INTERMESO

Kisah Kandasnya
Mega-Hasyim

“Kalau saja pada Pemilu 2004 kami bisa menang, saya akan
berusaha all out untuk Indonesia.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 17 Maret 2017

Kiai Ahmad Hasyim Muzadi tak hanya dikenal sebagai ulama besar Nahdlatul Ulama. Mantan Ketua Umum Pengurus Besar NU ini pernah terjun di kancah politik, ikut pemilihan presiden dan wakil presiden pada 2004.

Hasyim saat itu menjadi cawapres mendampingi Megawati Soekarnoputri. Saat itu pencalonan Hasyim sebagai pendamping Megawati terbilang sangat mengejutkan. Pasalnya, sebelumnya sejumlah calon melamar untuk dipasangkan dengan Megawati, seperti Prabowo Subianto, Hamzah Haz, Nurcholis Madjid, Hidayat Nur Wahid, dan Aburizal Bakrie.

Memang, menjelang Pilpres 2004, Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan memutuskan calon pendamping Ketua Umum Megawati sebagai capres adalah tokoh yang lebih agamis. Saat itu mengerucut pada dua tokoh, yaitu Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan Hamzah Haz dan Hasyim.

Megawati dan Hasyim Muzadi saat maju bersama dalam pilpres 2004.
Foto: Darren Whitesid/Reuters


Kami berdua sama-sama orang yang akan berjuang demi kepentingan rakyat Indonesia.”

Demi menggaet Hasyim, Megawati mengutus petinggi PDIP untuk sowan kepada kiai Langitan di Tuban, Jawa Timur, yaitu KH Abdullah Faqih (almarhum). Saat itu juga Hasyim didekati tokoh Partai Golkar agar mau menjadi cawapres. Hasyim juga didekati Partai Hanura agar mau dipasangkan dengan Wiranto.

Dalam buku Megawati: Anak Putra Sang Fajar, yang ditulis tim Yayasan Kusuma Pertiwi, Hasyim menorehkan kesannya tentang Megawati. Hasyim memang sejak muda dikenal sebagai pengagum perjuangan Bung Karno (Sukarno). Bung Karno, menurut Hasyim, adalah tokoh pejuang nasionalis sejati, yang hanya berbuat untuk bangsa dan negara. Dan perjuangannya itu kini diteruskan oleh putri sulungnya, Megawati.

Hasyim menganggap Megawati sebagai sosok politikus yang teguh hatinya dalam memperjuangkan cita-cita dan ingin berbuat banyak untuk bangsa dan negara. Keteguhan dan perjuangannya itu tentu dengan penyatuan prinsip-prinsip ajaran Bung Karno.

Mantan wakil presiden Hamzah Haz
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Megawati memang sempat menggantikan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Presiden RI. Namun waktunya sangat singkat sehingga dinilai belum maksimal berbuat untuk bangsa dan negara.

Sayang, dalam pesta demokrasi Pilpres 2004, Megawati harus menerima kekalahan dari pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. Begitu juga pada Pemilu 2009, Megawati gagal memenangi pertarungan. Tapi, secara keseluruhan, menurut Hasyim, sebagai tokoh politik perempuan, Megawati sudah teruji ketahanannya. Tekanan politik sejak zaman Orde Baru hingga konflik internal dihadapi Megawati dengan tetap tegar.

Tak salah bila Hasyim mensejajarkan Megawati dengan tokoh politik perempuan lain di dunia, seperti mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher, yang dijuluki Wanita Besi. Juga dengan Benazir Bhutto (Pakistan), Cory Aquino (Filipina), Sonia Ghandi (India), hingga Hillary Clinton (Amerika Serikat).

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
Foto: Andry Novelino/CNN Indonesia

Atas keteguhan Megawati itu, yang juga bisa memilah urusan keluarga dan kepentingan politiknya, Hasyim bersedia ketika diminta membantu Megawati sebagai calon wakil presiden di Pilpres 2004. “Padahal, terus terang, sudah ada beberapa calon lain yang telah ‘melamar’ saya,” ungkap Hasyim yang dituangkan dalam buku Megawati: Anak Putra Sang Fajar.

Pertimbangan lainnya, menurut Hasyim, berduet dengan Megawati penting dan aman untuk masa depan bangsa dan negara, khususnya tentang eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Kami berdua sama-sama orang yang akan berjuang demi kepentingan rakyat Indonesia,” dia menegaskan.

Namun pasangan Megawati-Hasyim ini kandas. Keduanya kalah dalam perolehan suara pada putaran kedua Pilpres 2004. Pasangan Megawati-Hasyim saat itu memperoleh 39,38 persen suara atau 44.990.704 suara rakyat, kalah dari pasangan SBY-JK, yang saat itu mengumpulkan 60,62 persen suara atau 69.266.350 suara rakyat.

Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla
Foto: Safir Makki/CNN Indonesia

“Kalau saja pada Pemilu 2004 kami bisa menang, saya akan berusaha all out untuk Indonesia. Saya yakin kami berdua bisa bahu-membahu membangun Tanah Air sebagaimana dicita-citakan founding father. Namun Tuhan mempunyai rencana lain,” ujar Hasyim.

Wafatnya KH Hasyim Muzadi tentu saja membuat Megawati bersedih. Ia menyampaikan pesan dukacita kepada partnernya dalam Pilpres 2004 itu, yang dinilai sebagai sosok yang penuh welas asih. Megawati sejak 2004 terus menjaga persahabatan dengan Hasyim hingga kini.

“Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menyampaikan dukacita yang mendalam atas wafatnya Kiai Hasyim,” ujar Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dalam pesan tertulisnya, Kamis, 16 Maret.

Tokoh Islam Indonesia dan mantan Ketua Umum Nahdlatul Ulama Kiai Haji Ahmad Hasyim Muzadi
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

“Selamat jalan, Kiai Hasyim Muzadi menemui Sang Khalik. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan semoga khusnul khotimah…. Amin,” ucap Megawati seperti diutarakan Hasto.


Reporter/Penulis: M. Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE