INTERMESO

Tak Ada Emas, 'Kuburan' Pun Dilibas

“Merusak makam perang adalah satu pelanggaran serius.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Senin, 6 Maret 2017

Theo Doorman, 82 tahun, sungguh berduka menyaksikan nasib “kuburan” ayahnya, Laksamana Muda Karel Doorman. Persis 75 tahun lalu, pada 27 Februari 1942, Karel Doorman tewas tenggelam bersama 345 prajurit dan kapalnya, HNLMS De Ruyter, di Laut Jawa.

Kapal perang Angkatan Laut Belanda itu karam setelah dihajar torpedo yang ditembakkan kapal armada Jepang, Haguro. Pada hari itu, De Ruyter bukan satu-satunya kapal Belanda, juga armada Sekutu, yang tenggelam di Laut Jawa.

Dalam pertempuran di Laut Jawa pada akhir Februari itu, armada Sekutu dihajar armada Jepang. Mereka kehilangan HNLMS De Ruyter, HNLMS Java, HNLMS Kortenaer, HMS Jupiter, dan HMS Exeter. Lebih dari 2.000 tentara Sekutu tewas terkubur di Laut Jawa, termasuk Laksamana Muda Karel Doorman, Panglima Pasukan Pemukul Komando Amerika-Inggris-Belanda-Australia, dan 900 prajurit Belanda.

Theo datang ke Indonesia bersama tim dari Belanda beberapa bulan lalu untuk memfilmkan lokasi tenggelamnya kapal-kapal itu. Pemerintah Belanda dan Australia berencana memperingati 75 tahun Perang Laut Jawa. Tapi apa yang mereka temukan benar-benar tak disangka. “Kuburan” itu sudah hilang.

Bangkai kapal-kapal perang yang jadi makam ribuan tentara Sekutu, termasuk tentara Belanda, tersebut tak ada lagi jejaknya di dasar Laut Jawa. “Aku sangat sedih. Tidak marah, karena marah tak akan membawa ke mana-mana,” kata Theo kepada BBC. “Selama berabad-abad, ada kesepakatan untuk tak mengganggu makam pelaut. Tapi hal itu terjadi di sini.”

HNLMS Java milik Angkatan Laut Kerajaan Belanda
Foto: dok. Wikimedia

Dua bangkai kapal, yakni De Ruyter dan Java, menurut Kementerian Pertahanan Belanda, sudah benar-benar hilang. Satu kapal Belanda lagi, HNLMS Kortenaer, bolong besar di lambungnya. “Merusak makam perang adalah satu pelanggaran serius,” Kementerian Pertahanan Belanda menyampaikan pernyataan, dikutip Guardian.  

“Kami semua sangat terkejut, benar-benar shock mengetahui kapal-kapal itu telah hilang,” kata Paul Middelberg, juru bicara Kementerian Pertahanan Belanda, kepada CNN.

Ternyata bukan hanya kapal-kapal perang Belanda yang jadi korban para penjarah besi di laut ini. Dua kapal perang Inggris yang tenggelam dalam pertempuran di Laut Jawa, HMS Exeter dan HMS Encounter, juga jadi korban penjarahan. Bahkan kapal selam Amerika, USS Perch, tak luput dari ulah penjarah-penjarah besi tua.

Demikian pula kapal perang Australia, HMAS Perth, yang tenggelam dalam baku tembak di Selat Sunda pada 1 Maret 1942, juga jadi korban penjarahan. “Kecuali orang-orang dari generasi selanjutnya bicara, tak ada yang melindungi peninggalan orang-orang hebat itu,” kata Colin Bancroft kepada Sydney Morning Herald. Ayahnya, Arthur Bancroft, salah satu prajurit yang ada di HMAS Perth.

Selama Perang Dunia II, Laut Jawa, juga Selat Sunda, merupakan kuburan besar bagi kapal-kapal perang pasukan Sekutu dan Jepang. Dalam pertempuran di Laut Jawa pada Februari hingga Maret 1942, Belanda, Australia, Inggris, Amerika dan lawannya, Jepang, sama-sama kehilangan kapal dan prajurit.

Dalam pertempuran di Selat Sunda pada Maret 1942, Angkatan Laut Amerika kehilangan USS Houston, yang tenggelam bersama lebih dari 750 prajuritnya. Dua tahun lalu, tim ekspedisi bersama Indonesia dan Amerika Serikat menemukan kuburan USS Houston. Sebagian besi dan komponennya sudah hilang dijarah.

Kapal perang Angkatan Laut Belanda, HNLMS De Ruyter, tenggelam di Laut Jawa pada akhir Februari 1942
Foto: dok. Wikimedia


Penjarahan bangkai kapal-kapal perang ini terang bukan dilakukan oleh nelayan-nelayan nakal. Beberapa bangkai kapal perang itu berada pada kedalaman puluhan meter. Kapal-kapal perang Belanda, misalnya, ada di kedalaman laut 60-70 meter.

“Nyaris tak mungkin untuk mengangkat bangkai kapal-kapal itu…. Lokasinya terlalu dalam,” kata Paul Koole dari perusahaan pengangkatan muatan di laut, Mammoet. Menurut Mark Staniforth, arkeolog asal Universitas Flinders, Australia, harga besi tua dari kapal perang lumayan mahal. “Baling-baling perunggu bisa dijual US$ 50 ribu (sekitar Rp 650 juta).”

Apakah nilai besi-besi tua itu sebanding dengan ongkos untuk mengangkatnya bukan soal penting lagi. Nyatanya, bangkai kapal-kapal perang yang beratnya ribuan ton itu tak ada lagi di dasar laut. Kementerian Pertahanan Belanda sudah melayangkan surat “protes” kepada pemerintah Indonesia soal hilangnya “kuburan” prajurit-prajurit mereka.

Pada pertengahan Februari lalu, pemerintah Belanda menyampaikan hasil investigasi tim gabungan Indonesia-Belanda atas kasus hilangnya kapal-kapal perang tersebut. Tim penyelam dari Yayasan Karel Doorman, pemerintah Belanda menulis pernyataan, telah menyelam dan membuktikan bahwa bangkai kapal-kapal itu memang dijarah. Hasil investigasi sudah dikirim kepada Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains, Jet Bussemaker.

Mereka minta pemerintah Indonesia bertanggung jawab…. Tanggung jawab yang bagaimana?”

Harry Widianto, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Pemuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

USS-Houston, kapal Angkatan Laut Amerika Serikat, tenggelam setelah bertempur melawan armada Jepang di Selat Sunda pada Maret 1942
Foto: dok. Naval Institute

HMS Exeter, kapal perang Inggris yang tenggelam dalam pertempuran di laut Jawa pada Maret 1942
Foto: dok. Imperial War Museum


Dia, kata Harry Widianto, Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Pemuseuman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah menerima dan membaca surat “protes” dari Pemerintah Belanda. Pemerintah Indonesia, menurut Harry, tak bisa disalahkan atas hilangnya kapal-kapal Belanda dari Perang Dunia II.

Orang-orang dari Belanda sudah menyelam di lokasi hilangnya kapal-kapal perang itu sejak 2002. “Mereka melakukan penyelaman secara ilegal tanpa diketahui dan tanpa izin dari pemerintah Indonesia,” kata Harry kepada detikX, pekan lalu. Informasi soal lokasi kapal-kapal itu, menurut dia, hanya diketahui oleh para penyelam tersebut. “Hanya mereka yang tahu lokasinya…. Kami sendiri nggak tahu sama sekali.”

Karena itulah, dia keberatan jika pemerintah Belanda menuntut tanggung jawab pemerintah Indonesia. “Mereka minta pemerintah Indonesia bertanggung jawab…. Tanggung jawab yang bagaimana?” kata Harry. Justru, kata dia, pemerintah Belanda yang mesti minta maaf lantaran menyelam di perairan Indonesia tanpa izin. “Sekarang sudah clear…. Mereka sudah minta maaf dan tidak mempersalahkan kita lagi.”

Urusan menjaga lokasi kapal-kapal yang tenggelam di tengah laut memang masalah pelik. Sebagian lokasi tenggelamnya kapal berada sangat jauh dari daratan. Kementerian Kebudayaan, kata Harry, tak punya kemampuan dan sumber daya untuk menjaga semua benda-benda berharga di dasar laut Nusantara.

Urusan menjaga "kuburan" di laut mestinya memang wewenang dan tanggung jawab TNI Angkatan Laut. Ada dua cara, menurut Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi, untuk menjaga bangkai kapal-kapal perang. Bisa dengan sistem pemantauan atau surveillance system, bisa pula dengan patroli. "Patroli baru bisa dilakukan kalau sudah tahu lokasinya," kata Laksamana Ade. Dan tentu saja, jika sudah ada kesepakatan kerja sama antara pemerintah Belanda dan Jakarta.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE