INTERMESO
"Kepada saya diceritakan dahsyatnya potensi harta karun Indonesia."
Ilustrasi: Edi Wahyono
Baru sekitar 15 menit berada di dasar perairan Batu Belubang, Kepulauan Riau, Gogo Kamargo mencium datangnya bahaya. Arus laut mulai terasa menguat di kedalaman 35 meter. Pelan tapi pasti kecepatan arus terus bertambah. Keramik-keramik dari Dinasti Sung yang sudah ada di tangannya segera diletakkan kembali.
Dengan kode tangan, ia mengajak rekan-rekannya berhenti bekerja. Mereka bergegas menuju tali pandu yang tersambung dengan kapal di permukaan laut. Mereka naik ke permukaan dengan berpegang pada tali. "Untungnya kami cepat tanggap karena arus dasar laut saat itu datang seperti air bah," ujar Gogo kepada detikX di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Senin (27/2).
Gogo adalah salah seorang penyelam yang khusus bekerja untuk pengangkatan harta karun bawah laut. Pria berusia 33 tahun itu dikontrak PT Cosmix Asia, perusahaan pengangkatan benda muatan kapal tenggelam (BMKT) sejak 2010. Dari Mei 2015 sampai akhir 2016, PT Cosmix Asia mendapat izin dari pemerintah untuk mengangkat barang-barang muatan kapal dari zaman Dinasti Sung yang karam di wilayah perairan Kepulauan Riau.
Arus laut bukan satu-satunya bahaya yang mengintai keselamatan para penyelam harta karun. Tak jarang, ada ular laut, yang racunnya sangat mematikan, bersembunyi di antara timbunan muatan kapal tenggelam itu. Tak mau main-main menantang bahaya, penyelam lebih suka mengalah jika bertemu dengan ular-ular ini.

Penyelam yang dikontrak oleh PT Cosmix Asia sedang mengangkat harta karun di dasar laut, beberapa tahun lalu.
Foto: dok. Cosmix Asia
Tidak menyelam karena terhalang cuaca pun mereka tetap dibayar sama."
Harry Satrio, Direktur Utama Cosmix Asia"Setelah ularnya minggir, kami baru kerja. Kalau tidak, pekerjaan dilanjutkan besok," kata pria asal Bengkulu ini. Para penyelam pun harus bisa mengenali ikan-ikan di laut dalam. Kalau tak berpengalaman, ikan lepu bisa disangka batu. "Bisa demam seminggu kalau kami main pegang ikan lepu."
Gogo belajar menyelam saat kuliah di Universitas Bung Hatta, Padang, pada 2001. Ia saat itu mengambil Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan. "Sekedar hobi dan menunjang kuliah saja," katanya. Ia mengaku sangat tertarik pada terumbu karang yang kemudian hari menjadi objek penelitiannya untuk skripsi. Saat selesai kuliah, penyelam dua bintang ini menjadikan penyelaman sebagai mata pencarian. Gogo bekerja lepas sebagai pengambil data untuk peneliti. "Saya kolektor data potensi stok karang, kondisi terumbu karang, dan proses pemulihan ekosistem terumbu karang."
Enam tahun bekerja sebagai penyelam lepas, Gogo bertemu dengan Harry Satrio, pendiri PT Cosmix Asia. Harry saat itu memang sedang mencari penyelam profesional untuk perusahaan yang baru didirikannya. "Kepada saya diceritakan bagaimana dahsyatnya potensi harta karun Indonesia," ujar Gogo.
Konon, ada lebih dari 460 titik lokasi kapal tenggelam yang memuat barang-barang berharga dari ujung barat perairan Indonesia hingga perairan Papua di timur sana. Asosiasi Perusahaan Pengangkatan dan Pemanfaatan Benda Berharga Asal Muatan Kapal yang Tenggelam Indonesia menaksir nilai harta karun yang terkubur di perairan Nusantara bisa lebih dari Rp 100 triliun. Siapa yang tak ngiler melihat duit sebanyak itu.

Galeri benda muatan kapal tenggelam di gedung Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Kapal milik Kerajaan Portugis, Flor de la Mar, misalnya, diduga mengangkut ratusan ton emas saat tenggelam di wilayah perairan sebelah timur Kerajaan Samudera Pasai (kini Aceh) pada 20 November 1511. Alfonso de Albuquerque, komandan tentara Portugis, berniat mengangkut harta jarahan dari Kerajaan Malaka untuk dipersembahkan kepada Raja Portugis saat kapalnya dihantam badai dan karam.
Pemburu harta karun Robert F. Marx dan istrinya, Jenifer Marx, menggambarkan dalam buku mereka, Treasure Lost at Sea: Diving to the World’s Great Shipwrecks, betapa banyaknya harta rampasan yang hendak diangkut Alfonso. “Anak buahnya sampai kesulitan menjejalkan muatan emas permata itu,” pasangan Marx menulis. Robert Marx menaksir nilai seluruh muatan kapal ini bisa puluhan triliun rupiah. Hingga lima abad kemudian, sampai detik ini, belum ada pemburu harta karun yang berhasil menemukan “gunung emas” Flor de la Mar.
Mendengar kisah-kisah harta karun yang tersimpan di bawah laut Indonesia, Gogo tertantang. Ia memutuskan beralih profesi dari pengumpul data-data kelautan menjadi seorang pemburu harta karun. "Saya akhirnya jadi treasure hunter, ha-ha-ha...," katanya diiringi tawa berderai.
Menjadi penyelam yang memburu harta karun bukan pekerjaan gampang. Gogo mengaku pernah melakukan survei di beberapa titik yang diprediksi ada muatan kapal tenggelam yang bernilai tinggi. "Saya nyelam sampai kedalaman 60-an meter, tapi ternyata nihil," ujarnya. Risiko semacam ini merupakan hal biasa bagi pemburu harta karun.
Karena penyelaman dilakukan sampai kedalaman puluhan meter, risiko yang dihadapi Gogo dan teman-temannya sama sekali tak kecil. Gogo mengatakan pengangkatan benda muatan kapal harus dilakukan orang yang betul-betul mengerti dan menguasai teknik penyelaman yang benar. "Penyelaman tak boleh serampangan. Semua demi keselamatan penyelamnya sendiri," dia memperingatkan. Ada banyak cerita penyelam harta karun yang mati lantaran tak paham cara menyelam yang benar, terutama saat menyelam di laut dalam.

Gogo Kamargo, penyelam yang bekerja untuk PT Cosmix Asia
Foto: dok. pribadi
Selain memperhitungkan arus bawah laut, penyelam harus pintar-pintar mengukur ketahanan tubuh. Dalam satu hari, satu orang penyelam turun ke dasar laut maksimal dua kali. "Turun jam 8 pagi, naik, istirahat, baru turun lagi jam 2 siang," kata Gogo. Durasi penyelaman pun tak bisa berjam-jam. "Idealnya 30-45 menit sekali turun." Seorang penyelam, kata Gogo, juga harus memperhatikan proses adaptasi tubuhnya pada tekanan air bawah laut. "Turun harus bertahap, naik juga bertahap. Minimal dua kali melakukan decompression stop di kedalaman tertentu."
Proses pengambilan benda-benda muatan kapal juga tak bisa asal main pungut dan main bongkar. Ratusan tahun ada di dasar laut, benda-benda berharga itu biasanya dalam keadaan terkubur lumpur atau pasir. "Tidak bisa asal angkat," kata Gogo. Lapisan yang menutupi, kata Gogo, harus dipindahkan dulu dengan mesin semprot atau isap. Lapisan yang bercampur dengan bebatuan harus disingkirkan dengan cara diisap agar tak memecahkan benda-benda yang kebanyakan berupa keramik atau guci. "Memindahkan pun harus hati-hati, satu per satu. Sudah hati-hati pun tetap ada saja yang pecah."
Dalam satu hari penyelaman, Gogo menuturkan, tak banyak benda yang bisa diangkat ke permukaan. "Paling banyak empat keranjang," ujarnya. PT Cosmix Asia dalam 1,5 bulan proses pengangkatan hanya bisa mengumpulkan sekitar 15 ribu item benda dalam berbagai bentuk.
Direktur Utama PT Cosmix Asia Harry Satrio mengatakan perusahaan tidak bisa memaksa para penyelamnya bekerja sepanjang waktu. "Kerja malam itu, selain mahal untuk keselamatan, hasilnya tidak bagus," kata Harry kepada detikX. Lantaran risiko yang dihadapi sangat tinggi, para penyelam dibayar lumayan mahal. Untuk penyelam dengan rating dua bintang mendapat bayaran minimum Rp 1 juta per hari. "Tidak menyelam karena terhalang cuaca pun mereka tetap dibayar sama."
Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.