INTERMESO
DI BALIK PRESTASI SEKOLAH SINGAPURA
“Pekerjaan rumah dari sekolah memang penting, tapi kesehatan lebih penting.”
Foto-foto: Getty Images
Selama bertahun-tahun Henry, 11 tahun, selalu mendapat nilai bagus setiap kali gurunya membagikan laporan tiap semester. Tapi beberapa bulan lalu, Henry, bukan nama sebenarnya, pulang dari sekolah dengan membawa kecewa, cemas, marah, sekaligus takut amat sangat.
Untuk pertama kali, nilai-nilai pelajaran anak kelas V sekolah dasar di Singapura itu jeblok. Benar-benar jelek. Dari skala 100, untuk pelajaran bahasa Inggris, dia hanya mendapat nilai 50. Henry juga hanya mendapat 53,8 untuk pelajaran bahasa Mandarin. Nilai matematika anak itu lebih buruk lagi, hanya 20,5. Padahal setahun sebelumnya, nilai rata-rata Henry masih di atas 70.
Angka-angka tersebut rupanya jadi beban sangat berat bagi bocah itu. Di sekolah, dia jadi bocah yang gampang naik darah. Seorang gurunya, kepada Channel News Asia, menuturkan bagaimana Henry melemparkan botol minuman kepada seorang temannya. Tekanan itu tak sanggup dia tahan lagi.
Suatu pagi pertengahan tahun lalu, Henry sudah mengenakan seragam sekolah. Bukannya berangkat ke sekolah, anak itu malah melompat dari jendela kamar di apartemennya yang ada di lantai 17. Kedua orang tuanya hanya bisa meratapi kematian Henry. “Aku hanya minta nilai 70, aku tak berharap kamu mendapatkan nilai 80,” sang ibu, dikutip The Straits Times, meratap di samping jenazah putranya.

Foto: Singapore Polytechnique
Skor ujian nasionalku 221. Sekarang aku seorang profesor."
Muhammad Khairudin Aljunied, Profesor Kajian Melayu di Universitas Nasional SingapuraTapi semangat dan kompetisi untuk jadi “juara” ini juga ada korbannya. Henry satu di antaranya. Sepanjang 2015, menurut Samaritans of Singapore, ada 27 anak-anak dan remaja di Negeri Singa yang mengakhiri hidupnya sendiri, paling banyak dalam 15 tahun terakhir. Stres akibat tekanan di sekolah jadi salah satu alasan utama mereka bunuh diri.
Rata-rata anak-anak Singapura tak hanya harus berjuang memenuhi standar sekolah dan melawan tekanan kompetisi dengan sebayanya, tapi juga harus menanggung beban “harapan” orang tua. Seorang pembimbing siswa di salah satu sekolah di Singapura menuturkan kepada The Straits Times bagaimana orang tua murid seperti tak ada puasnya dengan nilai sang anak.
Seorang murid di sekolahnya dimarahi ibunya lantaran hanya mendapat nilai 83 untuk pelajaran matematika. “Ibunya mengatakan dia mestinya bisa mendapat nilai di atas 85 jika lebih teliti,” kata Lena Teo akhir Oktober lalu. Anak itu harus mendapatkan “bimbingan psikologi” dari sekolah lantaran menunjukkan gejala depresi.
Bahkan kadang tuntutan kepada sang anak itu benar-benar kelewatan. “Ada orang tua yang minta anaknya mengulang ujian nasional SD (PSLE), padahal anak itu sudah lulus…. Aku benar-benar kaget,” kata Carol Balhetchet, dari Singapore Children’s Society. “Aku benar-benar tak paham kenapa dia memaksa anaknya mengulang sekolah hanya untuk mendapatkan nilai ujian lebih baik.”
“Rat race” alias “pacuan tikus”—sebutan orang tua di Singapura untuk persaingan di antara anak-anak Singapura—ini sudah dimulai sejak mereka masih belajar makan dan jalan. Sebagian orang tua sudah memberikan pelajaran tambahan sejak mereka belum berumur 3 tahun. “Ada beberapa orang tua bertanya kepadaku apakah anakku akan diberi pelajaran tambahan,” kata Nadia Ng. Dia punya dua anak berumur 4 tahun dan 2,5 tahun.
* * *
Kematian Henry dan anak-anak lain membuka mata sebagian orang tua di Singapura bahwa nilai sekolah bukan segalanya. Putra Tan Kee Leng, 42 tahun, akan menghadapi ujian nasional tahun depan. Paham bahwa putranya sedang ada dalam tekanan berat, Tan dan suaminya tak ingin menambah beban.
“Anakku jadi makin sulit tidur,” kata Tan. Sekarang dia menjadi lebih hati-hati saat berbicara dengan putranya mengenai urusan sekolah. “Ketimbang menanyakan nilai tertinggi atau prestasi temannya, kami mengatakan kepada anak kami bahwa kami akan menerima seperti apa pun hasil ujiannya.”

Nilai tinggi, juga sekolah ngetop, barangkali memang satu prestasi dan kebanggaan. Tapi Shirley Woon, 50 tahun, tak mau hal itu harus ditukar dengan kesehatan anak-anaknya. Setiap jarum jam menunjuk pukul 9.30 malam, apa pun yang terjadi, sekalipun tugas sekolah belum tuntas dikerjakan, dia akan menyuruh anak-anaknya menggosok gigi dan berangkat tidur.
“Pekerjaan rumah dari sekolah memang penting, tapi kesehatan lebih penting,” kata Shirley. Dia tak peduli apakah keesokan harinya anak-anaknya bakal membuat marah guru mereka. “Pikiran perlu istirahat, tubuh juga butuh pemulihan. Hanya soal waktu tubuh akan tumbang jika kelewat berat bekerja.”
Toh, nilai yang hebat juga tak jadi jaminan bahwa seorang anak bakal jadi orang hebat. Lewat akun Twitter miliknya, Muhammad Khairudin Aljunied membesarkan hati anak-anak yang hanya dapat nilai pas-pasan di ujian PSLE. “Skor ujian nasionalku 221. Sekarang aku seorang profesor,” Khairudin menulis. Skor tertinggi ujian nasional di Singapura setiap tahun berbeda, tapi rata-rata berkisar 290. Kini Khairudin mengajar di Jurusan Kajian Melayu Universitas Nasional Singapura (NUS), salah satu kampus terbaik di negara itu.
Tweet Khairudin bersambut. “Nilai ujianku 213. Aku keluar dari Universitas Teknologi Nanyang karena bosan,” Muhammad Hilwan menulis. Nanyang merupakan kampus teknik terbaik di Singapura, juga di Asia Tenggara. “Pada 2015, aku menjadi kapten Tim Pendakian Everest-Singapura. Aku seorang ethical hacker, pemanjat tebing, pelari ultra-marathon, dan aku menikah dengan Nisa Ibrahim, doktor dari NUS.”
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.