INTERMESO

Soetidjah Jadi
Artis Hollywood

Presiden Sukarno minta Dewi Dja menanggalkan status kewarganegaraan Amerika Serikat. Sampai akhir hayat, Dja tetap cinta Indonesia.

Presiden Sukarno dan Dewi Dja pada 1959

Foto: dok. biografi Dewi Dja

Jumat,  21 Juli 2017

Suatu hari pada pertengahan 1959, Dewi Dja, yang tengah ada di Surabaya, mendapat telegram penting dari Jakarta. Dia diminta datang ke Istana Merdeka untuk bertemu dengan Presiden Sukarno. Dja segera bergegas membeli tiket kereta ke Jakarta.

Tiba di Stasiun Gambir, Jakarta, pada Senin sore, Dja menginap di rumah seorang teman lama. “Saya dengar di kereta api, orang-orang bicara mengenai kejadian politik penting…. Mereka bicara mengenai kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Tapi saya tidak mengerti,” Dewi Dja menuturkan, seperti dikutip dalam biografinya, Gelombang Hidupku : Dewi Dja dari Dardanella, yang terbit pada 1982.

Suasana di Jakarta pada hari-hari itu memang sedang panas oleh Dekrit Presiden 5 Juli 1959 tentang pembubaran Konstituante dan penggantian undang-undang dasar dari UUD Sementara 1950 ke UUD 1945. Keesokan harinya, Dja datang ke Istana Merdeka bersama beberapa teman lama dan keluarganya. Bung Karno sendiri yang datang menyambut Dja dan rombongan, mengenakan busana “kebesaran” dan peci hitam yang selalu menutup kepalanya.

“Dewi Dja, apa kabar?” Bung Karno menyapa dengan suara lantang dan senyum lebar. Mereka berjabat tangan erat. Itu memang bukan pertama kalinya Bung Karno dan Dja bertemu. Tiga tahun sebelumnya, saat Bung Karno melawat ke Amerika Serikat, dia juga sempat berjumpa dengan Dewi Dja.

“Kubaca di koran, kamu telah menjadi warga negara Amerika. Benar itu?” Bung Karno bertanya kepada Dja. Walaupun Presiden Sukarno bertanya sambil tersenyum, tetap saja pertanyaan itu membuat Dja serbakikuk. Dja mengangguk. Masih sambil tersenyum lebar, Bung Karno berkata, ”Saya tidak mau kamu menjadi warga negara Amerika. Ayo, lepaskan kewarganegaraan Amerika-mu. Urus saja dengan Maladi.” Maladi adalah orang kepercayaan Bung Karno dan menjabat Menteri Penerangan pada 1959-1962.

Saya tidak mau kamu menjadi warga negara Amerika. Ayo, lepaskan kewarganegaraan Amerika-mu.”

Presiden Sukarno kepada Dewi Dja di Istana Merdeka pada 1959

(Dari kiri ke kanan) Fifi Young, Andjar Asmara, Dewi Dja, dan Astaman
Foto: dok. biografi Dewi Dja

Siapa pula Dewi Dja sehingga Bung Karno menaruh perhatian demikian besar? Jika berumur lebih panjang, Dewi Dja akan berusia 103 tahun pada 1 Agustus nanti. Beberapa bulan lalu, produser sinema independen R. Christian Andersson membuat film pendek soal Devi Dja berjudul, I Remember Devi Dja.

Dewi Dja, atau kadang pula ditulis Devi Dja, lahir di Sentul, Yogyakarta, meninggal pada 19 Januari 1989 di Los Angeles, Amerika Serikat, dan dimakamkan di Forest Lawn Memorial Park, Hollywood Hills. Hidup Dja benar-benar melompat sangat jauh dari masa kecilnya. Bersama kelompok sandiwara Dardanella dan kemudian Devi Dja’s Bali Java Cultural Dancers, Dja adalah artis panggung pertama Indonesia yang mendunia.

Mereka bermain di pelbagai kota di Malaysia, Singapura, Filipina, China, Myanmar, India, Irak, Turki, Mesir, Yunani, Jerman, Italia, hingga “berlabuh” di Amerika Serikat. Saat bermain di Kota Milan, Italia, Dja sempat grogi. Dia sudah mendengar reputasi hebat seniman-seniman panggung di Negeri Pizza. “Tak usah takut. Suaramu alamiah. Bagus,” Antoine Malevitch, manajer asal Rusia yang membantu Dardanella, dikutip dalam Gelombang Hidupku, membesarkan hati Dja.

Mulai berkecamuknya Perang Dunia II-lah yang membuat rombongan Dewi Dja dan Piedro terpaksa buru-buru angkat kaki dari Benua Eropa. Seperti pula di Eropa, Dja dan rombongannya mendapat sambutan bagus dari penonton Amerika. Harian Chicago Tribune menulis berita di halaman 11 pada 23 November 1940 bertajuk “Devi Dja and Her Dancers Charm Chicago”. Beberapa bulan kemudian, giliran harian Christian Science Monitor yang mengupas penampilan Dja dalam beritanya dengan judul “Devi Dja and Her Group Offer Rare Entertainment”.

Beberapa kali, meski tak jadi bintangnya, Dja juga sempat bermain di sejumlah film produksi Hollywood: Three Came Home, The Picture of Dorian Gray, dan Road to Morocco. Albert Lewin, salah satu produser dan sutradara di perusahaan film Metro Goldwyn Mayer, adalah salah satu sahabatnya.

image for mobile / touch device
image 1 for background / image background




Dewi Dja saat mendampingi delegasi Indonesia yang dipimpin Sutan Sjahrir ke Amerika Serikat
Foto: dok. biografi Dewi Dja

“Dia itu seniwati yang luar biasa hebatnya,” Lewin memuji Dewi Dja. Lewin pernah menawari Dja bermain di salah satu filmnya, tapi kemampuan bahasa Inggris yang terbatas jadi salah satu hambatan bagi Dja untuk berkarier di Hollywood. Ratna Assan, putrinya, yang lahir dan besar di Amerika, sempat meneruskan karier Dja di industri film Hollywood.

Lantaran sejumlah pertimbangan, Dja dan keluarganya memutuskan menjadi warga negara Amerika pada 1962. “Dalam keadaan ini, Miss Dja berada di rantau djaoeh. Indonesia mengharap-harap ia kembali, karena sampai sedemikian tempatnja beloem terisi. Tempat Miss Dja adalah tempat tersendiri. Banjak artis kita jang ternama, tapi Miss Dja lain tersendirinja,”kata Andjar Asmara, penulis naskah Dardanella, dikutip Fandy Hutari dalam bukunya, Para Penghibur.

* * *

Dewi Dja konon lahir di Yogyakarta (di biografinya, Gelombang Hidupku, Dja tak menjelaskan di kota mana dia lahir). Ayah dan ibunya, Adiredjo dan Sriami, memberinya nama Misria. Kakeknya, Satiran, adalah bekas prajurit dari Keraton Yogyakarta. Satiran lari dari Yogyakarta setelah ontran-ontran pemberontakan pengikut Pangeran Suryengalaga, putra Sri Sultan Hamengku Buwono V, pada 1883.

Untuk bertahan hidup di pelarian, Satiran didampingi istrinya yang sangat setia, Sriatun, dan anaknya, Adiredjo, berjalan kaki mengamen dari kampung ke kampung, di Jawa Timur. Di Surabaya, Adiredjo bertemu dengan Sriami, gadis asal Sumenep, Surabaya. Dan lahirlah Misria. Lantaran si anak sakit-sakitan, dukun menyarankan supaya nama Misria diganti. Satiran memberinya nama Soetidjah, biasa dipanggil Djah atau Dja.

Sejak masih sangat kecil, Dja sudah merasakan pahit getirnya hidup. Dja kecil ikut kakek dan neneknya berjalan kaki nyeker tanpa alas, mengamen dari kampung ke kampung. Mereka tidur di sembarang tempat. Jangankan bersekolah, kadang dalam sehari, hanya semangkuk bubur encer yang mengisi perut anak kecil itu.

Berkat pertolongan seorang Arab dan meneer Belanda, Satiran bisa mendirikan kelompok sandiwara kecil, Stambul Pak Adi. Kelompok ini lumayan kondang di daerah Bondowoso, Jember, hingga Banyuwangi. Saat itu Dja sudah beranjak remaja. Tumbuh besar di lingkungan seniman panggung, hanya menari dan menyanyi keterampilan yang dikenal oleh Soetidjah alias Dja.

Dewi Dja bersama guru-guru tari di Amerika Serikat
Foto; dok. biografi Dewi Dja

Di Rogojampi, Banyuwangi, Dja “bertemu” dengan A. Piedro, pendiri kelompok sandiwara The Malay Opera Dardanella. Menurut Fandy Hutari, penulis sejumlah buku sejarah bisnis hiburan di Indonesia, nama asli Piedro adalah Willy Klimanov. Dia seorang keturunan Rusia. “Saya menduga, keluarga Piedro ini lari dari Rusia setelah Revolusi Bolshevik tahun 1917,” kata Fandy beberapa hari lalu.

Piedro dibesarkan di lingkungan pemain sirkus Rusia. Ibunya, Ivera Klimanov, seorang pemain balet. Piedro yang berkulit putih itu langsung terpikat oleh Dja, yang tengah melantunkan lagu Kopi Susu di atas panggung. Lewat perantara Camat Rogojampi, Piedro melamar Dja. Sejak hari itu, Dja menjadi bagian dari keluarga besar Dardanella. Di Dardanella, ada Piedro yang orang Rusia, De Kock bersaudara yang asli Ambon, Fifi Young yang keturunan Tionghoa-Prancis, mantan wartawan Andjar Asmara, juga Tan Tjeng Bok, seniman serbabisa keturunan Betawi-Tionghoa kelahiran Jembatan Lima, Batavia.

Meski sudah lama tinggal di negeri orang dan jadi warga Amerika, Dja tak pernah lupa pada tanah airnya, Indonesia. Ketika delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Sutan Sjahrir melawat ke Amerika Serikat pada pertengahan 1947, untuk mencari dukungan atas kemerdekaan Indonesia, Dja dengan sungguh-sungguh menyambut dan membantu berkampanye memperkenalkan Indonesia. 

Bertahun-tahun kemudian, Dja, saat itu sudah bukan lagi warga negara Indonesia, dan sejumlah warga Indonesia di Amerika, bahu-membahu untuk mengikuti Rose Parade di kota Pasadena. Mobil hias buatan mereka yang diberi nama “Indonesian Holiday” mendapatkan salah satu penghargaan.

“Air mataku menetes lagi. Entah mengapa. Barangkali karena cintaku sedemikian besar pada sesuatu yang jauh dariku. Aku tidak bisa melepaskannya. Tidak bisa. Seluruh hatiku tercurah padanya. Indonesia, engkau jauh di mata, tapi sangat dekat di hatiku,” Dja menuturkan kepada Ramadhan K.H., penulis biografinya.


Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE