INTERMESO

Berotot Boleh,
Seksi Kenapa Tidak

“Di luar sana, banyak laki-laki hormat sekali. Karena, berkat kerja keras, seorang wanita bisa sampai di titik ini.”

Melly Sevoy Stevenson saat beraksi dalam sebuah perlombaan.

Foto: dok. pribadi via Instagram

Sabtu, 23 September 2017

Siapa bilang tubuh berotot hanya milik laki-laki? Bagi sebagian perempuan, tubuh seperti Melly Sevoy Stevenson, 40 tahun, barangkali bukan bentuk tubuh yang mereka idamkan. Di balik paduan baju singlet dan celana legging kesukaan Melly, tampak menyembul otot-otot kencang dan besar.

Tapi yang mungkin perempuan lain tak habis pikir, Melly merasa begitu nyaman dengan kondisi tubuh besar dan sangat berotot, bahkan melampaui rata-rata laki-laki sekalipun. Padahal tak sedikit wanita rela merasakan dinginnya meja operasi demi mendapatkan tubuh ramping hampir mendekati kurus kerempeng bak fotomodel di majalah-majalah kecantikan.

“Sekarang saya nggak sedang dalam persiapan ikut kompetisi. Padahal biasanya badan saya bisa lebih besar lagi dari ini,” ujar Melly saat ditemui di Apartemen Rasuna Kuningan, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Melly memang seorang atlet binaraga yang telah menorehkan prestasi, baik dalam skala nasional maupun internasional. Dengan tinggi badan 165 cm, Melly punya berat badan 56 kilogram.

Otot besar dan proporsional tidak bisa dimiliki dalam waktu semalam, apalagi bagi perempuan. Dibanding laki-laki, Melly dan wanita lain yang menekuni aktivitas body building butuh kerja ekstrakeras. Salah satu faktor penghambatnya, secara alamiah, wanita tidak memiliki banyak hormon testosteron seperti laki-laki. Hormon inilah yang berperan besar dalam pembentukan otot.

Hingga bisa punya tubuh berotot seperti sekarang, Melly konsisten melatih ototnya selama lebih dari 10 tahun. Beruntung, sejak kecil, Melly ditempa kondisi keluarganya sehingga menjadi pribadi yang tahan banting. Sang ibu merupakan sosok paling berpengaruh dalam hidup wanita asal Lampung ini.

“Ibu saya bangga banget. Karena dia tahu, menjadi atlet binaraga nggak mudah.”

Melly Sevoy, 40 tahun

Melly Sevoy di tempat gym.
Foto: dok. pribadi via Instagram

Lahir sebagai anak keenam dari tujuh bersaudara, Melly tak pernah membayangkan akan hidup bak putri di negeri dongeng, bisa hidup lumayan berkecukupan seperti sekarang. Saat usianya baru menginjak 5 tahun, Melly ditinggal sang ayah untuk selamanya. Dalam kondisi berbadan dua, sang ibu yang telah jadi janda harus mengambil alih tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga.

Hidup pas-pasan sejak kecil membuat Melly menjadi seorang perempuan yang berani dan serbamandiri. Ketika masih di bangku SMP, Melly rela tak melanjutkan pendidikan agar adiknya bisa bersekolah. “Dalam hati saya tidak jadi masalah. Toh, Kakak-kakak juga nggak sekolah demi saya. Kalaupun tidak melalui jalur sekolah, saya yakin suatu saat akan bisa membuat bangga Ibu dengan cara lain,” kata Melly.

Suatu hari, Melly menyaksikan tayangan perlombaan Pesta Raga yang diselenggarakan oleh Ade Rai di televisi. Melly terpana menyaksikan para binaragawan mempertontonkan ototnya menggelembung besar. Kala itu belum ada peserta binaragawan perempuan. Melly bertekad meniru para binaragawan itu memiliki tubuh liat dan berotot. Apalagi setelah ia membaca di majalah bahwa banyak pula wanita di luar negeri yang memiliki postur tubuh berotot. 

Di sela aktivitasnya membantu sang ibu berjualan di toko kelontong, Melly mulai rutin melatih ototnya di pusat kebugaran dua kali dalam sehari. Setiap kali hendak berlatih, dia naik angkutan kota ke satu-satunya pusat kebugaran di Lampung kala itu.

“Saya mulai ikut fitness pada awal tahun 2000-an. Ternyata dari bulan ke bulan saya enjoy,” Melly menuturkan pengalamannya. Dia bertekad akan terus melatih otot-ototnya hingga bisa ikut naik panggung lomba binaraga. “Satu pertanyaan saya, kenapa cuma cowok? Makanya saya tertantang harus jadi binaragawati.”

Demi mengejar impiannya, Melly memutuskan hijrah ke Jakarta. Bekal uang Rp 1,5 juta yang ia bawa langsung hampir tandas terpakai hanya untuk menyewa  kamar kos di dekat Universitas Trisakti, Jakarta Barat. Meski berat hidup seorang diri tanpa sanak keluarga di Jakarta, dengan segala cara Melly tetap bertahan. Salah satunya dengan berjualan makanan sehat kepada teman-teman kosnya. Keuntungan dari hasil berjualan ia pakai untuk bayar ongkos nge-gym.

Foto: dok. pribadi via Instagram

Kerja keras Melly mulai terbayar. Tubuhnya makin keras, liat, dan berotot. Dengan postur tubuh seperti itu, Melly ditawari pekerjaan sebagai instruktur fitness. Tak ada yang tanya ijazah sekolah apa yang dia punya. Di sela-sela kesibukannya di pusat kebugaran, Melly tetap fokus pada tujuan utamanya, yakni menjadi atlet binaraga.

“Saya suka mampir ke Mal Taman Anggrek atau Gajah Mada Mall untuk beli buku khusus body builder. Saya memang belajar otodidak. Karena, kalau tanya senior, pasti nggak diajarin. Setiap ditanya, mereka bilang, 'Oh, main aja.’ Pola makannya bagaimana? 'Oh, tinggal makan aja.' Jadi nggak ada jawaban yang jelas,” kata Melly. 

Mimpinya menjadi atlet binaraga mulai terwujud saat diadakan perlombaan perdana ISS Open untuk kategori Woman Fitness pada 2008. Melly tak menyangka jika saat itu banyak peserta wanita yang juga ikut dalam kontes binaraga. Pada perlombaan ini, Melly berhasil menyabet juara kedua. Bak gayung bersambut, setiap perlombaan skala nasional yang diadakan, Melly selalu berhasil merebut juara. Merasa tertantang, Melly menjadi semakin percaya diri untuk mengikuti perlombaan binaraga di luar negeri. Hasilnya pun tak mengecewakan.

Ketika pertama kali mengikuti perlombaan skala internasional, dia berhasil menduduki peringkat kelima di ajang World Bodybuilding & Physique Federation (WBPF) 2012 di Bangkok, Thailand, dalam kategori Woman’s Physique. Melly mengungkapkan, salah satu kunci kesuksesannya adalah berlatih keras dan menjaga pola makan yang tepat selama enam bulan sebelum pertandingan.

“Karena memang susah…. Jujur saja, latihannya memang berat. Saya hampir setiap hari olahraga selama 1,5 jam. Setiap hari bergantian. Misal hari ini melatih otot kaki, besok otot lengan, dan sebagainya,” kata Melly. Pada 2014, dia mendapat juara ketiga South East Asia WBPF di Singapura. “Apalagi buat perempuan, godaannya banyak, terutama soal makanan. Saya pergi ke restoran, tapi saya pesan jus selalu nggak pakai gula. Kalau mau pesan menu restoran, saya ke dapur dulu, ngomong dengan kokinya. Jangan pakai minyak dan micin. Saya juga selalu bawa ayam rebus.”  

Meski memiliki tubuh berotot, Melly tak terlampau pusing dianggap kurang feminin. Di dunianya, kata Melly, dia banyak bertemu dengan laki-laki yang memiliki paradigma berbeda dalam memandang feminitas dan keseksian pada tubuh wanita. Semakin banyak pria yang menghargai otot-otot wanita sebagai sebuah simbol dari kerja keras. Berkat kegiatan body building ini, Melly bertemu dengan pria yang kini menjadi suaminya. Melly begitu yakin kegiatan body building tidak akan bisa mengubah wanita menjadi kelaki-lakian. Kecuali jika wanita membesarkan otot menggunakan obat semacam steroid.

Mentarina Sembiring saat berlatih di tempat gym.
Foto: dok. pribadi via Instagram

“Di luar sana banyak laki-laki hormat sekali. Karena, berkat kerja keras, seorang wanita bisa sampai di titik ini. Mereka tahu kerja kerasnya luar biasa,” kata Melly. “Saya mau jadi satu contoh wanita bisa punya otot tapi sisi femininnya nggak hilang. Kalau pakai cara tidak natural, malah sisi kewanitaannya bisa hilang. Kalau kami jadi kelihatan kayak laki-laki, wanita lain juga jadi enggan mengikuti. Padahal kami juga mau mendorong para perempuan bahwa latihan beban dan olah kebugaran nggak langsung membuat tubuh jadi berotot. Malah bikin tubuh jadi sehat.”

Bukan cuma melawan stigma tubuh perempuan berotot, sebagai atlet binaraga, Melly dan teman-temannya memang harus mengenakan pakaian “pas-pasan” sambil berpose di hadapan banyak orang saat ikut kontes binaraga. Melly pun sudah hafal dengan gelagat pria iseng yang ingin menggodanya. Beruntung, sang suami, yang berkebangsaan Inggris, dapat mengerti dan sangat mendukung kegiatan Melly. Ibunya di Lampung pun menyokong dan bangga dengan prestasi putrinya di bidang binaraga.

“Ibu saya bangga banget. Karena dia tahu, menjadi atlet binaraga nggak mudah. Kalau sedang tanding kan saya nggak jual diri. Karena memang kostumnya two pieces semua. Malah dia pajang foto saya pakai bikini di rumah. Setiap ada orang datang, dengan bangganya dia selalu bilang, 'Itu anak saya, tuh.’ Dia malah senang badan saya besar,” kata Melly.

Sebagai seorang yang berprofesi sebagai tenaga marketing properti real estate, Mentarina Sembiring dituntut terlihat bugar dan aktif, terutama di hadapan para kliennya. Namun, sejak berkeluarga, bentuk tubuh wanita yang akrab disapa Rina ini mulai tak keruan. Rina menjadi kurang percaya diri karena kelebihan berat badan. Berbagai macam cara diet sudah pernah ia coba. Berbagai macam suplemen herbal dia telan untuk meluruhkan lemak-lemak berlebih di tubuhnya.

Jika melihat kondisi tubuh Rina saat ini, mungkin tak akan ada yang percaya jika ia dulu pernah kelebihan berat badan hingga 20 kg. Bahkan kliennya yang sudah lama tidak berjumpa kerap bertanya-tanya perihal perubahan drastis tubuh Rina. Kini wanita berusia 38 tahun ini memang terlihat lebih sehat serta awet muda. Perut buncitnya pun telah bertransformasi menjadi lekukan six pack.

“Tahun 2014, saat sudah merasa sangat tidak nyaman dengan kondisi tubuh, saya diajak teman gym. Baru satu kali latihan, saya langsung merasa nyaman dan jadi kebiasaan rutin,” kata Rina. “Sejak saat itu, saya dengan gym itu ibarat orang pakai narkoba. Saya kayak orang sakau olahraga. Kalau satu hari saja nggak olahraga,  badan saya bisa sakit dan nggak enak.”

Melly Sevoy saat berlatih di tempat gym.
Foto: dok. pribadi via Instagram

Rina sebetulnya bukan baru kemarin sore kenal olahraga. Semasa kuliah, Rina adalah atlet karate. Prestasinya lumayan juga. Pemegang dan 1 ini pernah menduduki peringkat ketiga kelas kumite 60+ dalam kejuaraan karate Piala Wali Kota Bandung pada 2002. Lama tak berkeringat dari olahraga, semangat Rina kembali terbangkitkan sejak aktif di pusat kebugaran. Setelah berat badan idealnya tercapai, Rina termotivasi untuk menekuni kegiatan binaraga.

“Saya lihat di majalah olahraga banyak binaragawati kok kebanyakan ibu rumah tangga. Saya heran, karena di luar negeri yang ikut kegiatan ini kebanyakan wanita muda. Mungkin stigmanya di sini kalau fitness badan akan jadi seperti laki-laki. Tapi saya jadi terinspirasi, mereka bisa, kenapa saya nggak bisa,” kata Rina.

Selama empat tahun, Rina rutin berolahraga dua kali dalam sehari. Dalam satu kali latihan, Rina melakukan aktivitas angkat beban selama 1 jam dan 30 menit untuk olahraga kardio. Sedangkan pada hari minggu, Rina memberikan waktu bagi otot-ototnya beristirahat. Usaha Rina tak sia-sia. Meski tergolong baru di pentas binaraga nasional, belum lama ini ia berhasil meraih peringkat kedua di nomor Kat Women Model Physique dalam ajang Mr Indonesia Semarang.

Kalah atau menang bagi Rina bukan masalah. Sebab, ia ingin menjadikan perlombaan sebagai ajang memotivasi diri. Kesalahan terbesar seorang atlet binaraga, kata Rina, adalah bila mereka menjadikan hadiah perlombaan sebagai sumber motivasi. Sebab, materi yang didapatkan tak sebanding dengan modal untuk persiapan lomba.

Tiga bulan sebelum lomba, Rina biasanya harus diet ketat. Ia biasa mengkonsumsi dada ayam rebus sebanyak 300-400 gram sehari beserta suplemen. Jika dihitung untuk memenuhi asupan nutrisi menjelang perlombaan, ia bisa mengeluarkan biaya Rp 200 ribu per hari. “Makannya nggak murah dan nggak gampang. Sedangkan nilai hadiah mah bisa dibilang hanya setengah dari modal. Yang penting kita happy saja bisa menunjukkan hasil perjuangan membentuk tubuh,” kata Rina.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

[Widget:Baca Juga]
SHARE