Foto: dok. pribadi via Instagram
Sabtu, 23 September 2017Sebagai orang yang doyan makan, Faldy Efadua tak bisa menolak apabila ada kawan yang menyodorkan satu piring penuh gorengan. Renyahnya tepung dan gurih gorengan membuat Faldy ketagihan. Tak terasa, sepiring bakwan, tahu, dan tempe goreng dia tandaskan hanya dalam hitungan menit.
Namun, begitu teringat jumlah kalori dan lemak yang sudah masuk dalam perutnya, Faldy jadi galau. Padahal, demi memiliki badan six pack, tegap, kencang, dan berotot, saban hari ia berjanji dalam hati tidak lagi mengkonsumsi makanan berlemak, seperti gorengan.
Badan Faldy sebetulnya tidak gemuk-gemuk amat. Hanya, perutnya sedikit buncit. Banyak cara sudah dia tempuh supaya perutnya bisa kotak-kotak seperti perut Dwayne “The Rock” Johnson. Di sela-sela latihan di pusat kebugaran, Faldy juga sempat mencoba berbagai macam jenis diet. Namun olahraga yang tidak diimbangi dengan konsumsi nutrisi justru membuat Faldy merasa pusing.
Belum lagi ia merasa amat tersiksa karena tidak bisa menikmati makanan favoritnya. Suatu kali, Faldy bertemu dengan Michael Mulyanto. Pria yang akrab disapa Mike ini juga ingin memiliki tubuh langsing dan berotot, tapi pada saat yang sama masih bisa melahap donat tanpa merasa bersalah.

Faldy Efadua
Foto: dok. pribadi via Instagram
“Karena kesamaan itu, akhirnya kami bareng-bareng membentuk komunitas Will Squat for Carbs. Intinya, lu nggak usah takut makan carbs. Makan carbs alias karbohidrat nggak masalah selama lu bisa mengukur konsumsinya. Kita nggak diet macam-macam. Bahkan kita makan gorengan, tapi badan bagus. Kita bisa latihan, makan, tanpa menyiksa diri,” Faldy, 29 tahun, menjelaskan komunitasnya. Sehari-hari dia berprofesi sebagai seorang marketer.
Meski komunitas Will Squat for Carbs tidak membatasi jenis masakan yang diasup, bukan berarti tubuh ideal bisa didapatkan tanpa olahraga. Komunitas ini justru mempopulerkan jenis olahraga powerlifting. Jenis latihan ini memiliki konsep yang sama dengan olahraga angkat besi, yaitu mengangkat beban berat dan berfokus pada tiga jenis gerakan utama, seperti squat, bench, dan deadlift. Namun pada dasarnya tujuan gerakan ini dimaksudkan untuk membentuk badan ideal. Bagi pria yang memiliki tujuan membentuk tubuh berotot dan kencang, aktivitas semacam ini akan lebih nyaman dilakukan karena tidak menerapkan pola makan seketat body building atau binaraga.
“Kami melatih kekuatan bukan untuk menjadi atlet angkat besi. Jadi mau dia itu bodybuilder, powerlifter, atau crossfitter, semua bisa mempraktikkan olahraga ini. Apalagi buat yang ingin membentuk badan berotot. Dengan gym dan menggunakan alat-alat, itu bisa, tapi it takes forever. Kalau latihan angkat beban, satu-dua kali saja kamu sudah akan bisa merasakan perbedaannya,” kata Mike. Komunitas Will Squat for Carbs ini menjadikan Strongholdz Gym, yang terletak di Kuningan, Jakarta Selatan, sebagai wadah tempat mereka berlatih dan berbagi ilmu seputar olahraga.
Dulu Mike punya masalah dengan berat badannya. Ketika sedang menempuh pendidikan SMA di Milton Academy, Amerika Serikat, angka timbangan pria dengan tinggi 175 sentimeter ini pernah mencapai angka 100 kilogram. Sejak saat itu ia mulai menerapkan pola hidup sehat dan rutin latihan di gym. Namun, sejak menikah dan dikaruniai tiga orang anak, program latihannya kacau.

Metamorphosa Kafka
Foto : dok. pribadi via Instagram
Berat badan berlebih membuat ruang geraknya menjadi terbatas dan gampang lelah. Direktur Topas TV ini pun sangat sering terkena flu. Mike bertekad kembali menjalankan aktivitas olahraganya. Awalnya ia memang hanya ingin menurunkan berat badan. Hingga akhirnya pria berusia 36 tahun ini memutuskan menjalankan program powerlifting untuk membentuk otot tubuh.
“Kalau sudah punya keluarga dan anak, pasti prioritasnya beda. Banyak yang bilang, ‘Ngapain sih punya badan bagus. You are already married.’ Tapi, setelah saya cek, baru umur 30-an kok usia metabolismenya sudah kayak orang 50 tahun,” kata Mike. “Sejak rutin olahraga, usia metabolisme saya malah jadi 18 tahun. Ditambah dapat bonus badan berotot seperti ini, bikin saya lebih percaya diri.” Mike berhasil menempa otot tubuhnya dalam kurun waktu empat tahun. Saat ini lingkar lengan Mike mencapai 41 cm.
Bagi Mahendra Arditirta, salah satu anggota Will Squat for Carbs, pria dengan tubuh ideal dan berotot memiliki kebanggaan sendiri. Otot trisep dan bisepnya membuat ia tampak lebih maskulin dan macho. Makin banyak perempuan yang melirik posturnya. Namun Mahe, panggilan akrab Mahendra, tidak ingin memiliki massa otot yang sama besarnya dengan binaraga. Sebab, selain terlihat menyeramkan, ia tak ingin otot tubuh yang besar membatasi ruang geraknya.
Setiap hari Mahe menyempatkan waktu selama satu hingga satu setengah jam membakar keringat dan lemak-lemak berlebih di tubuhnya. Rutinitas olahraga yang ia terapkan adalah gabungan antara olahraga crossfit dan powerlifting.

Foto : Rengga Sancaya/detikcom
“Mesin kita butuh bahan bakar banyak karena olahraga kita berat. Dengan kombinasi olahraga ini, dalam sehari saja saya bisa bakar 1.000 kalori. Makanya dalam seminggu saya bisa makan pizza dua kali. Rekor saya, tiga loyang pizza ukuran large dalam sekali santap tapi nggak bikin gendut. Malah ototnya makin berisi,” kata pria berusia 28 tahun ini.
Selain pencinta olahraga, ada anggota Will Squat For Carbs yang kerap mengikuti ajang body contest. Salah satunya Metamorphosa Kafka atau yang biasa disapa Kafka. Ia merupakan seorang personal trainer dengan sertifikasi dari Asosiasi Pelatih Kebugaran Indonesia yang menggeluti dunia fitness sejak 2013. Meski telah menjalankan berbagai macam jenis latihan di tempat fitness, pria berusia 23 tahun ini kerap mengeluhkan bentuk ototnya yang kurang proporsional, terutama otot di bagian kaki.
“Badan atas saya cepat besar, tapi kakinya nggak. Makanya banyak yang ngeledekin saya. Ternyata saya baru sadar kalau cara paling efisien untuk memproporsionalkan otot ya dengan powerlifting. Karena ini lebih melibatkan banyak otot. Waktu kita berlatih jadi lebih singkat. Kalau pakai mesin, untuk satu kaki saja, ada tiga bagian yang harus dilatih,” ujar Kafka.
Sebagai pria dengan otot besar, tak jarang Kafka memamerkan hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun di jejaring media sosial. Foto selfie sambil menunjukkan otot six pack-nya di depan kamera. Selain mengundang decak kagum, tak jarang Kafka dikira sebagai penyuka sesama jenis. “Konsekuensi punya tubuh berotot itu, pernah ada cowok yang kirim pesan, ’Mas, tarifnya berapa per hari?’” Kafka menuturkan dengan geli.

Mahendra Arditirta
Foto: dok. pribadi via Instagram
Sejak didirikan tahun lalu, Komunitas Will Squat for Carbs telah menyatukan berbagai macam orang dari latar belakang dan profesi yang berbeda. Bukan hanya pria, rupanya kegiatan powerlifting ini juga disukai oleh kaum perempuan. Faldy tak memungkiri bila pada awalnya banyak perempuan yang khawatir, seusai latihan, badannya akan besar dan berotot.
“Kami dikira komunitas untuk binaragawan yang ototnya kayak Hulk. Makanya kami mau edukasi bahwa dengan olahraga ini mereka bisa mencapai tujuan mereka. Apakah mau menaikkan berat badan, ngurusin badan, atau membentuk otot seperti kami,” kata Faldy.
Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban