INTERMESO
Ilustrasi: Edy Wahyono
Wajahnya terpasang di sampul majalah Forbes edisi pertengahan Desember 2016 dengan judul “This Guy Got Trump Elected”. Siapakah orang ini?
Kata orang, dia lahir dengan sendok emas di depan mulutnya. Dia, Jared Corey Kushner, 36 tahun, memang sudah tajir sejak masih orok. Ayahnya, Charles Kushner, adalah pendiri dan pemilik Kushner Companies, raksasa properti di New York. Paman Jared, Murray Kushner, juga punya perusahaan properti yang tak kalah besar, Kushner Real Estate Group.
Singkat cerita, Jared tak pernah kenal yang namanya hidup susah. Dia lulus dari Universitas Harvard dan kabarnya sudah mengantongi keuntungan US$ 20 juta, lebih dari Rp 260 miliar, saat lulus kuliah berkat investasi properti. Tujuh tahun lalu, pria yang agak pemalu ini mempersunting Ivanka Trump, gadis cantik dan anak perempuan pengusaha properti yang juga sama kaya rayanya, Donald Trump. Lengkap sudah hidup Jared Kushner.
Jared bicara pelan, sangat sopan, tampak pemalu, dan selalu menghindar dari kamera wartawan. Dia sama sekali tak mirip dengan para politikus di Washington, DC, atau Steve Bannon dan Kellyanne Conway, dua tokoh kunci di tim kampanye Donald Trump, yang doyan bicara dan gemar disorot kamera. Ada jasa banyak orang di balik kemenangan Donald Trump yang tak disangka atas Hillary Clinton, tapi konon sang menantu yang pemalu ini punya andil besar.

Jared Kushner bersama istrinya, Ivanka Trump, dan anak-anaknya.
Foto: Getty Images
“Sulit menaksir seberapa besar persisnya peran Jared…. Jika Donald Trump adalah CEO atau kepala eksekutifnya, Jared adalah kepala operasinya,” kata Peter Thiel, triliuner dari Lembah Silikon dan penyokong Trump, kepada Forbes. Di antara sedikit orang di lingkaran paling dalam Trump, menurut Henry Kissinger, mantan Menteri Luar Negeri Amerika dan kawan lama Donald Trump, Jared adalah salah satu orang yang selalu didengar pendapatnya.
“Aku membantu menghubungkan banyak pihak yang biasanya sulit bertemu,” Jared menjelaskan perannya. Tak seperti Steve dan Kellyanne, yang jadi “wajah” kampanye Trump, Jared memang lebih banyak bekerja di balik layar. Dia jarang tampak dalam kampanye, juga sangat irit bicara kepada wartawan.
Tapi tangan Jared konon ada di mana-mana. Dia yang mengatur tim persiapan debat, dia yang memerinci setiap jadwal mertuanya, dia merekrut tim sekaligus ikut merancang strategi kampanye media sosial, Jared pulalah yang memberi stempel atas setiap dolar yang dibelanjakan oleh tim pemenangan Donald Trump. Pesan mertuanya, kata Jared, sangat jelas: tidak ada satu dolar pun yang keluar dari kantong mereka sia-sia.
Dia mengelola tim kampanye sama persis dengan caranya menjalankan perusahaan-perusahaannya. “Kami selalu bertanya, di negara bagian mana kami akan memperoleh ‘return on investment’ terbaik untuk setiap dolar yang kami belanjakan…. Kami berusaha mengerjakan semuanya semurah mungkin, secepat mungkin. Dan jika cara itu tak berhasil, kami tak akan ragu membunuhnya secepat mungkin,” Jared memaparkan.
Kini, setelah Trump resmi pindah ke Gedung Putih, Jared ikut pula boyongan ke sana. Trump menunjuk menantunya itu sebagai Penasihat Senior Gedung Putih, posisi yang sangat strategis di jantung kekuasaan Amerika. Salah satu tugas besar yang dipercayakan Presiden Trump kepada menantunya itu adalah menciptakan perdamaian di Timur Tengah. Satu masalah yang tak terselesaikan oleh Presiden-presiden Amerika sebelumnya.

Foto: Getty Images
“Sepanjang hidupku, aku selalu mendengar bahwa perdamaian di Timur Tengah merupakan kesepakatan yang paling sulit dicapai,” kata Presiden Trump kepada para donatur kampanyenya, dikutip Politico, beberapa pekan lalu. Selama puluhan tahun, Israel dan negara-negara Arab bak minyak dan air, yang tak pernah bisa bercampur.
Sembari menunjuk ke arah Jared, Presiden Trump berkata, ”Jika kamu tak bisa menciptakan perdamaian di sana, tak ada orang lain yang bisa.” Jared sendiri seorang Yahudi dan pengalamannya dalam diplomasi internasional bisa dibilang nol. Tapi Presiden Trump amat percaya kepadanya.
* * *
Debat bukan segalanya, tapi debat kandidat juga tak bisa dianggap urusan sepele. Bahkan seorang yang lihai berpidato seperti Barack Obama pun butuh “konsultan” untuk memermak penampilannya dalam kampanye.
Malam pada 3 Oktober 2012 di Denver, Colorado, adalah bencana bagi kandidat Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Di sebuah ruangan, perancang strategi kampanye Obama, David “Axe” Axelrod, David Plouffe, dan Joel Benenson duduk lemas. Mereka nyaris tak percaya menyaksikan tayangan di layar televisi.
“Sungguh sulit dipercaya,” kata Benenson gemas. Di seberang ruangan, Michael Sheehan, pelatih debat Demokrat yang punya pengalaman panjang, membanting kertas ke atas meja. “Mengerikan,” kata Sheehan, kesal.
Malam itu, untuk pertama kalinya Obama melayani debat langsung melawan kandidat presiden dari Partai Republik, Mitt Romney. Debat perdana dua kandidat Presiden Amerika di kampus Universitas Denver tersebut ditayangkan langsung oleh stasiun televisi PBS dan disaksikan puluhan juta calon pemilih.
Jared Kushner, Penasihat Senior Gedung Putih, mendampingi Presiden Donald Trump saat menemui sejumlah ahli teknologi informasi beberapa pekan lalu.
Foto: Getty Images
Sebelum debat, menurut jajak pendapat, posisi Obama unggul 7 poin, lumayan jauh dari Romney. Jika semua berjalan mulus, mestinya Obama bisa kembali menjadi penguasa Gedung Putih. Tapi malam itu angka-angka itu langsung sirna.
Penampilan Obama sungguh mengecewakan. Sepanjang debat, Romney menguasai panggung, sementara Obama tampak pasif, bahkan ada kesan mengantuk. “Jelas dia tampak kurang fokus dan penuh semangat seperti Mitt Romney,” Axelrod kepada majalah New York, mengakui. Obama seolah-olah seorang murid yang setengah hati menyimak penjelasan gurunya.
“Mungkin inilah debat terbaik Romney. Terburuk bagi Obama,” Larry Sabato, Direktur Pusat Politik Universitas Virginia, menulis di laman Twitter. Seorang anggota tim persiapan debat Obama, seperti dikutip dalam buku Panic 2012: The Sublime and Terrifying inside Story of Obama's Final Campaign yang ditulis Michael Hastings, mengungkapkan bagaimana Obama mendapat dua nasihat buruk dari dua perancang strategi debatnya, Axelrod dan Sheehan.
Sheehan menyarankan supaya Obama selalu menunduk, mencermati catatan saat Romney berbicara. “Tapi mestinya dia tidak menunduk sebanyak itu,” kata dia kepada New Republic. Alih-alih tampak santai dan kalem, Obama justru kelihatan pasif. Nasihat lebih buruk datang dari Axelrod, sang penasihat senior. Axelrod, menurut anggota tim debat Demokrat, justru menyarankan supaya Obama berbicara hal-hal besar langsung kepada rakyat Amerika. Saran ini justru membuat kandidat presiden Partai Demokrat itu tampak tak menginjak bumi. Kelihatan tak kompeten di depan Romney.
Tiga jam setelah Obama dan Romney turun dari panggung debat, Axelrod, Plouffe, dan kawan-kawannya masih kebingungan bagaimana menangani “bencana” tersebut. “Teman-teman, apa yang akan kita lakukan? Ini benar-benar bencana,” kata Plouffe, pelan. “Jika kita tak memperbaiki hal ini, we could lose the whole fucking election.”
Kegagalan pada debat pertama bukan cuma membuat Obama dan timnya sedikit grogi. First Lady Michelle Obama juga turut cemas. “Jangan khawatir, kamu akan menang di debat berikutnya,” Michelle membesarkan hati sang suami. Menurut Michelle, Romney unggul dari Obama hanya karena, ”Dia pintar berbohong.”
Tak mau lagi dicundangi Romney, Obama mengubah strategi argumentasinya pada debat kedua di Hempstead, New York, dua pekan setelah debat pertama. Obama tak akan berada di posisi bertahan. Namun Obama sadar, dia bukan seorang orator yang agresif. “Aku ini orang yang sopan secara alamiah,” kata Obama. “Kita harus berusaha mendorongku supaya aku tak menggigit lidah. Sangat penting bagiku: ‘Aku harus bertarung.’”
“Menjadi orang yang menyebalkan itu bukan keahlian yang bisa kalian peroleh dalam semalam.”
Matt Rhoades, Manajer Kampanye Mitt Romney pada 2012
Barack Obama saat berdebat dengan kandidat Presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Mitt Romney, pada 2012.
Foto: Getty Images
Seorang penasihat debat Obama mengatakan seorang Presiden Amerika diharapkan tetap tenang dan dingin saat terjadi krisis, tapi bisa juga galak ketika berdebat. Jika Obama tak ingin kehilangan kursi nomor satu di Gedung Putih, dia harus mengubah gaya debatnya.
Matt Rhoades, manajer kampanye tim Romney, meragukan Obama bisa mengubah gaya adu argumentasinya dengan cepat. “Menjadi orang yang menyebalkan itu bukan keahlian yang bisa kalian peroleh dalam semalam.... Sementara Mitt Romney sudah melakukannya seumur hidupnya,” kata Rhoades.
Sebagai bekal Obama di atas panggung, Ron Klain, koordinator tim persiapan debat, memberikan sejumlah poin yang harus diingat: nada bicara harus positif dan menyenangkan, tunjukkan gairah, pilih kata-kata yang kuat untuk pembukaan dan penutupan, serta jangan ragu menyerang Romney. Berulang-ulang mereka melatih Obama dengan mencecarnya menggunakan ratusan pertanyaan yang mungkin dilontarkan kubu seberang.
“Fast and hammy,” Klain memperingatkan Obama soal nada bicaranya, dikutip Mark Halperin dan John Heilemann dalam bukunya, Double Down. “Punch him in the face,” teriak Karen Dunn, anggota tim debat, supaya Obama menyambar umpan dan menyerang John Kerry, yang berperan sebagai Mitt Romney, saat latihan. Hasil latihan itu segera terlihat pada debat kedua pada 16 Oktober 2012 di New York.
Obama dan Romney “saling jual pukulan” tanpa ragu. Romney menyalahkan Obama yang dianggapnya gagal mengatasi pengangguran di Amerika. “Kebijakan Presiden Obama sudah diuji selama empat tahun dan gagal menciptakan lapangan pekerjaan,” kata Romney, tajam. Dia menunjuk pada bantuan yang diberikan pemerintah Obama kepada industri otomotif. Obama segera menyambar serangan Romney.
“Apa yang dikatakan Mitt Romney tidak benar. Dia hendak membawa industri itu pada kebangkrutan tanpa memberikan pilihan lain. Jika hal itu dilakukan, kita bakal kehilangan jutaan pekerjaan,” kata Obama. Sepanjang debat, Obama sigap menangkap umpan dan tak ragu menyerang balik Romney. Akhirnya, skor 1-1 untuk kedua pihak. Kita akhirnya menyaksikan, Barack Obama kembali ke Gedung Putih.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.