INTERMESO
“Kita ada di sini untuk mencegah pembunuhan.”
Ilustrasi-ilustrasi: Edi Wahyono
Rabu, 7 Desember 2016Michael Gathercole memandang pintu di depannya dan meyakinkan diri bahwa sekarang waktu yang tepat untuk mengetuk. Dia diinstruksikan datang pukul empat, dan sekarang pukul empat. Dia sudah berkali-kali berdiri di sini—di tempat yang tepat sama, koridor pertama yang luas di Lillieoak—selama enam tahun terakhir. Hanya satu kali dia pernah merasa lebih gugup daripada hari ini.
Dia sudah diperingatkan bahwa pertemuan siang itu akan sulit baginya. Peringatan itu adalah bagian dari surat panggilan yang sudah merupakan ciri khas nyonya rumah. “Yang ingin kusampaikan kepadamu akan membuatmu terguncang….” Empunya rumah adalah penulis cerita anak-anak Lady Athelinda Playford.
Lebih dari 40 tahun lalu, detektif Hercule Poirot, salah satu tokoh utama dalam novel-novel kriminal Agatha Christie, “mati”. Harian New York Times menulis di halaman pertama edisi 6 Agustus 1975 “berita” kematian detektif Poirot itu. Dia meninggal di Inggris. Tak diketahui persis berapa umur Poirot.
Setelah sekian tahun Poirot “terkubur”, Sophie Hannah, penulis asal Inggris, “menghidupkan” kembali detektif tersebut lewat dua novelnya, The Monogram Murders dan Closed Casket. Kedatangan Michael Gathercole ke Lillieoak itu merupakan pembuka cerita Poirot dalam Closed Casket, yang terbit pada September 2016. Dan Gathercole bukan satu-satunya tamu yang diundang Lady Playford.

“Seluruhnya, termasuk Lady Playford, ada sebelas orang di Lillieoak,” kata Poirot kepada sohibnya, Inspektur Edward Catchpool, detektif dari Scotland Yard. Inspektur Catchpool adalah tokoh rekaan Sophie, dus tak ada di serial Poirot karya Agatha Christie.
Kematian menjauh darinya, tapi dia menggantungkan umpan di depan Kematian dengan semua kebohongannya.”
Baik Poirot maupun Catchpool sama-sama tak paham apa alasan seorang penulis buku anak-anak mengundang detektif partikelir Poirot dan polisi Scotland Yard ke rumahnya. Sembari bersantap malam dengan chicken a la rose, Lady Playford mulai membeberkan alasannya mengumpulkan orang-orang itu: dua anak dan menantunya, sekretaris dan perawatnya, dua pengacara, serta dua detektif.
Lady Playford menunggu sampai beberapa pisau dan garpu lain mulai bergerak sebelum berkata, ”Tadi siang, aku membuat surat wasiat baru.”
Dorro, sang menantu, seperti tersedak. “Apa? Surat wasiat baru? Mengapa? Apa bedanya dengan yang lama?”
“Sebagian besar dari kalian pasti terkejut dengan apa yang akan aku katakan.” Kata-kata Lady Playford sepertinya sudah disusun lebih dulu. “Aku meminta agar kalian semua mempercayaiku. Aku yakin semua akan beres.”
Apa yang disampaikan Lady Playford berikutnya memang membuat kaget semua orang, kecuali Michael Gathercole, yang sudah diberi tahu sebelumnya. “Apakah semuanya sudah gila?” Dorro berteriak. Dia pantas histeris karena Lady Playford mewariskan seluruh hartanya yang lumayan banyak bukan kepada kedua anaknya, melainkan kepada sekretarisnya.

Makin aneh lagi, kondisi kesehatan sang sekretaris sebenarnya sangat buruk, bahkan kabarnya umurnya tinggal menghitung hari. Lalu untuk apa Lady Playford mewariskan seluruh hartanya untuk si sekretaris yang sekarat? Apakah pikiran Lady Playford kurang waras?
Untuk pertanyaan terakhir jawabannya sudah jelas: tidak. Kendati sudah lanjut, pikiran dan badan perempuan itu masih sangat bugar. Kepada Gathercole, Lady Playford menjelaskan bahwa dia juga sudah lama mempertimbangkan keputusannya. Teka-teki baru dimulai.
Seperti biasa, hanya otak Hercule Poirot yang punya macam-macam teori soal kejanggalan surat wasiat Lady Playford. “Kita ada di sini untuk mencegah pembunuhan,” kata Poirot kepada Inspektur Catchpool. Sekalipun Poirot dan Catchpool sudah berusaha mencegahnya, malaikat maut tetap melewati mereka, dan pembunuhan yang diramalkan Poirot itu benar-benar terjadi di Lillieoak. Tapi korban pembunuhan itu sungguh tak disangka-sangka.

Kenyataannya, ada orang mati dibunuh. “Siapa yang Anda curigai?” Catchpool bertanya kepada Lady Playford. “Tidak ada,” penulis buku itu menjawab. Kematian orang itu pelan-pelan menyibak lapis demi lapis rahasia yang disimpannya bertahun-tahun. Korban ternyata bukan sosok orang yang selama ini orang lihat. Selama bertahun-tahun, dia seperti bermain sandiwara. Siapa dia sebenarnya, apa pula tujuannya bersandiwara, tak ada yang tahu. Rahasia itu jadi rahasianya sendiri. Rahasia yang mengecoh banyak orang. Di mata seorang kenalan lamanya, “sandiwara” dan kebohongan itulah yang membunuhnya.
“Dia meninggal karena mengundang kematian masuk ke dalam hidupnya, tanpa alasan yang kuat…. Kematian menjauh darinya, tapi dia menggantungkan umpan di depan Kematian dengan semua kebohongannya, dan Kematian membalas dengan mencabut nyawanya.”
Benarkah kebohongan itu membunuhnya? Lalu siapa pembunuhnya? Apa pula motifnya? Sophie Hannah, seperti “Ratu Novel Kriminal” Agatha Christie, membuat labirin cerita yang baru tampak ujungnya setelah selesai membaca buku Closed Casket.
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.