INTERMESO

PAHLAWAN-PAHLAWAN MUDA

Pendiri Istana bagi Anak-anak Banten

Melihat tingginya angka anak tak sekolah dan menikah pada usia muda, sejak 2013 Panji Aziz Pratama merintis taman bacaan di Banten. Nepal dan India berniat meniru konsepnya.

Panji Aziz Pratama

Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Kamis, 10 November 2016

Sewaktu masih di sekolah dasar, Panji Aziz Pratama bercita-cita menjadi pilot karena ingin bisa merasakan naik pesawat terbang. Memasuki sekolah menengah, cita-citanya berubah, ingin menjadi arsitek agar bisa membuatkan rumah untuk ibunya. Cita-citanya kembali berganti ketika di sekolah menengah atas. Ia ingin menjadi diplomat agar bisa berkeliling ke banyak negara.

Nyatanya, meski bukan diplomat, Panji telah menjejakkan kakinya di sejumlah negara, di antaranya Malaysia, India, Swiss, dan Amerika Serikat. Semua itu berkat dedikasinya di dunia pendidikan bagi anak-anak tak mampu di daerah asalnya, Banten.

Hal itu bermula dari keresahannya begitu mengetahui kenyataan rendahnya kualitas pendidikan di Banten. Pada 2013, Badan Pusat Statistik provinsi itu mencatat ada lebih dari 300 ribu dari 600 ribu anak di Banten tak bersekolah. Artinya, lebih dari separuh anak tak punya akses ke pendidikan dan menjadi buta huruf. Badan itu juga mencatat, hingga 2015 hampir 26 ribu jiwa warga Banten hidup di bawah garis kemiskinan.

Fakta itu membuat Panji terusik. Ia makin prihatin oleh kenyataan masih tingginya angka menikah muda, khususnya di kalangan perempuan. Banyak orang tua tak memahami arti penting pendidikan sehingga, begitu lulus SD atau SMP, anaknya disuruh menikah.

Anak-anak warga Kampung Tigamaya, Serang, Banten, di perpustakaan Isbanban
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Sejak SMA, saya suka kerja sosial. Saya pikir ini akan cocok dengan passion saya."

Panji Aziz Pratama

Bersama beberapa rekannya, Panji merintis proyek sosial bernama Isbanban (Istana Belajar Anak Banten). Melalui jaringan Forum Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Panji menggalang dana ke sekolah-sekolah di Banten untuk membuat taman bacaan dan taman belajar di kampung-kampung pinggiran. Hasilnya, terkumpul sekitar Rp 10 juta ditambah 700 eksemplar buku. Kampung Sukamaju, Desa Citasuk, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, Banten, menjadi lokasi proyek percontohan pertama pada 10 Februari 2013.

"Awalnya ada yang bertanya, bantuan dari mana, dari Atut (Ratu Chosiyah, Gubernur Banten saat itu), ya? Jadi kami dikira dari pemerintah atau partai," kata Panji saat berbincang dengan detikX di Jakarta Pusat, Kamis, 3 November 2016. Ia tak kuasa menahan tawa mengenang peristiwa itu, meski wajahnya masih tampak lelah. Maklum, Panji baru saja mendarat di Jakarta setelah menjadi juri kompetisi sesi poster pada acara Global Youth Economic Opportunities Summit 2016 di Washington, DC, Amerika Serikat, sekaligus mengurus rencana studinya di Colombia University.

Tiga hari berselang, Panji mengajak detikX berkunjung ke Isbanban binaannya di Kampung Tigamaya, Kabupaten Serang. Meski jaraknya cuma 12 kilometer dari alun-alun Kota Serang, akses ke kampung itu sangat memprihatinkan. Bukan cuma jumlah angkutan umum yang sangat terbatas, kondisi jalan pun sebagian besar belum beraspal. Rumah-rumah warga umumnya masih berdinding kayu dan berlantai tanah.

Meski demikian, di kampung yang sepi itu, setiap Minggu pagi terdengar suara dan tawa riang anak-anak.


Foto: Grandyos Zafna/detikcom

"Eh, ada Kakak datang, assalamualaikum, Kak...," kata Anifah dan sejumlah kawannya serentak. Mengenakan kerudung, bocah-bocah berusia 6-8 tahun itu berlari mendekati Panji dan sejumlah relawan Isbanban. Mereka malu-malu saat diminta memperkenalkan diri kepada detikX. Setiap Minggu pagi, para relawan menyisihkan waktu mengunjungi kampung Tigamaya untuk memberikan pelajaran tambahan kepada mereka.

Di Tigamaya, Isbanban resmi berdiri pada Oktober 2014 dengan bantuan organisasi kepemudaan desa setempat dan menumpang di gedung serbaguna Islamic Centre Tigamaya. Dari tujuh Isbanban yang dibina Panji, semuanya berlokasi di daerah yang aksesnya terbatas dalam segala hal, terutama transportasi dan informasi.

* * *

Panji lahir di Serang pada 19 September 1994. Sejak berusia 2 tahun, ia dan kakaknya, Indah Lestari, menjadi yatim. Meliah, ibunya, yang cuma lulusan sekolah menengah pertama, harus bekerja keras membesarkan dan menyekolahkan mereka berdua. Berbekal sertifikat kursus merias, sang ibu pelan-pelan membuka usaha rias untuk menyokong biaya hidup dan sekolah Panji dan kakaknya. "Usaha keras Mama menyekolahkan kami menjadi pegangan bagi saya bahwa pendidikan itu sangat penting," ujar Panji.

Begitu lulus dari SMAN 2 Kota Serang, ia diterima di Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Tapi tak jadi diambilnya karena menganggap biaya kuliahnya terlalu tinggi. Panji banting setir masuk Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Padjadjaran, Bandung. "Sejak SMA, saya suka kerja sosial. Saya pikir ini akan cocok dengan passion saya," ujarnya.




Panji Aziz Pratama bersama para relawan dan anak-anak asuhnya di Isbanban Tigamaya, Minggu, 6 November 2016.
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Delegasi asal Nepal dan India tertarik mengembangkan konsep Isbanban.”

Panji Aziz Pratama

Sejak SMA, Panji mengaku tertarik pada dunia kerelawanan dan pengembangan masyarakat. Saat menjadi koordinator OSIS se-Provinsi Banten, ia acap kali mengorganisasi aktivis-aktivis OSIS dari berbagai sekolah untuk mengadakan kegiatan sosial. Selepas SMA, semangat itu pernah kendur.

Saat bencana alam melanda Kampung Sukamaju, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, pada awal 2013, Panji dan kawan-kawannya alumni Forum OSIS Banten menggagas pengumpulan bantuan untuk kawasan tersebut. Tapi kemudian ia dan kawan-kawannya menjadi gelisah. Anak-anak, juga orang tua mereka, seperti bergantung pada bantuan karena rutin menerimanya setiap kali banjir datang.

Panji mengubah taktik. Ia tak lagi membagi-bagikan makanan, tapi menawari mereka sebuah taman bacaan. Lewat buku-buku di luar teks pelajaran sekolah, ia berharap pengetahuan anak-anak akan menjadi lebih luas. Respons mereka positif. Begitulah kemudian pada Februari 2013 mereka memiliki taman bacaan yang dikenal sebagai Isbanban. 

Tak sekadar menyediakan buku-buku bacaan, para relawan Isbanban kemudian mendampingi anak-anak belajar membaca, menulis, dan menghitung. Setahun berikutnya, Isbanban menyebar ke kampung-kampung di Pandeglang, Cilegon, Lebak, Tangerang, dan Tangerang Selatan.

Panji Aziz Pratama saat mengunjungi Isbanban di Tigamaya, Serang.
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Gerakan mereka lantas menggaung di media sosial, dan Panji sebagai perintis meraih penghargaan Young Changemakers dari Ashoka Indonesia pada 2013. Ia lalu diundang menjadi salah satu delegasi Indonesia dalam World Youth Summit pada 29 Maret hingga 2 April 2015 di Imphal, Manipur, India. Pada ajang bertema “Youth for Global Empowerment” tersebut, Panji meraih penghargaan Best Presenter pada kategori Youth and Education.

Ia mempresentasikan topik “Youth Movement for Child Development”. Tema ini dipilih karena dia percaya bahwa kaum muda punya peran penting untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Isbanban, kata dia, merupakan wadah seluruh niat baik menjadi aksi baik demi pendidikan yang lebih baik di pelosok desa Banten. “Delegasi asal Nepal dan India tertarik mengembangkan konsep Isbanban,” ujar bujangan yang gemar melancong ini.

Bukan hanya itu, Panji terpilih sebagai salah satu dari 21 anak muda se-Asia Tenggara yang dinobatkan sebagai Young Southeast Asian Leaders. Hadiahnya adalah beasiswa leadership training di Northern Illinois selama lima pekan.


Infografis: Luthfy Syahban

Kini Isbanban memiliki hampir 250 relawan aktif. Salah satunya Endah Khaeriyah Nurhidayatin. Karena kedua orang tuanya guru, semula Endah malah tak tertarik pada dunia pendidikan, sehingga memilih masuk Institut Pertanian Bogor. Tapi, begitu tahu kondisi pendidikan di Banten yang memprihatinkan, dara asal Serang berusia 22 tahun itu pun banting setir.

Di Isbanban, Endah dipercaya menjadi project officer untuk Kabupaten Serang. "Saya diberi rezeki untuk berkuliah. Saya berpikir seharusnya anak-anak Banten lainnya bisa seperti itu juga," ujarnya.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE