INTERMESO

Semua demi Kim

“Aku tak senang masih tetap hidup karena aku tahu keluargaku di Korea Utara akan menderita lantaran aku memilih bertahan hidup.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 22 Februari 2017

Setahun lalu, Kementerian Pertahanan Amerika Serikat menerbitkan laporan soal taksiran Pentagon atas kemampuan tentara Korea Utara. Salah satu yang disorot dalam laporan ini adalah pasukan komando loyalis Dinasti Kim.

Pasukan khusus Korea Utara, menurut laporan Pentagon, terbagi dalam unit-unit lebih kecil. Unit-unit ini masing-masing punya spesialisasi khusus, mulai penyusupan, pengintaian, hingga operasi penculikan atau pembunuhan musuh-musuh Pyongyang. “Mereka sangat terlatih, punya perlengkapan sangat bagus, dan punya motivasi tinggi,” Pentagon, dikutip CNN, menulis kesimpulan.

Satu di antara kesatuan elite itu adalah Unit 525. Dua bulan lalu, Kim Jong-un, pemimpin tertinggi Korea Utara, menyambangi markas Unit 525 dan menyaksikan latihan besar-besaran pasukan khusus tersebut. Menurut Jong-un, seperti dikutip kantor berita Korea Utara, KCNA, Unit 525 merupakan kesatuan yang paling bisa dia andalkan.

Tugas utama kesatuan ini, kata Jong-un, adalah, ”Menyingkirkan semua kotoran manusia yang sekarang menghuni Istana Biru.” Istana Biru merupakan kediaman resmi Presiden Korea Selatan.

Seolah-olah menantang pihak Selatan, Unit 525 punya tiruan Istana Biru dengan ukuran sama persis. Replika Istana Biru itulah yang jadi target serangan untuk dihancurkan dalam latihan besar-besaran tersebut. “Bagus, musuh tak akan punya tempat persembunyian lagi,” Jong-un memuji setelah menyaksikan latihan Unit 525.

Kim Jong-un saat merayakan 60 tahun perdamaian Perang Korea di Kim Il-sung Square, Juli​ 2013.
Foto: dok. Reuters

Yang menanti kita di depan adalah interogasi dan pasti kematian.”

Kim Seung-il, intel Korea Utara pelaku peledakan pesawat Korean Air pada November 1987

Setengah abad silam, salah satu kesatuan militer paling elite di Pyongyang, Unit 124, pernah menggelar operasi ambisius, yakni membunuh Presiden Korea Selatan Park Chung-hee di Istana Biru. Pada musim dingin 1968, 31 prajurit komando dari Utara menyusup ke Selatan, menembus kawasan pegunungan hingga berhasil mendekati Istana Biru.

Tapi operasi ini gagal total. Dari 31 prajurit Unit 124, hanya dua orang yang selamat. Letnan Kim Shin-jo menyerah setelah terkepung, satu temannya, Park Jae-kyung, berhasil lolos dan menyeberang kembali ke Utara. Presiden Chung-hee tak tersentuh, tapi 26 warga Korea Selatan, 24 orang di antaranya warga sipil, tewas terjebak dalam baku tembak.

Puluhan tahun setelah operasi pembunuhan yang gagal itu, Kim Shin-jo menuturkan bagaimana dia terpilih di antara ribuan prajurit Korea Utara untuk bergabung dengan Unit 124. Tak hanya harus punya fisik sangat prima dan lihai memakai senjata, prajurit Unit 124 juga harus teruji kesetiaannya kepada partai berkuasa, Partai Pekerja Korea. Satu lagi syarat jadi prajurit Unit 124: harus punya keluarga di Korea Utara sebagai “jaminan” atas kesetiaan mereka.

“Kami yang terbaik di antara yang terbaik,” kata Shin-jo kepada Korea Joongang, beberapa tahun lalu. Shin-jo yakin, seandainya mereka membunuh empat petani yang mereka temui di hutan dalam perjalanan ke Seoul, operasi penyusupan itu tak akan sampai ke telinga petinggi militer Korea Selatan dan mereka bisa membunuh Presiden Chung-hee.

Kim Hyun-hui saat tertangkap 30 tahun lalu.
Foto: dok. ABC

Operasi-operasi pembunuhan dan penculikan lintas negara oleh intel-intel dan tentara Korea Utara, menurut Global Security, ada di bawah kendali Biro Pengintaian Umum (RGB). Segala aktivitas RGB dilaporkan langsung kepada Komisi Pertahanan Nasional. Diduga ada banyak unit operasi di bawah payung RGB, termasuk kesatuan-kesatuan elite seperti Unit 525.

Seorang sumber intelijen menuturkan kepada The Star, intel-intel RGB lumayan aktif beroperasi di Singapura, Malaysia, dan Indonesia. Kadang mereka menyamar sebagai insinyur atau pekerja konstruksi. Kadang mereka menjadi pegawai restoran Korea.

“Mereka memakai restoran sebagai kamuflase untuk mengumpulkan informasi intelijen dan kegiatan mata-mata,” kata sumber itu. Di Indonesia, RGB mengoperasikan pabrik tekstil, juga punya restoran di Jakarta. Untuk mendanai operasi intelijen, kadang RGB terlibat dalam penyelundupan narkotik. Pada 2003, operasi penyelundupan heroin ke Australia oleh intel RGB terbongkar.

* * *

Penguasa di Pyongyang sepertinya tak pernah kekurangan orang yang siap mati untuk mereka. Tak ada yang menyeramkan pada Kim Hyun-hui, kini 55 tahun. Padahal 30 tahun lalu, pada 27 November 1987, perempuan inilah bersama Kim Seung-il, intel senior Korea Utara, yang memasang bom di kabin pesawat Korean Air.

Pesawat itu terbang dari Bandara Internasional Saddam Hussein, Bagdad, Irak, menuju Seoul. Di atas Laut Andaman, bom yang dipasang Hyun-hui meledak dan menewaskan seluruh penumpang dan awak. Total 115 orang meninggal. Hyun-hui tertangkap di Bahrain, sementara Seung-il mati bunuh diri dengan menelan pil sianida.

Latihan Unit 525 beberapa bulan lalu.
Foto: dok. KCNA/Reuters

Saat itu Hyun-hui baru 25 tahun. Dia muda, cantik, dan pintar. Sejak masih sekolah, gadis itu memang dikenal pintar dan aktif di banyak kegiatan. Ayahnya seorang diplomat Korea Utara. “Setiap detik, dari saat naik pesawat, meninggalkan bom di kabin, hingga turun dari pesawat di Dubai, aku merasa grogi,” Hyun-hui menuturkan kepada ABC tiga tahun lalu.

Dinas Intelijen Korea Utara merekrut Hyun-hui saat dia masih remaja. “Suatu hari ada sedan hitam datang ke sekolahku. Mereka dari Partai dan mengatakan bahwa aku telah terpilih,” kata Hyun-hui. Dia hanya diberi waktu semalam untuk berkemas. Selama beberapa tahun, gadis itu ditempa jadi intel. Dia dilatih bela diri, menembak, merakit bom, dan membunuh serta belajar rupa-rupa bahasa dan teknik-teknik intelijen.

Hingga tibalah saat itu. Perintah pengeboman pesawat maskapai Korea Selatan itu, kata Hyun-hui, datang langsung dari Kim Jong-il, saat itu “putra mahkota” di Pyongyang. Tujuannya adalah menggagalkan Olimpiade 1988 di Seoul. Hyun-hui bersama Seung-il terbang dari Pyongyang ke Budapest, Rumania. Di sana mereka mendapatkan paspor Jepang palsu. 

Sebelum menuju Bagdad, keduanya berpura-pura sebagai ayah dan anak yang tengah berwisata keliling Eropa. “Kami berdua yakin misi akan berhasil. Kami tahu bagaimana kerja bandara,” kata Hyun-hui. Setelah turun dari pesawat di Dubai, mestinya mereka pulang ke Korea Utara lewat Yordania dan Roma, Italia. Tapi, lantaran bermasalah dengan paspor, Hyun-hui dan Seung-il belok arah ke Bahrain. Gara-gara urusan paspor itu pula, jejak mereka terendus.

Saat posisi mereka telah terkepung, Seung-il berkata kepada Hyun-hui bahwa sudah waktunya bagi mereka untuk memakai pil sianida. “Yang menanti kita di depan adalah interogasi dan pasti kematian. Aku sudah hidup lama dan sudah tua. Tapi kamu masih muda…. Sori,” Hyun-hui menirukan Seung-sil. Mereka segera menelan pil sianida yang selalu mereka kantongi ke mana pun pergi. Seung-il mati, tapi nyawa Hyun-hui berhasil “ditarik” kembali. Sempat divonis hukuman mati, Hyun-hui diampuni oleh Presiden Roh Tae-woo.

Latihan Unit 525 beberapa bulan lalu
Foto: dok. KCNA/Reuters

Hyun-hui dan Kim Shin-jo adalah satu di antara sedikit intel dan prajurit Korea Utara yang tertangkap dan diampuni. Wajah mereka banyak dikenal di Korea Selatan. Lain dengan Kim Dong-sik, 54 tahun, bukan nama sebenarnya. Dia bersedia diwawancarai oleh New York Times dengan syarat nama dan wajahnya disembunyikan.

Dong-sik pernah jadi pahlawan di Korea Utara. Pada akhir 1990, pemerintah Korea Utara menganugerahkan medali Pahlawan Republik, penghargaan tertinggi di negeri itu, kepada Dong-sik. Ia dan seorang temannya berjasa besar lantaran berhasil membawa “pulang” Lee Sun-sil dari Korea Selatan. Sun-sil, yang belasan tahun menyusup ke Korea Selatan, merupakan pejabat tinggi Partai Pekerja Korea dan intel senior BRG.

Tapi senasib dengan Hyun-hui dan Shin-jo, kini Dong-sik diberi stempel pengkhianat oleh Pyongyang setelah dia gagal dan tertangkap dalam misi berikutnya. Pada Oktober 1995, Dong-sik bersama temannya menyeberangi perbatasan dari Utara. Berhari-hari mereka menyusuri daerah Pegunungan Buyeo. Misi mereka adalah membawa pulang ke Pyongyang intel senior dari Utara yang sudah belasan tahun menyusup di Korea Selatan.

Dong-sik tak tahu bahwa intel yang hendak dia jemput sudah ditangkap oleh intel-intel Korea Selatan. Di tempat yang dijanjikan, bukan seniornya itu yang menunggu, melainkan agen kontra-intelijen dari Seoul. “Angkat tangan,” salah satu intel Korea Selatan berteriak sembari menodongkan pistol. Dong-sik menimbang-nimbang apakah dia harus menelan pil sianida di mulutnya atau mencabut pistol dan melawan. Dia dan temannya memilih jalan kedua. Dong-sik tertangkap, temannya mati diterjang peluru.

Kim Jong-un menyaksikan latihan Unit 525.
Foto: dok. KCNA/Reuters

“Aku tak senang masih tetap hidup karena aku tahu keluargaku di Korea Utara akan menderita lantaran aku memilih bertahan hidup,” kata Dong-sik. Di utara perbatasan, Dong-sik meninggalkan seorang istri dan anak perempuan. Orang tua dan saudara-saudaranya juga masih tinggal di sana.

Setelah mempertaruhkan nyawa demi negaranya, Hyun-hui, Shin-jo, juga Dong-sik, tak tahu persis apa “hukuman” yang dijatuhkan rezim Pyongyang terhadap keluarga mereka di kampung halaman. Hukuman lantaran mereka tertangkap saat menjalankan “tugas negara”.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE