INTERMESO

Detektif Poirot
Hidup Lagi

“Gaya menulis bak sidik jari, tak bisa diduplikasi….
Aku tak ingin meniru Agatha.”

Ilustrasi: Edi Wahyono

Rabu, 7 Desember 2016

Hercule Poirot is Dead. Harian New York Times menulis di halaman pertama edisi 6 Agustus 1975 “berita” kematian detektif Hercule Poirot itu. Dia meninggal di Inggris. Tak diketahui persis berapa umur Poirot.

Detektif Poirot datang ke Inggris dari Belgia saat Perang Dunia I berkecamuk. Sebelum hijrah ke Inggris, konon, Poirot sempat menjabat Kepala Kepolisian Brussels. Menjelang akhir hidupnya, digerogoti masalah jantung dan artritis, dia menghabiskan waktu di panti perawatan Styles Court, Essex, Inggris.

Untuk menyembunyikan kondisi kesehatannya yang terus melorot, detektif yang suka tampil perlente itu acap kali mengenakan rambut dan kumis palsu. Tapi Poirot tetap detektif Poirot, yang selalu dibuntuti kasus kriminal, lebih sering lagi kasus pembunuhan.

Hingga detik-detik akhir kematiannya, dibantu sahabatnya sejak masih tinggal di Belgia, Arthur Hastings, Poirot tetap masih memecahkan kasus pembunuhan yang pelik. Empat tersangka dari lima kasus pembunuhan ditemukan mati. Anehnya, keempatnya mati dengan cara yang serupa: mati digantung.

Fadli (kedua dari kiri) bersama DetectivesID di acara Indonesian Readers Festival  2015
Foto: dok pribadi

Dari semua yang pernah aku baca, enggak ada satu pun yang bisa aku tebak dengan benar.”

Pintaningrum Hayudyo, anggota DetectivesID

Kali ini Poirot menghadapi seorang pembunuh yang benar-benar licin dan pintar. Sebelum mati, dia menulis surat kepada Hastings, menjelaskan dengan gamblang apa yang sebenarnya terjadi di balik setiap kasus pembunuhan dan menunjuk siapa pelaku di balik pelaku pembunuhannya.

Detektif Poirot “lahir” pada 1916 dalam novel The Mysterious Affair at Styles. Hingga “dibunuh” oleh penulisnya, Agatha Christie, dalam novel Curtain: Poirot’s Last Case, yang diterbitkan Collins Crime Club pada September 1975, detektif Poirot telah memecahkan banyak kasus kriminal di 33 novel dan 50 cerita pendek.

Hercule Poirot yang perlente dan agak congkak adalah salah satu karya puncak Dame Agatha. Ada beberapa novel Poirot yang masuk daftar buku kriminal terbaik sepanjang masa versi Asosiasi Penulis Kriminal Inggris (CWA) dan Mystery Writers America. Dua di antaranya adalah The Murder of Roger Ackroyd, yang pertama terbit pada 1926, dan Murder on the Orient Express, terbit pada 1934.

Good bye, cher ami,” detektif Poirot menulis salam perpisahan kepada sahabatnya, Arthur Hastings. “Ratu Buku Kriminal” Agatha Christie tak pernah mau melayani wawancara untuk menjelaskan “kematian” Poirot, salah satu tokoh utama dalam novel-novelnya. Kurang dari setengah tahun setelah Poirot “meninggal”, Agatha berpulang.

* * *

Closed Casket yang ditulis oleh Sophie Hannah
Foto: Evening Standard

Hercule Poirot boleh “mati”, tapi bukunya abadi. Muhammad Fadli, 35 tahun, kepincut dengan novel Agatha saat masih di bangku SMP dan terus berlanjut sampai hari ini. Buku pertama Poirot yang dia baca adalah Poirot’s Early Cases, berisi cerita-cerita pendek soal kasus-kasus yang ditangani detektif asal Belgia itu.

Demi Poirot, Fadli rela menggenjot sepeda dari rumahnya di Cipinang, Jakarta, ke toko buku Gramedia di Jalan Matraman. Padahal saat itu teman-temannya tengah tergila-gila pada komik Jepang. Nyaris tak ada teman sebayanya yang membaca novel, apalagi novel kriminal klasik seperti Poirot.

Bagi Fadli, mengikuti kasus demi kasus, petunjuk demi petunjuk yang ditemukan Poirot, justru jadi hiburan. “Stres hilang kalau baca bukunya,” kata Fadli. Ada dua buku seri Poirot yang dia suka, The ABC Murder dan The Big Four.

Di The ABC Murder, Poirot menerima sepucuk surat bertuliskan tiga huruf ABC. Masing-masing huruf memberi petunjuk untuk satu kasus pembunuhan: Alice Ascher terbunuh di toko tembakau, Betty Barnard tewas dibunuh di Bexhill, dan juragan kaya Carmichael Clarke ditemukan mati di rumahnya. Poirot tak habis pikir, mengapa si pembunuh mengirimkan surat kepadanya, alih-alih ke Scotland Yard.

Mengikuti labirin cerita Poirot, yang sering kali susah diraba akan ke mana ujungnya memang asyik. Bahkan, setelah bertahun-tahun membaca hampir semua karya Agatha Christie pun, Pintaningrum Hayudyo Danisworo, 24 tahun, tak pernah bisa menebak siapa pelaku pembunuhan atau akhir dari ceritanya.

Hercule Poirot diperankan oleh David Suchet
Foto: George Kelley.org

Poirot yang baru enggak arogan, padahal Poirot lama suka dipuji dan dikenal orang.”

Muhammad Fadli, anggota DetectivesID

“Dari semua yang pernah aku baca, enggak ada satu pun yang bisa aku tebak dengan benar. Meskipun aku sudah mikir keras, masih saja enggak bisa…. Tapi justru itulah yang membuat aku tertarik,” kata Pinta. Fadli dan Pinta sama-sama penggemar novel Agatha. Mereka berdua tergabung dalam komunitas DetectivesID. Tapi Fadli lebih suka Hercule Poirot, sedangkan Pinta condong suka Jane Marple alias Miss Marple, detektif sepuh dari Desa Saint Mary Mead. Satu buku Poirot yang disuka Pinta adalah Appointment with Death.

Sekian puluh tahun setelah “kematian”-nya, Hercule Poirot hidup kembali. Tiga tahun lalu, Sophie Hannah, penulis asal Manchester, Inggris, mendapat “restu” dari Agatha Christie Limited untuk “menghidupkan kembali” detektif Poirot. Sophie bukan penulis tak dikenal. Buku-bukunya, buku anak-anak, puisi, maupun cerita kriminal, juga laris di pasar buku.

Bagi Sophie, Poirot bukan sosok asing. Dia membaca novel Agatha sejak masih remaja. “Aku sudah membaca semua bukunya berulang kali,” kata Sophie kepada Independent kala itu. “Menulis Poirot tak beda dengan menulis sosok yang sudah lama aku kenal.” Buku Poirot versi Sophie yang pertama, The Monogram Murders, terbit dua tahun lalu.

Seri Poirot yang kedua, Closed Casket, terbit pada September 2016, bertepatan dengan ulang tahun satu abad Poirot dan buku pertama Agatha Christie. Di Indonesia, novel kriminal itu diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dengan judul Peti Tertutup.

Fadli (kanan) bersama DetectivesID di acara Indonesian Readers Festival  2015
Foto: dok pribadi

Apakah Poirot ala Sophie sama dengan Poirot asli karya Agatha, biar para penggemarnya yang kasih nilai. Sophie sudah berulang kali menekankan bahwa dia bukan Agatha, dan tak berniat menjadi Agatha Christie. “Gaya menulis bak sidik jari, tak bisa diduplikasi…. Aku tak ingin meniru Agatha,” kata Sophie dikutip The Wire, beberapa hari lalu. Setelah menimbang-nimbang, dia juga tak membawa Arthur Hastings, sobat lama Poirot, di novelnya. Sophie malah menghidupkan kawan baru Poirot, Inspektur Edward Catchpool, detektif di Scotland Yard.

Pinta dan Fadli, dua di antara penikmat petualangan Poirot, kecewa dengan detektif Poirot yang baru. Dia sudah membeli dua buku Sophie, tapi belum satu pun yang tuntas dia baca. “Baru buka beberapa halaman sudah bosan,” kata Pinta. Bagi orang yang sudah melahap buku-buku Poirot seperti Fadli, segera terasa beda antara Poirot lama dan Poirot baru. “Poirot yang baru enggak arogan, padahal Poirot lama suka dipuji dan dikenal orang,” kata Fadli. Dia juga agak terganggu dengan Inspektur Catchpool. “Kasarnya, polisi kok bego banget.”

Sejak detik pertama bersedia menulis novel Poirot, Sophie sangat paham risiko bakal menerima kritik semacam ini. “Sungguh tak mungkin menulis buku seperti ini dan mengabaikan kenyataan bahwa banyak orang bakal tak setuju,” kata Sophie kepada Guardian. Bagi Sophie, dua buku Poirot itu merupakan hadiah untuk Agatha, keluarganya, juga untuk para penggemarnya. Suka atau tak suka.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE