Ilustrasi: Edi Wahyono
Jumat, 19 Mei 2017Malam sebelum empat mahasiswa Universitas Trisakti di kampus Grogol, Jakarta Barat, tewas ditembak aparat, bertempat di Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur, ratusan kilometer dari Trisakti, Emha Ainun “Cak Nun” Nadjib berceramah di depan ribuan peserta pengajian PadhangMbulan.
“Bangsa Indonesia sudah tidak punya waktu lagi sekarang. Bapak Presiden Republik Indonesia hanya mendapatkan satu kesempatan lagi memperoleh indzar dari Allah dan peringatan dari rakyatnya,” kata Cak Nun di tengah terang cahaya bulan pada 11 Mei 1998, dikutip dari bukunya, Saat-saat Terakhir Bersama Soeharto: 2,5 jam di Istana.
Ketika itu Indonesia memang sedang “meriang”. Desakan kepada Presiden Soeharto agar turun dari kursinya makin kencang. “Kalau peringatan itu tetap membikin beliau summun bukmun umyun fahum laa yarji’iun, kita semua harus siap hari-hari yang akan datang lebih parah dari hari-hari sebelumnya,” Cak Nun berceramah.
Pada hari-hari yang genting di Jakarta itu, kendati perekonomian Indonesia sedang sakit berat, walaupun para tokoh sosial, politik, maupun ekonomi dan aktivis mahasiswa hampir setiap hari meneriakkan tuntutan supaya dia mundur, meski Jakarta, Solo, Medan, dan Surabaya, berhari-hari membara, Presiden Soeharto belum menunjukkan tanda-tanda akan bersedia lengser dari kursinya secara sukarela.
Pada pukul 09.00, Selasa, 19 Mei 1998, pimpinan DPR, Harmoko dan kawan-kawan, bertemu dengan pimpinan semua fraksi: Ketua Fraksi Karya Pembangunan Irsyad Sudiro, Ketua Fraksi Persatuan Pembangunan Hamzah Haz, Ketua Fraksi PDI Budi Hardjono, dan Ketua Fraksi ABRI Hari Sabarno. Mereka bersepakat untuk mendesak Soeharto lengser.
“Bapak Presiden Republik Indonesia hanya mendapatkan satu kesempatan lagi memperoleh indzar dari Allah dan peringatan dari rakyatnya.”
Emha Ainun Nadjib pada 11 Mei 1998
Demonstrasi Forkot, 1998
Foto: M. Firman/Forkot
Hanya berselang dua jam kemudian, Presiden Soeharto mengundang tokoh-tokoh Islam ke Istana. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid datang dengan menggunakan kursi roda. Hadir pula di Istana Merdeka, Nurcholish Madjid, Emha Ainun Nadjib, KH Ali Yafie, Malik Fadjar dari PP Muhammadiyah, KH Ma’ruf Amin, dan Yusril Ihza Mahendra.
Kepada tokoh-tokoh ini, Soeharto mengatakan tak jadi soal jika dia harus mundur. “Saya ini kapok jadi presiden,” Nurcholish menirukan guyonan Presiden Soeharto, dikutip A. Makmur Makka dalam bukunya, Sidang Kabinet Terakhir Orde Baru. Tapi Soeharto sepertinya masih ragu. “Rasa-rasanya, kalau saya meninggalkan begitu saja, saya bisa dikatakan tinggal glanggang colong playu, lari dari tanggung jawab,” dia berdalih.
Seandainya dia memutuskan mundur, otomatis tongkat kepemimpinan nasional akan dioper kepada Wakil Presiden B.J. Habibie. “Apakah hal itu merupakan penyelesaian terbaik? Jangan-jangan nanti Wakil Presiden didemo dan disuruh mundur…. Jika hal itu terjadi, siapa yang rugi?” kata Presiden Soeharto. Dia berjanji akan merombak kabinet dan segera membentuk Komite Reformasi Nasional. Dia juga memberikan jaminan tak akan bersedia lagi dicalonkan sebagai Presiden RI.
Para tokoh Islam itu menerima janji Presiden. “Memang tidak sempurna, tetapi mudah-mudahan ini yang terbaik,” kata Nurcholish kala itu. Menurut Nurcholish, Presiden Soeharto banyak menuruti permintaan mereka. Hanya satu hal yang Soeharto tolak, yakni lengser saat itu juga.
