INTERMESO
DI BALIK PRESTASI SEKOLAH SINGAPURA
“Aku ada di sini supaya bisa berada di depan yang lain. Mereka semua ingin berada di atas yang lain, demikian pula aku.”
Foto: Ibartman
Dalam hal urusan sekolah, apa boleh buat, kita mesti malu pada Singapura, juga Vietnam. Jika tes Program International Student Assessment (PISA) yang dilakukan oleh Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) jadi ukuran, berarti mutu pendidikan Indonesia memang jauh tertinggal dari Singapura.
Hasil tes PISA terhadap murid-murid sekolah di 70 negara yang baru dipublikasikan beberapa hari lalu menempatkan anak-anak Singapura di posisi teratas untuk semua kategori: matematika, sains, dan membaca. Singapura jauh unggul dari negara-negara superpower dalam ilmu pengetahuan, seperti Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Jerman.
Indonesia, mohon maaf, hanya ada di urutan ke-62 untuk pelajaran sains, dan peringkat ke-63 dari 70 negara dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Bahkan peringkat Indonesia jauh di bawah Vietnam. Di lapangan sepak bola, pasukan Merah-Putih bisa melipat Vietnam. Tapi, dalam soal adu otak menyelesaikan soal sains, murid-murid sekolah di Indonesia kalah jauh dari Vietnam. Anak-anak Vietnam berada di urutan ke-8 untuk pelajaran sains, dan peringkat ke-22 untuk pelajaran matematika.

Foto: Getty Images
Bagaimana anak-anak Singapura bisa jadi juara dalam sains dan matematika bisa dilongok dari standar yang mereka terapkan di sekolah. Seperti ini dua dari sekian banyak soal matematika untuk anak kelas V sekolah dasar di Singapura.
• Luas permukaan setiap sisi dari satu kotak adalah 84 cm2, 70 cm2, dan 30 cm2. Berapa volume dari kotak itu?
• Ada empat angka. Jika kita mengabaikan satu angka, maka rata-rata angka itu adalah 45, 60, 65, dan 70. Berapa rata-rata untuk keseluruhan empat angka tersebut?
“Jika kamu berpikir bahwa matematika merupakan pelajaran yang susah, kamu tak akan berhasil,” kata Hai Yang, 10 tahun, murid sekolah dasar Woodgrove di Singapura kepada BBC. Dengan bahasa Inggris, bocah itu menjelaskan bagaimana satu soal matematika bisa diselesaikan lewat pelbagai cara.
* * *
Guru adalah salah satu kunci kehebatan murid-murid sekolah di Singapura. Di Negeri Singa, guru merupakan pekerjaan terhormat dengan gaji lumayan besar. Seorang guru yang masih berstatus percobaan, menurut situs Kementerian Pendidikan Singapura, mendapatkan gaji Sin$ 3.100-3.500 atau Rp 29-32 juta per bulan.
“Singapura sudah lama berinvestasi besar-besaran untuk mendapatkan kualitas pengajaran yang bagus,” kata Sing Kong Lee, Wakil Presiden Universitas Teknologi Nanyang. Pemerintah Singapura juga mengalokasikan anggaran pendidikan berlimpah. Dengan jumlah murid hanya sekitar 500 ribu orang, anggaran pendidikan Singapura tahun lalu menembus Sin$ 12,1 miliar atau Rp 113 triliun.
Rata-rata anak Singapura juga sudah terbiasa berkompetisi dan pasang standar tinggi sejak masih sangat dini. Bukan pemandangan aneh di Singapura, anak-anak yang baru berumur 5 tahun sudah mengikuti rupa-rupa kelas tambahan. Cherlyn Lee, 11 tahun, sudah menjuarai pelbagai lomba mental aritmatika. Dia mulai ikut kursus berhitung itu sejak umur 5 tahun.
Foto: Getty Images
Brandon Lee, sang ayah, berpendapat, Cherlyn perlu kursus berhitung sedini mungkin lantaran pada umur itulah pertumbuhan otak anak paling pesat. “Dengan ikut kursus berhitung, kemampuannya akan melesat dan hasilnya akan jauh lebih bagus,” kata Brandon kepada The Straits Times.
Begitu bersemangatnya para orang tua mendorong anak-anaknya, bisnis kelas tambahan jadi industri besar di Singapura. Dalam setahun, menurut survei pemerintah Singapura, para orang tua di negeri jiran ini membelanjakan lebih dari Sin$ 1,1 miliar atau lebih dari Rp 10 triliun untuk membayar pengajar partikelir.
Tekanan besar untuk berprestasi itu bisa jadi beban, bisa pula jadi pelecut semangat. “Aku ada di sini supaya bisa berada di depan yang lain. Mereka semua ingin berada di atas yang lain, demikian pula aku,” kata Lianne Chia, 17 tahun, murid Sekolah Internasional Saint Joseph, dikutip Channel News Asia. Sejak masih sekolah dasar, jadwal gadis itu sudah dijejali kursus-kursus tambahan sepulang sekolah. Bagi dia, bermain hanya buang-buang waktu. “Jika aku belajar sendiri, mungkin akan baik-baik saja…. Tapi aku ingin ada di depan yang lain. Maka itulah yang aku lakukan.”
Ada sebagian anak punya dorongan berkompetisi sangat tinggi seperti Lianne Chia, ada pula anak yang memanggul harapan orang tua. “Orang tuaku tak terlalu kaku, tapi mereka punya harapan tinggi kepadaku…. Aku harus berhasil, sukses di sekolah. Itulah yang mereka harapkan,” kata Sie Yu Chuah, murid SMP Admiralty, kepada Financial Times.
Anak-anak Singapura masih terus tancap gas untuk menjadi yang terdepan di sekolah. Tapi sebagian orang mulai cemas melihat “balapan tikus”—sebutan mereka untuk kompetisi di sekolah—yang penuh tekanan. Apalagi setelah ada sejumlah kasus anak-anak bunuh diri lantaran kelewat berat menanggung beban sekolah.

Foto: The Conversation
Pemerintah Singapura pun mulai mengerem “balapan tikus” di sekolah-sekolah mereka. “Mari kita bantu anak-anak kita untuk mengeksplorasi minat mereka dan mengejar apa yang jadi keinginan dalam hidup mereka,” kata Ng Chee Meng, Pelaksana Tugas Menteri Pendidikan Singapura.
Chan Chun Sing, Menteri di kantor Perdana Menteri Singapura, mengingatkan bahwa nilai dan ujian bukanlah segalanya. Bukan pula jadi ukuran sukses dan keberhasilan. “Ini bukan sekadar propaganda atau teori,” kata Menteri Chan. Dia memberi contoh, tak ada satu pun pejabat di Otoritas Moneter Singapura yang mendapatkan nilai sempurna di sekolah.
“Jadi, jika ada orang yang mengatakan bahwa bila kamu mendapatkan empat nilai A maka kamu sudah sukses dalam hidup, itu hanya omong kosong…. Mereka yang berhasil bukanlah orang yang sekali sukses besar dan berpuas diri, ‘That’s it.’ Orang yang sukses akan terus berjuang dari hari ke hari dan terus beradaptasi, baik gagal maupun berhasil,” kata Menteri Chan.
Brian Toh, 32 tahun, pernah gagal. Nilai ujian nasionalnya saat lulus sekolah dasar hanya 98 dari maksimum berkisar 290. Neneknya sudah gembira luar biasa lantaran menyangka nilai maksimum ujian hanya 100, tapi orang tua Brian kecewa dan marah berat.
Anak itu tak tersungkur berkepanjangan. Brian segera bangkit. Lulus SMA, dia berhasil menembus Universitas Teknologi Nanyang, kampus teknik paling prestisius di Singapura. “Orang-orang heran bagaimana aku bisa masuk Nanyang,” kata Brian, geli.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.