INTERMESO
Dulu komunitas di Koja, Jakarta Utara, ini memakai bahasa serapan Portugis. Kini tak ada lagi penuturnya.
Ilustrasi: Edi Wahyono
"Apa manfaat ekonomi yang diperoleh dengan mempertahankan bahasa daerah?" seorang peserta “Konferensi Internasional Bahasa, Budaya, dan Masyarakat” di Jakarta beberapa waktu lalu bertanya kepada Sarwo Ferdi Wibowo, peneliti dari Balai Bahasa Provinsi Bengkulu. Jika duit yang jadi ukuran, Sarwo pun tak punya jawabannya.
Ada lebih dari 720 bahasa daerah dari Sabang hingga Merauke. Tapi jumlah penutur 13 bahasa, yakni bahasa Jawa, Sunda, Melayu, Madura, Minang, Batak, Bugis, Bali, Aceh, Sasak, Makassar, Lampung, dan Rejang, sudah mengambil porsi 70 persen penduduk Indonesia. Ada sekitar 220 bahasa daerah yang jumlah penuturnya kurang dari 500 orang.
Bahkan ada beberapa bahasa yang penuturnya tak ada lagi. Bahasa Kreol dari Kampung Tugu di Kecamatan Koja, Jakarta Utara, salah satunya. “Bahasa Kreol Tugu memang sudah punah,” kata Arif Budiman, peneliti dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Arif mendapatkan gelar master dalam studi Portugis bidang pengajaran bahasa Portugis dari Universidade Nova de Lisboa, Portugal.

Xanana Gusmao, mantan Presiden Timor Leste, di kampung Tugu, Jakarta Utara
Foto: Melissa Bonauli/detikTravel
Bahasa Kreol Tugu memang sudah punah.”
Arif Budiman, peneliti dan dosen di Fakultas Ilmu Budaya UIBersama seniornya di kampus, Lilie Suratminto, Arif pernah meneliti bahasa Kreol, bahasa yang dipakai orang-orang dari kampung Tugu secara turun-temurun. Konon, leluhur orang-orang Tugu ini adalah para budak Portugis pada abad ke-16. “Bahasa itu masih digunakan dalam ritual. Ada satu-dua kata yang dipakai. Menyanyi pun mereka masih pakai bahasa Kreol. Tapi untuk percakapan sehari-hari sudah tidak terpakai…. Penutur aktifnya sudah tidak ada,” kata Arif.
Padrao alias batu prasasti yang kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia menjadi bukti kedatangan penjelajah Portugis di Batavia bertahun-tahun sebelum Belanda. Prasasti yang bertanggal 21 Agustus 1522 itu ditemukan di persimpangan Jalan Kali Besar Timur I dan Jalan Cengkeh, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
Dalam prasasti itu termuat kesepakatan Portugis dengan Kerajaan Pasundan yang berkuasa di wilayah Jakarta dan Jawa Barat kala itu. Raja Pasundan Surawisesa Jayaperkasa memberikan keleluasaan kepada kapal-kapal Portugis untuk bersandar di pelabuhan di mulut Sungai Ciliwung. Menurut catatan Joao de Barros dalam bukunya, Da Asia, Kerajaan Sunda juga memberikan sepetak tanah kepada penguasa Portugis di Malaka untuk membangun benteng tak jauh dari pelabuhan tersebut.

Pesta mandi-mandi di Kampung Tugu, Koja, Jakarta Utara
Foto: Melissa Bonauli/detikTravel
Pengaruh Portugis di Kerajaan Pasundan dan Malaka tak bertahan lama. Perlahan, penguasa kolonial Belanda menggeser dominasi Portugis. Kekuasaan Portugis di Malaka tamat setelah ditaklukkan pasukan Belanda pada 1641. Belanda mengumpulkan budak-budak dan kuli Portugis di India, Sri Lanka, dan Semenanjung Malaya dan mengangkutnya ke Batavia.
Kaum mardijker atau mardika, orang-orang yang dibebaskan ini, jumlahnya lumayan banyak. Pada 1699, ada 2.407 mardijker di Batavia. Perusahaan dagang Hindia Belanda (VOC) banyak memanfaatkan tenaga mereka. Bahkan pada 1628, menurut Paramita Rahayu Abdurrachman dalam bukunya, Bunga Angin Portugis di Nusantara, dua kompi tentara mardika turut bertempur di pihak VOC melawan prajurit-prajurit Mataram.
Atas jasa-jasa mereka, VOC menghadiahkan sepetak tanah bebas pajak di sisi timur Kota Batavia kepada kaum mardika. Mereka inilah nenek moyang penduduk Kampung Tugu di Kelurahan Semper Barat, Koja, Jakarta Utara. Walaupun sudah lewat hampir empat abad, pengaruh Portugis di Kampung Tugu belum luntur. Selain tampak dari fisik para keturunannya dan pilihan namanya, jejak itu juga bisa disimak dari bahasa mereka.
Keroncong Tugu dari Kampung Tugu
Foto: Melissa Bonauli/detikTravel
Pada 1930-an, Jacobus Quiko berhasil mengumpulkan sekitar 600 kata dari bahasa Kreol Tugu yang kemungkinan besar diserap dari bahasa Portugis. Misalnya kabesa, dalam bahasa Portugis, cabeca, yang berarti kepala. Ada pula toma moeler, yang diserap dari bahasa Portugis, toma mulher, dan dalam bahasa Indonesia artinya menikah.
Selama ratusan tahun, orang-orang Tugu yang berasal dari pelbagai daerah yang pernah jadi wilayah kekuasaan Portugis menyerap banyak kata dalam bahasa mereka dari pelbagai adat budaya seperti Melayu dan Belanda. “Memang yang dominan bahasa Portugis, tapi tata bahasanya tidak sama lagi dengan bahasa Portugis,” Arif menjelaskan. Bahasa Portugis mengenal gender dan konjugasi verba. “Bahasa Kreol Tugu tak ada hal seperti itu…. Bahasa Tugu mirip struktur bahasa Indonesia, tapi kata-katanya dari serapan bahasa Portugis.”
Sayang, tak ada lagi penutur bahasa Kreol di Kampung Tugu. Bahasa Kreol Tugu ikut mati bersama meninggalnya Oma Mimi Abrahams, yang meninggal empat tahun lalu pada usia 80 tahun. Penutur lainnya, Fernando Quiko, putra Jacobus Quiko, meninggal tujuh tahun sebelumnya.
Arif punya “teori” penyebab kepunahan bahasa Kreol. “Bahasa ini lebih banyak dipakai kaum laki-laki. Dipakai sebagai bahasa rahasia,” kata Arif. Lantaran dipakai di kalangan sangat terbatas, setiap generasi makin langka yang menguasainya. Apalagi, hingga tahun 1970-an, beberapa kali terjadi eksodus warga keturunan mardika ke negeri Belanda. Sedangkan anak-anak yang tinggal di Kampung Tugu tumbuh besar dan belajar di sekolah dengan bahasa Indonesia. Kalau segala hal ditakar dengan keuntungan ekonomi, barangkali memang tak ada untungnya mempertahankan bahasa Kreol Tugu.
Johan Sophaheluakan, juru bicara komunitas Tugu, mengatakan ada sekitar 300 keluarga tinggal di kampung mereka. Tapi kondisi mereka terus dikepung oleh tumpukan peti kemas. Kampung ini memang tak seberapa jauh dari pelabuhan.
Rata-rata keluarga Tugu hidup pas-pasan. Beberapa tahun lalu, kata Johan, komunitas Tugu ikut konferensi komunitas Portugis di Asia. Hadir dalam konferensi itu perwakilan komunitas keturunan Portugis di Malaysia, Australia, Jepang, dan beberapa negara lain. “Kami yang paling terbelakang,” kata Johan.
Reporter: Melisa Mailoa, Pasti Liberti
Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.