INTERMESO
OBITUARI FIDEL CASTRO
“Jika kami ditanya seperti apa laki-laki yang kami harapkan untuk generasi mendatang, kami akan menjawab: Mereka harus seperti Che!”
Ilustrasi : Edi Wahyono
Sebagai pengacara, Fidel Alejandro Castro Ruz adalah pengacara yang payah. Lulus sarjana hukum dari Universitas Havana, Kuba, pada September 1950, dengan nilai pas-pasan, Fidel memang ogah-ogahan berpraktek di ruang sidang. Saat masih kuliah pun, dia lebih sibuk berdemonstrasi ketimbang tekun menyimak pelajaran.
“Dia seperti tak tertarik pada pelajaran hukum dan jarang kuliah,” Antonio Rafael De la Cova, menulis dalam bukunya, The Moncada Attack: Birth of the Cuban Revolution. Beberapa kali bahkan Fidel sampai melewatkan ujian. Lisensi sebagai pengacara bisa dia peroleh, menurut kawat diplomatik dari Kedutaan Amerika di Havana, lantaran proses ujian profesi yang kelewat longgar.
Bersama dua sobatnya, Jorge Azpiazo de Villavicencio dan Rafael Resende Viges, Fidel mendirikan biro hukum Azpiazo, Castro & Resende. Dasar memang tak tertarik bekerja sebagai pengacara, tak ada kasus besar yang ditangani Fidel. Hanya sekali dia menangani kasus lumayan besar, yakni gugatan terhadap dua komandan polisi atas kematian seorang aktivis, Carlos Rodriguez. Besar pasak daripada tiang, lebih besar ongkos ketimbang pemasukan, kantor pengacara itu akhirnya bubar.
Kudeta oleh Jenderal Fulgencio Batista terhadap Presiden Kuba Carlos Prio pada 10 Maret 1952-lah yang mengubah jalan hidup Fidel. Takut dari kejaran polisi yang dipimpin oleh Rafael Salas Canizares, dia tinggal berpindah-pindah tempat. Dari kamar Hotel Andino, Fidel menulis pamflet mengkritik kudeta Jenderal Batista.

Fidel Castro berbincang dengan Che Guevara
Foto: Big Bang News
Aku peringatkan kalian… aku hanyalah permulaan.”
Fidel CastroLewat pamfletnya, dia mengajak rakyat Kuba melawan kudeta militer itu. “Jika kita mati pun, itu bukan persoalan,” Fidel menulis. Bersama teman-temannya di Pemuda Partai Ortodoxo, seperti Abel Santamaria, Fidel terus mendorong pimpinan partai oposisi untuk melawan rezim militer Jenderal Batista. Seperti juga Fidel, Abel yang berdarah panas mulai kehilangan kesabaran dengan pimpinan partai politik yang dianggapnya lamban dan bertele-tele.
“Kami mendukung garis revolusioner dalam perang di jalan-jalan, juga perang terbuka melawan rezim…. Batista hari ini, seperti juga Machado tempo hari, tak bisa disingkirkan hanya dengan berlembar-lembar kertas,” Abel dan teman-temannya menulis manifesto untuk pimpinan partai.
Dengan cepat, Fidel mengumpulkan para pemuda yang “marah” terhadap situasi Kuba. Rata-rata, dari sekitar 160 pemuda anak buah Fidel, seperti Nico Lopez, berasal dari keluarga miskin dan berpendidikan pas-pasan. Mereka sudah tak sabar dengan kehidupan sehari-hari di negeri itu. Mereka tak percaya lagi dengan diplomasi. “Kita harus berbuat sesuatu. Partai oposisi sudah menipu kita dan membohongi rakyat Kuba,” kata Fidel kepada aktivis-aktivis partai.
Menjelang fajar pada 26 Juli 1953, Fidel dan 160 “prajurit”-nya berangkat dari ladang pertanian di Desa Siboney, di pinggiran Kota Santiago de Cuba. Target serangan mereka adalah markas Garnisun Moncada di Kota Santiago. Dasar memang tak terlatih berperang, serangan pertama Fidel dan anak buahnya itu gagal total. Fidel, juga adiknya, Raul Castro, ditangkap dan diadili. Fidel dijatuhi hukuman 15 tahun penjara.

Fidel Castro dan Che Guevara bermain golf di Havana
Foto: Reuters
“Aku peringatkan kalian… aku hanyalah permulaan. Jika di hati kalian masih ada cinta kepada tanah air dan keadilan, kalian simaklah. Aku tahu aku akan dibungkam selama bertahun-tahun. Aku juga tahu rezim akan menyembunyikan kebenaran dengan pelbagai cara. Tapi suaraku tak akan bisa dicekik,” kata Fidel Castro, dikutip Marxist.org dari pembelaannya di muka majelis hakim Pengadilan Santiago. Selama hampir empat jam Fidel membacakan pembelaan yang dia susun sendiri di ruang tahanan.
Hanya kurang dari dua tahun Fidel dipenjara. Presiden Batista melepasnya setelah tak menganggap Fidel jadi ancaman. Jenderal Batista salah besar. Pada 2 Desember 1956, Fidel dan Raul, ditemani sobat baru mereka dari Argentina, Ernesto “Che” Guevara, mendarat di hutan bakau Playa Los Coloradas. Fidel, Raul, Che, dan kelompok kecil mereka mulai perang gerilya, merongrong kekuasaan Jenderal Batista. Hanya butuh dua tahun bagi milisi Fidel untuk menumbangkan rezim Batista.
Pada 16 Februari 1959, Fidel disumpah sebagai Perdana Menteri Kuba. Saat itu dia baru 32 tahun. Sebelum digantikan oleh adiknya, Raul Castro, Fidel berkuasa di Havana selama hampir 40 tahun. Selama itu pula Fidel menjadi lawan sengit Amerika dan negara-negara Barat.
"Tentu saja Fidel punya banyak salah. Tapi, yang penting, bagi rakyatnya dia telah memberikan pendidikan dan layanan kesehatan yang baik, juga mendistribusikan kekayaan dengan merata. Dia bukan triliuner yang mencuci duitnya di Panama. Dia orang baik bagi rakyatnya," kata Ken Livingstone, mantan Wali Kota London, kepada Guardian. Fidel berpulang Jumat lalu pada usia 90 tahun.
* * *
Pada awal April 1965, Ernesto “Che” Guevara menulis surat perpisahan kepada Fidel Castro, Perdana Menteri Kuba. “Aku pikir aku sudah menunaikan tugasku dalam revolusi Kuba… dan aku ucapkan selamat tinggal kepadamu, Kamerad, kepada rakyatmu, yang sekarang juga rakyatku,” Che menulis, dikutip Marxist.org.

Fidel Castro (paling kanan) dan Che Guevara (tengah)
Foto: Rolex Magazine
Aku pikir aku sudah menunaikan tugasku dalam revolusi Kuba… dan aku ucapkan selamat tinggal kepadamu, Kamerad.”
Ernesto “Che” GuevaraSelama hampir enam tahun Che menjadi salah satu tokoh kunci dan arsitek ekonomi dalam pemerintahan Fidel Castro. Walaupun Fidel dan Che berjuang bersama hanya sepuluh tahun, kedua sosok revolusioner ini seolah tak terpisahkan.
Che, dokter lulusan Universitas Buenos Aires, Argentina, juga seorang Marxis revolusioner, berkawan akrab dengan Fidel setelah bertemu di Meksiko pada Juli 1955. Sebelum hijrah ke Meksiko, Che terlibat dalam perang gerilya melawan rezim militer Guatemala di bawah Presiden Castillo Armas, yang disokong Amerika Serikat. Tapi Che kecewa berat dengan lembeknya sikap kelompok anti-Armas.
Di Guatemala, dia bertemu dengan Nico Lopez, pelarian dari Kuba. Nico-lah yang memperkenalkan Che dengan Castro bersaudara, Fidel dan Raul. Tertarik dengan cerita Nico dan telanjur patah hati terhadap gerakan revolusi Guatemala, Che bersama pacarnya, Hilda Gadea, berangkat ke Meksiko untuk bertemu dengan Castro.
Fidel dan Che, yang dua tahun lebih muda, segera nyambung. Bermalam-malam, mereka berdua tahan berdiskusi berjam-jam dari sore hingga menjelang pagi. Fidel dan Che sepakat bahwa untuk mendongkel rezim militer seperti Batista dan Armas tak bisa ditempuh lewat jalan demokrasi. Senjata satu-satunya solusi.
Pada akhir November 1955, tanpa banyak kata, Che Guevara berpamit kepada Hilda, saat itu sudah menjadi istrinya. Mereka sudah punya bayi perempuan, Hilda Guevara. Che berniat ikut rombongan Fidel kembali ke Kuba untuk bergerilya melawan tentara rezim Batista.

Fidel Castro dan Che Guevara di atas podium
Foto: Lavenir
“Apakah ada sesuatu yang akan terjadi?” Hilda bertanya, seperti dikutip Simon Reid dalam bukunya, Fidel and Che: A Revolutionary Friendship. Che tak menjelaskan gamblang. Dia tak tahu apakah bisa pulang dengan selamat. “Dia membalikkan badan dan menciumku…. Tanpa tahu kenapa, badanku gemetar.”
Di atas kapal kayu tua Granma yang memuat senjata, Fidel dan Che berdesak-desakan dengan puluhan anggota kelompok mereka dari pelabuhan kecil Tuxpan di Meksiko menuju Kuba. “Kapal itu tak akan mampu mengangkut lebih dari sepuluh orang,” kata Maribel Fernandez setelah melihat Granma. Tapi Fidel memaksa untuk mengangkut lebih banyak orang. “Dia akan mengangkut sembilan puluh orang,” Fidel menekankan. Che dalam catatannya kemudian menceritakan bagaimana mereka setengah mampus bertahan dalam kapal yang sempit itu.
Siapa menyangka rombongan kecil ini bisa menumbangkan rezim militer Kuba. Bahkan Jenderal Batista pun memandang sebelah mata. “Militer Kuba lebih dari siap untuk melindas setiap pemberontakan,” kata Presiden Batista dikutip El Mundo kala itu. Berpindah dari hutan ke hutan, desa ke desa, milisi Fidel terus menggerogoti kekuasaan Batista. “Kami adalah pasukan bayangan, pasukan hantu, yang bergerak mengikuti dorongan hati,” kata Che.

Fidel Castro (berdiri tengah) saat bergerilya di hutan pada Juli 1957.
Foto: Gale
Setelah sepuluh tahun bersama, bergerilya di hutan dan berbaris di Havana sebagai pemenang, akhirnya Che dan Fidel berpisah. Sebelum berangkat ke Bolivia untuk bergerilya, Che sempat pergi ke Kongo untuk menyokong kelompok kiri di negara Afrika itu.
“Aku pergi ke medan perang baru dengan membawa keyakinan yang kamu ajarkan, semangat revolusioner dan tugas paling suci: perang melawan imperialisme di mana pun,” Che menulis di surat perpisahannya kepada Fidel. Pada 9 Oktober 1967, Che dieksekusi mati oleh tentara Bolivia. Umurnya baru 39 tahun.
Dalam pelbagai kesempatan, Fidel berulang kali menyanjung sobat lamanya itu. “Jika kami ditanya seperti apa laki-laki yang kami harapkan untuk generasi mendatang, kami akan menjawab: Mereka harus seperti Che!” kata Fidel dikutip IBTimes. Kini Fidel dan Che kembali bersama.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.