INTERMESO
Dari Kampung Tugu di Koja, Jakarta Utara, keroncong menyebar ke seluruh Nusantara. Dibawa pelaut Portugis ratusan tahun silam.
Ilustrasi: Edi Wahyono
Di Jakarta, Paramita Rahayu Abdurrachman adalah anak pendatang. Ada darah Jawa dan Aceh yang mengalir dalam tubuhnya. Tapi sejak kecil tinggal di Jakarta—dia lahir pada 1920 dan meninggal pada 1988—Paramita dan keluarganya dengan senang hati menyerap budaya Betawi dan budaya-budaya pendatang di Ibu Kota.
Satu musik yang sudah akrab di kupingnya sejak kecil adalah musik keroncong. “Dalam telinga anak-anak, lagu keroncong terdengar lebih romantis,” Paramita menulis di majalah Budaya Jaya pada 1977. Sebagai keluarga lumayan berada, kuping Paramita juga tak asing dengan lagu-lagu berbahasa Belanda. Pamannya, Achmad Soebardjo, merupakan Menteri Luar Negeri pertama Indonesia.
Dari Cikini ke Gondangdia
…Siapakah dia?
Indung-indung,
indunglah disayang
La la la la la la
Ach mijn zoetlief
Geef mij en kusje
Op mijn bolle wang
Video: YouTube
Lirik lagu keroncong dengan bahasa gado-gado ini menunjukkan bahwa lagu tersebut memang bukan asli negeri ini, walaupun belakangan keroncong juga beradaptasi dengan budaya di setiap zaman dan setiap tempat dia hidup. Pada masa penjajahan Jepang, Paramita, yang di kemudian hari menekuni pekerjaan sebagai peneliti sosial, mencatat musik keroncong juga berubah mengikuti zaman.
“Iramanya menjadi lebih lamban, dan mandolin digantikan gitar,” Paramita menulis. Demikian pula keroncong di Jawa. Berbeda dengan irama Keroncong Tugu yang riang dan cepat, keroncong di Jawa lebih pelan dan mengalun mendayu-dayu.
Adalah lagu Morisco, menurut A.Th. Manusama, peneliti keroncong pada awal 1900-an, yang merupakan “induk” dari musik keroncong. Tapi Manusama tak menyebut dan menelusuri siapa pencipta lagu ini dan berasal dari mana. Merujuk sejumlah sumber, profesor musik di Institut Seni Indonesia, Victor Ganap, yakin bahwa Morisco punya kaitan sangat erat dengan Portugis.
Salah satu rujukan Ganap adalah esai yang ditulis musikolog dari Australia, Bronia Kornhauser, pada 1973, In Defence of Kroncong. Menurut Bronia, kroncong alias keroncong merupakan bukti pengaruh Portugis di Indonesia. Diperkirakan, sebelum masuk ke Batavia, keroncong sudah dikenal lebih dulu oleh koloni Portugis di Maluku. Dari Maluku, lewat perantara kuli dan budak Portugis, keroncong masuk ke Batavia.

Keroncong Tugu dari Kampung Tugu
Foto: Melisa Mailoa/detikX
Di masing-masing rumah itu, kami bawakan lagu bisa sampai tiga kali nyanyian.”
Johan Sophaheluakan, juru bicara komunitas TuguPadrao alias batu prasasti yang kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia menjadi bukti kedatangan penjelajah Portugis di Batavia bertahun-tahun sebelum Belanda. Prasasti yang bertanggal 21 Agustus 1522 itu ditemukan di persimpangan Jalan Kali Besar Timur I dan Jalan Cengkeh, kawasan Kota Tua, Jakarta Barat.
Dalam prasasti itu termuat kesepakatan antara Portugis dan Kerajaan Pasundan yang berkuasa di wilayah Jakarta dan Jawa Barat kala itu. Raja Pasundan Surawisesa Jayaperkasa memberikan keleluasaan kepada kapal-kapal Portugis untuk bersandar di pelabuhan di mulut Sungai Ciliwung. Menurut catatan Joao de Barros dalam bukunya, Da Asia, Kerajaan Sunda juga memberikan sepetak tanah kepada penguasa Portugis di Malaka untuk membangun benteng tak jauh dari pelabuhan tersebut.
Pengaruh Portugis di Kerajaan Pasundan dan Malaka tak bertahan lama. Perlahan, penguasa kolonial Belanda menggeser dominasi Portugis. Kekuasaan Portugis di Malaka tamat setelah ditaklukkan pasukan Belanda pada 1641. Belanda mengumpulkan budak-budak dan kuli Portugis di India, Sri Lanka, dan Semenanjung Malaya serta mengangkutnya ke Batavia.
Kaum mardijker atau mardika, orang-orang yang dibebaskan ini, jumlahnya lumayan banyak. Pada 1699, ada 2.407 mardijker di Batavia. Perusahaan dagang Hindia Belanda (VOC) banyak memanfaatkan tenaga mereka. Bahkan pada 1628, menurut Paramita Rahayu Abdurrachman dalam bukunya, Bunga Angin Portugis di Nusantara, dua kompi tentara mardika turut bertempur di pihak VOC melawan prajurit-prajurit Mataram. Atas jasa-jasa mereka, VOC menghadiahkan sepetak tanah bebas pajak di sisi timur Kota Batavia kepada kaum mardika. Mereka inilah nenek-moyang penduduk Kampung Tugu, di Kelurahan Semper Barat, Koja, Jakarta Utara.

Keroncong Tugu dari Kampung Tugu
Foto: Melisa Mailoa/detikX

Foto: Melisa Mailoa/detikX

Foto: Melisa Mailoa/detikX
Dalam bukunya, Portuguese Influences in Indonesia, Antonio Pinto da Franca menulis, ada tiga lagu yang jadi induk musik keroncong, yakni Morisco, Kafrinyu, dan Prounga. Dari judul dan liriknya, ketiga lagu itu jelas berasal dari budaya Portugis. Kafrinyu, diserap dari kata cafrinha, berarti lagu tarian yang menggambarkan seorang keturunan Afrika di Goa, India.
Dulu, sekitar lima abad silam, para budak dari Cape Verde, negara kecil di barat Benua Afrika, menurut Victor Ganap dalam artikelnya, Portugis dan Keroncong, kerap diminta menyanyikan Fido untuk mengiringi tarian Morisco. Tarian ini kemungkinan besar dipengaruhi budaya Islam Moor dari Afrika Utara. Tarian Morisco sangat populer di kalangan elite Kerajaan Portugis. Lantaran sering jadi pengiring tarian Morisco, lagu Fido kemudian disebut pula lagu Morisco.
Lagu Morisco inilah, bersama gitar Portugis, Cavaquinho, yang berlayar sampai sangat jauh bersama pelaut-pelaut Portugis hingga perairan Nusantara. Lantaran sifatnya yang egaliter, tak memandang kelas sosial, musik Morisco, yang telah bersalin nama menjadi keroncong, cepat berkembang di Indonesia.

Foto: Melisa Mailoa/detikX
Di Kampung Tugu, Koja, Jakarta Utara, sejak ratusan tahun lalu keroncong sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap acara. Di kampung itu, gitar Cavaquinho digantikan oleh tiga gitar keroncong dengan tiga ukuran: jitera yang paling besar, macina, dan prunga, gitar keroncong terkecil. Johan Sophaheluakan, juru bicara komunitas Tugu, menuturkan, beberapa hari setelah perayaan Natal, warga biasanya bertandang dari rumah ke rumah.
“Biasanya dimulai dari gereja atau rumah para tetua atau pemain keroncong…. Di masing-masing rumah itu kami bawakan lagu bisa sampai tiga kali nyanyian karena kami memang berkeliling sambil menenteng alat-alat musik keroncong,” kata Johan beberapa waktu lalu. Musik keroncong pula yang mengiringi ritual mandi-mandi di bulan Januari, di mana warga Kampung Tugu saling bermaafan dengan mengusapkan bedak basah ke wajah.
Reporter: Melisa Mailoa, Pasti Liberti
Penulis: Pasti Liberti
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.