INTERMESO
“Kabarnya, Tae-min mengontrol sepenuhnya tubuh dan pikiran
Park Geun-hye.”
Protes menuntut pengunduran diri Presiden Park Geun-hye di Seoul, Sabtu, 29 Oktober 2016.
Foto: Getty Images
Oh Yoo-jeong benar-benar tak habis pikir. Ketika orang sudah memikirkan cara pergi ke Planet Mars, masih ada orang yang mempercayai dukun. Yang bikin dia makin sewot, pemimpin tertinggi di negaranya besar kemungkinan termasuk orang yang percaya pada hal-hal tak masuk akal itu.
“Aku sangat malu jika ada orang asing bertanya dari mana asalku,” kata Yoo-jeong kepada New York Times, saat turut ke jalan di Kota Seoul, menuntut Presiden Korea Selatan Park Geun-hye turun. “Sampai hari ini, aku pikir hal-hal seperti itu hanya ada di drama sejarah di televisi.”
Sejak beberapa pekan lalu, ratusan ribu warga Korea Selatan berkali-kali turun ke jalan. Mereka marah besar mengetahui skandal besar yang melibatkan orang-orang dekat Presiden Geun-hye. Salah satu tersangka utama kasus ini adalah Choi Soon-sil, 60 tahun. Perempuan inilah yang dituding sebagai dukun yang punya pengaruh besar terhadap Presiden Geun-hye. Soon-sil memang sobat dekat Presiden Geun-hye sejak puluhan tahun lalu.
Media di Korea Selatan punya sejumlah julukan bagi Soon-sil. Ada yang menjulukinya “The Devil Wear Prada”, ada pula yang menyebutnya “Rasputin Perempuan”, merujuk pada Grigori Rasputin, dukun Rusia yang dekat dengan keluarga Tsar Nicholas II seabad silam. “Aku percaya pada dia lantaran dia bersamaku saat aku melewati masa-masa paling sulit dalam hidupku,” kata Presiden Park Geun-hye soal hubungannya dengan Choi Soon-sil.

Ribuan warga Korea Selatan turun ke jalan menuntut Presiden Park Geun-hye mundur, Sabtu, 5 November 2016.
Foto: Getty Images
Para pemimpin semua agama dan kepercayaan, datang dan belajarlah kepada dia.”
Iklan di sebuah harian soal akan datangnya “Pembawa Wahyu dari Dunia Spiritual”Walaupun tak punya jabatan di Istana Kepresidenan Korea Selatan atau Istana Biru, kabarnya Soon-sil ikut menyusun pidato Presiden Geun-hye, bahkan konon turut menentukan hal-hal sepele, seperti warna busana yang harus dikenakan Presiden. Presiden Geun-hye, terungkap dari rekaman percakapan telepon yang diperoleh Kantor Kejaksaan Seoul dari ponsel milik Jeong Ho-seong, mantan Sekretaris Presiden Geun-hye, beberapa kali memerintahkan pembantunya meminta pendapat Soon-sil soal rancangan pidatonya.
Begitu besar kekuatan pengaruh perempuan itu di pucuk kekuasaan di Seoul, seorang mantan pejabat Istana Biru menyebut Soon-sil sebagai orang paling berkuasa di Korea Selatan. “Saat aku masih bekerja di sana, orang-orang selalu memperingatkan, Jika terlalu dekat dengan Soon-sil, pelan-pelan kalian akan tersingkirkan….’ Aku mengangkat isu soal tidak transparannya pengambilan keputusan, maka aku ditendang ke luar,” kata Cho Eung-chun, mantan Sekretaris Senior Presiden, kepada Reuters.
Park Geun-hye dan Soon-sil memang punya sejarah sangat panjang. Kisah mereka bermula dari Choi Tae-min, ayah Soon-sil.
* * *
Pada 1973, ada iklan di sebuah harian di Korea Selatan yang memuat kabar soal akan datangnya “Pembawa Wahyu dari Dunia Spiritual”. Menurut iklan kecil itu, “nabi baru” tersebut menggabungkan semua kebaikan yang ada di agama Buddha, Kristen, Islam, dan agama lain.
Orang yang mengklaim sebagai pembawa wahyu dan sang penyelamat itu bernama Won Ja-kyong. “Para pemimpin semua agama dan kepercayaan, datang dan belajarlah kepada dia…. Bagi mereka yang menderita sakit tak tersembuhkan, datang dan mintalah nasihatnya,” dia menulis dalam iklan itu seperti dikutip New York Times.
Won, kala itu sudah 61 tahun, hanyalah satu dari belasan nama alias yang biasa dipakai oleh Choi Tae-min. Tak jelas benar bagaimana asal-muasal Won alias Choi ini bisa mengaku sebagai “nabi pembawa wahyu”. Tak banyak orang kenal siapa Choi sebenarnya. Dia lahir di daerah So-dong di Kota Sariwon, Provinsi Hwanghae Utara—kini bagian dari Korea Utara—pada 5 Mei 1912.
Puluhan ribu warga Korea Selatan menyemut dalam demonstrasi menuntut Presiden Park Geun-hye mundur di Kota Seoul, Sabtu, 5 November.
Foto: Getty Images
Kalau ada orang yang sedikit kenal dengan Choi Tae-min, dia adalah Jeon Ki-young, kini pendeta di Gereja Fidelity di Kota Haemi, Provinsi Chungcheong, Korea Selatan. Pada awal 1970-an, Pendeta Jeon adalah salah satu pemimpin Majelis Umum Gereja Presbyterian Korea yang menganugerahkan titel “pendeta” kepada Choi. Kepada wartawan harian Hankyoreh, Pendeta Jeon menuturkan seperti apa sosok Choi Tae-min.
Ayah Choi Tae-min, menurut Pendeta Jeon, adalah seorang prajurit pada masa Korea diduduki tentara Jepang. Choi sempat menjadi pesuruh di Kepolisian Anak, Hwanghae. Di sinilah dia dekat dengan Cho Hyeon-jong, salah satu komandan di kantor itu. Cho menganggap Choi Tae-min sebagai saudara. Setelah Korea merdeka, mereka berdua pindah ke selatan. Cho-lah yang memperkenalkan Choi Tae-min dengan Majelis Umum Gereja Presbyterian. Purnadinas dari militer, Cho menjadi Sekretaris Jenderal Gereja Presbyterian.
Saat itu, kata Pendeta Jeon, pengikut Gereja Presbyterian di Korea masih sangat sedikit. “Masa itu adalah masa-masa membingungkan…. Kami belum benar-benar paham ajaran Kristen,” kata Pendeta Jeon. Maka orang-orang seperti Choi Tae-min yang tak pernah mendalami teologi Kristen pun bisa ditahbiskan sebagai “pendeta”.
Dengan rupa-rupa nama, Choi Tae-min, yang tak punya gereja, mengumpulkan pengikut. Tahk Myeong-hwan, penulis biografi Choi, pertama kali bertemu dengan “pendeta” itu di lereng Gunung Bomun pada 1973. Seperti sejumlah orang, Tahk tertarik dengan iklan yang dipasang Choi alias Won Ja-kyong. Bukan Kristen Presbyterian yang disampaikan oleh “Pendeta” Choi. Dia malah memperkenalkan Yeongsegyo, aliran kepercayaan yang dia dirikan. Saat itu Choi Tae-min masih miskin.
Pertemuannya dengan Park Geun-hye-lah yang mengubah hidup Choi. Pertemuan dengan Park Geun-hye, kini Presiden Korea Selatan, menurut penuturan Choi kepada Pendeta Jeon, bermula dari suatu “penampakan”. Suatu hari, saat Choi Tae-min bertapa di gua di daerah pegunungan, satu roh laki-laki menghampirinya. Roh itu mengatakan bahwa roh Yuk Young-soo, ibu Park Geun-hye, tengah menunggunya di luar gua.
Park Geun-hye dan Choi Tae-min dalam acara Daehan Guguk Sipjagun,Juni 1975
Foto: Joongang
Park Geun-hye dan Choi Tae-min pada Juni 1975
Foto: Yonhap
Roh Yuk, Pendeta Jeon mengutip cerita Choi Tae-min, meminta temannya itu membantu Geun-hye yang tengah dalam kesulitan setelah kematian ibunya. Yuk, kala itu istri Presiden Korea Selatan Park Chung-hee, tewas dibunuh intel Korea Utara pada 15 Agustus 1974. Saat ibunya tiada, Geun-hye baru berumur 22 tahun. Gadis itu menggantikan peran ibunya sebagai Ibu Negara Korea Selatan.
Choi Tae-min turun dari gunung, menulis surat kepada Park Geun-hye dan mengirimkannya ke Istana Kepresidenan Korea atau Blue House lewat kantor pos Gwanghwamun, Seoul. Beberapa hari kemudian, telepon di rumahnya di Yongsan, Seoul, berdering. Seorang staf Istana Biru menyampaikan permintaan Geun-hye supaya Choi Tae-min datang.
Saat bertemu dengan Geun-hye, Choi membisikkan satu rahasia yang disampaikan roh Yuk Young-soo. Konon, Geun-hye sempat pingsan setelah mendengar bisikan Choi Tae-min. “Jika kamu ingin terus mendengarkan suara ibumu, kamu bisa mendengarkannya lewat aku,” kata Tae-min, dikutip Korea Herald. Sejak hari itu, bak terkena pelet, Geun-hye jadi lengket dengan Choi Tae-min, yang 40 tahun lebih tua darinya. Ibu Negara Geun-hye sering kali tampil berdua dengan laki-laki itu dalam sejumlah acara.
Hubungan “ganjil” seperti ini sudah pasti memancing kasak-kusuk. Kim Jae-gyu, Direktur Dinas Intelijen Korea, turun tangan menelusuri gosip tak sedap itu. Intel-intelnya sempat mendatangi Tahk Myeong-hwan. Tahk memberi informasi soal aliran kepercayaan “gado-gado” yang didirikan Choi Tae-min. Laporan Jae-gyu sampai ke telinga Presiden Park Chung-hee. Presiden bertanya langsung kepada putrinya dan Tae-min soal kasak-kusuk tersebut.
Geun-hye mati-matian melindungi Choi Tae-min. “Jangan bicara soal hubungan fisik…. Kami seperti keluarga spiritual. Kami ibarat pasangan yang menikah,” Pendeta Jeon, mengutip kata-kata Tae-min. Demi menyenangkan putri sulungnya, Presiden menerima penjelasan Geun-hye dan Tae-min.

Seorang warga Korea Selatan membawa poster menuntut Presiden Park Geun-hye mundur, Senin, 31 Oktober 2016.
Foto: Reuters
Jangan bicara soal hubungan fisik…. Kami seperti keluarga spiritual.”
Choi Tae-minBermodal sokongan Presiden Chung-hee dan Geun-hye, kabarnya Choi Tae-min dan keluarganya terus menumpuk kekayaan. Tae-min menikah enam kali dan punya beberapa anak. Choi Soon-sil merupakan anak dari istri kelimanya. Beberapa bulan setelah masuk lingkaran Istana Biru, Tae-min mendirikan Daehan Guguk Seongyodan untuk menandingi gereja-gereja Kristen. Geun-hye menjadi presiden kehormatannya.
Dengan mencatut Istana Biru, organisasi itu cepat menggelembung besar dan duit datang dari mana-mana. “Tae-min membuang duit seolah-olah seperti membuang air,” Tahk Myeong-hwan menulis di bukunya. Ketika Tae-min menggelar resepsi pernikahan salah satu anaknya, sebagian besar pejabat tinggi dan pengusaha besar Korea Selatan ada di daftar tamu.
Hubungan Tae-min dengan Geun-hye terus berlanjut setelah Presiden Park Chung-hee tewas dibunuh pada 26 Oktober 1979. Bahkan dua adik kandung Geun-hye, Park Ji-min dan Park Geun-ryeong, tak bisa memisahkan keduanya. Upaya mereka minta pertolongan Presiden Roh Tae-woo pada 1990 untuk menyingkirkan Tae-min dari hidup Geun-hye juga gagal total. Justru mereka yang tersingkir. “Kabarnya, Tae-min mengontrol sepenuhnya tubuh dan pikiran Park Geun-hye,” diplomat di Kedutaan Amerika mengirimkan kawat soal masa lalu Geun-hye pada 2007.
Menurut Pendeta Jeon, saat mereka bertemu pada 1993, Tae-min sudah menyampaikan “ramalan”-nya bahwa Geun-hye akan jadi Presiden Korea Selatan suatu hari nanti. Tae-min tak sempat menyaksikan Geun-hye kembali ke Istana Biru. Dia meninggal pada Mei 1994.
Putrinya, Choi Soon-sil, adalah orang yang terus mendampingi Geun-hye, mengisi posisi Tae-min, sampai hari ini. Soon-sil ditahan Kejaksaan Seoul pekan lalu.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.