INTERMESO

Murid Lancung, 
Guru Diteror

Ada banyak tantangan membangun sekolah di Aceh. Teror hanya salah satunya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Selasa, 25 April 2017

Cuma gara-gara urusan ujian di satu sekolah, buntutnya menyeret pejabat-pejabat di Aceh, bahkan merembet sampai Jakarta. Urusan itu bermula saat ujian nasional pada 2012. Ada 11 murid SMA Sekolah Sukma Bangsa (SSB) Pidie yang kedapatan menyembunyikan kertas sontekan.

Pengurus sekolah mengambil tindakan tegas. Ke-11 anak itu dikeluarkan. Tapi keputusan itu membuat para orang tua mereka meradang. Dinas pendidikan setempat pun turun tangan. Bahkan tak mau ketinggalan para politikus dan sejumlah tokoh asal Aceh di Jakarta ikut mendesak agar sekolah membatalkan keputusan tersebut. Mereka nyaris berhasil melobi Surya Paloh sebagai pendiri Yayasan Sukma.

“Saya nangis ketika tahu Pak Surya mendukung tuntutan mereka,” kata Ketua Yayasan Sukma Rerie Lestari Moerdijat sesaat sebelum mengikuti wisuda 30 guru asal Aceh di Finlandia, Jumat dua pekan lalu. Ia mengenang peristiwa tersebut sebagai puncak dari segala teror dan ujian yang dihadapi SSB.

Profesor Komaruddin Hidayat sebagai Penasihat Yayasan sekaligus yang mendesain cetak biru sekolah bersama Ahmad Baedowi pun gusar. Baedowi sebagai Direktur Pendidikan Yayasan diutus menemui Surya Paloh. Intinya, jika keputusan sekolah menegakkan nilai-nilai etik, moral, dan kejujuran tak lagi mendapat sokongan, SSB sebaiknya dibubarkan saja. “Beruntung, Pak Surya mau mendengarkan dan meminta maaf kepada kami,” ujar Baedowi.

Komarudin Hidayat, Surya Paloh, Rerie L Moerdijat, dan Ahmad Baedowi.
Foto: dok. pribadi

Menurut Komaruddin, SSB sejak awal sengaja didesain dengan mengedepankan dan menjunjung tinggi nilai-nilai etik dan moral. Juga menjadikan kemanusiaan, keislaman, dan keindonesiaan sebagai tiga pilar utama. “Kemanusiaan lantaran sekolah ini didirikan terkait bencana tsunami, keislaman karena Aceh ialah Serambi Mekah, dan keindonesiaan lantaran Aceh bagian Indonesia,” paparnya.

Setelah 11 tahun berjalan, Rektor Universitas Negeri Islam Jakarta itu berharap agar sukses SSB dikloning ke daerah-daerah lain. Selain itu, para guru harus disegarkan dengan diberi tantangan baru.

Berapa pun biayanya, dia yakin, pasti ada jika ikhlas mengerjakannya. “Jadikan 30 guru yang meraih master ini sebagai motor penggeraknya agar mereka tak cuma jago seminar,” ujar doktor lulusan Universitas Ankara, Turki, itu.

Surya Paloh pun mengamini saran tersebut. Dia menegaskan memang bertekad membangun sekolah sejenis SSB di Papua, Nusa Tenggara Timur, dan daerah perbatasan. “Insyaallah dalam 2-3 tahun ke depan kita semua dapat mewujudkannya.”

* * *

Saya nangis ketika tahu Pak Surya mendukung tuntutan mereka.”

Ketua Yayasan Sukma Rerie Lestari Moerdijat

Para guru asal Aceh bersama dosen mereka di kampus Tampere.
Foto : dok. pribadi

Tingkat pendidikan yang masih rendah dan latar budaya yang kolot membuat para orang tua wali murid dan para tokoh agama setempat gampang menaruh prasangka kepada SSB. Pada tahun-tahun pertama, kata Baedowi, SSB dituding mengajarkan liberalisme hanya karena ada sosok Komaruddin Hidayat.

Pengajaran bahasa Inggris ditentang karena dianggap milik orang kafir. Juga pernah ada insiden yang menjurus ke tindakan anarkistis karena SSB dianggap mengajarkan pornografi. “Padahal guru biologi cuma menjelaskan anatomi tubuh lewat boneka,” ujar Baedowi.

Teror muncul sejatinya tak melulu terkait urusan akademis. Bila ada proyek perbaikan sekolah, entah itu berupa pembuatan taman, ruang kelas, entah cuma WC, biasanya muncul teror-teror untuk bisa mendapat pekerjaan.

Gesekan juga sempat muncul karena kecemburuan mengingat para guru lebih banyak dari luar Aceh. Tapi hal itu tak terhindarkan karena jumlah guru di Aceh memang sangat kurang akibat banyak guru menjadi korban tsunami.

“Kalau teman-teman angkatan pertama memang saya dengar banyak yang mengalami teror. Kalau saya, karena menikah dengan wanita Aceh, alhamdulillah jadi tahu cara berinteraksi dengan lebih baik,” tutur Adhi Lesmana, guru multimedia SMA di SSB Bireuen.

Satia dan Sahlan bersama putri sulungnya di Universitas Tampere.
Foto : Sudrajat

Satia Prihatni Zen, yang menjadi kepala sekolah pertama di SSB di Bireuen, mengaku sempat terpikir untuk hengkang dari Aceh karena berbagai teror yang muncul. Maklum, Bireuen termasuk salah satu wilayah basis Gerakan Aceh Merdeka.

Tapi perempuan kelahiran Jakarta, 26 November 1977, itu tak mau menyerah begitu saja. Sebagai master bidang psikologi dari  Universitas Kebangsaan Malaysia, dia terus berupaya melakukan berbagai pendekatan. Hasilnya, secara perlahan rasa saling percaya itu tumbuh. Kemudian berkembang menjadi saling melindungi.

“Saya dan beberapa teman waktu itu terus berupaya melakukan pendekatan personal, menghadiri undangan-undangan warga. Hasilnya, kami jadi saling percaya,” papar Satia, yang baru mulai menempuh program doktor di Tampere University, Finlandia.

Ia juga beruntung karena mendapat sokongan penuh dari sang suami, M. Sahlan Hanafiah, yang merupakan warga Aceh. “Dia termasuk yang menguatkan saya, selain para murid itu sendiri,” ujar Satia tentang Sahlan, yang pernah menjadi guru relawan saat masa tanggap darurat bencana tsunami.


Reporter/Penulis: Sudrajat
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.





SHARE