Ilustrasi: Fuad Hasim
Sabtu, 2 September 2017“Bagaimana aku bisa berubah dari seorang anak kecil tanpa dosa menjadi seperti ini?” Theodore ‘Ted’ John Kaczynski menulis surat kepada adiknya, David Kaczynski, suatu hari pada akhir 1990-an. Siapa pun sulit memahami perubahan yang terjadi pada Ted Kaczynski, kini 75 tahun. Sekarang sudah lebih dari 20 tahun Ted mendekam di balik jeruji penjara dengan penjagaan superketat di Colorado, Amerika Serikat.
Keluarga memanggilnya Teddy John, tapi orang-orang memanggilnya Ted Kaczynski. Ayahnya, Theodore R. Kaczynski, bekerja di pabrik sosis milik keluarga. Sejak dia masih kecil, semua orang di sekelilingnya tahu, Ted bukan anak yang biasa. Saat Ted berumur 6 tahun, Ralph Meister, seorang psikolog teman baik ayahnya, mengukur tingkat kecerdasan atau IQ bocah itu mencapai 160-170. Belakangan, uji intelijensi di sekolah mendapatkan angka 167.
Saking cerdasnya anak itu, dua kali dia diperkenankan lompat kelas dan lulus SMA Evergreen Park Community saat umurnya baru 15 tahun. Saat teman-temannya masih berkutat dengan soal-soal matematika dasar, Ted sudah menuntaskan Transformasi Laplace dan soal-soal lain yang lebih kompleks. “Dia melewati masa SMA bak tembakan peluru,” Donald Sobbe, teman SMA-nya, menuturkan kepada Washington Post.
Semua soal sains dan matematika terasa gampang bagi bocah itu, tapi Ted juga punya masalah serius. Meski lahir dari rahim dan ayah yang sama, Ted hampir tak ada miripnya dengan adiknya yang lebih muda tiga tahun, David Kaczynski. David bukan anak yang bodoh, bahkan tergolong anak yang pintar. Namun dalam mengerjakan soal-soal matematika, David sama sekali bukan tandingan kakaknya. Ted sepertinya memang lebih gampang ‘berteman’ dengan angka ketimbang manusia.
Di depan orang lain, kerabat sekalipun, Ted adalah anak yang pemalu, canggung, dan sangat tertutup. “Saat kami masih kecil, banyak saudara sering datang ke rumah tanpa pemberitahuan lebih dulu…. Aku merasa, 'Oh senangnya… Paman Stanley dan teman kami, Ralph, datang'. Tapi yang dirasakan Ted berlawanan. Dia selalu melihat kedatangan orang-orang itu sebagai gangguan terhadap dunianya. Dia akan lari ke kamarnya dan menutup diri,” David mengenang tingkah kakaknya, dikutip Guardian.

Keluarga Kaczynsky pada 1952
Foto: dok. David Kaczynsky
Padahal, meski sangat suka membaca buku, kedua orang tuanya bukanlah orang-orang yang asosial. Ayahnya suka mengajak Ted dan David bertualang di alam bebas. Sedangkan ibunya, Wanda, lumayan aktif di gereja. Entah bagaimana mulanya, Ted tumbuh menjadi anak yang tertutup dan canggung.
Teddy seperti hidup di dunianya sendiri. “Dia anak yang suka menyendiri. Dia sama sekali tidak pernah bermain. Dia menjadi orang tua sebelum umurnya,” kata Roy Weinberg, seorang tetangga keluarga Kaczynski di Evergreen Park, Illinois, dikutip New York Times. Menurut Bill Phelan, teman SMA-nya, Ted seperti orang asing di sekolah. “Dia selalu baca buku, sementara kami berolahraga dan minum bir.”
David dan ibunya menduga, pengalaman dirawat di rumah sakit berhari-hari tanpa didampingi orang tua saat masih kecil-lah yang mengubah Ted. Tapi seorang kerabat melihat kelahiran David-lah yang mengubah Ted menjadi anak yang pendiam dan penyendiri.
Anak yang canggung dan penyendiri itu menjadi mahasiswa di kampus Universitas Harvard saat umurnya baru 16 tahun, paling muda di antara semua teman kuliahnya. Kecerdasan Ted lebih dari cukup untuk kuliah di kampus kondang Harvard. Tapi, menurut teman-temannya, dia belum cukup matang dan dewasa. Pikirannya masih kekanak-kanakan. “Saat kami serius berdiskusi soal isu-isu panas, dia lebih suka menunggu salah satu dari kami kentut,” kata Patrick Morris, teman SMA-nya.
Anak jenius yang pemalu itulah yang bertahun-tahun kemudian menebar teror dan bom. Biro Investigasi Federal (FBI) mengerahkan puluhan agen untuk melacak jejak Unabomber, University and Airline Bomber, julukan mereka bagi Ted Kaczynski, selama bertahun-tahun. FBI baru berhasil mengungkap siapa Unabomber dan menangkap Ted pada 3 April 1996. Majelis hakim di Helena, Negara Bagian Montana, menjatuhkan hukuman empat kali penjara seumur hidup kepada Ted, tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.
* * *

Barang-barang milik Ted Kaczynsky
Foto: SFGate
“Revolusi industri dan konsekuensinya telah menjadi bencana bagi umat manusia.”
manifesto Theodore John KaczynskiPada awal Agustus 2017, kanal televisi Discovery mulai menayangkan miniseri Manhunt: Unabomber. Enam episode film ini diangkat dari kisah agen-agen FBI menelusuri jejak Unabomber alias Ted Kaczynski dari 1978 hingga tertangkap pada April 1996.
“Kami tak memberi pembenaran atau alasan atas tindakan Ted Kaczynski. Kami tak melihat dia semata sebagai seorang monster, tapi juga seorang korban, walaupun dia juga mengorbankan orang lain,” kata Andrew Sodroski, produser Manhunt.
Selama hampir 20 tahun, Unabomber meneror Amerika Serikat, membunuh tiga orang dan melukai 23 orang lainnya, dengan bom-bom yang dia rakit. “Unabomber ini orang yang sangat berbahaya karena tak ada orang yang tahu siapa target dia berikutnya. Target-targetnya sangat acak,” kata James Fitzgerald, mantan agen FBI yang terlibat pengejaran Ted Kaczynski, dikutip FoxNews, beberapa pekan lalu. “Dia orang yang tumbuh tanpa arah, kebingungan secara mental, seksual, maupun secara filosofis. Dan dia tak menyukai orang lain. Bahkan tak menyukai dirinya sendiri.”
Sulit untuk paham bagaimana Ted Kaczynski, yang jenius dan tampak tak berbahaya, bisa menjadi seorang teroris, penebar teror berjulukan Unabomber. Ted lulus dari Universitas Harvard dan mendapatkan tawaran kuliah dari sejumlah kampus top Amerika. Tapi dia memilih mengejar gelar doktor matematika dari Universitas Michigan. Umur Ted baru 25 tahun saat dia lulus program doktoral. Selama dua tahun, dia sempat menjadi profesor di Universitas California, Berkeley, sebelum mengundurkan diri dan menjauh dari kehidupan ramai. Dia hidup menyendiri di Lincoln, Montana.
Teror bom itu bermula pada 25 Mei 1978, hampir sepuluh tahun setelah Ted meninggalkan jabatannya sebagai profesor di Berkeley. Hari itu ada satu kotak paket ditemukan di halaman parkir Universitas Illinois, Chicago. Lantaran tak jelas untuk siapa, paket itu dikembalikan ke alamat pengirim: Buckley Crist, profesor rekayasa material di Universitas Northwestern. Lantaran tak merasa jadi pengirim, Crist menyerahkan paket itu kepada petugas keamanan kampus. Sial bagi petugas keamanan Terry Marker. Paket itu meledak saat dia mencoba membukanya. Terry terluka parah, tapi masih terselamatkan.

Unabomber
Foto: dok. Washington Post
Tak ada yang tahu, kecuali Ted sendiri, mengapa dia mengincar Buckley Crist dan semua korbannya kemudian. Buckley sama sekali tak mengenal Ted dan seorang dosen. Demikian pula Patrick Fischer, profesor ilmu komputer di Universitas Vanderbilt, salah satu korbannya yang lain. “Mengapa aku? Mengapa dia memilih aku?” kata Patrick, kepada Washington Post. Dia benar-benar tak habis pikir. Patrick hanya bisa menduga, dia hanyalah simbol dari ‘musuh’ seperti yang tertulis dalam manifestonya.
“Revolusi industri dan konsekuensinya telah menjadi bencana bagi umat manusia,” Ted menulis dalam pembukaan manifestonya. Manifesto bertajuk 'Industrial Society and Its Future' sepanjang 35.000 kata atau kurang-lebih 100 halaman itu dia kirim ke Washington Post dan New York Times pada Juni 1995. Revolusi industri, menurut Ted, memang telah berhasil menambah panjang usia manusia, tapi juga menimbulkan efek buruk tak terperikan bagi manusia dan alam sekitar. “Karena itu, kami menyarankan perlunya revolusi melawan sistem industrial.”
Manifesto itu, menurut analisis James dan teman-temannya di FBI, pasti ditulis oleh orang yang sangat cerdas. Tulisan sangat panjang itu bersih dari kesalahan pemilihan kata dan tata bahasa, suatu kemampuan yang tak biasa tanpa bantuan redaktur bahasa. Isi manifesto Ted Kaczynski juga bukan melulu omong kosong tanpa dasar. Banyak ramalannya yang hari ini benar-benar terjadi.
Ray Kurzweil, salah satu jenius di industri teknologi, menyitir sebagian isi manifesto Ted Kaczynski dalam bukunya, The Age of Spiritual Machine, pada 1999. “Manifesto itu, terlepas dari semua perbuatannya, layak mendapatkan tempat setara dengan Brave New World-nya Aldous Huxley dan 1984 karya George Orwell,” kata Keith Ablow, mantan profesor di Universitas Tuft.
Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.