Beberapa kilometer dari Istana Merdeka, ribuan mahasiswa dari Forum Kota (Forkot), Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Se-Jakarta, juga Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia berduyun-duyun datang ke gedung MPR/DPR. Dua hari kemudian, pada 21 Mei 1998, Presiden Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya.
* * *

Polisi berjaga di depan massa Forkot, 1998
Foto: M. Firman/Forkot
Dua puluh tahun lalu, Adian Yunus Yusak Napitupulu adalah aktivis mahasiswa yang garang. Sekarang Adian, 46 tahun, merupakan anggota DPR dari PDI Perjuangan. Dalam Pemilihan Umum 2014, Adian terpilih mewakili daerah Jawa Barat V.
Senayan sepertinya tak banyak mengubah Adian, paling tidak penampilannya. Masih dengan setelan kemeja dengan kancing bagian atas dibiarkan terbuka dan celana jins. Kalung berbentuk taring dengan tali warna hitam tergantung di lehernya.
Beberapa kali dia ditolak masuk acara resmi bersama Presiden Joko Widodo karena penampilannya itu."Karena pakai setelan model begini saya ditolak masuk Istana Negara," ujar bekas aktivis mahasiswa 98 itu dengan nada suara meledak-ledak bak berorasi kepada detikX seusai acara pembukaan pameran foto Peringatan 19 Tahun Reformasi di Jakarta, Sabtu dua pekan lalu.
Adian tumbuh dalam masa kecil yang keras. Pria kelahiran Manado, 46 tahun lalu, itu dididik sangat keras oleh ayahnya. "Ayah gua bilang, ‘Kalau kamu kalah dalam perkelahian, datangi lagi,’" ujarnya. Saat usianya baru 10 tahun, ayahnya, yang juga tulang punggung keluarga, meninggal.
Karena kesulitan keuangan pula rencananya melanjutkan kuliah pada awal 1990-an gagal total. Lulus SMA, dia memutuskan bekerja sebagai kondektur bus yang mangkal di kawasan Hek, Kramat Jati. Beberapa bulan kemudian, dia pindah pekerjaan dengan menjadi buruh di pabrik kayu di Marunda. Tahun 1991, sambil bekerja dia diterima di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia. Di pabrik, Adian aktif menggalang aksi buruh dan terlibat banyak demonstrasi. "Gua akhirnya dipecat karena demo empat kali dalam sebulan," katanya.

Polisi mengejar demonstran, 1998
Foto: M. Firman/Forkot
Saat sedang menyusun tugas akhir pada 1996, Adian terpaksa meninggalkan kampus. Dia mendirikan Posko Pemuda dan Mahasiswa sebagai bentuk dukungan terhadap Megawati Soekarnoputri. Kerusuhan setelah penyerbuan kantor Partai Demokrasi Indonesia di daerah Menteng, Jakarta Pusat, memaksanya lari dari Jakarta. Selama “kabur” dari Jakarta, Adian sempat terlibat dalam advokasi korban lintasan saluran udara tegangan ekstratinggi di Desa Cibentang, Parung, Bogor, Jawa Barat.
Baru setahun kemudian Adian “pulang” ke kampus. Saat itu Jakarta mulai “panas”. "Kami membangun lagi perlawanan di kampus," ujar lelaki berdarah Batak-Cirebon itu. Perlawanan terhadap rezim Presiden Soeharto.
Suatu saat pulang dari aksi, Adian harus melewati kerumunan tentara. Tentara tersebut menyuruh Adian dan kawan-kawannya memutar arah dan mengambil jalan lain. Ketika Adian menolak, tentara-tentara itu memukul dan menyuruhnya jongkok. "Gua ditendang jatuh, bangun lagi. Begitu terus sampai komandannya kasihan," dia menuturkan pengalamannya. Sifat keras itu membuat Adian mendapat julukan Jugul dari kawan-kawannya, yang berarti keras kepala.
Bersama sejumlah kawannya, Adian berkeliling dari kampus ke kampus untuk menggalang sokongan sesama aktivis mahasiswa. Mereka menggagas pendirian Komunitas Mahasiswa Se-Jabotabek. "Kami ajak aksi bersama karena bareng-bareng saja belum tentu menang melawan Ode Baru, apalagi sendiri-sendiri," ujar Adian. Komunitas ini akhirnya berganti nama menjadi Forum Kota, yang kemudian lebih kondang dengan Forkot. "Biar gampang nyebut-nya. Karena pakai nama komunitas terlalu panjang."
Foto: M. Firman/Forkot
Pendirian Forkot, kata Adrian, tak lepas dari lambannya organisasi-organisasi formal mahasiswa dalam menyikapi perkembangan politik. "Secara pribadi gua di GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia). Tapi GMKI dan organisasi sejenisnya ini ibaratnya kapal induk yang gerakannya lamban," ujar Adian. "Kami butuh speedboat yang lebih lincah."
Dimulai dari enam kampus, Forkot makin lama makin besar. Tak ada yang namanya pimpinan dalam Forkot. Dalam rapat-rapatnya, setiap perguruan tinggi diwakili simpul-simpul massa. "Selalu ada perdebatan antarsimpul dalam rapat, termasuk saat gua mengusulkan pendudukan gedung DPR/MPR," kata dia. Organ-organ gerakan mahasiswa saat itu pun kerap tak sejalan. Termasuk hubungan Forkot dengan Forum Komunikasi Senat Mahasiswa Se-Jakarta. "Mereka organisasi formal, kami nonformal."
Bahkan di dalam Forkot sekalipun, mulai muncul gesekan-gesekan. Sehari sebelum Soeharto jatuh, Forkot terbelah ketika simpul dari Universitas Nasional mendirikan Front Nasional. Lalu diikuti pendirian Famred (Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi) pada September 1998. Aktivis Forkot yang memilih mendirikan organisasi baru tak sepakat dengan sikap keras saat mereka dihadang aparat.
Soal bentrokan dengan aparat tiap turun demonstrasi itu, Adian punya jawaban. Menurutnya, situasilah yang membuat mereka memilih jalan yang keras. "Forkot ini anak zaman. Zaman yang mendidik kami jadi keras. Zaman pulalah yang memaksa kami untuk keras," katanya. "Kekerasan negara itu menjadi fakta sehari-hari. Itu bukan strategi. Kami tidak bisa melawan negara yang represif saat itu dengan cara lembek. Semakin keras negara, semakin keras pula kami. Misalnya begini, teman gua ditangkap tentara dan untuk membebaskannya harus pukul tentara. Ya, kami pukul. Kalau ada teman lain tidak setuju, ya sudah, beda jalan."
“Saya ini kapok jadi presiden.”
Presiden Soeharto pada 19 Mei 1998
Demonstrasi mahasiswa pada masa reformasi 1998
Foto: M Firman/Forkot
Setelah Soeharto turun, Adian masih bergelut dengan pendampingan dan aktivitas mahasiswa. Pada 2007, dia mendirikan Kota Law Office di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Tak sampai setahun beroperasi, kantor ini digerebek dan disegel polisi. "Gue dituduh mendanai demonstrasi antipemerintahan SBY," katanya. Kantor itu akhirnya tutup tanpa disuruh.
Saat itu datang seorang senior mengajaknya bergabung dengan PDI Perjuangan. Rekam jejak Adian mendukung Megawati pada 1996 memuluskan jalannya masuk ke Partai Banteng. Adian terdaftar menjadi calon anggota DPR di daerah pemilihan Jawa Barat V, yang meliputi Kabupaten Bogor, pada Pemilihan Umum 2009. Namun langkah pertama Adian menuju gedung Senayan kandas. Lima tahun kemudian, dia kembali mencoba maju dari daerah yang sama.
"Gua cuma ikut nasihat ayah, gagal di situ, maju lagi," katanya. Nyaris setahun Adian berfokus menggalang dukungan. Berkeliling di lebih dari 42 kecamatan. "Modal gua hanya Rp 200 juta." Setelah terpilih dan masuk parlemen, dia kerap menjadi corong partai ketika menghadapi isu-isu yang sulit. "Kalau partai tunjuk untuk bicara, ya gua bicara."
Dalam aksi pula Adian bertemu dengan Eliana Indah yang akhirnya menjadi istrinya. Eliana, yang kerap disapa Iin, juga sesama aktivis Forkot. "Saya simpul dari STIE Nusantara," ujar Iin. Iin bertemu intens dengan Adian dalam rapat-rapat simpul. Setelah berpacaran selama 6 tahun, dua aktivis ini akhirnya menikah pada 2004 dan sudah dikaruniai dua orang anak. "Tak ada yang berubah…. Soal anak, dia lebih rewel daripada saya," ujar Iin.
Reporter/Redaktur: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.