INTERMESO

Tarung Baru
Superhero Indonesia

"Gundala dan Superman dulu itu sama tingkatannya, sama-sama terkenal.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Sabtu, 24 Desember 2016

Sri Asih berdiri mengepalkan tangan. Selendang yang terikat di pinggang dan rambut panjangnya berkibar diterpa angin. Mata jago perempuan berkemben itu tajam menatap kawannya, Godam, yang sekarang menjadi seterunya.

Pertempuran dua jagoan Patriot Nusantara itu sudah mendekati klimaks. Untungnya, datang Gundala dan Merpati yang segera melerai dan mendamaikan keduanya. Kisah baku pukul Sri Asih dengan Godam membuka kisah komik Prahara. Sri Asih diceritakan memimpin kelompok Patriot Nusantara. Kelompok ini melawan kelompok Penjahat Super pimpinan Jin Kartuby dengan anggota Ghazul, Pengkor, dan Bocah Atlantis.

"Ceritanya kurang-lebih seperti Captain America: Civil War ala Marvel Comics," ujar komikus Iwan Nazif kepada detikX, Jumat, 2 Desember lalu, di Jakarta. Iwan Nazif merupakan komikus yang menggambar jago-jago klasik itu kembali untuk komik Prahara. Dalam komik yang diterbitkan Bumi Langit itu, karakter-karakter komik klasik berkumpul dalam satu cerita.

Saya pernah mendengar, beliau berkata seniman itu ada masa akhirnya dan ia tidak keberatan kalau Si Buta nantinya diteruskan oleh seniman komik lainnya."

Ginardi Santosa, putra Ganes T.H., komikus Si Buta dari Gua Hantu

Foto: dok. Bumi Langit Studio

Sri Asih merupakan tokoh rekaan komikus Bapak Komik Indonesia Raden Ahmad Kosasih. Sri Asih, yang bisa terbang dan punya kekuatan sangat dahsyat, pertama kali dicetak oleh Penerbit Melodie, Jakarta, pada 1954. Tokoh superhero pertama Indonesia ini terinspirasi karakter komik DC Comics dari Amerika Serikat, Wonder Woman. Sri Asih alias Nani Wijaya “lebih muda” 13 tahun dari Wonder Woman.

Sementara itu, Godam, tokoh yang diciptakan komikus Wid N.S., hadir pertama kali pada 1969. Sedangkan Gundala dan Merpati diperkenalkan komikus Harya Suraminata alias Hasmi dalam komik Gundala Putra Petir. Kosasih meninggal empat tahun lalu di Tangerang Selatan. Satu setengah bulan lalu, Hasmi menyusul seniornya tersebut.

Sejak Sri Asih lahir hingga awal 1980-an, superhero-superhero Indonesia: Gundala, Godam, Maza, Sri Asih, Siti Gahara, Aquanus, Kapten Halilintar, Pangeran Mlaar, sama kondangnya dengan Superman, Batman, Captain America, maupun Spider-Man. Bersamaan dengan lesunya industri komik negeri ini, makin luntur pula memori kita terhadap superhero-superhero Indonesia.

Iwan menuturkan jago-jago klasik itu ibarat harta karun bagi dunia perkomikan Indonesia. "Gundala dan Superman dulu itu sama tingkatannya, sama-sama terkenal. Tapi, karena sempat vakum, Gundala hilang dari ingatan anak-anak sekarang," ujar Iwan.

* * *

Andy Wijaya
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Ginardi Santosa
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Iwan Nazif
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Bukan urusan gampang menghidupkan kembali superhero-superhero, juga para pendekar lawas, itu dengan gaya baru. Bahkan bagi Iwan, yang sudah punya jam terbang tinggi bersama sejumlah penerbit komik luar negeri. Iwan pernah mengerjakan komik How to Train Your Dragon Volume 1-8 bersama penerbit Dreamworks. Ia juga pernah bekerja sama dengan Titan Comics, Dark Horse Comics, Bioware, Hotwheels, dan berbagai penerbit lainnya.

Setiap karakter komik, menurut Iwan, memiliki penggemar setia, terutama dari komunitas pencinta komik lawas. Tapi, di sisi lain, Iwan harus memikirkan bagaimana agar pembaca awam dan pembaca baru tertarik. "Saya harus menjembatani pembaca lama tidak komplain sekaligus bisa masuk ke anak-anak muda sekarang," ujar Creative General Manager Bumi Langit tersebut. "Kami bikin lagi karakter itu dengan semangat baru dan meremajakannya untuk anak-anak muda sekarang."

Jauh sebelum mereproduksi kembali karakter komik baheula dalam gaya yang disesuaikan dengan kondisi terkini, Bumi Langit mencoba mengenalkan kembali komik-komik lama dengan cara cetak ulang. Creative Director Bumi Langit Andy Wijaya menuturkan proses cetak ulang komik lama dimulai dari komik Gundala Putra Petir pada 2005 bekerja sama dengan portal KomikIndonesia.com. "Kami pindai dan touch-up lagi secara digital naskah-naskah lama," kata Andy.


Foto: dok. Bumi Langit Studio

Tak berhenti sampai di Gundala, Bumi Langit pun mengakuisisi ratusan karakter lawas dari komikus penciptanya. Tercatat sampai akhir 2016 ada sekitar 500 karakter yang berada dalam pengelolaan Bumi Langit. Mulai Sri Asih milik Kosasih sampai karakter komik silat milik Ganes T.H., Si Buta dari Gua Hantu. "Dulu komik Indonesia kan jaya sekali sebelum manga masuk…. Kami mengelola agar karakter-karakter lama ini bisa terus dipertahankan," ujar Andy.

Rupanya cetak ulang saja tak bisa membuat karakter-karakter lama bisa bertahan. Ada kecenderungan pembeli komik cetak ulang terbatas pada pembaca tertentu saja. "Biasanya pembaca lama yang mau nostalgia," kata Andy. Padahal karakter-karakter tersebut membutuhkan energi baru yang bisa didapatkan dari para pembaca-pembaca baru. "Dibutuhkan juga regenerasi pembacanya. Karena yang seangkatan kami ini suatu saat akan hilang."

Membentuk generasi baru pembaca tak sederhana prosesnya. Dibutuhkan inovasi dan kreasi dari para pegiat komik. Andy menuturkan salah satu inovasi yang dilakukan Bumi Langit adalah "melahirkan" kembali karakter-karakter tersebut di tangan komikus-komikus muda. 

Bukan hanya soal gambar, ide cerita pun sepenuhnya dipercayakan pada komikus muda. "Seperti film lama yang direstorasi pada zamannya mungkin bagus, tapi pasarnya siapa? Kami akan merevolusi karakter-karakter ini. Baik dari cerita maupun gambar. Yang memahami logika dan keinginan anak-anak muda sekarang ya tentunya dari mereka juga," kata Andy.


Pustaka Kalyana, toko komik-komik lama di kawasan Semanggi
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Pustaka Kalyana, toko komik-komik lama di kawasan Semanggi
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Ginardi Santosa, putra Ganes T.H., menuturkan salah satu keinginan ayahnya adalah karakter Si Buta yang diciptakan tetap abadi dan dikenal. Karena itu, menurut Ginardi, tentu saja dibutuhkan proses adaptasi dengan perkembangan komik di Indonesia.

"Saya pernah mendengar, beliau berkata seniman itu ada masa akhirnya dan ia tidak keberatan kalau Si Buta nantinya diteruskan oleh seniman komik lainnya," ujar Ginardi. Sudah ada lima seri Si Buta yang diterbitkan kembali. Tanggapan pasar lumayan bagus. Soal gaya, apakah lawas atau baru, gaya manga atau Amerika atau Indonesia, tak jadi soal. Yang penting, karakter-karakter komik asli Indonesia, seperti Gundala, Mandala, Si Buta, Jaka Sembung, dan Panji Tengkorak, bisa abadi.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE