INTERMESO
PAHLAWAN-PAHLAWAN MUDA
“Kami tidak menerima donasi dan tak mau menjadikan Fingertalk sebagai yayasan sosial…. This is business for profit.”
Dissa di kafe miliknya
Foto-foto: Hasan Alhabshy/detikcom
Ada dua orang yang disebut namanya oleh Presiden Amerika Serikat Barack Obama saat berpidato dalam acara Young South East Asia Leaders Initiative di Universitas Souphanouvong, Luang Prabang, Laos, pada awal September 2016. Nama pertama adalah Mimi Sae-Ju, pendiri Lisu Cultural Heritage Center di Chiang Mai, Thailand.
Yang kedua adalah Dissa Syakina Ahdanisa, perempuan 26 tahun, asal Jakarta. “Dissa ingin negaranya menjadi tempat di mana orang bisa meraih mimpinya tanpa halangan. Tempat di mana putrinya nanti bisa menjadi orang yang dia inginkan,” Presiden Obama mengutip kata-kata dari Dissa. “Dan saya terinspirasi oleh apa yang dikerjakan Dissa.”
Dissa, yang hadir di tempat itu, sempat tak yakin bahwa namanya yang disebut Presiden Obama. “Saya sempat blank, saking enggak percaya. Benar itu nama saya?” kata dia. Sebelum acara, staf Gedung Putih memang sempat menelepon Dissa dan bertanya soal Fingertalk, kafe yang didirikan gadis itu. Tapi staf Gedung Putih juga mengingatkan supaya dia tak kelewat berharap kisahnya yang bakal dipilih Presiden Obama dalam pidato.
Video: Billy Triantoro/20detik.com
Dissa ingin negaranya menjadi tempat di mana orang bisa meraih mimpinya tanpa halangan.”
Dissa memang tumbuh di lingkungan keluarga yang peduli terhadap sesama. Sampai sekarang, ibunya masih mengelola yayasan pendidikan untuk anak-anak dari keluarga duafa. “Ayah dan ibu saya selalu mengingatkan supaya tak lupa dengan orang lain,” Dissa menuturkan.
Kebetulan pula, saat dia kuliah di Jepang, Dissa banyak bertemu dengan orang-orang yang tak melulu memikirkan masa depannya sendiri, tapi juga masa depan orang lain. Salah satu kakak kelasnya yang juga datang dari Indonesia, Megarini Puspasari, mendirikan Yayasan Hoshizora pada 2006. Yayasan di Yogyakarta itu menjembatani orang-orang yang ingin menjadi kakak asuh bagi anak-anak dari keluarga yang kurang mampu.
Dissa ikut membantu Megarini menjalankan Hoshizora. “Saya juga ikut dalam kegiatan kerelawanan untuk penyandang disabilitas,” kata Dissa. Di sela-sela waktu yang lain, dia juga masih kerja paruh waktu untuk mencukupi biaya hidup. “Saya pernah menjadi kasir di toko roti, juga pernah menjadi pencuci piring di hotel.”

Dissa bersama karyawan di kafenya
Saat masih kuliah di Australia, Dissa sempat menjadi relawan di Desa Shaitrawa, Jodhpur, Negara Bagian Rajasthan, India. Selama sebulan, Dissa tinggal bersama keluarga Dalit, kasta paling rendah di India, dan mengajarkan bahasa Inggris serta matematika kepada anak-anak. Di India, sebagian besar orang Dalit hidup sangat miskin. Mereka juga mengalami diskriminasi dalam segala hal.
Setelah mendapat gelar master dari Australia, Dissa sempat bekerja di Jepang. Hidup enak di Jepang tak membuat gadis itu lupa pada nasib orang lain yang hidup susah. Selama tiga bulan Dissa menjadi relawan untuk lembaga sosial di Granada, Nikaragua. Siang dia menjadi guru bahasa Inggris, malamnya menjadi akuntan untuk lembaga itu.
“Kalau hari Sabtu-Minggu, saya biasa jalan-jalan,” kata dia. Saat jalan-jalan itulah dia menemukan satu tempat makan yang tak biasa di Kota Granada, Café de las Sonrisas. Pemiliknya seorang laki-laki Spanyol. Yang istimewa dari kafe itu, semua karyawannya tunarungu. Walhasil, hanya dengan bahasa isyarat bisa berkomunikasi dengan mereka. “Mereka sangat ramah dan penuh senyum, menyambut semua orang yang masuk dan ingin belajar bahasa isyarat…. Padahal saat itu, boro-boro bahasa isyarat, bahasa Spanyol saja saya masih terbata-bata.”


Di seluruh dunia, warung seperti Café de las Sonrisas ini mungkin bisa dihitung dengan jari tangan. Di Jepang ada satu, demikian pula di Palestina. Dengan kartu di atas meja di Café de las Sonrisas, Dissa belajar berkomunikasi dengan pelayan tunarungu. Dissa melihat, meski punya keterbatasan, pelayan-pelayan tunarungu itu sangat ramah dan semangat bekerja.
Tersentuh melihat para karyawan Café de las Sonrisas di seberang lautan itu, Dissa bertekad membuat kafe serupa di Indonesia. Tapi apa daya, saat itu dia belum punya cukup uang. Sedikit demi sedikit Dissa menabung dari gajinya sebagai karyawan perusahaan investasi di Singapura. Sambil bekerja, Dissa belajar bahasa isyarat di Singapore Association for the Deaf sampai mahir bercakap dengan isyarat.
Begitu duit terkumpul pada awal 2015, Dissa siap mendirikan Fingertalk, kafe pertama dengan karyawan tunarungu di Pamulang, Tangerang Selatan. Dengan bantuan Pat Sulistyowati, Ketua Gerakan Kesejahteraan Tunarungu Indonesia, Dissa merekrut karyawan untuk Fingertalk.

Pelayan menyiapkan pesanan pembeli
Saya keburu minder, mana ada yang mau menerima saya dengan kondisi seperti ini.”
Ternyata tunarungu yang ingin bekerja lumayan banyak. Mereka datang dengan membawa lamaran dan ijazah. “Mereka mau menunjukkan bahwa mereka mampu. Saya sangat menghargai niat mereka,” Dissa menuturkan pengalamannya. Kini sudah ada tiga kafe Fingertalk dan pencucian mobil. Total ada 33 pegawai tunarungu yang bekerja untuk Fingertalk.
Demi Fingertalk, Dissa, yang masih bekerja di Credit Suisse, Singapura, tak enggan pulang ke Jakarta setiap pekan. Menurut Dissa, kafe kedua dan ketiga dimodali dengan duit investor. Namanya investasi, tentu saja duit itu harus dikembalikan kepada pemiliknya. Fingertalk memang tak dirancang sebagai yayasan sosial, tapi perusahaan yang memberikan keuntungan bagi karyawannya.
“Kami tidak menerima donasi dan tak mau menjadikan Fingertalk sebagai yayasan sosial…. This is business for profit,” Dissa menekankan. Dua kafe Fingertalk sudah bisa hidup dengan perputaran duit dari usaha itu. Kafe ketiga baru berumur sebulan. Dia membuktikan bahwa tunarungu juga bisa bekerja dan hidup mandiri. Menurut Dissa, para tunarungu berhak mendapatkan kesempatan dan pekerjaan yang layak, sama dengan semua orang.

Tempat pencucian mobil Fingertalk
Maruf, 24 tahun, sudah hampir dua tahun bekerja di dapur Fingertalk. Sebelumnya, pemuda tunarungu asal Ciamis, Jawa Barat, ini belum pernah bekerja. “Saya keburu minder, mana ada yang mau menerima saya dengan kondisi seperti ini,” Maruf menuturkan dengan bahasa isyarat. Dia tahu lowongan di Fingertalk lewat Facebook.
Dia mengirimkan surat lamaran lengkap dengan semua catatan prestasinya kepada Dissa. “Saya salah satu lulusan terbaik Sekolah Luar Biasa di Ciamis,” kata Maruf. Beberapa kali dia mewakili Ciamis dalam kejuaraan futsal. Kini dia menikmati bekerja di Fingertalk dan bertemu dengan komunitas tunarungu. “Saya belajar banyak hal dan bisa berinteraksi dengan pengunjung tanpa harus merasa malu.”

Infografis: Luthfy Syahban
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.