till the Fat Lady Sings. Orang yang dimaksud Arnold ini adalah Lisa Lyon. Pada akhir 1970-an, binaragawati masih merupakan ‘barang’ langka, di Amerika Serikat sekalipun. Pada 1979, atas dorongan Arnold, Lisa menjadi juara Women’s World Pro Bodybuilding Championship pertama di Los Angeles.

Kala itu, perempuan-perempuan bertubuh kekar yang memamerkan otot-ototnya di atas panggung dengan mengenakan pakaian ‘irit’ dan mini masih dianggap bukan pemandangan biasa. Setelah kontes binaraga pertama pada 1979 itu, makin banyak perempuan yang tak enggan lagi membesarkan otot-ototnya dan memamerkannya di muka umum.

Yang beranggapan negatif terhadap binaragawati memang makin sedikit, tapi mulut-mulut nyinyir selalu saja ada. Saat Liz Lester, 25 tahun, berniat berlatih untuk persiapan menghadapi kontes New South Wales Championship beberapa waktu lalu, pelatihnya meminta dia tak bercerita kepada siapa pun. Sehari-hari Liz bekerja sebagai pelayan di satu restoran di New South Wales, Australia.

Sang pelatih meminta Liz tutup mulut lantaran masih ada orang yang tak suka pada perempuan berotot. “Terutama laki-laki. Mereka sering ngomong betapa anehnya perempuan yang berotot besar,” kata Liz kepada Guardian. Bahkan ada orang yang berkomentar ‘sadis’ kepada binaragawati lain, Jade Crawford, 33 tahun. “Aku ikut sedih suamimu sampai tidur dengan laki-laki…. Sudah jelas, suamimu tak suka perempuan dengan penampilan seperti itu.”

Persiapan babak final kontes NABBA-WFF Asia pada 2 September 2017 di Seoul, Korea Selatan
Foto: dok. Getty Images

Anna Christianne Ho perlu waktu menjelaskan kepada suaminya saat dia mulai berlatih untuk membesarkan otot-ototnya. Pada 2013, Anna menyabet juara kedua International Federation of Bodybuilding and Fitness. Dia memang tak lagi muda. Perempuan asal Hong Kong ini sudah bertahun-tahun berkeluarga dan punya dua anak saat memutuskan menekuni olahraga membesarkan otot. Kini dua anaknya sudah remaja, Christina, 18 tahun, dan Joaquin, 13 tahun.

Anna mulai melatih ototnya saat umurnya sudah pertengahan 30-an. “Suamiku memang sempat melihat dengan aneh…. Bahkan dia sempat beranggapan apa yang aku kerjakan ini agak konyol,” kata Anna kepada South China Morning Post beberapa bulan lalu. “Dia bertanya, apa lagi yang kamu kejar? Aku bilang, aku ingin jadi perempuan yang kuat. Sekarang dia sudah bisa menerima. Toh, aku juga tak ingin jadi seorang monster.”

Orang boleh bilang apa saja, tapi Anna dan para binaragawati itu berpendapat tubuh mereka adalah milik mereka dan urusan mereka. “Aku tak ambil pusing terhadap penilaian orang,” kata Anna. Di Jepang, dari tahun ke tahun, jumlah perempuan yang terdaftar sebagai atlet binaraga makin banyak. Pada 2012, baru ada 183 binaragawati yang terdaftar di Japan Bodybuilding and Fitness Federation. Tahun lalu jumlah binaragawati di Jepang sudah melewati 300 orang.

“Sekarang anak-anak muda melihat punya badan yang tegap dan berotot sebagai sesuatu yang keren. Para perempuan juga tak lagi menyembunyikan ketertarikan kepada laki-laki yang punya tubuh ala model pakaian dalam,” kata Ayako Kuno, 50 tahun, binaragawati senior, kepada Japan Times.

Babak final kontes NABBA-WFF Asia pada 2 September 2017 di Seoul, Korea Selatan
Foto: dok. Getty Images

Bukan hal murah hingga punya tubuh liat-berotot, apalagi jika mengincar gelar juara binaraga. Tak cuma ongkos untuk latihan dan segala macam makanan tambahan serta suplemen, tapi kadang ada ‘ongkos’ lain yang mesti perempuan-perempuan ini bayar gara-gara tubuh mereka berubah drastis.

“Penampilanku membuatku sulit menemukan pasangan laki-laki,” Rene Campbell, binaragawati asal Brighton, Inggris, menuturkan. Rene pernah menikah dan punya anak. Tapi dia sudah memutuskan bahwa tubuh seperti itulah yang membuat dia merasa nyaman, meski harus mengorbankan kehidupan pribadi. Namun tentu saja tak semua binaragawati memiliki pengalaman seperti Rene.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE