INTERMESO

Skandal 'Rasputin'
di Istana Biru

“Apa pun yang berkaitan dengan Presiden Park tak bisa dijelaskan
tanpa dihubungkan dengan keluarga Choi.”

Protes menuntut pengunduran diri Presiden Park Geun-hye di Kota Seoul, Sabtu, 29 Oktober 2016.

Foto: Getty Images

Selasa, 15 November 2016

Kisah itu bermula di Makau lebih dari empat tahun lalu. Tak diizinkan berjudi di negerinya sendiri, Korea Selatan, Jung Woon-ho “lari” ke Makau, Cina, untuk menyalurkan hobinya bertaruh.

Selama dua tahun berjudi di Makau, kadang juga di Filipina, bos perusahaan kosmetik The Nature Republic itu menandaskan duit hingga 10 miliar won, kurang-lebih setara dengan Rp 115 miliar, di atas meja judi. Dasar nasib sial, kelakuan Jung ketahuan penegak hukum dari negaranya.

Bagi warga Korea Selatan, berjudi di negeri sendiri ataupun di negara orang merupakan pelanggaran hukum. Setahun lalu, dia diseret ke pengadilan dan dijatuhi hukuman penjara setahun. Tapi namanya orang punya banyak duit, Jung tak mau sumarah tanpa usaha. Lewat sejumlah perantara, Jung berusaha berkelit dari hukuman.

Akrobat Jung berkelit dari hukuman inilah yang jadi pembuka kisah terungkapnya skandal besar yang menggoyang kursi Presiden Korea Selatan Park Geun-hye. Pemeriksaan jaksa terhadap Jung membongkar jejaring suap-menyuap yang melibatkan jaksa, hakim senior, keluarga pemilik raksasa retail Lotte, hingga lingkaran dalam Istana Cheong Wa Dae alias Istana Blue House.

Woo Byung-woo, Sekretaris Senior untuk Hubungan Sipil di Kantor Kepresidenan, diduga ikut “bermain” dalam kasus Jung Woon-ho. Alih-alih meminta Woo mundur dari jabatan, kala itu Presiden Park malah “pasang badan” membela anak buahnya. Dia minta Woo tetap bertahan. Istana Biru berpendapat, tak ada bukti kuat yang menyokong tudingan terhadap Woo Byung-woo.

Choi Soon-sil, kawan dekat Presiden Park Geun-hye, menutup wajahnya saat digiring ke kantor Kejaksaan Seoul, Senin, 31 Oktober 2016.
Foto: Getty Images


Aku percaya kepada dia lantaran dia bersamaku saat aku melewati masa-masa paling sulit dalam hidupku.”

“Tetaplah setia pada keyakinanmu…. Kita tak boleh tunduk pada tuduhan seperti ini demi kepentingan negara,” kata Presiden Park, dikutip Kyunghyang Shinmun, beberapa bulan lalu. Menurut juru bicara Istana Biru, ada upaya sistematis untuk “menembak” Istana Biru lewat kasus Jung Woon-ho. “Mereka menyerang Istana Biru dengan memanfaatkan pendapat umum bahwa pejabat yang punya kekuasaan besar dan kekayaan pasti punya rahasia kotor.”

Belum tuntas skandal pertama, harian Chosun Ilbo mengungkap skandal kedua. Woo dan keluarganya diduga mendapat “perlakuan istimewa” dari perusahaan game Nexon. Sudah bertahun-tahun, istri Woo dan keluarganya berusaha menjual tanah warisan di daerah Gangnam, Seoul, tapi tanpa hasil. Padahal mereka butuh uang segera untuk membayar pajak atas warisan. Pada 2011, Nexon membeli tanah itu dengan nilai 132 miliar won atau Rp 1,5 triliun. Yang jadi soal, Nexon diduga membeli tanah itu di atas harga pasar.

Penelusuran Chosun Ilbo tak hanya membongkar kasus “amis” yang melibatkan Woo, tapi juga pembantu Presiden Park lainnya: Ahn Chong-bum, Sekretaris Presiden untuk Koordinasi Kebijakan. Sekretaris Ahn diduga “menginjak kaki” perusahaan-perusahaan raksasa yang tergabung dalam Federasi Industri Korea.

Memanfaatkan posisinya sebagai pejabat tinggi di lingkaran Istana Biru, Ahn menekan Samsung, Grup SK, Lotte, dan sejumlah perusahaan besar Negeri Ginseng untuk menyetor “sumbangan” ke rekening milik dua yayasan, yakni Yayasan MIR dan Yayasan K-Sports. Lotte, misalnya, menyetor 8,7 miliar won ke K-Sports. Samsung Electronics menyetor 6 miliar won, sedangkan Hyundai Motor “menyumbang” 6,88 miliar won.

Presiden Park Geun-hye berpidato di Istana Blue House, Jumat, 4 November 2016.
Foto: Getty Images

Selama beberapa tahun, menurut data dari Chaebol.com, dua yayasan itu diduga telah mengumpulkan “sumbangan” senilai 80 miliar won atau sekitar Rp 920 miliar dari 53 perusahaan. Ahn sudah mengundurkan diri dari jabatannya. Beberapa hari lalu, Kejaksaan Negeri Seoul menggelandangnya ke ruang tahanan. “Aku sangat sedih… aku akan bertanggung jawab atas semua kesalahan,” kata Ahn dikutip Yonhap.

Praktek “menginjak kaki“ pengusaha untuk memberikan sumbangan, menurut seorang eksekutif perusahaan, bukan hal tak biasa di bawah Presiden Park Geun-hye. “Dalam beberapa tahun terakhir, gaya pengumpulan sumbangan seperti ini naik tajam,” kata dia kepada Korean Herald.

Jejak duit “sumbangan” kepada dua yayasan inilah yang akhirnya menyeret nama Choi Soon-sil, sobat lama Presiden Park. Beredar kabar, Choi-lah tokoh kunci di balik MIR dan K-Sports.

* * *

Pada Sabtu pekan lalu, ratusan ribu warga Korea Selatan tumpah ke jalan di Kota Seoul. Mereka menuntut Presiden Park Geun-hye lengser dari Istana Blue House. Cho Joo-pyo datang dari Jeonju, sekitar 200 kilometer dari Seoul, bersama istri dan anaknya yang baru berumur 2 tahun, hanya demi ikut protes menuntut Presiden Park mundur.

“Hari ini ulang tahun perkawinan kami. Tapi masa depan bagi anak kami lebih penting ketimbang ulang tahun perkawinan,” kata Cho kepada Guardian. Posisi Presiden Park makin terjepit setelah Choi Soon-sil dan orang-orang dekat Choi satu demi satu masuk penjara. Di depan tembok Istana Blue House, suara demonstran bergemuruh. “Park Geun-hye, turun saat ini juga.”




Presiden Park Geun-hye menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Korea Selatan di Istana Blue House, Jumat, 4 November 2016.
Foto: Getty Images

Media di Korea Selatan punya sejumlah julukan bagi Choi, perempuan 60 tahun itu. Ada yang menjulukinya “The Devil Wear Prada”, ada pula yang menyebutnya “Rasputin Perempuan”, merujuk pada Grigori Rasputin, dukun Rusia yang dekat dengan keluarga Tsar Nicholas II, seabad silam.

“Aku percaya kepada dia lantaran dia bersamaku saat aku melewati masa-masa paling sulit dalam hidupku,” kata Presiden Park soal hubungannya dengan Choi. Park Geun-hye dan Choi memang sudah sangat lama kenal. Keduanya akrab sejak 40-an tahun lalu. Setelah Park Geun-hye jadi Presiden Korea Selatan, walaupun sering tinggal di Jerman dan tak punya jabatan dalam pemerintahan, konon Choi punya pengaruh sangat besar di lingkaran paling dalam Istana Blue House.

Kabarnya, Choi ikut menyusun pidato Presiden Park, bahkan konon turut menentukan hal-hal sepele, seperti warna busana yang harus dikenakan Presiden. Presiden Park, terungkap dari rekaman percakapan telepon yang diperoleh Kantor Kejaksaan Seoul dari ponsel milik Jeong Ho-seong, mantan Sekretaris Presiden Park, beberapa kali memerintahkan supaya pembantunya meminta pendapat Choi Soon-sil soal rancangan pidatonya. 

“Dosa” Choi tak cuma ikut campur urusan pemerintahan dan melongok rahasia negara. Choi dibantu sejumlah pejabat tinggi di lingkaran dalam Istana beserta Cha Eun-taek dan Ko Yong-tae—keduanya pengelola yayasan dan perusahaan yang dikendalikan perempuan itu—diduga “menginjak kaki” para pengusaha besar untuk menyetor “sumbangan” kepada Yayasan MIR, Yayasan K-Sports, dan Widec Sports.

Samsung Electronics, misalnya, diduga menyetor “sumbangan” senilai 3,5 miliar won, sekitar Rp 40 miliar, kepada Core Sports—belakangan bersalin nama menjadi Widec Sports—perusahaan Jerman yang dikendalikan Choi. Pekan lalu, petugas kejaksaan menggeledah kantor pusat Samsung. Duit dari Samsung itu kabarnya dipakai untuk membiayai latihan berkuda Chung Yoo-ra, putri Choi Soon-sil.

Seorang warga Korea Selatan membawa poster menuntut Presiden Park Geun-hye mundur, Sabtu, 29 Oktober 2016.
Foto: Reuters

Dengan sokongan Choi di balik punggungnya, Cha Eun-taek, yang semula sutradara iklan, menjadi orang yang sangat berpengaruh di bisnis hiburan dan kebudayaan. Paling tidak, ada 20 proyek pemerintah yang berada di bawah kendali Cha Eun-taek. Hampir setiap acara yang dia buat selalu dihadiri oleh Presiden Park. Tak aneh jika orang-orang di bisnis hiburan menjulukinya “Sang Putra Mahkota”.

Harian Korea Joongang menulis, pejabat-pejabat kunci di lingkungan kebudayaan diisi oleh orang-orang dekat Cha. Mantan dosennya, Kim Jong-deok, menjadi Menteri Kebudayaan, paman Cha, Kim Sang-ryul, menjabat Sekretaris Presiden untuk Kebudayaan, dan sobatnya, Song Sung-gak, menjadi bos Korea Creative Content Agency. Pekan lalu, Kejaksaan Seoul menangkap Cha di Bandara Incheon. “Aku sangat menyesal,” kata Cha Eun-taek.

Begitu besar kekuatan pengaruh Choi di pucuk kekuasaan di Seoul, seorang mantan pejabat Istana Blue House menyebut Choi Soon-sil sebagai orang paling berkuasa di Korea Selatan.

“Saat aku masih bekerja di sana, orang-orang selalu memperingatkan, ‘Jika terlalu dekat dengan Choi Soon-sil, pelan-pelan kalian akan tersingkirkan….’ Aku mengangkat isu soal tidak transparannya pengambilan keputusan, aku pun ditendang ke luar,” kata Cho Eung-chun, mantan Sekretaris Senior Presiden, kepada Reuters.

Begitu kuatnya pengaruh Choi Soon-sil atas Presiden Park, bahkan dua adik Presiden, Park Ji-min dan Park Geun-ryeong, tak bisa menembusnya. Sudah bertahun-tahun Presiden Park dengan kedua adiknya putus hubungan. “Apa pun yang berkaitan dengan Presiden Park tak bisa dijelaskan tanpa dihubungkan dengan keluarga Choi. Choi sudah menjadi kaki dan tangan Presiden Park,” kata Shin Dong-uk, suami Park Geun-ryeong.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE