INTERMESO

SKANDAL EMAS BUSANG

‘Kawin Paksa’
ala Cendana

Merasa kepepet, Bre-X datang kepada Sigit Harjojudanto, adik Siti Hardijanti atau anak kedua Presiden Soeharto. Bre-X dan PT Panutan Duta, perusahaan Sigit, sepakat menjalin “kerja sama strategis”.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 31 Maret 2017

Pada hari itu, pada awal November 1996, perusahaan asal Toronto, Kanada, Barrick Gold Corporation, punya satu pengumuman penting. Vincent Borg, sang juru bicara, mengatakan mereka telah menjalin kesepakatan kerja sama dengan Grup Citra Lamtoro Gung.

Citra adalah perusahaan milik Siti Hardijanti Rukmana, atau lebih sering dipanggil Mbak Tutut, anak sulung Presiden Soeharto. “Kami punya ketertarikan besar pada Indonesia,” kata Vincent dikutip Canadian Press. Sebelum kesepakatan tercapai, menurut Vincent, mereka telah menjalin hubungan dengan Mbak Tutut selama empat bulan.

Hari ini Barrick merupakan perusahaan tambang emas terbesar di dunia. Dua puluh tahun lalu, perusahaan yang didirikan oleh Peter Munk tersebut masih ada di urutan ketiga. Sementara itu, Citra Lamtoro lebih dikenal namanya sebagai perusahaan jalan tol. Jauh-jauh datang ke Jakarta, Barrick sebenarnya tak ada niat dan minat membangun jalan tol di Indonesia. Kabar soal tambang Busang-lah yang membuat Peter Munk mau terbang ke Jakarta.

Asalkan ada gula, maka tak usah susah-susah mendatangkan semut. Kabar soal penemuan bukit emas di Busang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, oleh para geolog Bre-X Minerals Limited pada akhir 1993-an membuat geger seluruh dunia. Sebab, konon, tambang emas di tengah hutan Kalimantan ini bisa jadi yang terbesar di dunia. Lebih besar ketimbang tambang emas Grasberg di Papua milik Freeport McMoran sekalipun.

Proyek tambang emas Busang di Kalimantan Timur.
Foto: DOK. Calgary Herald

Mereka ingin mengambil alih 70 persen atau 80 persen saham…. Omong kosong yang tak bisa kami terima.”

David Walsh, pendiri dan bos besar Bre-X

“Secara geologis, ini merupakan hal paling hebat yang pernah aku lihat sepanjang hidupku…. It's so big, it's scary. It's f*cking scary!” kata John Felderhof, geolog senior dan orang kedua di Bre-X, kepada majalah Fortune, kala itu. Dia menaksir ada sekitar 200 juta ounce atau 5.670.000 kilogram emas di dalam perut Bukit Busang. Saham Bre-X, yang semula tak ada yang melirik, mendadak diincar raksasa-raksasa pertambangan.

Barrick bukan satu-satunya raksasa yang ingin mencaplok Bre-X. Ada pula Placer Dome dan Teck Resources, keduanya juga dari Kanada, dan Newmont Gold. Pada Januari 1994, sebulan setelah Kepala Geolog Bre-X Michael de Guzman mengumumkan penemuan emas di Busang, David Walsh, pendiri dan bos besar Bre-X, bertandang ke kantor Barrick. 

“Seperti biasa, kami kehabisan uang,” kata David kepada Canadian Business. Modal Bre-X memang sangat cekak. Dia bersama wakilnya, John Felderhof, bertemu dengan Kepala Eksplorasi Barrick, Alex Davidson, dan Alan Hill, Direktur Pengembangan Perusahaan. David menawarkan 14 persen saham perusahaannya senilai US$ 500 ribu kepada Barrick. “Kami katakan kepada mereka bahwa ini cara yang murah dan mudah untuk masuk ke Indonesia.”

Tapi Barrick tak tertarik menjadi pemegang saham minoritas. Bos Barrick malah mengajukan proposal untuk mencaplok Bre-X. “Mereka ingin mengambil alih 70 persen atau 80 persen saham…. Omong kosong yang tak bisa kami terima,” kata David sewot. Dia benar-benar tersinggung dengan penawaran Barrick. “Jika mereka tak arogan, semuanya bakal mulus…. Lantaran kamu kecil, orang berpikir bahwa kamu bodoh. Seperti itulah anggapan mereka.”


Emas yang ditemukan di Manassas, Virginia, April 2011.
Foto: David Paul Morris/Getty Images

Sejak hari itu, David Walsh memutus komunikasi dengan Barrick. Dia selalu menghindar setiap kali diajak bertemu bos-bos Barrick. Tapi perusahaan Kanada itu tak kendur mengejar Bre-X. Kata “tidak” tak bisa diterima Peter Munk, bos besar Barrick. “Dalam hidup, kalian harus bertarung…. Bertarung untuk menang,” ujar Munk. Seandainya Barrick bisa mencaplok Bre-X, dan angka-angka yang disodorkan Michael de Guzman benar adanya, Barrick akan jadi pemilik tambang emas terbesar sedunia.

Harga Bre-X dari hari ke hari terus menanjak. “Aku pikir US$ 2 miliar untuk 25 persen saham Bre-X cukup layak,” kata David seusai rapat pemegang saham Bre-X pada Mei 1996. Gerilya untuk mencaplok Bre-X makin kencang. Tekanan ke David Walsh dan teman-temannya makin besar. Dan dalam urusan “gerilya” seperti ini, Peter Munk jauh lebih lihai dan berpengalaman ketimbang David Walsh.

Barrick datang ke Jakarta dan menggandeng orang-orang yang mungkin bakal bisa memuluskan jalannya. Selain “bekerja sama” dengan Mbak Tutut, Barrick juga menggandeng Airlangga Hartarto, putra Hartarto, Menteri Koordinator Produksi dan Distribusi dalam Kabinet Pembangunan VI (1993-1998). David Walsh baru sadar bahwa dia kecolongan langkah dari bos Barrick saat Menteri Pertambangan dan Energi I.B. Sudjana berkunjung ke Kanada.

Dalam sebuah jamuan makan malam di Kantor Konsulat Jenderal Indonesia di Toronto, wakil dari Barrick ditempatkan persis di sebelah Menteri Sudjana. Tempat duduk David jauh dari posisi Menteri. “Aku bahkan tak punya kesempatan bicara dengan Menteri Sudjana,” kata Walsh.

David Walsh
Foto: Calgary Herald

Belakangan, dalam beberapa kali rapat dengan perwakilan Barrick, tekanan “dari atas” itu makin terang. Manajemen Bre-X yang tak berpengalaman berurusan dengan birokrasi di Indonesia baru terbuka matanya. Proposal kontrak karya yang menjadi dasar hukum bagi operasi Bre-X di Busang tak kunjung turun dari kantor Departemen Pertambangan.

Merasa kepepet, Bre-X datang kepada Sigit Harjojudanto, adik Siti Hardijanti atau anak kedua Presiden Soeharto. Bre-X dan PT Panutan Duta, perusahaan Sigit, sepakat menjalin “kerja sama strategis”. Sebagai “konsultan” Bre-X, Panutan akan mendapatkan 10 persen saham Bre-X dan komisi sebesar US$ 1 juta per bulan selama 40 bulan.

Pada 2 November 1996, kedua pihak diundang ke kantor Menteri Sudjana. Pertemuan itu sangat singkat. Menteri Sudjana membacakan pernyataan tertulis bahwa Barrick akan mendapatkan 75 persen, sementara jatah untuk Bre-X, 25 persen, di tambang Busang. Sudjana memberi waktu delapan hari bagi kedua pihak untuk “menerjemahkan” perintah itu.

Palu telah diketok. David Walsh dan John Felderhof hanya bengong mendengar pernyataan Menteri. “Aku menduga orang-orang Barrick itu juga terkejut,” kata John. “Perjodohan” yang “dicomblangi” Menteri Sudjana itu tak terjadi. Dasar tak ada “jodoh”, Bre-X tak pernah “berpasangan” dengan Barrick. Di tengah “kegelapan” masa depan Bre-X itulah Mohamad Hasan masuk.

Hasan, yang lebih populer dipanggil Bob Hasan, adalah sobat Presiden Soeharto sejak masih perwira menengah di Jawa Tengah. Bukan hanya teman main golf Presiden, Bob juga orang kepercayaan Keluarga Cendana dalam banyak urusan. Beberapa hari setelah Hari Valentine pada 1997, “perkawinan” itu terlaksana. Bukan antara Bre-X dengan Barrick Gold maupun Placer Dome.

Butiran emas hasil penambangan tradisional di Papua.
Foto: Ulet Ifansasti/Getty Images

“Pasangan” bagi Bre-X adalah Freeport dan PT Nusantara Ampera Bakti (Nusamba). Saham Nusamba dimiliki oleh Bob Hasan, Sigit Harjojudanto, dan tiga yayasan yang didirikan Presiden Soeharto. Dalam perjodohan yang dicomblangi Bob Hasan itu, Bre-X akan mendapat 45 persen saham tambang Busang, Freeport 15 persen, Nusamba 30 persen, dan pemerintah Indonesia 10 persen. Freeport berkewajiban menyediakan modal untuk operasi tambang Busang.

“Kami ingin mengucapkan selamat dan terima kasih kepada Bapak Mohamad Hasan atas panduannya selama negosiasi yang panjang ini,” kata David Walsh kepada New York Times. “Bulan madu” pasangan ini hanya berumur sebulan. Pada 12 Maret 1997, James Moffet, bos Freeport, menelepon David. Dia minta David, yang tengah bersukacita di Kanada, segera terbang ke Jakarta. “Sebenarnya aku tak suka menginterupsi kesenangan mereka,” ujar James. 

Masalahnya, hasil uji independen oleh geolog Freeport tak menemukan ada emas di tambang Busang. Bre-X mengirim Michael de Guzman ke Busang. Tapi dia tak pernah sampai ke Busang, di mana para geolog Freeport tengah menantinya. Strathcona Mineral Services, perusahaan Kanada yang diminta menguji ulang sampel Bre-X, malah menemukan bukti mengejutkan.

Tim Strathcona yakin para geolog Bre-X sengaja memalsukan sampel dengan menambahkan emas ke dalam sampel yang diuji oleh Indo Assay. “Skala pemalsuan sampel seperti ini belum pernah kami temui sepanjang sejarah pertambangan,” Strathcona menulis kesimpulan. Maka bubar pula “perkawinan” Bre-X, Freeport, dan Nusamba.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE