INTERMESO

Pandai Besi Lokal Dibiarkan Sekarat

Pandai besi menjadi pekerjaan turun-temurun, tapi tak berkembang karena pemerintah tidak ngopeni mereka.

Pandai besi membuat cangkul secara tradisional di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu, 2 November 2016.

Foto: Destyan Sujarwoko/Antara Foto

Rabu, 9 November 2016

Bersama dua kerabatnya, Muasikin, 48 tahun, berkali-kali mengayunkan palu gada dengan ritme dan kekuatan yang terukur. Pijaran api tepercik, meningkahi suara memekakkan telinga saat benturan palu dengan besi baja terjadi. Ketiganya terus melakukan hal itu hingga lempengan pelat baja setebal hampir 1 sentimeter menipis dan membentuk mata cangkul.

Kulit ketiga lelaki berlengan kekar itu mengkilat oleh cucuran keringat. Bilik bambu yang mengelilingi sekitar dinding bengkel seluas 5 x 4 meter persegi tak mampu meredam hawa panas dari bara di tungku tanah liat. Debu arang yang bertebaran di dalam bengkel pandai besi di Dusun Tanggalrejo, Desa Kalibening, Kecamatan Mojoagung, Jombang, Jawa Timur, itu menambah pengap udara.

Muasikin mengaku sudah lebih dari 20 tahun menekuni pekerjaan ini. Keahliannya sebagai pandai besi didapat dari sang ayah. Kini ia tengah melatih sulung dari tiga anaknya agar memiliki keahlian serupa. “Dia sudah lulus madrasah aliyah (setingkat dengan SMA) dan saya pekerjakan sebagai operator ubupan,” kata suami Anik Rahayu, 35 tahun, itu saat ditemui detikX, Sabtu, 5 November 2016.

Banyak pandai besi bertahan dengan peralatan tradisional agar kerabat tak kehilangan pekerjaan.”

Ubupan adalah sejenis pompa sederhana dari kayu bulat yang digerakkan secara manual untuk memompa angin ke tungku. Satu-satunya alat yang memakai tenaga listrik di bengkel itu adalah gerinda untuk menghaluskan cangkul. Dibantu empat pekerja dengan peralatan tradisional, proses pembuatan cangkul dan perkakas lain di bengkel milik Muasikin butuh waktu lama dan melelahkan.

Pedagang menata cangkul tradisional di Desa Telaga Sari, Indramayu, Jawa Barat, Kamis, 3 November 2016.
Foto: Dedhez Anggara/Antara Foto

Prosesnya diawali dengan memotong bahan baku besi dan baja bekas, yang diperoleh dari pasar loak di Kota Mojokerto seharga Rp 8.000 per kilogram. Setelah dipotong sesuai dengan ukuran, lempengan besi dan baja itu dibakar di tungku dan ditempa menggunakan palu gada. "Bahan yang saya pakai pelat baja tebal 1 sentimeter. Jadi harus ditempa berulang kali supaya menjadi ringan dan lebih tipis. Maka butuh waktu lama," ujarnya.

Dalam sehari, bengkel Muaskin cuma mampu menghasilkan dua buah mata cangkul. Ia mematok mata cangkul buatannya Rp 300 ribu per buah. Toh, keuntungan yang masuk ke sakunya tak sampai separuhnya. "Hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari."

Ia memilih bertahan dengan menggunakan peralatan tradisional demi menjaga hubungan harmonis dengan keluarga besarnya. Sebab, bila mulai menggunakan peralatan listrik, dipastikan beberapa kerabat yang menjadi tenaga kerja di bengkelnya akan tersingkir. “Biarlah seperti ini supaya mereka ada pekerjaan," kata Muasikin.

Kondisi serupa terlihat di bengkel milik Sakip, 59 tahun, pandai besi di Desa Alang-alang Caruban, Kecamatan Jogoroto, Jombang. Hanya, selain mesin gerinda, bapak empat anak ini menggunakan mesin blower sebagai pengganti ubupan. Dibantu dua pekerja, bengkel milik Sakip hanya mampu membuat empat mata cangkul dalam sehari. "Mau bagaimana lagi, saya tak punya modal untuk beli peralatan canggih," kata Sakip, yang melakoni pekerjaan ini sejak 1980.




Masrum dan Sriyati telah 25 tahun bekerja sebagai pandai besi di Bojonegoro, JawaTimur
Foto: Ainur Rofi/detikcom

Muasikin dan Sakip adalah dua dari sekian ribu pandai besi yang setia menekuni pekerjaan ini secara turun-temurun. Kementerian Perindustrian mencatat, setidaknya ada 2.000 bengkel pandai besi yang membuat pacul, golok, arit, sekop, garpu, dan aneka perkakas lainnya untuk pertanian. Mereka tersebar di 12 sentra industri, di antaranya di Jawa Timur dan Jawa Barat.

Selain di Jombang, pandai besi di Jawa Timur antara lain dapat ditemui di Kediri, Lamongan, Mojokerto, Bojonegoro, dan Banyuwangi. Bahkan Desa Moropelang, Kecamatan Babat, Lamongan, dijuluki sebagai "desa pandai besi". Sebab, hampir seluruh warganya bekerja sebagai pandai besi selain menjadi petani.

Di desa ini mudah dijumpai aktivitas menempa logam untuk dijadikan alat-alat pertanian, seperti cangkul, sabit, dan parang. Kalaupun tak terlibat langsung dalam proses produksi, sebagian warga dipastikan menjadi bagian dari distributor atau penjaja peralatan pertanian itu ke daerah lain.

Sedangkan di Jawa Barat, para pandai besi terkonsentrasi di Ciampea, Kabupaten Bogor, dan beberapa kampung di Desa Mekarmaju, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Di Mekarmaju, umumnya para pandai besi memulai aktivitas setelah menunaikan salat subuh. Dalam sehari, mereka bekerja delapan jam dengan jeda pada pukul 9-10 pagi. Khusus hari Jumat, mereka memilih libur karena waktunya dianggap pendek.

Renaldi Sacaniti, salah satu calon penerus usaha pandai besi di Mekarmaju, Bandung 
Foto: Masnur Diansyah/detikcom

Jadi pasar itu tetap terbuka. Bila kami diopeni, ya enggak perlu impor cangkul dari Cina segala.”

"Dari semua pandai besi yang ada di Kampung Lio, Salamanjah, Sukamahi, dan Pasirmalang, produksinya bisa ribuan potong cangkul setiap bulan," kata Ade Rukmana. Di bengkel miliknya, dia memproduksi 200 potong pacul per minggu. Sedangkan koleganya, Gungun Wilangun, yang memiliki enam pekerja, mengklaim mampu memproduksi 1.000 buah, lebih banyak ketimbang Ade.

Seperti Muasikin, Gungun mewariskan keterampilan menjadi pandai besi dan pengelolaan bengkel kepada anak sulungnya, Renaldi Sacaniti, yang masih berusia 18 tahun. Sebagai tahap pengenalan, ia menugasi anaknya itu mengecat pacul yang sudah jadi dengan warna hitam. Sesekali, Renaldi juga diminta menghaluskan anak pacul dengan gerinda. Renaldi masih kesulitan mengerjakan tugas tersebut.

“Iya, susah banget. Saya butuh waktu lagi buat belajar. Proses las buat pemasangan tempat gagang paculnya juga masih sulit,” ia secara terbuka mengakui. Untuk gagang cangkul, menurut Gungun, para pandai besi di desanya lebih suka menggunakan kayu dari pohon pete karena tahan lama.

Berpuluh tahun melakoni pekerjaan yang sangat menguras tenaga dan dalam ruangan pengap tentu butuh stamina prima. Para pandai besi itu memiliki resep masing-masing untuk menjaga kesehatan. Dari banyak minum air putih untuk mengimbangi keringat yang banyak keluar hingga minum susu-soda dan jamu beras kencur. “Saya termasuk yang rutin minum jamu beras kencur untuk mengurangi sesak napas," ujar Muasikin.

Subami, pandai besi di Mojokerto, tengah menajamkan ujung mata pacul dengan gerinda.
Foto: Enggran Eko Budianto/detikcom

Sayang, mereka seperti kehilangan daya untuk mengembangkan pekerjaan turun-temurun itu. Padahal, meski dari tahun ke tahun traktor dan alat pertanian modern mulai digunakan para petani, cangkul tetap tak sepenuhnya tergantikan. Potensi pasar ini seolah dibiarkan menguap begitu saja. Alih-alih membina potensi yang sudah ada, pemerintah dan pengusaha memilih jalan pintas dengan mengimpor produk sejenis dari Cina. Harga yang murah dengan kualitas lebih terjaga menjadi dalihnya.

“Kami selama berpuluh tahun seperti jalan di tempat, seolah dibiarkan sekarat dan satu per satu mati perlahan,” kata Saiful Hidayat, pemilik bengkel pandai besi dari Pare, Kediri.

Pacul, kata dia, sebetulnya bukan monopoli petani. Mereka yang bekerja sebagai kuli galian, pekerja di proyek-proyek, hingga rumah tangga sebetulnya masih butuh dan menggunakan pacul. “Jadi pasar itu tetap terbuka. Bila kami diopeni, ya enggak perlu impor cangkul dari Cina segala,” ujar Saiful.


Reporter: Eko Sudjarwo, Enggran Eko Budianto, Masnur Diansyah
Penulis/Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE