INTERMESO

70 TAHUN MEGAWATI

Dari Dapur Megawati Turun ke Hati

“Kata Bu Mega, urusan makanan itu tidak ada yang namanya jaim-jaiman. Intinya makanan enak.”    

Ilustrasi: Fuad Hasim

Selasa, 24 Januari 2017

Benar kata orang, lidah memang tak bertulang. Begitu lemasnya lidah, apa yang diomongkan kemarin bisa tak lagi sama dengan hari ini. Tapi soal selera makanan, lidah justru yang paling jujur.

Untuk urusan makanan, Megawati Soekarnoputri tak mau “menipu” lidahnya. Kalau lidahnya bilang enak, enak pula makanan itu. “Kata Bu Mega, urusan makanan itu tidak ada yang namanya jaim-jaiman. Intinya makanan enak. Jaim kalau makanan tidak enak sama saja dengan berbohong,” ujar perancang busana Samuel Wattimena menirukan Megawati.

Bagi Megawati, rugi besar jika makan hanya demi melayani gengsi. Di Solo misalnya, menurut Samuel, Megawati punya warung soto ceker langganan di pinggir jalan. Samuel sudah lumayan lama kenal Megawati. Dia mulai dekat dengan presiden keempat RI itu setelah diminta merancang setelan khusus untuk dipakai memeriksa barisan kehormatan pasukan dalam upacara HUT RI ke-55.  

Dalam soal urusan lidah, selera Megawati tak mahal-mahal amat. Dia, kata Ari Junaedi, bekas wartawan yang kemudian pernah mendampingi Megawati sebagai staf ahli bidang komunikasi, sangat jarang masuk ke restoran-restoran mewah dalam kunjungan kerja.

Di Desa Pesinggahan, Klungkung, Bali, misalnya, dia punya langganan rumah makan lesehan Merta Sari. Menu favoritnya di Merta Sari adalah sup ikan dan sate lilit ikan tuna. Harga satu tusuk sate hanya seribu rupiah. “Beliau suka makan yang rebus-rebusan. Kalau Pak Taufiq Kiemas seleranya steak,” ujar Ari.

Tak hanya suka bertualang kuliner, Megawati rupanya juga pintar mengolah bumbu di dapur. Kalau tak sedang sibuk dengan urusan PDI Perjuangan, dia tak jarang masuk ke dapur.

Megawati makan bersama Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo di warung kecil pada 5 Oktober 2013.
Foto: Danu Damarjati/detikcom

Megawati bersantap di warung soto Gading di Kota Solo bersama Presiden Joko Widodo pada Februari 2015.
Foto: dok. Istimewa

Kalau Bu Fat masih hidup dan ikut lomba masak, mungkin beliau akan jadi pemenangnya."

Megawati Soekarnoputri soal ibunya, Fatmawati

“Ibu Mega tidak hanya senang memasak, tapi juga pintar memasak,” ujar Samuel, kini Staf Khusus Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga. Beberapa kali dia mencicipi sendiri racikan masakan Megawati saat bertamu di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta. Biasanya Megawati menyempatkan diri memasak jika aktivitas partai tak padat. “Kalau beliau pingin banget makan sesuatu yang tak dijual atau tidak ada yang mengerti cara masaknya, dia langsung terjun ke dapur.”  

Megawati, ujar Samuel, pintar mengolah berbagai macam resep masakan Nusantara. “Mau yang bahannya ikan atau ayam, semuanya lezat,” ujarnya. Tak hanya piawai dalam memasak. Lidah Mega pun sangat peka mencecap jenis-jenis bumbu dalam sebuah masakan. “Kalau dikirimi masakan baru, dicicip sedikit saja beliau sudah tahu campuran bumbunya dan hampir semuanya benar.”

Bahkan Megawati, kata Ari, punya rumus khusus untuk membuat telur asin. “Namanya rumus dua,” kata Ari kepada detikX, Kamis pekan lalu. Rumus ini kerap dibagikan Mega kepada para kadernya. Caranya, kata Ari, 2 kotak garam dapur dimasukkan dalam 2 liter air, lalu direbus hingga garamnya terlarut sempurna. Kemudian didiamkan hingga menjadi air garam hangat.

“Saat bersamaan, 20 telur dibersihkan sehingga pori-pori kulitnya agak kasar,” ujar Ari. Semua telur itu dimasukkan dalam stoples kaca, dicampur air garam tersebut. Stoples kaca harus kedap sehingga udara luar tidak bisa masuk. Telur dalam stoples disimpan selama 20 hari.

“Hari ke-21, jadilah telur asin yang bersih dan enak. Rumus dua ini bukan kampanye Ahok-Djarot ya, ha-ha-ha…,” kata staf khusus Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo itu  sambil terbahak. “Pokoknya masakan beliau harus dimakan. Untungnya, pepes ikan buatannya sangat enak, bikin kami nambah terus.”

Presiden Joko Widodo bersantap bersama Megawati Soekarnoputri di Istana Merdeka pada November 2016. 
Foto: Ray Jordan/detikcom


Kecintaan Megawati pada masakan tradisional bukan sekadar pepesan kosong. Samuel bercerita, saat masih menjabat wakil presiden, Megawati terenyuh melihat masakan Indonesia terpinggirkan di negeri sendiri. Hampir seluruh hotel kelas atas di Jakarta tak ada yang menyajikan menu masakan Nusantara.

“Nyaris semua menu dikuasai masakan ala Barat. Padahal masakan khas Indonesia tak kalah lezatnya,” kata Samuel. Megawati berinisiatif mendatangi sebuah hotel mewah di bilangan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Secara khusus, ibu tiga orang anak ini menganjurkan manajemen hotel memasukkan masakan-masakan Nusantara dalam menu yang disajikan kepada tamu. “Ternyata Bu Mega benar. Begitu menu itu dicoba, ternyata sangat menarik hingga akhirnya menular ke hotel-hotel yang lain.”

* * *

Fatmawati sedang memasak di dapurnya
Foto: repro buku Suka Duka Fatmawati Sukarno

Megawati pernah memuji kelihaian ibunya, Fatmawati, di dapur. Menurut Megawati, kelihaian ibunya mengolah bumbu dan bahan makanan di dapur tak ada duanya. “Kalau Bu Fat masih hidup dan ikut lomba masak, mungkin beliau akan jadi pemenangnya,” kata Megawati dikutip dalam buku Suka-Duka Fatmawati Sukarno.

Presiden Sukarno pun, konon, sangat suka dengan masakan istrinya itu. Ketika mereka akhirnya tinggal terpisah—Fatmawati memilih “keluar” dari Istana lantaran tak suka dimadu Bung Karno—Sukarno masih sering kangen dengan masakan olahan Fatmawati.

Jika sedang ingin menikmati sayur lodeh, empal goreng, dan sambal terasi buatan Fatmawati, Bung Karno biasanya menitip pesan kepada putra sulungnya, Guntur Soekarnoputra. Jika masakan sudah siap, Fatmawati akan menelepon Istana Merdeka. M. Tamim, pembantu keluarga Presiden Sukarno, segera datang ke rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengambil masakan.

Bahkan, setelah Bung Karno “diasingkan” penguasa Orde Baru di Wisma Yaso, “tradisi” kirim masakan ini masih berlanjut. “Sayalah yang biasa mengantarkan masakan dari Bu Fat untuk Pak Karno setiap sore,” kata Tamim kepada Kadjat Adrai, penulis buku Suka-Duka Fatmawati Sukarno. Lidah Kadjat, yang akrab dengan keluarga Fatmawati, sudah sangat akrab dengan kelezatan masakan Fatmawati.

Fatmawati, yang lahir dan besar di Bengkulu, mengaku suka belajar resep memasak dari daerah-daerah lain di Indonesia. “Belajarnya bisa dari siapa saja. Misalnya, saat masih di Bengkulu, belajar dari bakul pecel,” kata Fatmawati. Bu Fat meninggal pada 14 Mei 1980 di Kuala Lumpur, Malaysia, saat dalam perjalanan pulang setelah menunaikan ibadah umrah. Bakat itu sepertinya diwariskan kepada Megawati.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE