INTERMESO
"Aku serahkan ketiga putriku kepada Republik."
Annie Kobus, Dolly Zegerius, dan Betsy
Foto: dok pribadi Dolly
Surat kabar Merdeka edisi 6 Januari 1947 menulis, tepat pukul 14.30 tanggal 3 Januari 1947 rombongan orang-orang Indonesia yang selama ini tinggal di negeri Belanda tiba di Stasiun Yogyakarta dengan kereta api dari Jakarta. Rombongan itu terdiri atas 147 orang, antara lain terdapat Rustam Effendi dan Rachmad Gondosoebroto sebagai pemimpin rombongan.
Terselip di antara orang-orang Indonesia, juga ada politikus keturunan Belanda, Ernest Douwes Dekker, juga nyonya-nyonya Belanda, istri orang Indonesia yang berpendirian pro-Republik Indonesia. Di Stasiun Yogyakarta, Dolly Zegerius berpisah dengan teman-temannya, tiga bersaudara Kobus dari Amsterdam: Betsy, Annie, dan Miny.
Bersama suaminya, Soetarjo Soerjosoemarno, dan anaknya, Soenarjo, Dolly menuju rumah Jenderal Urip Sumohardjo. Urip adalah atasan kakak Soetarjo. Mereka menginap di rumah itu dua hari sebelum menuju rumah keluarga besar Soetarjo di Solo. Sementara itu, kakak-adik Kobus beserta rombongan lainnya tinggal di kamp Republik di Kaliurang.

Dolly Zegerius
Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Tanyakan saja kepada Sukarno. Mungkin dia akan memberikan itu semua kepada kalian." Bupati Malang pada masa perang kemerdekaan."
Setelah beberapa hari di kamp, rombongan dari Belanda tersebut diundang Presiden Sukaro ke Istana Presiden. Hilde Janssen, penulis kisah hidup perempuan-perempuan Belanda itu dalam buku Tanah Air Baru, Indonesia, mengatakan ketiga kakak-adik Kobus sangat kagum kepada Sukarno.
"Mereka bilang Sukarno lebih tampan dari poster-poster di kamp dalam seragam putih dan peci hitam," ujar Hilde menirukan cerita dari Annie Kobus kepada detikX seusai peluncuran buku di sebuah toko buku di kawasan Plaza Senayan, Jakarta, 10 November lalu.
Saat mendapat giliran bersalaman, Ma Hekkelman, ibu Kobus bersaudara, yang turut serta dari Belanda berkata kepada Bung Karno. "Aku serahkan ketiga putriku kepada Republik." Sambil menepuk bahu sang ibu, Sukarno berkata, "Jangan khawatir, Ibu, kami akan menjaga mereka." Miny Kobus menawarkan tenaganya bersama kakak-kakaknya kepada seorang menteri yang hadir saat penyambutan itu. "Kirimkan kami ke tempat yang membutuhkan. Kami akan bekerja di sana."

Ketiga kakak-adik Kobus di Surabaya 1952
Foto: repro buku Tanah Air Baru, Indonesia
Staf menteri itu lalu memberitahukan bahwa di daerah Jember, Jawa Timur, Palang Merah Indonesia mendirikan tempat penampungan bagi pengungsi asal Surabaya yang melarikan diri. Bantuan tenaga tambahan sangat dibutuhkan di sana. Betsy, yang sedang hamil tua, juga memutuskan berangkat ke Jember. Mereka bersama ibu dan suami-suami akhirnya menempuh perjalanan dua hari menggunakan bus menuju Jember.
Miny dan Annie tinggal di dekat gedung penampungan sekaligus rumah sakit darurat bagi anggota militer. Anak-anak pengungsi kondisinya sangat memprihatinkan. Sebagian besar menderita gizi buruk. Miny dan Annie berkeliling di lingkungan sekitar mencari susu dan makanan bagi anak-anak itu. Namun, makanan yang mereka kumpulkan justru dihabiskan para perawat lainnya. Miny, yang sangat marah, akhirnya memutuskan pindah ke Malang.
Keluarga Kobus merupakan aktivis perkumpulan pemuda-pemudi sosialis di Amsterdam. Saat Jerman angkat kaki dari Belanda, sejumlah mahasiswa Indonesia yang membantu gerakan perlawanan pada Jerman meminta bantuan serupa untuk perjuangan kemerdekaan. Mereka pun turut berpartisipasi dalam konser amal untuk penggalangan dana bagi perjuangan. Tak hanya itu, sejumlah pelaut Indonesia yang bekerja di perusahaan kapal Belanda kerap berkunjung untuk berdiskusi dan meminta bantuan.

Dolly Zegerius (kiri) dan Annie Kobus
Foto: repro dok pribadi Dolly
Seusai konser, Miny mendapat sehelai pamflet. Isinya mengenai masa depan Indonesia, soal kemerdekaan. Ketiganya sependapat, menurut mereka, setiap bangsa memiliki hak untuk berdiri sendiri sebagai negara demokrasi. Keluarga ini pun turut bahagia ketika para pekerja itu mambawa kabar soal kemerdekaan Indonesia. Bahkan, ibu mereka membuat pita merah-putih, simbol dukungan untuk kemerdekaan Indonesia. Setiap pemuda asal Indonesia yang mampir ke rumah mereka disemati jasnya dengan pita dwiwarna itu.
Banyak bergaul dengan orang Indonesia, tiga gadis keluarga Kobus pun mendapatkan jodoh orang Indonesia. Betsy menjalin hubungan dengan Djoemiran, asal Kebumen, Jawa Tengah. Djoemiran lantas mengenalkan Amarie, kelasi kapal angkut yang pernah menjadi petugas meriam kapal melawan Jerman di pesisir Eropa Barat dan Afrika Utara, kepada Miny. Sedangkan Annie akhirnya menjadi kekasih pemuda asal Madura, Djabir. Sebelum pulang ke negara sang suami, ketiga pasangan kekasih ini menikah pada 9 Mei 1946 di Amsterdam.
Sementara itu, Dolly tidak begitu lama berada di Solo. Jenderal Urip segera mengangkat Soetarjo yang seorang serjana geodesi lulusan Technische Universiteit Delft menjadi Kepala Jawatan Topografi Angkatan Darat. Tugasnya membuatkan peta untuk Tentara Pelajar. Karena markas Jawatan Topografi berada di Malang, Dolly pun ikut pindah. Malang menjadi basis tentara Indonesia di Jawa Timur setelah Surabaya jatuh pada akhir 1945. Di kota ini keempat sahabat itu kembali bertemu.
Soetarjo Soerjosoemarno saat kuliah di Belanda
Foto: repro dok pribadi Dolly
Dolly Zegerius dengan dua buku karya Hilde Janssen
Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Situasi damai di Malang tak berlangsung lama. Pertempuran mendadak pecah pada 21 Juli 1947 ketika pasukan Belanda menyeberangi garis demarkasi di Porong. Soetarjo suami Dolly meninggalkan rumah untuk bergerilya. Dolly dan anaknya, Soenarjo, kemudian dititipkan kepada Miny dan Annie. "Saya waktu itu sedang hamil Marini," ujar Dolly pada detikX di kediamannya, kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan. Marini Soerjosoemarno kemudian dikenal menjadi salah satu penyanyi dan artis peran papan atas.
Kota Malang akhirnya dikuasai Belanda pada awal Agustus 1947. Kompleks Bergenwijk tempat Dolly tinggal pun diisi dengan pendatang baru pro-Belanda. Seluruh kompleks tahu bahwa mereka menikah dengan orang Indonesia dan pro-Republik. Karena ikut berdemonstrasi menentang pemerintahan Belanda, ketiganya diberi julukan Tiga Musketeer. "Saya sih bangga dengan julukan itu," kata Dolly sambil tertawa.
Suatu ketika, mereka melihat rumah tetangga mereka sudah dialiri listrik dan sambungan air sudah diperbaiki. Mereka bertiga pun bergegas menuju kantor bupati untuk meminta sambungan listrik dan perbaikan saluran air. Namun bupati asal Belanda itu malah menjawab ketus, "Tanyakan saja kepada Sukarno. Mungkin dia akan memberikan itu semua kepada kalian."
Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.