Pertunjukan Dardanella
Foto: dok. biografi Dewi Dja
Jumat, 21 Juli 2017“Tahu Dja, apa cita-citaku sekarang?” suatu kali A. Piedro bertanya kepada istrinya, Dewi Dja. “Apa, Tuan?” Dja balas bertanya. Piedro menjawab dengan penuh percaya diri, ”Aku mau keliling dunia bersama Dardanella…. Tujuanku yang pertama adalah Eropa. Setelah itu, baru ke Amerika.”
Dewi Dja, yang sejak kecil hidup melarat dan tak pernah bersekolah, hanya manggut-manggut mendengar kata-kata Piedro. Eropa pernah dia dengar, tapi tak tahu persis ada di sebelah mana dari Indonesia. “Di sebelah barat?” Dja menebak. Saat itu tahun 1930-an, hanya segelintir orang kaya dan keturunan keluarga bangsawan Indonesia yang bisa melancong atau pergi ke luar negeri.
Lain dari Dja, Piedro, yang lahir di Penang, Malaysia, dari keluarga Rusia, pernah lumayan lama belajar di sekolah Inggris. “Saya menduga, keluarga Piedro ini lari dari Rusia setelah Revolusi Bolshevik tahun 1917,” kata Fandy Hutari, penulis sejumlah buku sejarah industri hiburan Tanah Air, beberapa hari lalu.
Sebagai keturunan keluarga pemain sirkus Rusia, sejak kecil Piedro juga sudah terbiasa berkeliling ke pelbagai negara. Setelah ayahnya meninggal, Piedro bersama ibunya mencari makan dari kota ke kota di Indonesia. “Ternyata tak mudah bagi kami mendapatkan pekerjaan,” kata Piedro dikutip di biografi Dewi Dja, Gelombang Hidupku: Dewi Dja dari Dardanella, yang terbit pada 1982.

Dewi Dja dan rombongan Dardanella saat bersiap melakukan tur ke luar negeri
Foto: dok. biografi Dewi Dja
Piedro sempat bekerja di Opera Constantinopel milik seorang perempuan Italia. Tapi dia tak puas hanya jadi anak buah. Ambisinya jauh lebih besar. Pada 21 Juni 1926, Piedro, yang aslinya bernama Willy Klimanov, mendirikan The Malay Opera Dardanella di Sidoarjo, di pinggiran Surabaya. “Kami dirikan Dardanella itu dalam kondisi miskin. Modal kami hanya 350 gulden…. Untuk membeli layar saja, uang kami hampir-hampir tak cukup,” Piedro menuturkan kepada Dja.
Piedro memang manajer panggung yang pintar dan sangat disiplin. Pelan-pelan nama Dardanella makin kondang, penontonnya tambah banyak, dan isi kantong makin tebal. Untuk memperkuat barisan pemainnya, dia terus merekrut orang-orang yang dianggapnya punya bakat besar. Di Rogojampi, Banyuwangi, dia “menemukan” Dewi Dja. “Aku yakin, bersama kamu, Dardanella akan bertambah maju lagi,” kata Piedro.
Dari kota-kota di Jawa Timur, Dardanella terus berkeliling ke kota-kota lain di Hindia Belanda kala itu. Di Balikpapan, di Pulau Borneo, Piedro menemukan Astaman dan seniman serbabisa Tan Tjeng Bok. Di Ambon, Piedro menemukan De Kock bersaudara, Ferry dan Eddy. Mereka orang Ambon asli.
Belakangan, bergabung pula dengan Dardanella seorang wartawan dari harian Bintang Timur, Andjar Asmara, juga pasangan Fifi Young dan Njoo Cheong Seng. Fifi lahir di Aceh dari ayah Prancis dan ibu keturunan Tionghoa. Sebelum bergabung dengan Dardanella, Fifi dan Cheong Seng malang melintang di atas panggung sandiwara bersama grup Miss Riboet’s Orion.
Setelah cukup percaya diri, Piedro membawa Dardanella ke Batavia, menantang Miss Riboet’s. Kala itu kebetulan pesona Miss Riboet’s mulai pudar. Dardanella, yang membawa pembaruan di panggung sandiwara, segera merebut posisi Miss Riboet’s. Pertunjukan Dardanella di Gedung Thalia, kawasan Mangga Besar, kini masuk wilayah Jakarta Pusat, selalu dipenuhi penonton.

A. Piedro, pendiri Dardanella
Foto: dok. biografi Dewi Dja
Aku mau keliling dunia bersama Dardanella…. Tujuanku yang pertama adalah Eropa. Setelah itu, baru ke Amerika.”
A. Piedro, pendiri kelompok sandiwara DardanellaPiedro selalu memilih lakon-lakon dari adaptasi film-film yang sedang laris kala itu, seperti The Three Musketeers dan The Thief of Baghdad. Dia juga mengadaptasi lakon dari cerita-cerita lama, seperti The Sheik of Arabia dan Roses of Yesterday. Kebiasaan bertele-tele di sandiwara-sandiwara lama disetip Piedro dari Dardanella. Begitu layar panggung dibuka, saat itu pula cerita Dardanella dimulai.
Suatu kali Andjar Asmara membawa koran Pemandangan. “Ada tulisan penting di sini,” kata Andjar kepada Piedro. Ada tulisan Haji Agus Salim, tokoh pergerakan kala itu. Menurut Haji Agus Salim, Dardanella merupakan satu kelahiran baru, bukan semata reinkarnasi dari sandiwara-sandiwara terdahulu.
Bukan cuma Piedro yang bermimpi membawa Dardanella berkeliling dunia. Di Indonesia kala itu, tak ada lagi yang menandingi Dardanella. Koran-koran mulai bertanya-tanya kapan Dardanella melanglang buana. Pada 1935, dimulailah tur Dardanella ke sejumlah negara. Ada 150 orang dalam rombongan grup sandiwara itu.
Mereka bermain di pelbagai kota di Malaysia, Singapura, Filipina, China, Myanmar, India, Irak, Turki, Mesir, Yunani, Jerman, Italia, hingga “berlabuh” di Amerika Serikat. Saat bermain di Kota Milan, Italia, Dja sempat grogi. Dia sudah mendengar reputasi hebat seniman-seniman panggung di Negeri Pizza. “Tak usah takut. Suaramu alamiah. Bagus,” Antoine Malevitch, manajer asal Rusia yang membantu Dardanella, dikutip dalam Gelombang Hidupku, membesarkan hati Dja.
Selama bertahun-tahun, hidup dari panggung ke panggung, dari kota ke kota yang jauh dari kampung halaman, Dja dan teman-temannya merasakan betul susah dan senangnya perjuangan menembus panggung di luar negeri. Mereka sempat terdampar di Shanghai tanpa pekerjaan, nyaris tak punya duit, lantaran ditipu oleh seorang perantara, Louis van Sant.

Dewi Dja bersama bintang Hollywood, Claudette Colbert
Foto: dok. biografi Dewi Dja
Tapi pengalaman buruk itu tak menyurutkan ambisi Dardanella mendunia. “Jera? Sama sekali tidak. Jangan ada pikiran begitu,” kata A. Piedro, pendiri merangkap sutradara sekaligus manajer dan suami Dewi Dja. Begitu duit kembali terkumpul, semangat mereka kembali membubung tinggi untuk pergi ke Barat, ke Eropa. Dari Singapura, mereka singgah dan bermain di Myanmar dan India.
Nama Dardanella mulai dikenal orang. Setiap kali mereka bermain, kursi penonton nyaris selalu penuh. Bahkan tokoh-tokoh besar di India, sastrawan Rabindranath Tagore serta pemimpin pergerakan Jawaharlal Nehru dan Mahatma Gandhi, ada di barisan penonton pertunjukan Dardanella.
Tapi di India pula “kapal besar” Dardanella mulai retak. Hampir sepertiga anggota Dardanella minta pulang. Beberapa bulan kemudian, ada lagi anggota Dardanella yang menyusul pulang ke Indonesia. Dari 150 orang, tinggal 27 orang yang tersisa. Mereka inilah yang melanjutkan semangat Dardanella berkeliling dunia. Dengan nama Devi Dja’s Bali Java Cultural Dancers, mereka melanjutkan cita-cita Dardanella manggung di Eropa dan Amerika Serikat. Mulai berkecamuknya Perang Dunia II-lah yang membuat rombongan Dewi Dja dan Piedro buru-buru angkat kaki dari Benua Eropa. Di Jerman, Piedro dan beberapa anak buahnya sempat diinterogasi oleh Gestapo, polisi rahasia Nazi.
Sejak awal orang-orang seperti Dewi Dja, Fifi Young, dan De Kock bersaudara bergabung, Piedro memang sudah yakin bahwa Dardanella bisa menembus panggung Eropa. “Aku bukan orang Indonesia, tapi aku percaya orang Indonesia punya bakat. Aku sudah berkeliling India, keliling ke mana-mana, dan aku percaya orang Indonesia punya bakat besar. Percayalah…. Dan ingat, semua yang kita lakukan ini untuk kemajuan Indonesia, demi kejayaan Indonesia,” kata Piedro kepada anak buahnya, dikutip di biografi Dewi Dja.
Piedro, yang keturunan Rusia, sudah lama bersimpati pada Indonesia. Dia yakin suatu kali nanti Indonesia pasti merdeka. Kadang, dia tak mau mengambil hasil penjualan tiket. Pernah di Balikpapan, dia menyerahkan semua hasil penjualan tiket pertunjukan kepada pemimpin setempat. Haji Makmur namanya. “Mengapa?” Dja bertanya kepada suaminya. “Kita sedekahkan untuk mendirikan masjid,” kata Piedro. Bukan sekali hal seperti itu dilakukannya.
Redaktur/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.