INTERMESO

Digeprek Ayam Ruben

Belum lama dibuka, restoran ayam geprek Ruben Onsu sudah punya 15 cabang. Kini Ruben berencana melebarkan sayap bisnisnya hingga ke Negeri Kincir Angin.

Foto: dok. pribadi via Instagram

Sabtu, 29 Juli 2017

Tak ada papan yang menunjukkan ada di mana I Am Geprek Bensu di antara restoran dan gerai makan di lantai paling atas AEON Mall, Serpong. Sumardi pun sempat bingung mencari ada di mana I Am Geprek Bensu saat pertama menerima titipan untuk membeli makanan di restoran itu.

“Pertama kali saya cari susah karena ternyata mereka nggak pasang papan nama kayak restoran lain,” kata Sumardi, pengemudi Go-Jek, beberapa hari lalu. Sudah lebih dari sepuluh kali dia menerima titipan untuk membelikan masakan I Am Geprek Bensu. Hanya antrean lumayan panjang di depan kasir yang menunjukkan di situlah I Am Geprek Bensu, jaringan restoran milik artis Ruben Onsu.

Baru April lalu Ruben mendirikan restoran ayam itu, tapi kini sudah memiliki 15 cabang, yang tersebar di beberapa daerah, seperti Jakarta, Bogor, Bekasi, Depok, dan Semarang. Pekan lalu, detikX mencoba makan di salah satu cabang I Am Geprek Bensu yang terletak di lantai 3, AEON Mall, Serpong, Tangerang. Satu-satunya cabang I Am Geprek Bensu yang berada di dalam mal.

Selain pengunjung yang ingin makan di tempat, antrean I Am Geprek Bensu banyak didominasi pengemudi ojek online. Di depan kasir disediakan bangku dan meja untuk menunggu. Sedangkan di bagian dalam area makan berukuran 4 x 8 meter ditata sekitar 40 meja dan kursi. Meski agak sempit, rata-rata pengunjung tak perlu menghabiskan waktu lama untuk bersantap.

Saat itu sudah tiba jam makan siang. Benar saja, sudah lumayan banyak orang antre di depan kasir. Namun antrean ini tak seheboh seperti yang dikeluhkan netizen di media sosial. Tak perlu menunggu hingga berjam-jam hingga makanan tersaji di meja. Pada siang itu, 15 orang antre di depan kasir. Tapi pembeli masih terus berdatangan.

Foto: dok. pribadi via Instagram

Saya menyadari bintang baru akan terus bermunculan. Saya menerima itu.”

Ruben Onsu, pemilik I Am Geprek Bensu

Setelah antre sekitar 10 menit, detikX memesan Paket Ayam Geprek Leleh dengan tingkat level pedas nomor tiga seharga Rp 25 ribu. Setelah detikX membayar, kasir menyodorkan nomor antrean. Ternyata sudah sampai nomor 337. Rupanya pesanan sudah mencapai nomor 310. Sambil menunggu, tujuh pegawai berbagi tugas. Kebetulan ayam berbalur tepung yang digoreng baru saja diangkat dari penggorengan. Pesanan bisa dibuat lebih cepat. Masing-masing pegawai berbagi tugas, ada yang mengulek cabai dan menggeprek ayam, melelahkan keju, ada juga yang menyiapkan pesanan. Mereka terlihat sigap meski terkadang satu pembeli bisa memborong lebih dari 10 porsi ayam geprek. Hanya butuh menunggu sekitar 20 menit hingga nomor antrean dipanggil.

Menurut Hani, pegawai salah satu toko di AEON Mall, pelayanan dan antrean di I Am Geprek Bensu di sini sudah lebih cepat ketimbang bulan sebelumnya. Ia sempat merasakan antre hingga hampir 1 jam untuk mendapatkan ayam geprek Bensu. Namun, bagi Hani, tak jadi soal mesti antre lumayan lama, karena tak banyak alternatif makanan murah di dalam mal. Apalagi paket ayam geprek ini juga cocok dengan selera pedasnya.

Dibanding menu restoran lain, sebenarnya ayam geprek Bensu tak beda-beda amat. “Ayam geprek saya sederhana saja, nggak ada yang terlalu istimewa. Cuma keistimewaan kami cabai dan bawang putihnya benar-benar pedasnya…. Kalau level 5 ya benar cabainya yang dikasih level 5,” ujar Ruben. Ia pun mendirikan counter pertama di Pademangan karena pada saat itu harga sewanya lebih murah ketimbang daerah lain di Jakarta. “Coba, dulu siapa yang mau melirik daerah Pademangan.”

Ruben begitu senang melihat antusiasme masyarakat yang membeli ayam gepreknya. Sebab, ide awal bisnis ini sungguh di luar dugaan. Sejak empat tahun silam, suami Sarwendah Tan ini menjadi distributor telur. Ruben membeli telur dari peternak di beberapa daerah, seperti Lombok, Bali, dan Yogyakarta. Kemudian telur yang ia beli dalam skala besar itu ia salurkan ke hotel-hotel. Lambat laun para peternak ayam meminta Ruben ikut membeli ayam mereka.

Foto: dok. pribadi via Instagram

Sambil memikirkan tawaran mereka, Ruben kepikiran untuk membuat usaha ayam geprek. Sebab, menurutnya, menu ayam goreng merupakan makanan favorit orang Indonesia. Ruben mengaku tidak suka memasak dan tak jago urusan dapur. “Tapi saya tahu mana makanan yang enak,” kata Ruben. Hobinya mencicipi beraneka ragam masakan ini dijadikan dasar untuk meracik resep ayam geprek miliknya. Mulai pemilihan takaran bumbu dan cabai, semua ia uji coba sendiri.

Ayam memang “makanan segala bangsa”. “Karena memang ayam merupakan bahan pokok yang nomor satu dicari orang Indonesia, baru setelah itu sapi. Misalnya, mi pasti makannya dengan ayam. Jarang makan mi dengan daging sapi…. Saya menangkap peluang itu,” kata Ruben Onsu. Sebagai artis yang sedang laris, dia tak mungkin mengurus usaha ini sendirian. Untuk urusan karyawan, Ruben menyerahkan kepada sang adik, Jordi Onsu. Saat ini, ada 360 karyawan yang bekerja di jaringan I Am Geprek Bensu.

Ruben yakin bukan lantaran namanya yang membuat orang-orang mau makan ayam geprek Bensu. “Nggak mungkin mereka nggak suka terus mau beli,” ujar Ruben. Apalagi harganya memang lumayan ramah bagi dompet. Ruben memang tak mau ambil untung kelewat besar.

Jika tak ada aral melintang, Ruben akan melebarkan sayap I Am Geprek Bensu ke beberapa negara, seperti Belanda, Australia, dan Malaysia. Ruben termasuk artis yang gesit menangkap peluang. Selain usaha ayam geprek, dia punya di antaranya rumah makan Warung Besar, toko kue oleh-oleh Jambi Jemba, dan toko kue Semarang Thal Cake. “Saya menyadari bintang baru akan terus bermunculan. Saya menerima itu,” ujar dia.


Reporter/Redaktur: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE