INTERMESO

Panglima Bromocorah dari Tapal Kuda

Kiai As'ad Syamsul Arifin merekrut ribuan bandit dan bromocorah untuk menghadapi penjajah. Menggunakan strategi gerilya: serang, lalu lari.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Kamis, 17 November 2016

Pada suatu hari di sebuah kampung di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur, Kiai As'ad Syamsul Arifin mendapat kabar ada masjid yang tak pernah terisi penuh setiap kali Jumatan digelar. Padahal seluruh penduduk di kampung itu menyebut diri mereka sebagai muslim. Setelah diselidiki, ternyata di kampung itu ada seorang dedengkot bromocorah yang tak pernah Jumatan, apalagi salat, dan sangat ditakuti warga sekitar.

Akhirnya Kiai As'ad memutuskan menemui si bromocorah, yang menyambutnya dengan penuh ketar-ketir. Dia mengira akan didamprat habis oleh sang kiai. Maklum, Kiai As'ad bukan cuma dikenal sebagai guru mengaji para santri, tapi juga punya aji-aji mumpuni. Para jawara, bajingan, dan bandit di sejumlah daerah di Tapal Kuda bertekuk lutut kepadanya.

Ternyata dia keliru. Kiai As'ad justru datang dengan sikap santun dan tutur kata halus. Kepada si bromocorah, As'ad berjanji akan berkumpul dengannya, baik di dunia maupun di akhirat, andai dia dan segenap warga kampung berkenan memakmurkan masjid setiap Jumat. “Bahkan, bila dia nyasar ke neraka di akhirat kelak, Kiai bersedia menariknya ke surga,” tulis Syamsul A. Hasan di halaman 148 buku Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat. Jurus tersebut ampuh menggetarkan dan meluluhkan hati si bromocorah. Dia pun insaf dan, bersama warga, kemudian ke masjid setiap Jumat.

Konvoi Laskar Hizbullah
Foto: dok. Perpustakaan Nasional


As'ad pernah memimpin pencurian senjata milik Belanda di gudang mesiu Dabasah, Bondowoso, pada akhir Juli 1947."

Menurut Zainul Milal Bizawie, doktor ilmu sejarah dari Universitas Indonesia, karisma kiai As'ad sangat kuat di kalangan kaum bromocorah, bandit, dan berandalan karena memperlakukan mereka bukan sebagai sampah masyarakat, melainkan bagian dari keluarganya sendiri sejauh bersedia mengikuti titah sang kiai. Mereka yang berasal dari kawasan Tapal Kuda (Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang, dan Pasuruan) dikumpulkan untuk diajak berjuang melawan penjajah Belanda.

Mereka dihimpun dalam satu barisan yang kemudian populer dengan sebutan Pasukan Pelopor dengan seragam serbahitam, mulai baju, celana, hingga tutup kepala. Mereka menggunakan senjata celurit, rotan, dan keris. “Jumlahnya ribuan orang,” kata penulis buku Masterpiece Islam Nusantara terbitan Pustaka Compass, April 2016, saat dihubungi detikX, Senin, 14 November 2016.

Perekrutan mereka yang biasa bergerak di dunia hitam menjadi anggota Pasukan Pelopor, Milal melanjutkan, dimulai setelah terbitnya Resolusi Jihad Nahdlatul Ulama pada pertengahan Oktober 1945. Kiai As'ad lantas berkeliling ke pondok pesantren di kawasan Madura untuk menemui para kiai di sana. Bukan untuk minta santri, ustad, atau wali santri, melainkan para bajingan yang bersedia dilatih di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo, Situbondo, guna melawan penjajah. Para tokoh bajingan dari Pulau Madura dan Karesidenan Besuki pun berduyun-duyun menuju Sukorejo.




KH As'ad Syamsul Arifin bersama para pejuang kemerdekaan
Foto: koleksi Pesantren Salafiah Syafi'iyah, Repro: Ghazali Dasuqi/detikcom

Di sana, kiai As'ad lantas memompa semangat dan melatih mereka untuk ikut membela agama sekaligus mempertahankan kemerdekaan Republik. Menurut  KH Muhyidin Abdusshomad, keponakan Kiai As'ad, kepada para bromocorah itu kemudian diberikan doa-doa yang harus mereka amalkan sehingga punya kekebalan tubuh terhadap senjata tajam. Juga ada amalan yang memungkinkan para bromocorah itu tak kelihatan oleh musuh saat mencuri senjata dari gudang milik Belanda. Kiai As'ad juga memiliki ilmu-ilmu lain yang sulit dicerna oleh logika orang awam. 


Muhyidin mencontohkan, saat perundingan dengan seorang panglima Jepang, Kiai sempat menggebrak meja hingga hancur menjadi butiran sebesar kerikil ketika si Jepang menolak permintaannya. "Kejadian itu disaksikan banyak orang, termasuk ayah saya (KH Abdusshomad). Jepang pun akhirnya mau meninggalkan wilayah Tapal Kuda," tutur Muhyidin.

Untuk mendapatkan logistik, menurut Milal, Kiai As'ad menjalin hubungan dengan para habib, yang kebetulan banyak menjadi pedagang. Selain itu, As'ad mengeluarkan harta pribadinya untuk menjamu para pejuang di Pesantren Sukorejo, yang kala itu menjadi markas pejuang kemerdekaan. “Menurut kesaksian sejumlah sumber, jumlahnya diperkirakan mencapai 10 ribu orang,” ujarnya.

Pasukan Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pasukan lain berjuang dengan strategi gerilya. Mereka masuk gunung dan keluar gunung untuk menyerang pasukan Belanda, lalu mengamankan diri. Mereka menggunakan taktik serang dan lari. Strategi ini dijalankan oleh para santri yang tergabung dalam pelbagai laskar, hingga Negara Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda pada Desember 1949. 

Bersama Pasukan Pelopor, menurut Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial dan Penanggulangan Kemiskinan Kementerian Sosial Hartono Laras, As'ad pernah memimpin pencurian senjata milik Belanda di gudang mesiu Dabasah, Bondowoso, pada akhir Juli 1947. “Senjata curian itulah yang digunakan untuk melawan laju pasukan Belanda,” ujarnya saat ditemui di gedung Konvensi, Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Timur, Kamis, 10 November.

KH Mahrus Ali, Lirboyo, Kediri; KHR As'ad Syamsul Arifin; KH Ali Ma'shum, Krapyak, Yogyakarta
Foto: koleksi Pesantren Salafiah Syafi'iyah, Repro: Ghazali Dasuqi/detikcom

Selain itu, persenjataan biasanya didapatkan dari para petugas keamanan pabrik gula milik Belanda di kawasan Situbondo. Pada masa penjajahan, pabrik gula memegang peran vital sebagai lumbung ekonomi Belanda hingga mendapat akses langsung ke birokrasi pusat. Di pabrik, para pekerja bagian keamanan diberi fasilitas senjata. Pencurian ini biasanya melibatkan sejumlah berandal dan preman yang beraksi pada malam hari.

Selama memimpin perang gerilya, menurut Syamsul A. Hasan, Kiai As'ad sering menunggang kuda putih, warna kesukaannya. Karena itu, ia dikenal pula dengan sebutan "Satria Kuda Putih”. Mengapa menggunakan kuda putih? "Nabi Ibrahim kudanya juga putih," ujarnya suatu ketika kepada Tempo edisi 15 Oktober 1983.

Bukan cuma kuda putih, kiai karismatik ini juga dikenal rajin mengurusi enam ekor ayam hutan, juga memelihara seekor burung beo yang pintar berbicara. Jika ada tamu yang datang, burung itu memberi salam: assalamualaikum. Dan bila membalas tegur sapa sang beo, biasanya sang tamu lantas tertawa lantaran si beo membalas dengan kata “aassooiii”. Burung beo itu pun, menurut santri di sana, bisa melafalkan Allahu akbar bila bergema suara azan. “Burung ini pemberian orang sebagai hadiah,” kata seorang pembantu Kiai As’ad.

Selain disegani kalangan bromocorah dan kalangan dunia hitam, pada bagian lain Syamsul memaparkan, sang kiai diakui karisma dan karomahnya oleh para santri dan kiai-kiai senior yang mengenalnya. Pada era sebelum kemerdekaan, karisma kiai As'ad tecermin dari kerap berdatangannya tokoh Belanda ataupun Jepang. Van der Plas (Gubernur Hindia Belanda di Jawa Timur) dan Abdul Hamid Ono termasuk yang pernah menemui sang kiai untuk bernegosiasi selama mereka menjalankan tugas.

Berpuluh tahun setelah merdeka, nama besar sang kiai dan pesonanya juga menjadi magnet bagi kalangan artis di Tanah Air. Si Raja Dangdut Rhoma Irama, yang mengenal kiai As’ad sejak 1977, menilai Kiai As’ad bukan cuma sebagai sosok ulama yang mumpuni di bidang keagamaan, tapi juga berwawasan luas di bidang lain. Rhoma mengaku merasa sangat khusyuk bila menjadi makmum sang kiai saat salat berjemaah. Tak aneh bila dia dan personel Soneta biasa menyempatkan diri ke kediaman Kiai As'ad dan meminta nasihat bila hendak menggelar konser di Jawa Timur.


Reporter: Pasti Liberti Mappapa, Yakub Mulyono, Sudrajat
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE