Tahun ini mestinya ada banyak hal yang bisa dirayakan Oppo. Ada banyak kabar gembira, juga sejumlah pencapaian yang membuat Oppo layak berpesta. Tahun Monyet Api sepertinya menjadi api yang “menyalakan” Oppo.
Tanda-tanda baik itu sudah tampak sejak awal tahun. Pada tiga bulan pertama 2016, menurut perusahaan riset IDC, perusahaan pembuat ponsel asal Kota Dongguan di Provinsi Guangdong, Tiongkok, ini mengapalkan 18,5 juta unit smartphone, melonjak 185 persen dari setahun sebelumnya.
Inilah pertama kalinya Oppo, yang baru berdiri pada 2008, menembus lima besar pembuat smartphone dunia. Pada akhir Juli 2016, ComputerWorld menulis satu artikel bertajuk, Meet OPPO, the fastest-growing smartphone brand in the world. Jika merujuk pada angka dari IDC, Oppo memang seperti terus injak pedal gas.
Tiga bulan kedua 2016, pengiriman ponsel dari pabrik Oppo masih tumbuh 137 persen dan Oppo naik satu peringkat lagi ke urutan keempat produsen ponsel pintar dunia. “Oppo mendapat perhatian global lantaran terus tumbuh pesat, justru tatkala pasar smartphone cenderung melambat,” kata Ryan Reith, analis IDC.

Dua fotomodel dari ajang pesta America's Next Top Model selfie dengan ponsel Oppo di West Hollywood pada Juli 2015.
Foto: Getty Images/OPPO And NYLON
Beberapa pekan lalu, dari Daratan Tiongkok datang kabar dari perusahaan data Counterpoint Technology Market Research. Oppo, menurut Counterpoint, sudah ada di puncak perusahaan pembuat ponsel pintar, melampaui Vivo, Huawei, Apple, Samsung, dan Xiaomi. Oppo menguasai 16,6 persen pasar, lompat hampir dua kali lipat dari tahun lalu, 9,9 persen.
Di negeri ini, hari ini saat Oppo merayakan tahun ketiga hadir di Indonesia, Oppo sudah berada di urutan kedua. Menurut data yang dirilis IDC pada awal September lalu, Oppo Electronics Indonesia hanya kalah dari Samsung. Perusahaan Korea Selatan itu masih mengempit 26 persen kue ponsel pintar, ditempel oleh Oppo dengan 19 persen pangsa pasar.
Tahun ini memang tahunnya Oppo.
* * *
Sudah hampir empat tahun Ivan Lau, kini CEO Indonesia OPPO Electronics, tinggal di Indonesia. Bisa dibilang, Ivan termasuk orang yang membuka jalan pertama bagi Oppo di Indonesia. Sudah puluhan kota dia datangi bersama tim Oppo. Yogyakarta, Denpasar, Medan, Makassar, Jambi, Batam, dan kota-kota lain, dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia.



Karyawan di pabrik Oppo di kawasan Tangerang, Banten.
Foto: Reuters
Kalau kami merasa bisa membuat sesuatu yang lebih bagus, mengapa tidak kami kerjakan?”
Ivan Lau, CEO Indonesia OPPO ElectronicIvan masih ingat saat dia memperkenalkan Oppo pertama kali di Indonesia. “Orang-orang yang berbahasa Jawa bilang, opo?… apa?” kata Ivan. Ya, tiga tahun lalu siapa kenal Oppo? Tak mengherankan jika orang-orang yang dia ajak bekerja sama untuk memasarkan Oppo pun ragu. “Apalagi setelah mereka tahu produk ini dari Cina. Walaupun mereka mengakui bahwa ini barang bagus.”
Perjuangan Ivan dan timnya selama tiga tahun sedikit-banyak sudah terbayar. Oppo sudah ada di posisi kedua. Pabrik Oppo di Tangerang, Banten, sudah beroperasi penuh sejak awal tahun lalu dengan produksi 600 ribu unit ponsel setiap bulan. “Tapi kami merasa perkembangan Oppo masih kurang pesat,” kata Ivan. Dia tak mau berpuas diri dan mengurangi injakan pada pedal gas. “Tak ada waktu untuk leha-leha.”
“Mesin” Oppo masih terus digeber memasuki tahun keempat ini. Pada Februari nanti, Ivan dan timnya berniat menambah kapasitas produksi menjadi 1,2 juta hingga 1,5 juta unit. Pusat pelayanan pelanggan juga ditambah dari 90 menjadi 110-120.
Dari keberhasilan dan kegagalan para raksasa teknologi yang pernah berjaya, tapi kemudian terpelanting, Oppo belajar bahwa tak ada yang abadi di bisnis smartphone. Hari ini nomor satu, tahun depan bisa jadi tinggal nama. Yahoo pernah besar, kini terseok-seok, demikian pula MySpace, Nokia, BlackBerry, dan sebagainya.

Maliq & D'essentials menyemarakkan acara megakonser bertajuk OPPO Selfie Fest “Dare to Dream”, Kamis, 24 November 2016.
Foto: dok. OPPO

Isyana Sarasvati, yang merupakan brand ambassador OPPO, tampil dalam acara megakonser bertajuk OPPO Selfie Fest “Dare to Dream”, Kamis, 24 November 2016.
Foto: dok. OPPO
“Di seluruh dunia, tak ada yang loyal pada merek…. Konsumen hanya loyal pada produk yang bagus,” kata Ivan. Produk yang bagus dan dibutuhkan konsumen itu kuncinya. “Kami terus mencari apa yang dibutuhkan orang dan bagaimana pemakaiannya sehari-hari.”
Ivan tak suka selfie jika sedang sendiri, tapi dia yakin, swafoto itu masih akan jadi tren dalam beberapa tahun mendatang. Sudah beberapa lama Oppo menggenjot fitur selfie di ponselnya. Awal tahun lalu, Oppo memperkenalkan F1s dengan resolusi kamera depan 16 megapiksel plus fitur Beautify 4.0. Resolusi kamera depan F1s lebih tinggi ketimbang kamera belakang.
“Kami berani meluncurkan ponsel dengan kamera depan beresolusi lebih tinggi karena kami melihat konsumen masih belum puas dengan kualitas kamera depan…. Kalau kami merasa bisa membuat sesuatu yang lebih bagus, mengapa tidak kami kerjakan?” kata Ivan. Tak ada jalan lain, inovasi atau mati.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.