INTERMESO

Banyak Jalan
ke Pelaminan

"To the point saja, saya cari pria yang sudah siap nikah dan mapan. Bukan buat hura-hura."

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 2 Juni 2017

Saat melintas di kawasan Waduk Pluit, Jakarta Utara, bersama kawannya tiga tahun silam, mata Sinta terantuk pada sebuah plang berwarna merah yang terpasang di sebuah rumah kantor. “Indonesian Dating Service, One Step to Your Soulmate”, begitu tulisan pada papan itu.

"Tiba-tiba saja terpikirkan bagaimana kalau saya ikut," ujar Sinta kepada detikX, Sabtu pekan lalu. Usianya mendekati kepala tiga kala itu, sementara statusnya masih jomblo. Orang tuanya sudah bolak-balik menanyakan soal siapa calon jodohnya.

Kesibukan membesarkan sebuah butik di kawasan Pluit menjadikan pergaulan Sinta terbatas. Ia pun mengaku tak sempat memikirkan pasangan. "Waktu saya lebih banyak habis di toko. Ketemunya ya kebanyakan bukan dengan lawan jenis," ujar perempuan asal Kalimantan Barat itu. "Mau nongkrong juga malas macetnya. Capek di jalan. Mending pulang ke rumah langsung tidur." 

Akhirnya, ketika melintasi jalan itu lagi, ia segera mencatat nomor telepon yang tertera pada plang tersebut. Sinta sempat maju-mundur, ragu-ragu mengontak nomor biro jodoh itu. Batinnya kembali berkecamuk. "Kesannya memalukan kalau ikut biro jodoh," kata Sinta.

Terserah mereka mau kencan atau bagaimana…. Saya percaya mereka tidak macam-macam."

Srie Mandaline Hendra, pendiri Indonesian Dating Service

Srie Mandaline Hendra, pendiri Indonesian Dating Service
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Namun, setelah merenung sejenak, Sinta akhirnya mendaftar menjadi anggota Indonesian Dating Service (IDS). Kriteria-kriteria pasangan yang diidamkan dituliskannya dalam formulir keanggotaan. "To the point saja, saya cari pria yang sudah siap nikah dan mapan. Bukan buat hura-hura."

Kepada pendiri IDS, Srie Mandaline Hendra, yang kemudian mewawancarainya, Sinta mengaku sudah sangat siap menikah. "Saya juga bilang selama ini saya selektif dalam memilih pasangan. Tidak mau sembarangan. Soalnya, ini pasangan hidup. Once in a lifetime," kata Sinta. Setelah melalui proses wawancara selama beberapa jam, tak berapa lama foto empat pria muncul di layar telepon selulernya. Foto-foto itu dikirimkan oleh Srie, sang makcomblang. "Saya diminta memilih."

Sinta akhirnya memilih salah satu pria yang selisih usianya hampir dua tahun. Kencan pertama dilalui dengan mulus. "Saya langsung merasa cocok," ujar Sinta. Setelah melalui proses pacaran selama setahun, Sinta akhirnya memutuskan menikah. Sinta termasuk lajang yang beruntung dapat menemukan pasangan jiwanya dengan cepat melalui biro jodoh. "Ada yang harus melalui proses panjang, ada juga yang gagal," ujar Srie.    

Cerita Srie memutuskan masuk dunia perjodohan berawal pada 2009. Kejenuhannya selama puluhan tahun menjadi produser di studio rekaman Akurama Records membuatnya mencari kesibukan lain. "Saya memang senang jodoh-jodohin orang," ujar Srie. Namun biro jodoh yang diidamkannya tak berdiri saat itu juga. Ia memutuskan mempelajari secara otodidaktik seluk-beluk perjodohan. Puluhan buku soal psikologi dan karakter manusia dilalapnya.




Foto: Thinkstock

Akhirnya setahun kemudian IDS resmi beroperasi. Srie dibantu dua sahabatnya, Ina Wibowo yang berprofesi sebagai psikolog dan dokter bernama Meyta. "Saya tidak menjanjikan pernikahan, melainkan kesempatan bertemu dengan orang baik dan serius," ujar perempuan berusia 63 tahun itu. Janji tersebut membuat Srie benar-benar menyeleksi lajang-lajang yang mau menjadi anggota biro jodohnya. Tidak semua pendaftar otomatis diterima. "Ada peminat yang bekerja di Amerika Serikat yang harus menunggu libur dulu agar bisa ikut interview."

Srie menekankan sopan santun dan etika pergaulan anggota menjadi standar utamanya. "Kalau sama saya saja dia kurang sopan, pasti sama member lain dia begitu juga. Jangan sampai ada member yang menerima perlakuan yang tidak diinginkan," katanya. Namun pernah juga ia kecolongan. Seorang anggota perempuannya mengadu. "Bu, laki-laki itu baru sekali ketemu, tiap malam telepon, terus bilang cantiklah, itulah," ujar Srie menirukan. Ia langsung menegur anggota pria tersebut. "Dia bilangnya benar-benar suka. Tapi saya tekankan caranya tidak seperti itu."

IDS adalah salah satu biro jodoh yang tidak mengandalkan pemakaian teknologi dalam mencocokkan klien-kliennya. Dari sekitar 400 anggotanya, Srie berhasil menikahkan hampir sepertiganya. "Saya timbang-timbang lewat kriteria yang mereka mau. Setidaknya antara cowok dan ceweknya seimbang, jangan terlalu timpang," kata Srie. Setelah ada beberapa kandidat yang cocok dengan kriteria kliennya, biasanya Srie mengirimkan foto. "Saya kirim foto beberapa kandidat maksimal empat. Kalau kebanyakan, lebih sering gagalnya."

Foto: Thinkstock

Setelah klien merasa pas dengan salah satu kandidat, baru Srie memberikan nomor telepon. "Terserah mereka mau kencan atau bagaimana…. Saya percaya mereka tidak macam-macam," ujar Srie. Tapi ada juga klien yang tidak percaya diri. Terutama yang baru pertama kali kencan dengan lawan jenisnya. Kehadiran Srie diperlukan untuk menurunkan ketegangan dan kegugupan. "Ada juga yang ngajak saya ikut saat kencan pertama mereka. Saya anggap mereka seperti anak sendiri saja. Ya jadinya makan bertiga," ujar Srie sambil tertawa berderai. 

Sayangnya, Srie enggan memberi tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan calon kliennya. "Pembayaran hanya sekali saja saat pendaftaran. Tak ada iuran. Biaya biasanya, kalau serius, kita kasih tahu saat di kantor," ujarnya. Mengintip laman Facebook IDS, biro jodoh ini juga banyak memberikan kelas-kelas bagi anggotanya untuk “modal” mencari pasangan. Misalnya kelas “Philosophy Pilar Pria Sejati di Mata Wanita 101”. Di kelas ini, seperti judulnya, diajarkan cara-cara membuka percakapan, berkomunikasi, hingga mengenali calon istri.


Reporter/Redaktur: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE